Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strike!
Aruni mengenakan sweater warna putih dan celana panjang jeans –santai. Hampir seperti couple dengan Sena, karena Sena juga memakai kaos lengan pendek warna putih dan celana jeans. Sederhana, tapi penampilan Sena terlihat begitu berkilau dimata Aruni.Sena hanya memakai arloji di pergelangan tangannya dan tak memakai aksesoris apapun. Tak seperti Aditya yang suka memakai kalung emas di lehernya.
Sena membukakan pintu mobilnya, agar Aruni bisa masuk dengan mudah. Dia bahkan menutupi kepala Aruni agar tak terantuk pinggiran pintu. Sikapnya tentu saja membuat Aruni berbunga-bunga.
"Ya Tuhan.. pria sebaik ini, kenapa kau tinggalkan kak Bi… menyesal kau nanti!” pekiknya dalam hati.
Mungkin karena Sena adalah pria dewasa, sehingga sikapnya sangat gentleman?
Aruni mengurut dadanya, karena jantungnya kembali berdebar-debar.
“Sekarang sudah jam setengah sebelas malam, kamu nggak apa-apa? Nggak ngantuk?” tanya Sena sebelum menyalakan mobilnya.
Aruni nyengir, “ngantuk sedikit sebenarnya, tapi nggak apa-apa lah, besok kan hari minggu.”
Sena mengangguk –paham, lalu mulai melajukan mobilnya perlahan.
“Caffé kak Wisnu, tutup jam berapa memangnya?”
“Biasanya tutup jam 3 pagi.”
Mata Aruni terbelalak, “Jam 3 pagi? Memang ada yang datang malam-malam? Jangan-jangan pengunjungnya hantu semua?”
Sena tergelak, “nggak lah…” dia menoleh ke arah spion luar, lalu memutar setirnya –gerakan yang entah kenapa dimata Aruni –terlihat seksi.
“Biasanya pengunjung cafenya Wisnu itu orang-orang yang baru pulang kerja, santai sambil minum-“ Sena melirik Aruni sekilas, “miras.” Lalu menghela. “Tapi kamu tenang saja, nggak akan ada yang macam-macam.”
Aruni menghela panjang lalu menyandarkan punggungnya di jok mobil. Dia gugup, ya gugup karena pertama kalinya dia ikut ngumpul dengan Sena dan sahabat-sahabatnya. Memangnya boleh ya? dia bergabung? Secara dia kan hanya istri kontrak?
“Kak Bii…” Aruni melirik Sena.
“Hm?”
“Kak Bii.. pernah ikut kumpul juga sama temen-temen mas Sena?” Aruni bertanya pelan, namun setelah itu dia menyesal. Kenapa dia harus bertanya, sih? Itu kan bukan urusannya. Lagipula mereka berpacaran sepuluh tahun, mana mungkin tidak pernah ngumpul-ngumpul sama teman-teman Sena.
Sena mengangguk –tatapan matanya tetap focus ke jalanan didepannya, “beberapa kali aja, tapi biasanya dia lalu pergi dengan Lina…”
“Lina?” Siapa lagi Lina?! Batin Aruni.
“Lina itu istrinya Wisnu,” jelas Sena. Dia sepertinya sadar lewat mimic muka Aruni yang bingung.
“Ooh..” Aruni mengangguk-anggukkan kepalanya. Rasa gugup kembali menyelimutinya. Ternyata hubungan pertemanan mereka begitu erat, sampai para pasangan mereka pun berteman baik. Aruni jadi khawatir, bagaimana kalau dia di sana bertemu Lina? Bagaimana jika Lina tak menyukainya karena menganggap Aruni merebut Sena? Tapi kan, bukan salah Aruni? Bianca yang kabur atas kemauannya sendiri.
Sena melirik Aruni, “kenapa mukamu tegang begitu?”
“Eh? Apa? Aku? Ng-nggak kok,” jawab Aruni. Dari jawabannya saja Sena tau jika Aruni memang gugup.
Karena tak ada lagi yang bisa diobrolkan, akhirnya mereka berdua terdiam, sampai akhirnya mobil Sena terparkir di halaman caffe.
Aruni turun dan memandangi café yang cukup besar dan ramai. Gila ya, tempat begini makin malam justru makin ramai. Memangnya orang-orang yang datang ke sini semuanya siluman kelelawar? Nggak tidur kah mereka?
“Ayo masuk,” ajak Sena yang berdiri tepat di samping Aruni. Dia memandangi Aruni yang masih bengong menatap takjub café milik Wisnu ini.
“I-Iya…” dengan reflek, Aruni meraih lengan Sena dan menggandengnya. Sena terdiam –menatap tangan Aruni yang dengan santainya menempel di lengannya. Tapi melihat tangan Aruni yang sedikit gemetar, Sena akhirnya membiarkannya. Dia masukkan tangannya ke saku, agar Aruni lebih mudah berpegangan padanya. Lalu berjalan masuk diikuti Aruni.
“Woi! Sena!” pekikkan Aditya membuat seluruh mata yang ada di dalam caffe menoleh ke arah Aruni dan Sena.
Malu –tentu saja, Aruni langsung malu dan gugup. Dia tak terbiasa menjadi pusat perhatian. Dia menunduk dan menempel makin erat dibelakang tubuh Sena dengan tangan yang berpegangan erat di lengan kekar itu.
