Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Tamu tak di undang 2
Ibu Widya yang tadinya jongkok langsung berdiri tegak, mendadak kehilangan rasa takutnya. "Tuhan memang tidak tidur! Pasti salah satu kolega bisnismu yang kirim bantuan, kan, Ardi? Kamu kan pengusaha sukses, relasimu pasti orang-orang hebat!"
Ardi tidak menjawab ibunya. Pikirannya kosong. Dia tahu persis, tidak ada satu pun temannya yang mau mengangkat teleponnya malam ini, apalagi mengirim armada mobil mewah seperti itu.
Sebelum Ardi sempat mencerna keadaan, salah satu pria berjas hitam di luar tampak berjalan tegap memasuki halaman rumah. Dia mengetuk pintu jati rumah mereka dengan sangat sopan sebanyak tiga kali.
Tok! Tok! Tok!
Ardi perlahan membuka pintu dengan tangan yang masih dingin. Pria tegap dengan setelan jas mahal itu membungkuk hormat secara formal.
"Malam, Pak Ardi. Kami dari firma hukum dan pengamanan aset," ucap pria berjas itu dengan suara bariton yang tegas. "Kami hanya ingin menyampaikan bahwa gangguan di luar sudah kami atasi. Urusan piutang atas nama Ibu Widya sudah dialihkan penanganannya ke pihak kami untuk sementara waktu. Jadi, truk-truk tadi tidak akan kembali malam ini."
Ibu Widya dan Rika yang mengintip dari belakang langsung bersorak lega. "Tuh, kan! Benar dugaan Mama! Ini pasti karena nama besar bisnis kamu, Ardi!" seru Ibu Widya dengan nada angkuh yang mendadak kembali lagi.
Ardi masih bingung. Dia menatap pria berjas itu. "Maaf, tapi... siapa yang mengirim Anda sekalian? Siapa yang membayar kompensasi malam ini?"
Pria berjas itu tersenyum formal, tatapannya sekilas melirik ke arah Sarah yang berdiri tenang di dekat dapur, lalu kembali menatap Ardi. "Klien kami memilih untuk tetap anonim, Pak Ardi. Beliau hanya berpesan agar rumah ini tetap tenang. Selamat malam."
Pria itu membungkuk sekali lagi, lalu berbalik dan berjalan menuju mobil sedan hitamnya. Dalam hitungan menit, armada mobil mewah itu pergi dari halaman rumah, menyisakan keheningan malam yang pekat.
Ardi menutup pintu, lalu bersandar di sana dengan napas terengah-engah. Dia menatap ibunya dan Rika yang mulai sibuk merapikan pakaian mereka sambil mengoceh soal betapa beruntungnya mereka punya relasi orang kaya.
Namun, pandangan Ardi perlahan bergeser ke arah dapur. Dia melihat Sarah yang sedang mencuci gelas kosongnya dengan sangat santai, seolah tidak terjadi apa-apa dari tadi. Ada rasa janggal yang tiba-tiba menyengat benak Ardi. Mengapa orang-orang berjas itu datang tepat setelah Sarah memegang ponselnya tadi? Mengapa tatapan pria berjas itu seolah-olah tertuju pada istrinya?
Ardi melangkah mendekati dapur, menatap punggung Sarah yang masih sibuk dengan cucian piringnya. "Sarah... kamu tidak tahu apa-apa soal orang-orang tadi, kan?" tanya Ardi, nadanya menyelidik, mencoba mengusir rasa curiga di hatinya.
Sarah mematikan keran air, mengelap tangannya dengan serbet, lalu berbalik sambil menatap Ardi dengan senyuman tipis yang sulit diartikan.
"Menurutmu bagaimana, Mas?" jawab Sarah santai, lalu berjalan melewati Ardi begitu saja tanpa memberikan jawaban pasti.
Ardi terpaku di tempatnya berdiri. Rasa lega karena rumahnya aman malam ini mendadak tertutupi oleh rasa penasaran dan aura misterius yang mulai memancar dari diri istrinya—wanita yang selama lima tahun ini dia pikir sangat dia kenali.
Sarah melangkah menjauh dari dapur menuju ruang tengah, namun Rika langsung sengaja menghadang jalannya dengan melipat tangan di dada. Keangkuhan Rika yang sempat ciut beberapa menit lalu kini sudah kembali seratus persen.
