Kehidupan Kania yang tenang tiba2 harus berubah saat situasi mengharuskannya berperan sebagai orang lain.
Mendapatkan cinta dari pria asing saat dia tidak menginginkannya.
Namun Kania harus melepas cinta itu saat dia benar2 bisa membuka hatinya.
Akankah Kania bertahan dengan peran barunya, ataukah dia harus kembali pada kehidupannya yang tenang sebelum dia bertemu dengan pria asing itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penyatuan
Kevin masih menatap Kania dengan tajam, rasa kecewanya begitu besar pada wanita ini.
Bahkan Kevin sempat berpikir kalau sikap lembut dan manis Kania hanyalah sebuah topeng.
"Kak Kevin, jelas2 namanya Kania bukan Tania" ujar Mila sedikit kesal melihat sikap dingin Kevin pada sahabatnya.
"Ceh.." Kevin melengos sambil menyesap sekaleng bir di hadapannya.
Malam ini dia hanya ingin mabuk dan melupakan rasa sakit di hatinya setiap mengingat Kania.
"Hai Daniel, sory aku datang terlambat, selamat ya" Tiba2 seorang pria dengan tampang blasteran yang memiliki bola mata berwarna biru datang menghampiri dan memeluk Daniel.
"Aku dengar kamu berada di LA, tapi terima kasih kamu masih menyempatkan untuk datang kesini Jeremy" ucap Daniel dengan senyum renyah.
"Oh ya perkenalkan ini istriku Kania" ucap Daniel sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
Jeremy terlihat menaikan sebelah alisnya dan tersenyum penuh arti menatap Kania.
"Perkenalkan namaku Jeremy" ucapnya sambil menyodorkan tangannya untuk menyalami Kania.
Kania tersenyum ramah dan menyambut baik Jeremy.
Namun wanita itu merasa tidak nyaman saat mendapati Jeremy menatapnya dengan lekat dengan seringaian liar seperti sedang menatap mangsa.
Kania hanya bisa mengalihkan pandangannya ke tempat lain setiap matanya beradu pandangan pada Jeremy.
"Apa aku boleh lebih dulu kembali ke kamar? bisik Kania karena sudah merasa tidak nyaman berada disana.
"Baiklah, sebentar lagi aku akan menyusul, tunggu aku dan jangan lupa kalau malam ini adalah malam pertama kita, jadi jangan coba2 berani tidur lebih dulu, hmm" bisik Daniel dengan suara sensual.
Kania mengangguk kecil dan hanya tersenyum saat Daniel memberinya kecupan lembut di kening sebelum wanita itu kembali ke kamarnya.
Mila pun ikut undur diri mengingat hari yang semakin malam.
Kania berjalan perlahan menuju kamar pengantinnya.
Malam ini mereka memang masih akan menginap di hotel.
Sementara keluarga mereka yang lain sudah lebih dulu pulang.
Namun Kania terkejut saat sebuah tangan menariknya bersamaan dengan salah satu pintu kamar yang terbuka dan membawanya masuk dengan paksa.
Kania mencoba menjerit namun tangan itu lebih dulu menutup rapat mulutnya.
Dengan gerakan yang sangat cepat, tubuh Kania terhuyung menuju ranjang di kamar itu.
Dengan rasa takut yang luar biasa Kania mencoba melihat siapa yang sudah berani berbuat begitu padanya.
"Kak Kevin??? betapa terkejutnya Kania melihat Kevin yang langsung menghujani Kania dengan ciuman di setiap inci wajahnya.
Aroma alkohol begitu tajam tercium dari mulut Kevin yang tanpa ampun melum4t bibir Kania dengan rakus.
Sekuat tenaga Kania mencoba melawan, namun Kevin yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol seperti hilang akal dan tak memperdulikan tangisan dari bibir Kania yang terus meronta.
"Kak Kevin aku mohon jangan seperti ini" saat bibir wanita itu lolos dari pagutan Kevin dan beralih menjelajah bagian dada Kania.
Kevin tidak peduli dan mencoba terus melakukan aksinya untuk mendapatkan tubuh Kania.
Jemari Kevin bergerak lincah membuka paksa pakaian yang kania kenakan.
Mata yang dipenuhi kabut gairah itu semakin menatap tajam penuh keinginan setelah sebagian tubuh putih mulus Kania terlihat.
Namun tangisan wanita itu yang begitu memilukan membuat Kevin berangsur angsur tersadar akan perbuatannya.
Bahkan Kania dapat melihat Kevin yang meneteskan air mata saat mengalihkan wajahnya dari atas tubuhnya.
