Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Jejak Digital
Di ruang asrama yang sempit, Nareswara duduk membeku di depan monitor pribadinya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya saat ia menatap layar yang kini berkedip dengan warna oranye menyala. Pesan peringatan berbunyi nyaring di dalam kepalanya, meski ia telah mematikan fitur audio pada perangkatnya.
WARNING: Unauthorized Access Detected. Trace-back Protocol Initiated.
Nareswara bukan seorang peretas amatir. Ia adalah salah satu yang terbaik dalam memanipulasi baris kode di distrik asalnya sebelum masuk ke Nexus. Namun, kali ini terasa berbeda. Ia merasa seperti sedang mencoba membobol brankas raksasa dengan alat pemotong kuku.
Folder bernama Elite Archive itu baru saja ia temukan setelah berjam-jam melakukan brute force pada lapisan keamanan tingkat ketiga akademi. Namun, begitu ia menyentuh struktur direktori folder tersebut, sistem keamanan sekolah tidak sekadar memblokirnya sistem itu membalasnya.
"Sial," umpat Nareswara pelan. Ia mencoba mengetik perintah untuk memutus koneksi, tetapi kursornya tidak bergerak. Layarnya diambil alih oleh sesuatu yang lain.
Di hadapannya, baris demi baris kode mulai menulis dirinya sendiri dengan kecepatan yang mustahil diikuti mata manusia. Itu bukan kode keamanan standar. Itu adalah algoritma prediktif yang sedang melacak posisi fisik Nareswara, pola ketukan jarinya, hingga frekuensi detak jantungnya yang terbaca melalui sensor biometrik di kursi asrama.
Nareswara menyadari dengan ngeri bahwa ada seseorang atau sesuatu yang sedang bermain dengannya. Selama ini, ia selalu percaya bahwa ia adalah penguasa di balik layar, bahwa tidak ada sistem yang tidak bisa ia tembus. Namun, saat ini, ia merasa seperti sedang diawasi oleh predator yang sedang membiarkan mangsanya melakukan manuver sebelum akhirnya menerkam.
"Dia tahu aku di sini," bisik Nareswara, suaranya tercekat. "Seseorang yang jauh lebih hebat dariku sedang memegang kendali penuh atas jaringan ini."
Pintu asrama tiba-tiba terbuka. Atharva, Keisya, dan yang lainnya masuk dengan napas yang memburu setelah perjalanan mereka dari Sektor 9-G. Mereka melihat Nareswara yang tampak pucat pasi di depan layar.
"Matikan semuanya!" teriak Atharva, menyadari situasi itu tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.
Nareswara tidak perlu disuruh dua kali. Ia menyambar kabel daya utama dan menariknya dengan paksa. Layar monitor itu padam seketika, menyisakan kegelapan yang menyakitkan di dalam kamar. Namun, bahkan dalam kegelapan itu, Nareswara bisa merasakan kehadiran 'bayangan' di balik sistem tersebut yang masih menempel pada jaringannya.
"Aku menemukannya, Atharva," kata Nareswara, suaranya gemetar. "Aku menemukan Elite Archive. Tapi begitu aku menyentuhnya, sistem itu langsung mengunci semua jalur aksesku. Mereka tahu ada yang sedang menggali sejarah angkatan 17–31."
Keisya, yang masih memegang potongan foto dari perpustakaan, segera mendekat. "Apa kau sempat melihat isinya?"
Nareswara menggelengkan kepala. "Hanya judul filenya. Bukan sekadar data siswa. Itu adalah proyeksi perilaku masa depan. Mereka tidak hanya menyimpan data angkatan lama... mereka sedang menjalankan simulasi untuk menciptakan manusia sempurna berdasarkan data dari siswa-siswa yang sudah dieliminasi."
Suasana kamar berubah mencekam. Jika teori Nareswara benar, maka eliminasi yang dilakukan oleh sistem bukanlah bentuk pembuangan, melainkan bagian dari proses ekstraksi data untuk menyempurnakan algoritma tersebut.
"Artinya, kita bukan sekadar kelinci percobaan," sahut Atharva dengan rahang mengeras. "Kita adalah suku cadang untuk sistem yang sedang mereka bangun."
Tiba-tiba, lampu di koridor asrama berkedip tiga kali secara serentak sebuah pola yang sangat spesifik. Itu adalah kode morse digital yang dikirimkan melalui sistem pencahayaan asrama: JANGAN BERHENTI. TEMUANMU ADALAH AWAL DARI KEMATIANMU.
Nareswara menatap Atharva, wajahnya menunjukkan ketakutan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. "Itu bukan peringatan dari instruktur," kata Nareswara. "Pesan itu dikirim dari dalam Elite Archive itu sendiri. Seseorang di dalam sistem tersebut... seseorang yang mungkin adalah pionir pertama angkatan yang hilang itu sedang mencoba berkomunikasi dengan kita."
