Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Vonis yang Merenggut Segalanya
Jemari Davira gemetar hebat hingga kertas putih di genggamannya kusut parah. Lorong rumah sakit yang biasanya terasa sunyi, mendadak menjelma menjadi ruang hampa udara yang mencekik lehernya. Pandangan matanya mengabur, tertuju pada deretan kalimat formal bersetempel dokter spesialis onkologi yang baru saja dia tinggalkan.
Karsinoma Serviks Stadium 3. Rekomendasi tindakan medis: Histerektomi Total (Pengangkatan rahim).
"Nggak... ini nggak mungkin..." bisik Davira lirih. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Dia mencengkeram dadanya yang terasa dihantam godam besar. Sakit. Begitu sesak hingga air matanya luruh tanpa suara, membasahi pipinya yang kian tirus. Tiga tahun. Sudah tiga tahun dia mengarungi bahtera rumah tangga bersama Arka Narendra, seorang CEO muda yang tampan namun berhati sedingin es. Pernikahan mereka terjadi bukan karena untaian cinta, melainkan karena balas budi dan belas kasihan.
Tepat tiga tahun lalu, perusahaan properti milik ayah Davira hancur lebur dihantam kebangkrutan. Seluruh aset disita, menyisakan tumpukan utang yang tak masuk akal. Di tengah badai itu, ayah Arka yang merupakan sahabat karib ayah Davira datang mengulurkan tangan. Beliau melunasi sebagian utang dan meminta Arka menikahi Davira demi melindunginya.
Namun, perlindungan itu hanyalah status di atas kertas. Tak lama setelah pernikahan mereka, ayah Davira meninggal dunia akibat serangan jantung karena stres berat. Seolah belum cukup, adik laki-laki Davira satu-satunya memilih pergi ke luar negeri untuk mencari peruntungan demi membantu sang kakak. Sialnya, setelah menginjakkan kaki di negeri orang, adiknya justru hilang kontak sama sekali, bagai ditelan bumi.
Di dunia yang kejam ini, Davira sebatang kara. Dia hanya memiliki Arka.
Selama tiga tahun ini, Davira menelan semua sikap abai Arka. Pria itu jarang berbicara padanya, jarang menyentuhnya, dan selalu memperlakukannya bagai pajangan rumah yang tak bernyawa. Tapi Davira tidak pernah menyerah. Dia selalu tersenyum, memasak makanan kesukaan Arka, dan merawat rumah dengan saksama. Di dalam hatinya yang paling dalam, Davira memelihara satu harapan kecil. Suatu saat nanti, jika dia bisa melahirkan seorang anak, hati Arka pasti akan melunak.
Namun hari ini, selembar kertas putih di tangannya baru saja mematikan harapan itu sebelum sempat tumbuh. Rahimnya harus diangkat. Dia tidak akan pernah bisa hamil. Dia tidak akan pernah bisa menjadi seorang ibu. Dan dia... tidak akan pernah bisa memiliki alasan untuk membuat Arka mencintainya.
Dengan lutut yang lemas dan tubuh yang terus menggigil, Davira melangkah keluar dari rumah sakit. Pikiran dan hatinya kosong. Di tengah keputusasaan yang merajam jiwa, nama Arka kembali terlintas. Dia butuh suaminya. Dia butuh pelukan, atau setidaknya kata-kata penenang dari pria yang memegang janji pada almarhum ayahnya untuk menjaganya.
"Arka... tolong kuatkan aku kali ini saja," isak Davira dalam taksi yang membawanya pulang.
Sore hari yang mendung menyambut kedatangan Davira di depan gerbang rumah mewah bernuansa Eropa modern milik Arka. Dengan langkah gontai, dia membuka pintu utama. Davira berharap suasana rumah yang sepi bisa memberikannya ruang untuk menenangkan diri sebelum berbicara pada Arka nanti malam.
Namun, harapannya langsung sirna begitu kakinya melangkah ke area ruang tamu. Di atas sofa beludru mewah, telah duduk dua orang wanita yang selama tiga tahun ini menjadi mimpi buruk dalam hidup Davira. Siska, ibu mertuanya, dan Maya, adik iparnya.
"Bagus ya! Jam segini baru pulang. Istri macam apa kamu, Davira?!" Cemoohan ketus dari Maya langsung menyengat telinga Davira. Wanita muda itu bersedekap dada, menatap Davira dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
Davira buru-buru menyembunyikan kertas hasil laboratoriumnya ke dalam tas jinjingnya. Dia berusaha mengulas senyum tipis, meski wajahnya pucat pasi. "Maaf, Ma, Maya... Davira tadi ada urusan sebentar di luar."
Siska, yang sedang menyesap teh hangatnya, meletakkan cangkir porselen itu ke meja dengan dentingan keras yang sengaja dibuat. Matanya menatap tajam, penuh kilat kebencian.