Kania mencoba bangkit dan merapikan pakaiannya yang mulai terbuka, dengan perasaan takut melihat Kevin yang duduk membelakanginya di sisi ranjang, wanita ini mencoba mendekati Kevin.
"Kak Kevin" panggil Kania dengan suara tangisan yang masih terdengar dari bibir tipisnya.
"Maafkan aku Kania" pria itu menundukan kepala tanpa berani menatap wajah lawan bicaranya.
"Kenapa jadi seperti ini kak" tanya Kania tak percaya pria yang selama ini begitu lembut padanya berubah menjadi pria yang menyeramkan dan hampir saja merenggut kesuciannya.
"Maaf Kania" hanya kata itu yang dapat Kania dengar, namun Kania melihat tubuh Kevin yang bergetar.
Kania memberanikan diri menyentuh pundak Kevin dan menarik dagu pria itu.
Betapa terkejutnya Kania saat melihat air mata yang sudah membasahi pipi pria ini.
"Pergilah, anggap tidak pernah terjadi apa2, dan maaf sudah melakukan hal buruk padamu" ucap Kevin beranjak berdiri menuju jendela yang masih terbuka.
Kania menyeka air matanya, hatinya ikut merasakan sakit melihat airmata Kevin.
Meski Kania berat meninggalkan Kevin dengan keadaan yang sangat kacau sekarang, namun Kania lebih takut apabila Daniel mencari keberadaannya saat ini.
Dengan rasa yang masih berkecamuk di dadanya Kania melangkah perlahan menuju pintu untuk segera pergi.
"Apa kamu tak memiliki sedikitpun perasaan padaku Kania? suara itu terdengar jelas di telinga Kania dengan tangan yang sudah melingkar di dada dan perut Kania dari arah belakang.
Dengan jarak yang begitu dekat Kania bisa merasakan pelukan hangat Kevin yang merengkuhnya.
Menahannya dalam keraguan, meski Kania tak bisa berbuat apa2 selain tetap memilih suaminya dan menyakiti hati Kevin.
"Maafkan aku " hanya kata itu yang bisa terucap dari bibirnya seiring sudut matanya yang kian menghangat oleh bulir2 air mata.
"Apa tak ada lagi kesempatan? ucap Kevin lagi dengan suara yang begitu lirih.
Kania mencoba melepaskan dekapan tangan Kevin dan berbalik menatap kearah pria itu.
Tanpa sadar tangan Kania membelai wajah Kevin, mengamati lekuk rahang yang tegas dan mampu membuat wanita manapun terhanyut menatapnya.
Menghapus sisa2 air mata dengan jemari lentiknya, Kania berucap ribuan maaf dalam hati.
Dibalas tatapan sendu yang dipenuhi rasa kecewa dan bersalah di balik sorot mata Kevin saat ini.
Dan hal itu semakin mengoyak dan menyiksa batin Kania.
"Sekali lagi maafkan aku kak, tapi aku harus segera kembali, Daniel pasti sedang mencariku sekarang" Kania tidak ingin membuat hatinya semakin ragu dan segera pergi meninggalkan Kevin yang masih berdiri mematung menatap kepergiannya.
Dengan langkah tergesa Kania berlari kecil menuju kamarnya, dia takut Daniel mencarinya dan tak menemukan keberadaannya di kamar.
Dan betapa leganya wanita itu karena tidak melihat Daniel disana.
Kania segera masuk ke kamar mandi, saat menyadari bau alkohol yang melekat di tubuhnya akibat perbuatan Kevin tadi.
Dalam guyuran air yang mengalir Kania menumpahkan semua rasa yang sedari tadi tertahan.
Bahunya bergetar mengeluarkan tangisan, wanita ini tidak pernah tau bahwa hatinya akan merasa sesakit ini.
Perasaan bersalahnya pada orang2 yang mencintainya demi melakukan sandiwara konyol untuk membantu saudara kembarnya mempertahankan Daniel begitu mengoyak hatinya, hidupnya porak poranda untuk hal yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Tak ingin Daniel melihatnya dengan mata sembab dan khawatir, Kania memilih mengakhiri tangisannya.
Berharap luka hatinya pergi bersamaan air yang mengalir, menyisakan sedikit harapan bahwa kedepannya dia tidak akan melukai lebih banyak orang lagi atas sandiwaranya.
Dan semua akan di mulai malam ini, Kania akan memilih menyerahkan hidupnya pada Daniel, meskipun dengan itu dia harus merebut lelaki itu dari saudara kembarnya.
