Chen Mo terlahir kembali di dunia kultivasi dengan sebuah sistem yang awalnya dianggap rusak dan tak berguna. Namun, seiring perjalanannya, ia menemukan bahwa sistem itu sebenarnya adalah Sistem Pemurnian Langit—warisan kuno yang bertujuan menjaga keseimbangan energi dunia.
Dengan fondasi yang disempurnakan secara unik, Chen Mo melewati berbagai tantangan: memenangkan kompetisi, masuk sekte terkuat, mengungkap rencana jahat organisasi kegelapan, hingga akhirnya memahami misi sejatinya. Ia tidak hanya berjuang untuk menjadi kuat, tapi juga mempelajari bahwa kekuatan sejati terletak pada keseimbangan, bukan penaklukan.
Cerita ini mengikuti perjalanannya dari pendatang tak dikenal hingga menjadi penjaga keseimbangan yang dihormati, melintasi alam yang lebih luas dan memegang tanggung jawab menjaga harmoni seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DARK SISTEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: KEMBALI KE SEKTE
BAB 14: KEMBALI KE SEKTE
Perjalanan kembali menuju Sekte Awan Hijau berlangsung lebih tenang dibanding perjalanan berangkat.
Tidak ada penyergapan.
Tidak ada murid Sekte Pedang Langit.
Tidak ada penjual ramuan palsu yang tiba-tiba muncul membawa pengawal kota.
Bagi Chen Mo, itu sudah merupakan keajaiban.
"Kalau setiap hari setenang ini, hidup pasti lebih nyaman."
Lin Qingyue meliriknya dari samping.
"Masalah biasanya datang mencarimu."
"Itu fitnah."
Lin Qingyue tidak menjawab.
Karena sejauh ini pernyataan tersebut justru terbukti benar.
Sepanjang perjalanan, Chen Mo terus mempraktikkan metode pemurnian energi yang diajarkan Guru Bo.
Meskipun sedang berjalan, ia tetap mengatur napas sesuai ritme yang diajarkan.
Menyerap.
Menyaring.
Memurnikan.
Energi spiritual di sekitarnya perlahan memasuki tubuh.
Jumlahnya memang tidak banyak.
Namun kualitasnya jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
Ditambah bantuan sistem yang terus bekerja diam-diam, kemajuan yang diperolehnya jauh melampaui murid biasa.
Beberapa kali Lin Qingyue memperhatikan perubahan tersebut.
Aura Chen Mo masih berada di Tingkat Pemula Dasar.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Aura itu terasa lebih stabil.
Lebih padat.
Dan entah kenapa memberikan perasaan kokoh yang sulit dijelaskan.
Seolah pondasinya jauh lebih kuat dibanding kultivator lain dengan tingkat yang sama.
Bahkan mungkin lebih kuat dari beberapa kultivator tingkat lebih tinggi.
Menjelang sore, gerbang Sekte Awan Hijau akhirnya terlihat di kejauhan.
Puncak-puncak gunung yang diselimuti awan kembali menyambut mereka.
Para murid yang berjaga segera membuka gerbang ketika melihat rombongan kembali.
"Kita sudah sampai."
kata Pengawal Wang.
Beberapa murid langsung menghela napas lega.
Tidak ada tempat yang terasa lebih aman daripada sekte sendiri.
Rombongan segera memasuki area sekte.
Namun belum lama berjalan, banyak murid mulai memperhatikan mereka.
Terutama Chen Mo.
"Apa itu Chen Mo?"
"Bukankah dia murid yang selalu berada di Tingkat Pemula Dasar?"
"Tunggu... auranya terasa berbeda."
Bisikan mulai terdengar dari berbagai arah.
Chen Mo yang mendengar semuanya hanya pura-pura tidak peduli.
Padahal dalam hati ia cukup senang.
Setidaknya sekarang orang-orang membicarakan kemajuannya.
Bukan hanya kegagalannya.
Tak lama kemudian, mereka bertemu seseorang yang sangat familiar.
Penatua Li.
Pria tua yang bertanggung jawab atas sebagian besar urusan murid luar itu sedang berjalan melintasi halaman utama.
Begitu melihat rombongan kembali, ia menghampiri mereka.
"Perjalanan berjalan lancar?"
Pengawal Wang memberi hormat.
"Lancar, Penatua."
"Tidak ada masalah besar."
Chen Mo dan Lin Qingyue saling melirik.