"Urusan apa? Keluyuran tidak jelas?" sindir Siska berapi-api. "Tiga tahun, Davira! Tiga tahun kamu hidup menumpang di rumah anakku. Perusahaan ayahmu sudah bangkrut, kamu tidak membawa mas kawin atau keuntungan apa pun untuk keluarga kami, dan sampai detik ini kamu bahkan belum bisa memberikan Arka seorang anak! Kamu itu mandul, atau memang sengaja ingin memutus garis keturunan keluarga Narendra, hah?!"
Kalimat "mandul" itu menusuk tepat di luka yang baru saja menganga di hati Davira. Air mata yang sudah dia bendung sekuat tenaga kini kembali mendesak keluar.
"Ma, Davira tidak mandul... Davira hanya belum dikasih kepercayaan..." lirih Davira, suaranya bergetar hebat. "Dan hari ini, Davira sebenarnya baru saja dari rumah sakit karena..."
"Halah! Jangan cari-cari alasan dengan pura-pura sakit!" potong Maya ketus, ia berdiri dan menghampiri Davira dengan tatapan sinis. "Kami sudah bosan mendengar keluhanmu. Kak Arka itu pria terpandang, CEO sukses. Dia butuh istri yang sempurna, yang bisa mendampinginya ke acara bisnis dan memberikannya ahli waris. Bukan wanita pembawa sial yang keluarganya hancur berantakan seperti kamu!"
"Maya, jaga bicaramu... aku ini kakak iparmu," ucap Davira, mencoba mempertahankan harga dirinya yang sudah terkikis habis.
"Kakak ipar? Ck, kamu tidak lebih dari sekadar wanita benalu yang dititipkan di sini karena rasa kasihan!" balas Maya sengit.
"Cukup!"
Sebuah suara berat, berwibawa, namun terasa begitu dingin tiba-tiba menggema dari arah pintu depan. Langkah kaki yang tegas terdengar mendekat. Davira menoleh dengan cepat. Jantungnya berdesir kencang. Arka. Suaminya telah pulang.
"Arka..." gumam Davira, ada secercah harapan di matanya. Dia berharap Arka akan membela dirinya seperti beberapa bulan lalu saat sang ibu mulai menuntut cucu.
Namun, langkah kaki Arka tidak terdengar sendirian. Di samping pria bertubuh tegap berbalut setelan jas mahal itu, berdiri seorang wanita lain. Wanita itu berwajah sangat cantik, dengan riasan wajah yang sempurna dan gaun terusan yang longgar. Yang membuat darah Davira mendadak berhenti mengalir adalah tangan wanita itu yang menggelayut manja di lengan Arka.
Dan yang paling mengerikan... perut wanita itu tampak sedikit membuncit.
Davira mundur selangkah, napasnya memburu. "Arka... siapa dia? Kenapa dia memegang tanganmu seperti itu?"
Arka menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan Davira. Wajah tampannya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Tatapannya lurus, datar, dan begitu asing.
"Dia Sheila," ucap Arka dengan nada suara yang teramat santai, seolah mengenalkan rekan bisnis biasa. "Dan dia sedang mengandung anakku. Usia kandungannya sudah berjalan lima bulan."
DUARRR!
Bagai disambar petir di siang bolong, dunia Davira runtuh seada-adanya. Kepalanya mendadak pening, dan dadanya terasa sesak luar biasa hingga dia lupa bagaimana cara bernapas. Lima bulan? Jika usia kandungan wanita itu sudah lima bulan, ditambah proses pendekatan dan hubungan mereka, itu artinya... Arka sudah berselingkuh di belakangnya selama lebih dari enam bulan! Selama setengah tahun ini, di saat Davira berjuang melawan rasa sakit di perutnya sendirian, suaminya justru memadu kasih dan menanam benih di rahim wanita lain.
"Lima bulan...?" bisik Davira dengan suara yang nyaris hilang. "Kamu... kamu selingkuh di belakangku, Arka? Di saat aku menunggumu pulang setiap malam, kamu tidur dengan wanita lain?!" Ditumpahkannya seluruh air mata yang sejak tadi dia tahan. Tas di genggamannya terjatuh, membuat kertas hasil laboratorium rumah sakit mencuat keluar di lantai, namun tak ada satu pun orang yang peduli.
Arka menghela napas kasar, tampak terganggu dengan histeria Davira. "Jaga bicaramu, Davira. Aku tidak berselingkuh. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku sebagai seorang pria. Hak untuk memiliki keturunan."
"Tapi kamu berjanji pada almarhum ayahmu untuk menjagaku dan setia padaku! Kamu berjanji di depan makam ayahku, Arka!" teriak Davira histeris, kehilangan seluruh energinya.
"Mas Arka sudah menjagamu dengan sangat baik selama tiga tahun ini, Davira!" Siska menyela dengan senyum kepuasan yang merekah lebar di wajah keriputnya. Ia berjalan mendekati Sheila, lalu mengelus perut wanita itu dengan penuh kasih sayang—hal yang tidak pernah dia lakukan pada Davira.