Melanggar kesepakatan yang pernah mereka buat, persetan dengan itu semua, Kania sudah banyak kehilangan, dan dia tidak akan lagi bertindak bodoh dengan menuruti semua kemauan Tania.
Tentang bagaimana perasaannya pada Daniel, wanita ini akan belajar mencintainya, meski untuk itu dia harus mengubur perasaanya dan mematahkan hati Kevin, pria yang telah mencuri perhatiannya.
Dengan rambut yang masih sedikit basah Kania memandang pantulan dirinya di depan cermin, menunggu kedatangan Daniel Dengan perasaan yang sedikit gugup.
Menimang nimang apakah keputusan yang akan dia ambil adalah keputusan yang tepat untuknya, atau malah akan membawanya ke dalam jurang yang lebih dalam lagi.
Kania tak lagi bisa menghindar, semua sudah terjadi dan pilihannya untuk menyerahkan hidupnya pada pria ini adalah pilihan terakhir baginya.
Dan dengan senyuman Kania menyambut dekapan Daniel yang tiba2 muncul membuyarkan lamunannya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu" bisik Daniel dengan suara sensual bersamaan hembusan nafasnya yang menyapu bagian belakang telinga Kania.
"Aku menyukai aroma tubuhmu ini sayang" perlahan bibir itu menjelajah leher Kania, memberikan kecupan lembut dan sentuhan yang membuat tubuh Kania menegang.
Kania memilih menikmatinya, sensasi luar biasa yang Daniel tawarkan sungguh tak mampu lagi ditolak.
Dengan satu tarikan Daniel mampu membuka gaun tidur Kania, menyisakan pakaian dalam berenda yang menunjukan tubuh dengan lekuk yang begitu indah.
"Aku sangat menginginkanmu" bisik Daniel lagi sambil menggiring Kania masuk ke dalam rengkuhannya.
Menyatukan bibir yang saling mendamba dan menuntut pergerakan lebih dari sekedar decapan dan pagutan.
"Aku mencintaimu sayang" lirih Daniel saat mengambil jeda agar wanitanya meraup nafas sebanyak2nya untuk memulai lagi foreplay sebelum malam panjang mereka di mulai.
Tanpa memberi kesempatan wanitanya menjawab, Daniel telah meraup dan melum4t lagi bibir Kania, membawanya untuk meraih kenikmatan dunia bersama dalam penyatuan yang telah lama Daniel nantikan.
Mendapati wanitanya belum memberikan banyak perlawanan Daniel memberikan gigitan kecil di bibir merah muda itu, hingga memberikan celah bagi Daniel untuk memasukan lidahnya lebih dalam lagi, melilit dan menyesap tiap inci rongga mulut wanitanya.
Disertai geraman dan lenguhan tertahan Daniel mulai menuntun tangan Kania untuk membuka kancing kemejanya.
Membiarkan wanitanya merasa istimewa dengan mengambil bagian untuk menyentuh tubuh kekarnya yang kini menjadi milik wanita ini seutuhnya.
Bibir mereka masih saling bertaut saat tangan Daniel menyusup masuk kedalam kain penghalang yang tersisa, menariknya dengan gerakan pelan hingga kini Daniel dapat melihat tubuh polos wanitanya saat pria ini mencuri pandang.
"Kamu ingin menyentuhnya sayang " ucap Daniel sambil mengarahkan tangan Kania kedadanya saat melihat wanitanya tersipu malu melihat otot2 yang membentuk perutnya.
Tanpa memberikan jarak sedikitpun, Daniel merebahkan tubuh Kania, membiarkan wanitanya berada pada posisi senyaman mungkin untuk menikmati setiap pergerakan yang akan tercipta.
Bertumpu pada kedua lutut dan tangannya, Daniel menatap lekat wanitanya yang terbaring dibawah tubuhnya.
"Kamu cantik sayang" menatap kagum pada keindahan yang dimiliki Kania, pria ini tak mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Mengabsen tiap inci tubuh istrinya yang begitu menggoda.
Daniel tak ingin terburu2, pria ini lebih memilih menikmati detik demi detik waktu yang akan mereka lewati bersamaan dengan sentuhan2 yang membangkitkan gairah.
Dengan nafas memburu Daniel mulai menghujani banyak kecupan dileher jenjang Kania, membuat wanita itu menggeliat merasakan nikmat dari tiap sentuhan lembut bibirnya yang basah.
Merasakan remasan dirambut belakangnya dari jemari lentik wanitanya, Daniel semakin yakin Kania juga menginginkannya, merasakan tubuhnya yang juga ingin segera melebur dalam penyatuan.
"Kamu sungguh membuatku menggila sayang"