Mereka semua terdiam. Di luar jendela, menara utama Nexus Academy menjulang angkuh, menyembunyikan ribuan rahasia di balik dinding-dinding betonnya. Malam itu, mereka sadar bahwa mereka tidak sedang melawan sekolah, melainkan melawan sebuah kecerdasan buatan yang sudah hidup dan berkembang di sana selama bertahun-tahun, menunggu untuk dikalahkan.
...****************...
Ketegangan di dalam kamar asrama itu mencapai titik didih. Nareswara masih terduduk kaku, menatap monitor yang kini hanya menampilkan pantulan wajahnya sendiri yang pucat. Pesan dari sistem tadi terasa seperti embusan napas dingin di leher mereka.
"Siapa pun yang mengirim pesan itu," bisik Atharva, suaranya rendah namun penuh penekanan, "dia tahu kita sedang mencoba menembus Elite Archive. Dia juga tahu kalau kita baru saja melihat isi kapsul di Sektor 9-G."
Keisya mengeluarkan potongan foto yang ia ambil dari perpustakaan dan meletakkannya di meja. Wajah-wajah yang dicoret tinta hitam itu kini terasa seperti tatapan mata yang menghakimi mereka. "Jika angkatan 17–31 benar-benar dijadikan bahan eksperimen untuk algoritma, maka pesan itu mungkin bukan ancaman, melainkan peringatan dari seseorang yang masih tersisa di dalam sana."
Nareswara menyalakan kembali terminal pribadinya dengan koneksi offline, ia tidak ingin mengambil risiko menarik perhatian sistem lagi. "Aku berhasil menyimpan sisa data saat koneksi terputus. Ini bukan file teks atau video."
Ia memutar proyektor kecil di tengah ruangan. Sebuah struktur saraf digital yang bercabang-cabang muncul di udara, berdenyut dengan ritme yang persis sama dengan detak jantung manusia.
"Ini adalah arsitektur kognitif," lanjut Nareswara, matanya berbinar dengan campuran antara rasa takut dan kekaguman teknis. "Lihat bagaimana setiap simpul data ini terhubung. Ini bukan sekadar simulasi perilaku. Ini adalah pemetaan kesadaran. Mereka tidak hanya mengambil data siswa, mereka sedang mencoba melakukan digitalisasi terhadap kesadaran manusia itu sendiri."
Nabila menutup mulutnya, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Jadi, mereka yang dieliminasi... mereka tidak benar-benar mati dalam artian fisik?"
"Mungkin lebih buruk," sahut Atharva dingin. "Mereka terjebak dalam looping digital, menjadi bagian dari mesin yang menjalankan akademi ini. Itulah alasan mengapa sistem ini begitu efisien karena sistem ini dijalankan oleh ribuan kesadaran manusia yang dipaksa bekerja sebagai prosesor hidup."
Tiba-tiba, detektor logam di dekat pintu asrama berbunyi nyaring. Beep. Beep. Beep.
Itu bukan sekadar inspeksi rutin. Itu adalah tanda bahwa Proctor sedang melakukan sweeping mendadak. Leonard dan timnya sudah berada di lantai asrama mereka, menyisir setiap pintu satu per satu.
"Mereka melacak jejak digital yang kau tinggalkan tadi, Nareswara," ujar Atharva, matanya beralih ke pintu asrama yang tertutup rapat.
"Aku sudah melakukan enkripsi berlapis!" sanggah Nareswara panik, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard untuk membersihkan sisa data.
"Sistem ini tidak butuh jejak digital untuk menemukannya," potong Keisya sambil berdiri dan bersiap. "Mereka menggunakan sensor biometrik ruangan. Mereka tahu ada peningkatan kadar adrenalin yang tidak normal di kamar ini."
Suara langkah kaki berat berhenti tepat di depan pintu kamar mereka. Ketukan tegas bergema di udara, memecah kesunyian yang mencekam.
"Buka pintunya," suara Leonard terdengar dari luar, tenang namun mematikan. "Kita semua tahu apa yang telah kalian akses malam ini. Jangan mempersulit proses eliminasi kalian sendiri."
Atharva menatap teman-temannya. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan rencana yang sempurna. Ia menarik napas dalam, memusatkan fokusnya pada di lengannya, dan menatap Nareswara.
"Hapus semua datanya, sekarang," perintah Atharva singkat. "Kalau mereka masuk, kita tidak boleh memberikan mereka satu pun bukti bahwa kita tahu kebenaran tentang Sektor 9-G."
Pintu asrama mulai bergetar karena tekanan magnetik dari luar. Mereka tahu bahwa dalam hitungan detik, Leonard akan mendobrak masuk, dan permainan kucing-kucingan ini akan berakhir menjadi konfrontasi langsung yang tidak terelakkan.