Area 21+
Harap bijak untuk membaca di bawah usia.
Clara wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak laki-laki. Keadaan rumah tangganya tak seperti rumah tangga yang lain, penuh dengan penderitaan dan kesusahan.
Suatu hari, saat mereka berdua bertengkar lagi ada seorang pria yang masuk tanpa permisi dan membeli Clara dan Reno.
Clara yang tersentak kaget dan bingung, "Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa aku di beli oleh pria yang tidak aku kenal sama sekali?"
"Aku di jual oleh suamiku sendiri! Apa aku sehina itu?"
"Kesetiaan ku yang ku berikan padanya dengan ketulusanku dibalas dengan hina seperti ini."
"Apa kesetiaan ku berujung Cerai seperti mimpi yang tak ku inginkan." Kata Clara dengan menangis sambil menidurkan Reno anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triya Widodo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Tuan Abbas menaruh sendok nya dan berkata, "hanya satu wanita yang berani memegang wajah dan tubuh ku," ujarnya, "dan aku tidak marah padanya." terangnya menatap wajah Clara seraya memegang telapak tangan dia.
Wajah yang memerah di kedua pipi dan terasa hangat membuat Clara merasa malu. Tuan Abbas menarik pelan tangan Clara dan ia mulai menurut serta mendekat tepat di hadapannya.
Memangku Clara dan menyisihkan rambut kebelakang telinganya.
Mendekatkan bibirnya di daun telinga Clara serta membisikkan, "Mulailah membuka hatimu padaku, " tuturnya, "aku tak bisa menyembunyikan perasaan ku dan bertahan memendam perasaan ku." Tuan Abbas menyeringai.
"Tu-tuan Abbas..." ucap Clara dengan gugup dan detak jantung yang tak bisa di tahan berdetak dengan kencang.
"Apa... Yang bisa anda janjikan padaku? Sehingga anda menyuruhku membuka hati ku yang masih terkunci dengan rapat ini..." tanya Clara menatap kedua mata Tuan Abbas secara bergantian.
"Menjaga hati kamu..." jawabnya dengan wajah tegasnya.
"Bisakah janji anda saya pegang..." ucap Clara dengan pertanyaan nya.
"Aku tidak pernah melanggar janji ku," balasnya mengambil telapak tangan Clara dan mengecupnya.
"Pegang... Dan genggam dengan erat seperti ini..." tambahnya seraya mengatupkan telapak tangan dengan jari-jari Clara yang indah.
"Baiklah... Akan ku coba walaupun aku masih merasakan trauma dalam hati ku dan takut..." gumamnya pelan dan tak yakin antara perasaan dan pikiran.
"Terimakasih..." sahut Tuan Abbas dan mendekatkan bibirnya ke bibir Clara.
"Tuan... Anda sangat mesum sekali!" hindarnya dari ciuman Tuan Abbas.
"Mulai sekarang panggil saya Mas atau apalah... Dan jangan mengulang kata "MESUM" lagi." timpalnya tegas pada ku.
"Baiklah, M-mas Abbas." balasnya seraya tersenyum gugup.
"Saat bersama mu rasanya aku ingin "MESUM" padamu..." senyum menyeringai pada bibir Tuan Abbas.
"Tuan... Eh, maaf, Mas Abbas." seketika telunjuk Clara menempelkan di bibir Tuan Abbas.
"Tambahan vitamin untuk stamina hari ini..." sindirnya mengangkat satu alis.
"Vitamin apa?" tanya Clara bingung.
Tanpa membalas pertanyaan Clara, sekilas Tuan Abbas mengecup bibir merah Clara, "Sto...p," ujarnya, "vitamin ini..." imbuhnya menunjuk bibinya.
Dia mengangguk pelan dan berwibawa sekali.
Berbeda dengan Riko Hilman.
Batin Clara dan mulai mengesum bibir Tuan Abbas.
Author POV...
(Mereka menikmati vitamin dan sarapan di pagi hari)
Yang jomblo ndak perlu membayangkan hingga jauh ya...
Karena sakit untuk di bayangkan.😢🙈😆
Usai sudah melakukan sarapan dan vitamin di pagi hari, mereka saling memandang dan melempar senyum bergantian.
"Kita lanjutkan sarapan pagi dengan nasi..." potong Clara beranjak berdiri dari pangkuan Tuan Abbas.
"Tetaplah duduk di pangkuan dan sarapan lah..." ucap Tuan Abbas menarik dan mengembalikan posisi Clara.
"Apa anda tidak menghabiskan sarapan anda?" tanya nya menoleh ke arah Tuan Abbas.
"Sudah kenyang..." balasnya dengan santai.
