Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35 - Undangan dari Ballroom
Undangan itu datang dalam amplop krem tebal.
Kurir menyerahkannya ketika Ratna baru selesai membuka klinik. Nama Ratna Wulandari tertulis rapi di depan amplop, dengan huruf yang membuat Bu Rini langsung meninggalkan obat batuknya dan mendekat.
"Dari siapa, Bu Dokter?"
"Bu Rini, ini bukan hasil lab."
"Justru kelihatannya lebih penting."
Ratna membuka amplop. Di dalamnya ada kartu undangan peluncuran film dan makan malam penghargaan sebuah rumah produksi. Nama Wibisana Group tercetak kecil di bagian sponsor.
Ada catatan tulisan tangan dari Arman.
Ibu tidak wajib datang. Tapi saya ingin Ibu melihat dunia yang tidak harus membuat Ibu takut.
Bu Rini membaca dari samping dan langsung berkomentar, "Laki-laki kalau sudah menulis tangan, tandanya serius atau berbahaya."
Ratna melipat kartu. "Tekanan darah Ibu saya ukur ulang."
Namun setelah Bu Rini pulang, Ratna membawa undangan itu ke rumah dan meletakkannya di meja makan. Seharian, kartu itu seperti ikut bernapas di sana.
Ballroom hotel besar di Jakarta. Sutradara. Aktor. Pemilik bisnis. Wartawan hiburan. Orang-orang yang tahu cara berdiri di bawah lampu.
Ratna membuka lemari.
Kebayanya tidak banyak. Satu biru tua, satu hijau lumut, satu cokelat muda. Semuanya pantas untuk pengajian, acara keluarga, atau undangan nikah di gedung sederhana. Tidak ada yang tampak cocok untuk tempat yang namanya saja sudah membuat punggung Ratna tegang.
Arman menebak masalah itu sebelum Ratna mengatakannya.
Ia menawarkan bantuan penata busana. Ratna hampir menolak. Setelah tawar-menawar yang membuat penata busana bernama Lestari berkeringat, Ratna akhirnya setuju menyewa kebaya abu perak, bukan menerima hadiah.
Saat ia mencoba kebaya itu di depan cermin, Ratna tidak tiba-tiba menjadi muda. Kerutan di sudut mata tetap ada. Lehernya tetap menunjukkan usia. Tangannya tetap tangan dokter yang terlalu lama bekerja.
Namun kebaya itu membuat bahunya terlihat tegak.
Lestari berkata, "Ibu cantik."
Ratna menatapnya dari cermin. "Jangan bohong untuk membuat pelanggan senang."
"Saya tidak bohong. Ibu punya wajah orang yang tidak berusaha menjadi orang lain."
Kalimat itu tinggal di kepala Ratna sampai malam acara.
Hotel di Jakarta itu terlalu terang.
Begitu Ratna turun dari mobil, ia merasa semua lampu diarahkan kepadanya. Arman menunggu di lobi dengan jas gelap. Ia tidak langsung bicara saat melihat Ratna.
"Kalau Bapak diam terlalu lama, saya pulang," kata Ratna.
Arman tersadar. "Ibu sangat cantik."
"Itu kalimat pertama yang aman."
"Kalimat kedua lebih berbahaya."
"Simpan saja."
Mereka masuk bersama.
Di dalam ballroom, musik pelan bercampur tawa dan denting gelas. Orang-orang menoleh kepada Arman, lalu kepada perempuan di sampingnya. Tatapan itu bukan tatapan tetangga yang mengintip dari warung. Ini tatapan orang kota yang lebih halus, tetapi sama-sama menghitung.
Usia.
Pakaian.
Nama.
Status perceraian.
Ratna merasakan semuanya.
Arman berdiri tidak terlalu dekat, seperti mengingat kata-kata Ratna tentang tidak ingin dijadikan pajangan.
"Bernapas," katanya pelan.
"Saya bernapas."
"Ibu menahan sejak lobi."
Ratna menghembuskan napas. Ia benci karena Arman benar.
Beberapa orang datang menyapa. Ada yang ramah, ada yang terlalu ingin tahu. Seorang perempuan muda bernama Maya memanggil Ratna dengan nada ragu, seolah kata "Ibu" di mulutnya bisa berubah menjadi ejekan.
Ratna menjawab datar, "Iya. Saya memang sudah pantas dipanggil Ibu."
Maya tertawa canggung dan pergi.
