NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 12

Dunia Fana – Batas Desa Angin Lembut.

Cahaya emas dari Mortal Dao yang baru saja mengguncang Sektor Utara Alam Atas menyusut sepenuhnya, mengalir masuk kembali ke dalam pori-pori kulit Shi Hao. Saat kakinya kembali menyentuh rumput basah di hutan bambu Dunia Fana, keagungan tak terbatas yang mampu meremukkan dimensi itu lenyap tanpa bekas.

Tombak hitamnya telah kembali meleleh, bersembunyi di lubuk kedalaman Dantian-nya yang kini hangat dan subur.

Pemuda itu menghela napas panjang, membiarkan tubuhnya kembali memeluk kelemahan fana. Kaki kanannya kembali kaku dan terseret, dan sepasang kelopak matanya menutup rapat. Dia meraba saku bajunya, mengambil selembar kain rami putih yang baru, lalu mengikatkannya kembali menutupi mata kirinya dengan gerakan yang sangat telaten.

Dalam sekali kedip, Kaisar Asura yang ditakuti ribuan iblis kembali menjadi "A-Hao"—petani buta yang bersahaja.

Di atas dahan bambu, lima sosok melompat turun dengan sangat senyap. Lu Bai, Hong Hua, Hei Gen, Shui Di, dan Jin Yu langsung berlutut bertumpu pada satu lutut di atas tanah, menundukkan kepala mereka sedalam mungkin.

"Hormat kami... Tuan Besar," bisik Lu Bai, suaranya bergetar hebat. Rasa hormat di dalam hatinya kini telah melampaui batas langit. Jika sebelumnya mereka patuh karena takut pada Gu Qing Yi, sekarang mereka bersujud karena pemujaan mutlak pada sang legenda.

Shi Hao menghentikan langkah kakinya. Tanpa menoleh, dia tersenyum tipis.

"Kalian masih di sini? Kupikir kalian sudah pergi ke desa sebelah untuk mencari perak," kata Shi Hao dengan nada bercanda khas manusia biasa.

"Tuan Besar, kami..." Lu Bai menelan ludah, bingung harus menjawab apa. Setelah melihat Shi Hao membelah jenderal Nether dengan ayunan malas, memanggilnya 'seniman keliling' rasanya seperti menodai surga.

"Jaga tempat ini dengan baik," potong Shi Hao lembut, tongkat bambunya mengetuk tanah pelan. "Awan ungu di atas langit memang sudah hilang, tapi tikus-tikus kecil dari seberang mungkin masih meninggalkan remah kotoran di sekitar hutan. Jangan biarkan mereka mengotori sumur desa."

"Siap melaksanakan perintah, Tuan Besar! Bahkan jika jiwa kami harus hancur, tidak akan ada satu pun serangga Nether yang bisa melintasi hutan ini!" seru Hei Gen dengan mata berkilat tegas.

Shi Hao terkekeh pelan, lalu melanjutkan langkahnya yang pincang, berjalan perlahan menuju gubuk bambunya yang berada di ujung jalan setapak.

Halaman Gubuk Keluarga Shi.

Malam mulai beranjak menuju pagi, namun kegelapan masih menyelimuti halaman. Tiga ekor Anjing Neraka Bermata Enam yang tadinya tiarap ketakutan, seketika melompat berdiri saat mencium aroma langkah kaki tuannya.

Guk! Guk!

Hitam Satu merangkak maju, menggosokkan kepala raksasanya ke lutut kaku Shi Hao dengan sangat manja. Ekor durinya bergerak sangat pelan, takut merobohkan pagar bambu.

"Ah, Hitam Satu. Kau belum tidur?" Shi Hao mengelus bulu kasar anjing iblis itu, lalu berjalan naik ke teras rumah.

Pintu gubuk terbuka sebelum Shi Hao sempat mengetuknya.

Aroma kehangatan langsung menyembur keluar, mengusir sisa hawa dingin kosmik yang sempat menempel di pakaian Shi Hao. Itu adalah aroma kaldu jamur liar yang direbus dengan kayu manis, jahe, dan sedikit madu hutan. Sangat harum dan menenangkan jiwa.

Gu Qing Yi berdiri di ambang pintu. Zirah sutra teratai hijaunya telah disimpan kembali. Dia kembali mengenakan jubah rami kasarnya yang penuh tambalan, dengan celemek putih yang sedikit terkena noda jelaga dapur. Wajahnya yang sempat sepucat kertas kini telah kembali merona merah, berkat aliran Qi penyembuhan yang dialirkan Shi Hao di angkasa luar tadi.