Clara membalas mengangguk dengan pelan dan melanjutkan sarapannya. Tuan Abbas melihat Clara makan dengan lahap sekilas tersenyum senang. Dia melihat punggung Clara dan teringat bekas memar tersebut.
"Clara..." panggilnya.
"Iya, Mas." jawabnya seraya menoleh ke belakang.
"Memar di punggung mu biar aku lihat." katanya padaku.
"Sudah sembuh, Mas. Sudah tidak ngilu dan sakit lagi." jawab Clara tersenyum.
"Hanya lihat saja... Tetaplah makan dengan lahap agar lebih berisi dan bisa menaikkan ukuran cup DD." seringai Tuan Abbas seraya membuka resleting belakang.
Uhuk... Huk... Huk...
"Pelan-pelan, Ra. Minum dulu..." sambung Tuan Abbas mengusap punggung Clara.
"Memang anda tahu tentang cup DD itu apa?" timpal Clara menghadap ke arahnya.
"Tidak... Hanya mengira-ngira saja..." kekeh nya pelan.
"Jangan mengira-ngira lagi dan jangan mengatakan cup DD atau apalah yang berhubungan dengan itu." kesalnya Clara dan malu setengah mati.
"Lanjutkan saja sarapannya aku tak akan menggoda lagi." sambung nya seraya tersenyum dan menggeleng kan kepalanya.
Tuan Abbas membuka baju Clara dan melihat hanya sedikit bekas luka serta memar di punggungnya.
“Memarnya sudah mulai memudar, seletah sarapan aku obati lagi.” Ujarnya seraya menutup lagi baju Clara.
“Tidak perlu, ini sudah baikkan daripada yang kemarin dan kemarinnya lagi.” Sahutnya membalikkan tubuhnya dengan menggerakkan tangannya ke hadapan Tuan Abbas.
“Biarkan aku yang merawat memar kamu hingga benar-benar sembuh.” Sambungnya dengan dingin.
“B-baiklah...” Jawabnya menunduk pasrah.
“Saya sudah selesai, Tu... M-mas.” Imbuhnya gugup.
“Biasakan bicara informal padaku dan ubahlah kata “SAYA” menjadi “AKU” dan “ANDA” menjadi “KAMU” serta...” jelasnya berhenti seketika yang disela oleh Clara.
“Mas... Aku sudah tahu, aku akan mulai membiasakan kosakata ku dengan baik.” Potongnya dengan jelas pada Tuan Abbas seraya tersenyum.
“Iya... Kalau begitu obati dulu memar yang tinggal sedikit. Setelah itu menjemput Reno.” Balasnya mengangguk dan mengangkat satu alisnya seraya melihat jam yang menempel di tangannya.
“Iya, baiklah.” Jawabnya seraya beranjak berdiri dan berjalan duduk di sofa.
Lalu Tuan Abbas mengambil kotak obat dan duduk di samping Clara. Tuan Abbas membuka resleting belakang dan mulai mengobati Clara.
“Sudah...” seraya menutup kembali dan menaruh kotak obat di meja.
“Apa kamu selalu membawa kotak obat itu?” tanya Clara melirik kotak obat yang pernah ia lihat di rumah Tuan Abbas.
“Saat bersamamu, mulai hari itu aku selalu membawanya karena bekas lukamu.” Jawabnya menatap Clara.
Dia sangat perhatian sekali...
Jangan berkhayal, dia memang perhatian pada semuanya.
Batinnya seraya mengangguk pelan.
“Ayo, jemput Reno sekarang.” Ajak Clara pada Tuan Abbas.
“Iya, ayo.” Jawabnya dan mengambil jas biru navy di lemari.
Setelah sampai di loby hotel, “tunggu di sini, aku bawa mobil,” ujarnya.
“Iya...” balas Clara tersenyum padanya.
Lalu Tuan Abbas tiba dengan membawa mobilnya dan Clara masuk duduk di samping Tuan Abbas.
Clara memakai seatbelt, “sudah, Mas,” ucapnya, “hari ini anda menyetir sendiri.”
“Iya... Kalau tidak sibuk aku selalu menyetir sendiri.” Terangnya padaku dan mulai perjalanan menjemput Reno.
DI JALAN RAYA
Sebuah iklan yang terlihat dari seluruh penjuru arah, Tuan Abbas melihat iklan ambasador dari perusahaan miliknya dengan kolaborasi aktris dan aktor di negara tersebut sangat apik.
"Semoga sukses dan lancar launching produk baru..." gumam pelan Tuan Abbas seraya melihat dari bawah dan arah jauh dalam mobil.
"Anda bergumam apa, Mas?" tanya Clara menoleh padanya.
"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa..." jawabnya tersenyum.