"Pernikahan tanpa anak itu hambar. Lagipula, perusahaan ayahmu sudah tidak ada. Kamu tidak punya nilai apa-apa lagi. Sudah sepantasnya Arka mencari wanita yang subur seperti Sheila. Sheila ini wanita dari keluarga baik-baik, suci, bukan pembawa sial!" timpal Siska memprovokasi.
Maya pun ikut tertawa mengejek. "Benar! Lihat saja penampilanmu sekarang, Davira. Pucat, kurus, mirip mayat hidup. Mana sudi Kak Arka menyentuhmu? Dibandingkan dengan Kak Sheila yang cantik dan sedang mengandung pewaris keluarga Narendra, kamu sama sekali bukan tandingannya!"
Davira memandang mereka bertiga bergantian. Ibu mertua yang selalu menghujatnya, adik ipar yang selalu menghinanya, dan wanita selingkuhan yang kini menatapnya dengan senyum kemenangan yang tersirat. Di tengah kepungan manusia-manusia kejam itu, Davira menatap Arka, mencari sisa-sisa kemanusiaan di mata suaminya.
"Arka... tolong dengarkan aku dulu," pinta Davira, merosot berlutut di lantai, memegang ujung celana kain Arka. "Aku sedang sakit... aku baru pulang dari rumah sakit, Arka. Rahimku... rahimku harus diangkat karena kanker..."
Mendengar hal itu, Arka sempat tertegun sesaat. Ada kilat keterkejutan di matanya, namun sebelum pria itu bersuara, Sheila langsung memotong dengan suara yang dibuat selembut mungkin, memelas manja.
"Mas Arka... tiba-tiba perutku rasanya agak kram. Aku takut bayinya kenapa-napa karena mendengar suara teriakan di sini," ucap Sheila sambil mengerutkan keningnya, bersandaran erat pada dada Arka.
Mendengar keluhan Sheila, atensi Arka langsung teralih sepenuhnya. Rasa terkejutnya lenyap, digantikan oleh raut wajah cemas yang luar biasa. Raut wajah yang belum pernah Davira lihat ditujukan untuk dirinya selama tiga tahun pernikahan mereka.
Arka menunduk, menatap Davira yang masih bersujud di kakinya dengan tatapan dingin dan penuh rasa jijik. Dengan kasar, Arka menarik kakinya hingga pegangan tangan Davira terlepas.
"Cukup drama menyedihkanmu, Davira. Berhenti mengarang cerita sakit hanya untuk mencari simpati dan menutupi kekuranganmu yang tidak bisa hamil," kata Arka kejam, setiap katanya bagai belati yang menguliti kulit Davira hidup-hidup.
"Aku tidak bohong, Arka! Ini kenyataan!" jerit Davira di sela tangisnya.
"Aku tidak peduli," potong Arka mutlak. "Aku tidak bisa menceraikanmu sekarang karena amanat mendiang Papa. Aku akan tetap memberimu tempat tinggal dan uang bulanan. Tapi, Sheila akan tinggal di rumah ini mulai hari ini sebagai istri keduaku. Anak di dalam kandungannya adalah prioritas utamaku sekarang."
Arka mematung sejenak, lalu memberikan kalimat pemungkasnya. "Terima keputusan ini dan hiduplah dengan tenang sebagai istri pertama di kamar belakang, atau... kamu bisa angkat kaki dari rumah ini sekarang juga, tanpa membawa sepeser pun uang dari aset keluarga Narendra."
"Mas Arka benar! Kalau tahu diri, silakan pergi!" sahut Maya puas.
Melihat tawa kemenangan di wajah ibu mertuanya, keangkuhan adik iparnya, kemesraan Arka yang menggendong Sheila menuju kamar utama di lantai atas, Davira merasakan sesuatu di dalam dadanya pecah berkeping-keping. Rasa sakitnya begitu hebat hingga menembus batas ambang pertahanannya.
Namun, di detik ketika pintu kamar atas tertutup, sesuatu yang aneh terjadi di dalam diri Davira. Tangisnya mendadak berhenti. Air matanya mengering seketika. Rasa sedih, cinta, dan pengabdian yang dia pelihara selama tiga tahun ini menguap, menyisakan ruang hampa yang dingin di hatinya.
Rasa sakit itu kini telah mengkristal menjadi sebuah kebencian yang teramat pekat.
Davira bangkit berdiri dengan perlahan, meskipun seluruh persendiannya terasa ngilu akibat kanker yang menggerogoti tubuhnya. Dia menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar. Dia melirik kertas hasil laboratoriumnya yang terinjak oleh bekas sepatu Arka di lantai.
Mereka ingin aku mati dalam kehinaan? batin Davira dengan senyum seringai tipis yang mendadak muncul di wajah pucatnya.
Tidak. Aku tidak akan mati di rumah terkutuk ini. Aku akan hidup. Aku akan mengangkat rahimku, menyembuhkan penyakitku, dan aku bersumpah demi makam ayahku... aku akan kembali untuk menghancurkan kalian semua hingga tak tersisa.
Davira berbalik, melangkah lebar meninggalkan rumah mewah itu tanpa menoleh lagi ke belakang. Malam itu, badai besar baru saja dimulai.