Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. ( Pengaruh Hormon )
Di pintu masuk GS Company, beberapa karyawan berbaris rapi menyambut kedatangan pemilik perusahaan. Tak lama berselang sebuah mobil mewah berhenti kemudian orang kedua yang ditakuti para karyawan muncul lalu membukakan pintu mobil.
"Apa kau sudah mengatur pekerjaan yang tepat untuk Andrea?" tanya Lucien dengan aura bengis khas dirinya. Hari ini pintu gerbang neraka gadis itu telah resmi dibuka.
"Sudah, Tuan."
"Dibagian apa?"
"Karena kemarin saya telah melihat langsung cara Nona Andrea saat menyebar selebaran, saya putuskan untuk menempatkannya di bagian marketing pemasaran. Caranya merayu orang sangat cocok dengan posisi yang ini," jawab Veroz.
"Jadi kau menganggap Andrea sebagai gadis perayu?"
Tiba-tiba saja muncul tanduk tak kasat mata di ubun-ubun Lucien begitu mendengar jawaban Veroz. Dia yang tadinya senang mendadak jadi kesal karenanya.
"Bukan itu maksud saya, Tuan Lucien. Nona Andrea begitu piawai saat mempromosikan restoran itu, dan saya menilai dia punya bakat dalam menarik minat pembeli. Mohon Anda jangan salah paham dengan ucapan saya,"
"Nah beginikan jelas. Siapa suruh kau bicara kasar seperti tadi. Sebagai bos, wajar jika membela nama baik karyawannya," sahut Lucien lega.
Veroz mengangguk. Dalam hati dia membatin, sepertinya ke depannya nanti pekerjaan akan jadi sulit jika sampai salah menyebut hal-hal yang berhubungan dengan Nona Andrea. Harus hati-hati karena kemungkinan besar gadis itu akan menjadi orang nomor satu di GS Company yang paling tidak boleh disinggung sebelum bosnya. Catat! Sebelum, bukan setelah bosnya. Tiran ini akan jadi nomor dua setelah Nona Andrea sendiri. Mungkin.
"Selamat pagi, Tuan Lucien," sapa para karyawan seraya membungkuk hormat.
"Hari ini akan ada karyawan baru. Veroz bilang dia akan ditempatkan di bagian pemasaran. Kalian bekerja samalah dengan baik," ucap Lucien dingin. Sambil berjalan masuk ke dalam perusahaan, pikirannya melayang jauh membayangkan hal-hal kejam yang telah terencana rapi. Tanpa sadar Lucien tersenyum, yang mana membuat para karyawan yang melihatnya tertegun kaget.
"Lihat, tiran itu tersenyum lagi."
"Kau benar. Hampir saja aku mengira mataku salah melihat orang. Ternyata tiran itu benar-benar tersenyum. Jadi merinding,"
"Merinding?"
"Iya. Hampir tiga tahun aku bekerja dan belum sekalipun pernah melihatnya tersenyum seperti hari ini. Jangan-jangan dunia sudah mau kiamat, makanya tiran yang terkenal bengis dan dingin itu bersikap aneh."
"Benar juga. Astaga, bagaimana ini. Tagihanku masih banyak, masa iya sudah mau kiamat?"
Berbagai respon berbeda ditunjukkan oleh para karyawan yang melihat bos mereka bersikap aneh. Hanya dengan satu senyuman sudah mampu memberi kepanikan yang luar biasa hebat. Lucien yang sadar sedang menjadi bahan omongan para bawahannya, berhenti melangkah kemudian melayangkan tatapan tajam.
"Ada apa dengan mereka?"
"Mungkin mereka resah setelah melihat Anda tersenyum, Tuan," jawab Veroz. Ini sudah kali kedua para karyawan itu dibuat heran sekaligus bingung oleh sikap bosnya.
"Aku tersenyum?"
"Iya."
"Kapan?"
"Barusan."
"Minta mereka untuk operasi mata. Segera," titah Lucien tak terbantahkan. Kapan-kapan dia tersenyum?
Saat Lucien dan rombongan hendak berbelok menuju ke arah lift, Andrea berlari masuk ke dalam perusahaan. Dengan cepat dia mengejar lalu berhenti tepat di hadapannya.
Sreettt
"Kau ... apa-apaan kau! Sudah gila ya!" teriak Lucien kaget setengah mati saat Andrea tiba-tiba menghadang jalan.
Tanpa merasa bersalah Andrea memasang senyum tanpa dosa. Setelah itu dia menempelkan satu tangan di dada, membungkuk hormat lalu menyapa dengan sopan.
"Selamat pagi, Tuan Lucien. Bagaimana kabarmu?"
Blusshh
Muncul semburat merah di pipi Lucien saat Andrea tersenyum manis padanya. Emosi yang sempat meledak, lenyap entah ke mana. Dia memasukkan satu tangan ke saku celana lalu memalingkan muka menatap ke arah lain.
(Tuan, tolong kondisikan diri Anda sekarang. Atau orang-orang ini akan segera tahu kalau Anda sedang jatuh cinta)
"Hello?" Andrea menggoyangkan tangan ke arah Lucien. "Kau ini sebenarnya kenapa? Aku perhatikan mudah sekali wajahmu memerah. Jangan-jangan kau penyakitan ya?"
Orang-orang yang mendengar ucapan Andrea seketika membeku di tempat. Beraninya gadis asing ini bicara sembarangan di hadapan Tiran yang terkenal bengis dan juga kejam. Apa tak takut mati? Ada banyak sekali korban yang bisa dijadikan contoh akibat bersikap lancang di hadapannya.