Definisi "tidak ada masalah besar" milik Pengawal Wang ternyata cukup luas.
Penatua Li mengangguk puas.
Lalu pandangannya jatuh kepada Chen Mo.
Awalnya biasa saja.
Namun beberapa detik kemudian alisnya terangkat.
"Hm?"
Chen Mo langsung merasa tidak nyaman.
Tatapan seorang penatua biasanya tidak pernah membawa hal baik.
Penatua Li melangkah mendekat.
"Chen Mo."
"Murid ini hadir."
"Kau mengalami kemajuan?"
Chen Mo menggaruk kepala.
"Sedikit."
Penatua Li mengamati beberapa saat.
Semakin lama, ekspresinya semakin aneh.
Ia tidak menemukan peningkatan tingkat kultivasi yang jelas.
Namun fondasi energi Chen Mo jauh lebih kokoh dibanding sebelumnya.
Bahkan terasa lebih murni.
Fenomena seperti ini cukup jarang terjadi.
Biasanya seseorang akan naik tingkat terlebih dahulu sebelum kualitas energinya meningkat sejauh itu.
Namun pada Chen Mo, justru kebalikannya.
Menarik.
Sangat menarik.
"Apa yang kau lakukan selama perjalanan?"
tanya Penatua Li.
Chen Mo berpikir sejenak.
"Makan."
Penatua Li berkedip.
"Lalu?"
"Tidur."
"Lalu?"
"Berjalan."
Penatua Li menatapnya tanpa ekspresi.
Lin Qingyue menoleh ke arah lain.
Bahunya sedikit bergetar.
Penatua Li akhirnya menghela napas.
"Aku mengerti."
Padahal sebenarnya ia tidak mengerti sama sekali.
Namun satu hal yang pasti.
Perubahan Chen Mo adalah hal baik.
Sekte selalu membutuhkan murid yang berkembang.
Apalagi murid luar yang sebelumnya dianggap biasa saja.
"Terus pertahankan kemajuanmu."
kata Penatua Li.
"Jangan menyia-nyiakan kesempatan."
Chen Mo segera memberi hormat.
"Terima kasih, Penatua."
Setelah itu, Penatua Li pergi.
Namun sebelum menghilang dari pandangan, ia sempat menoleh sekali lagi.
Tatapannya dipenuhi rasa penasaran.
Sementara itu, dari kejauhan, seseorang sedang memperhatikan seluruh kejadian tersebut.
Zhang Hu.
Wajahnya langsung menggelap.
Ia melihat sendiri bagaimana Penatua Li berbicara kepada Chen Mo.
Melihat bagaimana beberapa murid mulai membicarakannya.
Melihat bagaimana Lin Qingyue berjalan bersamanya.
Tangan Zhang Hu perlahan mengepal.
Dulu, Chen Mo hanyalah bahan tertawaan.
Seorang murid gagal yang tidak memiliki masa depan.
Namun sekarang keadaan mulai berubah.
Dan perubahan itu membuat Zhang Hu sangat tidak nyaman.
"Kenapa selalu dia..."
gumamnya pelan.
Semakin ia memikirkan semua kejadian beberapa minggu terakhir, semakin besar rasa iri dalam hatinya.
Pertandingan latihan.
Perjalanan misi.
Perhatian Penatua Li.
Bahkan kedekatannya dengan Lin Qingyue.
Semua itu seharusnya tidak terjadi.
Tidak pada Chen Mo.
Tidak pada seseorang yang dulu selalu berada di bawahnya.
Tatapan Zhang Hu perlahan berubah dingin.
Jika hanya iri, mungkin masalahnya akan berhenti di sana.
Namun sayangnya...
Iri sering kali menjadi awal dari sesuatu yang lebih buruk.
Dan di sudut gelap kediaman murid luar malam itu, Zhang Hu mulai menemui beberapa orang yang memiliki ketidaksukaan yang sama terhadap Chen Mo.
Percakapan mereka berlangsung singkat.
Pelan.
Namun cukup untuk melahirkan sebuah rencana.
Sebuah rencana yang tidak akan membawa hal baik.
Sementara itu, Chen Mo sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ia sedang duduk di kamarnya sambil menghitung Batu Roh yang tersisa.
Dengan ekspresi yang sangat serius.
Karena menurut perhitungannya...
Ia masih miskin.
Dan itu jauh lebih mengkhawatirkan baginya dibanding musuh yang belum terlihat.