“Kamu gugup?” bisik Sena.
Aruni mengangguk.
Sena terkekeh lirih, “nggak usah gugup. Kamu kan sudah kenal semua temanku?” Sena menarik Aruni mendekat, melingkarkan tangan kekarnya di punggung Aruni dan membimbingnya berjalan masuk dan menuju di sebuah area khusus, dengan sofa melingkar dan di sana sudah ada Rendra, Bimo, Aditya dan seorang perempuan yang Aruni yakini pasti Dinda.
“Halo Aruni…” sapa Aditya dengan senyum mengembang lebar.
“Halo kak,” balas Aruni sambil tersenyum kaku. Aditya masih memakai baju yang sama seperti saat di pesta Valerie. Dia pasti langsung ke sini setelah pesta.
“Duduk sini Ar,” ucap Rendra cepat. Dia menunjuk sebuah tempat kosong di sebelahnya setelah dia bergeser dari sisi Dinda.
Dinda tampak mengerutkan alis dan ingin mendekati Rendra, tapi degan cepat rendra mencegahnya. “Biar Aruni duduk di sini,” ucapnya.
Dinda tampak mendengus kesal dan Aruni menghela pasrah. Dah lah, pasti si Dinda ini bakal membencinya.
Sena menarik Aruni masuk, lalu duduk di tempat yang tadi ditunjukkan Rendra, lalu dia sendiri pun mendorong Rendra menjauh agar bisa duduk di sebelah Aruni.
“Buset dah… gue juga nggak bakal macem-macem sama bini, Lu, Sen..” desis Rendra. Tapi Sena hanya diam.
“Nu! Cola 2!” teriaknya, dan Wisnu langsung mengacungkan jempolnya.
“Eh, Runi.. kamu mau cola, kan? Atau mau yang lain?” tanya Sena –sedikit terlambat, tapi tak masalah buat Aruni, karena itu membuktikan Sena tetap memperhatikan dirinya.
“Halo Arunika…” Sapa Wisnu sambil meletakkan dua kaleng Cola di atas meja, beserta dua gelas kosong berisi es batu.
“Halo Kak Wisnu, sibuk banget..”
“Iya nih, biasa malam minggu. Nikmati minumanmu ya, kalau butuh apa-apa, panggil aja abang Wisnu..”
Sena melirik sinis, dan bukannya takut, Wisnu malah tergelak.
“Galak amat Lu Sen!” ucapnya sambil berlalu pergi.
Sena membukakan kaleng cola Aruni, menumpahkan isinya ke dalam gelas berisi es batu lalu memberikannya pada istrinya itu. “minum.”
“Eh, makasih mas…” Aruni menerimanya, lalu meneguknya sedikit.
Aditya yang melihat act of service Sena pada Aruni, langsung tersenyum penuh makna. Dia melirik Bimo dan Rendra bergantian lalu terkekeh. Bimo dan Rendra pun paham pada isyarat Aditya dan ikut senyum-senyum –senang.
“Sen, bini lu itu, ternyata banyak yang naksir di kampusnya. Begitu dia muncul… cowok-cowok langsung pada ngumpul. Lu harus jagain dia bener-bener, kalau nggak bisa-bisa dia dibawa kabur loh,” celetuknya sambil nyegir mengejek.
Sena hanya meliriknya kesal.
“Enak aja, emangnya aku barang? Bisa main bawa kabur aja. Lagipula, aku nggak semudah itu dibawa kabur.” Balas Aruni.
Aditya tergelak, “awas aja Lu, Run kalau sampai kabur sama cowok lain. Sena nggak bakal tinggal diam. Kamu bakal dikejar samapai ke ujung dunia.”
Aruni terkekeh lirih.
“Kenapa lu ketawa?” tanya Adit bingung.
“Kak Bii aja didiemin, masa aku mau dikejar sampai ke--“ Aruni terdiam dan melirik Sena yang ternyata sedang menatapnya tajam. Buru-buru Aruni menutup mulutnya, lalu menoleh ke arah yang lain.
“Kak? Kenalin aku Arunika..” ucapnya pada Dinda untuk mengalihkan perhatian.
“Waduh… berat ini!” gumam Rendra sambil menenggak minumannya.
“Strike! To the bone!” gelak Aditya. Diikuti tawa Bimo.
pantes kalo malem suka kluyuran 🤭🤣🤣🤣
tak tunggu bgt ms brot bucin akut sama runi kk tam
emang mas brot ngeri juga vi kalo mode posesip .....
sampe ngaku kalo do'i jelose kalo perlu🤭🤣🤣🤣
kayake adit sama vivi satu frekuensi dah kk
..... asbun 🤭🤣🤣🤣🤣
kpn lagi numpak mobil mahal .......
trik mu emang siiip lah...👍
dalam benak mas broot ....
mbok yo kira kira lah vi . mosok macak cantik . mbahenol secara lo kan milih dress merah menyala ada belahanya dandan cetar membahana kok naik motor awut awutan loh nanti pas turun 🤭
padamu
bnyak tiponya
berasa godaan setan yang terkutuk itu run 🤭🤣🤣🤣
ternyata diam " jutek" ada rasa yang mulai menjalar tumbuh di hati mas brot..... gass lah mas brot runi kan hallal🤭
mungkikah.. mas brot jatuh cinta dgn runi ....?????
kk tam iki pie .......?
🤭🤭