"Heh, Sarah! Kamu dengar sendiri kan kata orang berjas tadi?" cetus Rika dengan senyum sinisnya yang khas. "Urusan utang Mama sudah dialihkan karena relasi bisnis Ardi. Jadi, simpan saja semua perhiasan dan uang pelitmu itu di dalam brankas. Kami tidak butuh sepeser pun uang dari kamu!"
Ibu Widya yang sedang duduk di sofa sambil membetulkan tatanan rambutnya ikut menimpali, "Betul itu, Rika. Lagipula, dari awal Mama sudah tahu kalau Ardi ini anak yang berbakti dan sukses. Relasinya orang-orang terpandang, bukan seperti keluarga orang lain yang cuma punya nama tapi tidak bisa diandalkan saat menantu kesusahan."
Sarah menghentikan langkahnya. Dia tidak kelihatan tersinggung sama sekali. Sebaliknya, dia menatap mertua dan iparnya itu dengan tatapan kasihan.
"Syukurlah kalau memang begitu, Ma, Mbak," jawab Sarah santai, suaranya mengalir sangat tenang. "Tapi kalau boleh aku mengingatkan... orang berjas tadi bilang urusannya cuma dialihkan untuk sementara, bukan lunas. Artinya, status kalian saat ini di rumah ini masih tetap sama: pengungsi yang tidak punya tempat tinggal."
"Sarah!" bentak Ardi yang baru saja berjalan mendekat dari arah pintu depan. Wajahnya mengeras. "Bisa tidak mulut kamu itu tidak usah ketus begitu? Mama sama Mbak Rika baru saja lepas dari syok. Setidaknya kalau kamu tidak bisa membantu dengan uang, bantu dengan menjaga perasaan mereka!"
"Menjaga perasaan yang bagaimana lagi, Mas?" Sarah menoleh, menatap Ardi dengan senyuman tipis. "Apa aku harus ikut pura-pura amnesia seperti mereka? Baru saja setengah jam yang lalu kalian bertiga panik, berteriak-teriak menuntut tabunganku, dan saling menyalahkan sampai vas bunga di pojok itu pecah. Sekarang, begitu ada yang menyelamatkan, kalian langsung kembali berlagak seperti penguasa di rumah ini? Lucu sekali."
"Kamu—" Rika hendak membalas, tapi Ardi menepis tangan kakaknya, memberi isyarat agar Rika diam.
Ardi maju satu langkah, menatap Sarah lekat-lekat. Ego lakil-lakinya yang sempat terluka malam ini membuatnya ingin menegaskan kembali posisinya di depan sang istri. "Dengar ya, Sarah. Terlepas dari siapa yang mengirim orang-orang tadi, kenyataannya rumah ini aman. Dan besok, aku akan pastikan proyek kontraktor ku berjalan lancar supaya aku bisa melunasi sisa masalah ini tanpa perlu merepotkan kamu lagi. Jadi, mulai besok, aku minta kamu urus rumah ini dengan baik dan jangan pernah cari ribut lagi dengan Mama atau Rika."
Sarah menatap Ardi. Di dalam hatinya, rasa cinta itu rasanya benar-benar sudah terkikis hingga ke akarnya. Suaminya begitu buta oleh gengsi dan pembelaan buta terhadap keluarganya sendiri.
"Kita lihat saja besok, Mas. Semoga proyek yang kamu banggakan itu memang benar-benar bisa menyelamatkan kalian," ucap Sarah pelan, nadanya terdengar sangat misterius di telinga Ardi.
Tanpa menunggu balasan lagi, Sarah berbalik dan berjalan santai menaiki anak tangga menuju kamarnya, meninggalkan Ardi yang mendadak kembali dilingkupi rasa janggal yang teramat sangat.
Tepat saat Sarah menutup pintu kamarnya di lantai atas, ponsel di saku celananya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari sekretaris Mega Group.
"Nona Muda, dokumen pengalihan piutang Ibu Widya sudah resmi ditandatangani malam ini atas nama lembaga anonim kita. Besok pagi, kami akan mulai membatasi akses keuangan pada proyek baru Pak Ardi seperti yang Anda minta. Apakah ada hal lain?"
Sarah tersenyum dingin di dalam kegelapan kamar. Perlahan tapi pasti, jaring-jaring yang dia tebar mulai bekerja. Dia tidak perlu mengotori tangannya sendiri; biarkan kesombongan Ardi dan keluarganya yang menyeret mereka ke jurang kehancuran.