Arman menunduk sedikit. "Ibu menyelamatkan saya dari penjelasan panjang."
"Bapak terlalu sering ingin menjelaskan."
"Kebiasaan rapat."
"Kurangi."
Malam itu hampir berjalan seperti ujian sosial yang panjang, sampai seorang laki-laki paruh baya berambut gondrong rapi mendekat. Namanya Jaya Kusuma, sutradara. Ia menyalami Arman, lalu menatap Ratna lebih lama daripada tamu lain.
Tatapannya bukan menghitung harta.
Ia seperti mencari luka.
"Bu Ratna dokter?" tanyanya.
"Dulu."
"Dokter tidak pernah benar-benar dulu."
Ratna tidak tahu harus menjawab apa.
Jaya bertanya tentang klinik kecil, pasien kampung, perempuan yang tetap bekerja setelah rumah tangga runtuh. Pertanyaannya tidak terdengar seperti gosip. Ia mendengarkan jawaban Ratna dengan serius, lalu beberapa kali mengangguk sendiri.
"Wajah Ibu menarik," katanya akhirnya.
Arman langsung menoleh.
Ratna juga.
Jaya mengangkat tangan. "Dalam arti kamera. Jangan menatap saya seperti saya mencuri tamu."
Ratna hampir tertawa. "Saya tidak pernah berakting."
"Justru itu."
Kalimat itu aneh. Tetapi cara Jaya mengatakannya membuat Ratna tidak merasa sedang digoda atau direndahkan. Ia merasa seperti seseorang baru saja melihat bagian dirinya yang selama ini tidak ia pakai.
Di ujung ruangan, Nadim memperhatikan.
Ia tidak mendekat sampai acara hampir selesai. Ketika akhirnya ia datang, wajahnya lebih serius daripada saat makan siang di rumah Wibisana.
"Oma ingin bicara dengan Om besok," katanya kepada Arman.
"Tentang apa?"
Nadim melirik Ratna.
"Tentang malam ini."
Ratna tidak terkejut.
Di mobil pulang, ia melepas napas panjang. Kebaya abu perak itu masih rapi, tetapi tubuhnya terasa lelah.
"Saya tahu acara ini akan punya buntut," katanya.
"Saya juga."
"Bapak tetap mengajak saya."
"Karena menyembunyikan Ibu juga akan punya buntut."
Ratna menatap lampu Jakarta yang bergerak di kaca jendela.
Malam itu tidak membuatnya merasa masuk ke dunia Arman. Justru sebaliknya. Ia melihat betapa besar jaraknya.
Namun di antara tatapan yang menilai dan bisik-bisik yang mungkin sudah mulai tumbuh, ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan.
Seseorang melihat wajah tuanya dan berkata ia menarik.
Bukan karena kasihan.
Bukan karena ia korban.
Bukan karena ia ibu yang malang.
Dan itu membuat Ratna takut dengan cara yang baru.
Malam itu, sebelum tidur, Ratna melepas kebaya abu perak dan menggantungnya dengan hati-hati.
Ia menyentuh bagian lengan yang tadi terkena cahaya lampu ballroom. Kain itu tidak berubah. Tetap kain sewaan yang besok harus dikembalikan. Namun di tubuh Ratna, kain itu sempat membuat orang-orang melihatnya dengan cara berbeda.
Ponselnya bergetar.
Arman: Ibu sudah istirahat?
Ratna: Baru mau.
Arman: Maaf kalau malam ini melelahkan.
Ratna menatap pesan itu. Ia hampir menulis bahwa dirinya baik-baik saja, lalu menghapusnya.
Ratna: Melelahkan. Tapi tidak buruk.
Balasan Arman lama.
Arman: Terima kasih sudah datang.
Ratna: Jangan sering-sering membuat saya masuk kandang lampu seperti itu.
Arman: Saya akan belajar memilih lampu yang lebih kecil.
Ratna tersenyum.
Senyum itu belum hilang ketika pesan dari Raka masuk.
Raka: Bu, foto Ibu sudah masuk grup keluarga. Melati belum komentar.
Ratna menutup mata sebentar.
Ia tahu dunia yang tadi ia masuki tidak selesai di pintu hotel.
Besok, lampunya akan berubah menjadi gosip.
Ratna meletakkan ponsel di meja.
Di kamar yang kembali gelap, ia mendengar suara kipas angin sendiri.
Ballroom tadi jauh, tetapi akibatnya sudah berjalan pulang bersamanya.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan