NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: AMUK SANG TIRAN DAN DUET MAUT

Udara di gerbang barat Desa Shrouded seketika membeku. Suara raungan Gorgan terdengar seperti guntur yang membelah langit malam, menggetarkan tanah tempat mereka berpijak. Begitu menyadari Rhea—sandera sekaligus sumber kekuatan kutukannya—telah lepas dan dilarikan oleh warga desa, sepasang mata di balik topeng besi Gorgan menyala merah padam oleh amarah yang tak terkendali.

"Semut-semut tidak tahu diri!" geram Gorgan, suaranya bergaung berat dipenuhi sihir hitam. "Kalian pikir bisa lari dari takdir kegelapan ini?!"

Dengan satu gerakan masif, Gorgan mengangkat kapak raksasa berduri miliknya. Bilah logam yang hitam pekat itu tiba-tiba dialiri oleh kabut hitam yang sangat legam, mendesis panas seperti ular yang siap mematuk. Targetnya tidak main-main. Sepasang mata merahnya mengunci lurus pada sosok Mayang yang masih berdiri di bawah pendaran sisa cahaya fajar Aethelgard-nya. Bagi Gorgan, Mayang adalah ancaman terbesar yang harus dimusnahkan terlebih dahulu.

Wusss!

Kapak itu diayunkan membelah angin, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan pepohonan mati di sekitarnya.

Namun, sebelum bilah kapak itu sempat menyentuh sehelai rambut Mayang, sebuah bayangan hitam melesat secepat kilat. Dion! Pemburu kabut itu melompat ke depan dengan kecepatan yang hampir tak kasat mata. Otot-otot tubuhnya yang kekar menegang sempurna, urat-urat di lehernya menonjol, dan dengan raungan yang tidak kalah keras, Dion menyilangkan belati perak besarnya di atas kepala.

KLANGGGG!!!

Benturan logam raksasa dan belati kecil itu menciptakan dentangan memekakkan telinga. Percikan api membubung tinggi ke udara. Dion menahan hantaman kapak Gorgan dengan seluruh kekuatan fisiknya. Kedua kaki Dion melesek masuk ke dalam tanah yang membeku hingga beberapa sentimeter, menahan beban berton-ton dari amukan sang tiran.

"Dion!" pekik Mayang, jantungnya serasa berhenti berdetak melihat posisi Dion yang begitu tertekan.

"Jangan bergerak, Mayang! Tetap di belakangku!" geram Dion dari sela-sela giginya yang mengatup rapat. Keringat dingin bercampur darah segar mulai mengalir di pelipisnya. Sisa luka dari siksaan di dasar jurang kemarin membuat tubuhnya bergetar menahan beban ekstrem ini.

Gorgan menyeringai kejam di balik topengnya. "Pengkhianat lemah. Kau pikir bisa menahan kekuatanku hanya dengan sebilah belati mainan?" Gorgan menekan kapaknya semakin dalam, berniat meremukkan tulang-tulang Dion di tempat.

Melihat pria yang dicintainya kembali bertaruh nyawa sebagai perisai hidup, rasa takut di dalam diri Mayang lenyap, digantikan oleh dorongan protektif yang membara. Dia tidak akan membiarkan Dion hancur lagi seperti di dasar jurang waktu itu. Tidak akan pernah!

Tanpa ragu, Mayang melangkah maju satu langkah. Ia meletakkan telapak tangan lembutnya tepat di tengah punggung kokoh Dion yang hangat.

"Kita hadapi ini bersama, Dion. Jangan tanggung beban ini sendirian lagi," bisik Mayang lembut namun penuh penekanan di dekat telinga Dion.

Seketika, gelombang energi hangat berwarna emas murni dari inti Aethelgard Mayang mengalir deras masuk ke dalam tubuh Dion melalui sentuhan tangan itu. Dion membelalakkan matanya saat merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya menguap, digantikan oleh tenaga baru yang luar biasa dahsyat.

Reaksi gaib pun terjadi. Tato ular kuno di lengan kanan Dion bereaksi liar. Pendaran ungu pekat dari kabut murni Dion melesat keluar, namun kali ini tidak lagi berdiri sendiri. Energi ungu itu berputar, menjalin ikatan harmonis dengan pendaran cahaya emas murni milik Mayang. Dua warna yang kontras itu melebur, menciptakan pusaran energi perlindungan baru: Cahaya Fajar Ungu-Emas.

BOOOMMM!

Ledakan energi dari penyatuan itu menghantam kapak Gorgan, memaksa raksasa itu mundur tiga langkah ke belakang dengan terhuyung-huyung. Gorgan menatap lengannya yang bergetar karena syok.

"Apa ini?! Kekuatan apa ini?!" seru Gorgan tidak percaya, melihat zirah hitamnya mulai berdesis akibat terbakar oleh pendaran emas-ungu yang suci.

Dion berdiri tegak kembali, memutar belati perak di tangannya dengan tatapan abu-abu badai yang kini berkilat tajam. Ada rasa posesif yang mutlak di matanya saat ia melirik sedikit ke arah Mayang di belakang punggungnya. Energi Mayang terasa begitu pasrah dan menyatu sempurna di dalam nadinya.

"Ini adalah akhir dari tiranimu, Gorgan," ucap Dion dengan nada dingin yang mengancam.

Di sekeliling mereka, ratusan monster pasukan The Stalker mulai bergerak maju untuk mengepung. Namun, dinamika di antara Dion dan Mayang kini telah berubah. Mereka bukan lagi dua orang yang saling curiga seperti di awal pertemuan di hutan kabut. Mereka kini adalah dua sisi koin yang telah menyatu.

Setiap kali Gorgan memerintahkan pasukannya menyerang, Mayang dengan cekatan mengayunkan tangannya, melepaskan kilatan-kilatan cahaya fajar yang membutakan mata para monster dan membakar zirah karat mereka. Sementara Dion, dengan kecepatan yang didukung oleh energi fajar Mayang, melesat membantai setiap ancaman yang mendekat. Gerakan Dion begitu cair, protektif, selalu memastikan tidak ada satu pun musuh yang bisa mendekati area beberapa jengkal di sekitar tubuh Mayang.

Sesekali, dalam jeda pertempuran yang super cepat, Dion akan menarik pinggang Mayang dengan satu tangan kekarnya untuk menghindar dari serangan mendadak, membuat tubuh mereka menempel erat di tengah badai sihir. Napas mereka memburu bersama, saling bertukar kekuatan hanya lewat tatapan mata yang intens dan membakar gairah.

"Kau luar biasa, Mayang," bisik Dion rendah di tengah kekacauan, suaranya yang serak terdengar begitu memikat di telinga gadis itu.

Mayang tersenyum tipis, matanya yang berpendar emas menatap lurus ke depan. "Selesaikan ini, Dion."

Namun, Gorgan yang mulai terdesak tidak tinggal diam. Wajahnya menggelap, dan ia mulai merapalkan mantra terlarang yang jauh lebih pekat dari sebelumnya. Kabut hitam di seluruh lembah tiba-tiba berputar menuju ke arah kapak raksasanya, mempersiapkan serangan pembalasan yang mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!