"Sepertinya kau perlu berobat. Aku sarankan cobalah untuk mengkonsumsi minuman herbal. Mungkin itu bisa membantu mengurangi penyakit yang kau derita."
"Ekhmm Nona Andrea, Tuan Lucien selalu rutin melakukan check-up kesehatan di rumah sakit. Dan dari ujung rambut sampai ujung kakinya semua sangat sehat," ucap Veroz menggantikan bosnya bicara. Sementara yang bersangkutan masih terhanyut oleh perasaannya sendiri. Jika tak segera diambil alih bisa-bisa harga diri bosnya jatuh di mata para bawahannya.
"Kalau memang dia sesehat itu lalu kenapa wajahnya gampang sekali merah?"
"Itu karena pengaruh hormon."
"Pengaruh hormon?"
Andrea menatap aneh ke arah Lucien. Dia jadi penasaran hormon seperti apakah yang mampu membuat wajah seseorang jadi semerah ini? Menularkah?
"Tuan Lucien, sudah tiga menit Anda seperti ini," bisik Veroz mencoba mengingatkan.
(Kenapa orang yang sedang mabuk cinta bisa bertingkah konyol seperti ini ya? Hanya karena seorang wanita, image terhormat yang selama ini dibangun oleh Tuan Lucien berada di ujung tanduk. Ckck,)
"Apa maksudnya tersenyum manis begitu padaku?" gumam Lucien lalu menggelengkan kepala. Kembali pada setelan awal, dia menatap garang ke arah Andrea yang ternyata sedang menatapnya lekat. Seketika jantungnya berdegup kuat sekali. Bibirnya tanpa sadar bergerak perlahan membentuk sebuah senyuman. Hal yang hampir tidak pernah dia tunjukkan pada siapapun. "Kalau mau menggodaku jangan di depan banyak orang. Ruanganku cukup sepi, mau coba di sana?"
Veroz, Andrea dan para karyawan yang mendengar ucapan Lucien barusan hampir muntah darah karena terkejut. Siapa yang menyangka ucapan mesum begitu akan diucapkan oleh seorang manusia bertitle bos besar. Sadar kewarasan bosnya berada di titik yang paling berbahaya, Veroz dengan cepat bertindak.
"Kalian pergilah dulu ke ruang meeting. Sekarang!"
"Baik, Tuan Veroz. Permisi," sahut para karyawan. Mereka semua pergi dengan banyak pertanyaan memenuhi benak.
Sepeninggal para karyawan, Veroz berpikir keras mencari cara supaya bosnya bisa segera sadar. Belum lagi cara tersebut ditemukan, dia sudah lebih dulu dikejutkan oleh tindakan Nona Andrea yang di luar dugaan.
"Lucien, kau ini sebenarnya bos perusahaan atau gigolo sih? Ucapanmu begitu mesum dan tak tahu malu. Kau yakin perusahaan ini milikmu?" tanya Andrea dengan suara lantang. Sungguh, ucapan pria ini sangat diluar dugaan.
"A-apa kau bilang? Gigolo?"
"Ya. Kata Kak Zein gigolo itu adalah laki-laki yang suka berbuat mesum dan tak punya malu. Dan kau baru saja menunjukkan itu padaku!"
Bagai tersambar petir, sekujur tubuh Lucien terbakar api yang begitu besar saat dirinya dianggap sebagai gigolo. Penghinaan macam apa ini?
"Nona, tolong jaga ucapan Anda. Itu bisa mencederai nama baik Tuan Lucien," tegur Veroz panik setengah mati. Habislah sudah hari ini.
"Tuan Veroz, kenapa kau malah memarahiku? Yang mencederai nama baik Lucien kan dia sendiri, harusnya dia yang kau tegur, bukan aku. Bagaimana sih!" sahut Andrea tak terima.
"Ucapan Anda agak keterlaluan, Nona. Sebagai orang kepercayaan Tuan Lucien, saya berhak untuk memberi teguran."
"Mana bisa begitu. Akukan ... hei, apa yang kau lakukan! Lepaskan tanganku!"
Jangan tanya seperti apa bengisnya wajah Lucien sekarang. Sambil menggertakkan gigi, dia menarik tangan Andrea menuju lift. Gadis ini harus diberi pelajaran. Bisa-bisanya menuduhnya sebagai gigolo di depan para karyawan. Ini tidak bisa dibiarkan.
"Siapa gadis gila itu? Beraninya menuduh Tuan Lucien sebagai gigolo dan orang mesum. Apa dia sudah tidak mau hidup lagi?" ucap salah seorang karyawan terheran-heran. Dia ngeri sendiri membayangkan akan semurka apa bosnya terhadap gadis gila tersebut.
"Haihh, kasihan gadis itu. Entah dia masih bisa hidup atau tidak setelah nanti Tuan Lucien menghukumnya. Baru kali ini aku melihat ada orang yang dengan sengaja menggali lubang kuburnya sendiri."
Veroz menatap karyawan yang sedang asik bergosip. Dia lalu memberikan teguran keras dengan maksud mencegah supaya gosip tak lanjut tersebar.
"Daripada mengkhawatirkan nasib orang lain lebih baik pikirkan apakah pekerjaan kalian sudah beres atau belum. Suasana hati Tuan Lucien hari ini sangat buruk. Jangan sampai kalian menjadi tempat pelampiasan amarahnya!"
"Ba-baik, Tuan. K-kami akan kembali bekerja. Permisi,"
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