Kedua sepasang kekasih itu saling berhadapan dalam keheningan yang intim.

Shi Hao tersenyum, mengangkat wajahnya yang tertutup kain putih. "Istriku, aku pulang. Perjalanan ke kota tadi sangat melelahkan, untung saja aku tidak tersesat di jalan pulang."

Air mata Qing Yi kembali menggenang di sudut matanya, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan kebahagiaan yang membuncah. Pria ini tahu segalanya. Dia mengingat segalanya. Namun, dia memilih untuk tetap kembali ke gubuk kecil ini dan memanggilnya 'Istri'.

"Sup jamurnya baru saja matang, Suamiku," suara Qing Yi sedikit serak, namun terdengar sangat manis. Dia melangkah maju, meraih tangan kanan Shi Hao yang kasar, dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. "Masih sangat hangat. Masuklah."

Mereka duduk di meja makan bambu yang sederhana. Qing Yi menuangkan sup itu ke dalam mangkuk tanah liat, lalu menyodorkannya ke depan Shi Hao bersama sepasang sumpit kayu.

Shi Hao menghirup aroma sup itu dengan ekspresi sangat puas. Dia menyendok kuah hangat itu dan meminumnya dalam sekali teguk.

"Luar biasa," puji Shi Hao, matanya yang tertutup kain tampak menyipit senang. "Dibandingkan dengan angin sejuk di atas awan tadi, sup buatanmu ini seribu kali lebih mampu membuat jiwaku tenang."

Qing Yi duduk di seberangnya, menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap suaminya yang makan dengan lahap.

"Hao..." panggil Qing Yi pelan. "Apakah... apakah kau akan pergi lagi jika langit di atas sana kembali retak?"

Shi Hao meletakkan sendok kayunya. Dia menjangkau ke seberang meja, menemukan tangan kecil Qing Yi, lalu menggenggamnya dengan remasan yang hangat dan penuh kepastian.

"Seratus tahun yang lalu, aku bertarung karena aku tidak tahu untuk apa aku hidup," kata Shi Hao, suaranya terdengar begitu dalam dan bijaksana. "Aku mengira menjadi Kaisar dan dipuja jutaan klan adalah akhir dari perjalanan."

Shi Hao mengelus punggung tangan istrinya.

"Tapi setelah kehilangan segalanya dan menjadi manusia biasa di desa ini... aku baru sadar. Puncak tertinggi yang kucari selama ini bukan berada di atas takhta emas, melainkan di sini, di dalam gubuk ini, bersamamu."

"Dewa Iblis Shen Yu boleh saja membawa seluruh isi semestanya untuk menghancurkan Alam Atas. Tapi selama kubah teratai hijaumu masih mekar di desa ini... aku akan memastikan ladang gandum kita tidak akan kekurangan air, dan sup jamurmu tidak akan pernah mendingin."

Qing Yi tersenyum haru, menggenggam balik tangan suaminya dengan erat. Kekhawatiran yang sempat menghantui hatinya selama seratus tahun akhirnya sirna sepenuhnya malam ini. Suaminya telah kembali, bukan sebagai senjata pembunuh yang haus darah, melainkan sebagai pelindung sejati.

Di luar gubuk, fajar musim semi perlahan mulai menyingsing. Cahaya matahari pagi yang hangat menembus celah-celah dinding bambu, menerangi sepasang manusia yang sedang menikmati sarapan sederhana mereka dalam kedamaian.

Di tempat lain, badai perang terbesar dalam sejarah tiga ribu dunia sedang dipersiapkan oleh para dewa dan iblis. Namun di sudut kecil Dunia Fana ini, waktu seolah berjalan melambat, menjaga rahasia tentang seorang Kaisar yang memilih menjadi petani demi cinta.

1
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
kasian berkali kali manggg wuuuu ini....
saniscara patriawuha.
sakit banget tuhhh rasaneee...
saniscara patriawuha.
sikattttttt lagiiii mangggg shiiiiii.....
saniscara patriawuha.
mantaffffff surataffff....
Hendra Saja
makin penasaran.....apa tidak bertemu dengan sang tiran Thor....
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
HINATA SHOYO
mantapp jiwa kerennn cuuyyyyy
HINATA SHOYO
kerenn poolĺll lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!