NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Melangkah ke Panggung yang Lebih Luas

Surat undangan yang sampai di meja Arka datang dari organisasi perdagangan internasional yang berbasis di Singapura. Mereka mengajak Grup Pratama untuk bergabung dalam program kerja sama lintas negara, bertujuan menyebarkan teknologi industri ramah lingkungan yang telah dikembangkan selama ini ke kawasan Asia Tenggara. Nilai potensinya sangat besar: membuka pasar baru, memperluas jaringan, dan membawa nama baik perusahaan ke tingkat dunia.

Namun, di balik tawaran yang terlihat menggiurkan itu, tersimpan tantangan yang tidak ringan. Persaingan di pasar internasional jauh lebih ketat, aturan mainnya lebih rumit, dan godaan untuk mengambil jalan pintas demi keuntungan lebih besar akan datang dari berbagai arah.

Arka membahas hal ini dengan Aldo dan Naura di ruang kerja yang tenang.

"Ini kesempatan yang jarang didapatkan," kata Aldo sambil memandang dokumen di hadapan mereka. "Tapi ingat, di luar sana tidak semua orang berbisnis dengan prinsip yang sama. Banyak yang menganggap keuntungan adalah satu-satunya tujuan. Jika kita melangkah ke sana, kita harus siap mempertahankan cara kita sendiri, meski terasa lebih lambat atau lebih sulit."

Naura menambahkan dengan nada lembut namun tegas: "Kamu tidak perlu membuktikan kepada siapa pun bahwa kita bisa secepat atau sebesar mereka. Cukup buktikan bahwa kita bisa tumbuh dengan cara yang tetap menjaga kehormatan. Jika mereka menerima cara kita, maka kerja sama itu layak dijalin. Jika tidak, lebih baik mundur dengan kepala tegak daripada terjebak dalam aturan yang melanggar hati nurani."

Setelah mempertimbangkan matang-matang, Arka memutuskan untuk menerima undangan itu. Ia akan memimpin tim kecil untuk mengikuti rangkaian pertemuan dan negosiasi, dengan satu syarat yang tidak bisa ditawar: semua perjanjian harus tetap mengutamakan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan tenaga kerja.

Sesampainya di kota metropolitan yang sibuk itu, Arka segera merasakan perbedaannya. Di ruang pertemuan yang megah, ia bertemu dengan para pengusaha dari berbagai negara, yang sebagian besar berbicara dalam bahasa angka, persentase keuntungan, dan strategi untuk menekan biaya serendah mungkin.

Saat sesi presentasi, Arka memaparkan teknologi yang mereka miliki. Ia tidak hanya menonjolkan efisiensi biaya dalam jangka panjang, tapi juga menjelaskan bagaimana cara kerja itu mengurangi limbah, melindungi sumber air, dan memberikan upah yang layak bagi pekerja.

Beberapa peserta terlihat mengangguk kagum, namun ada juga yang meremehkan.

"Strategi itu bagus untuk citra, tapi tidak cukup menguntungkan untuk pasar global," kata seorang pengusaha dari negara maju dengan nada merendahkan. "Kita harus bergerak cepat dan menekan pengeluaran. Jika terlalu memikirkan hal-hal lain, kita akan kalah bersaing."

Arka menjawab dengan tenang namun tegas: "Menekan biaya dengan merusak lingkungan atau mengurangi hak pekerja hanya akan memberikan keuntungan sesaat. Biaya perbaikan kerusakan yang ditimbulkannya di masa depan akan jauh lebih mahal. Kami percaya, bisnis yang bertahan lama adalah bisnis yang adil bagi semua pihak."

Pernyataan itu membuat suasana sejenak hening. Banyak yang tidak menyangka pemuda muda itu memiliki pendirian yang sekuat itu.

Selama berminggu-minggu, negosiasi berlangsung alot. Ada pihak yang ingin mengubah standar teknologi agar lebih murah namun kurang ramah lingkungan. Ada juga yang mengusulkan memindahkan pabrik ke daerah dengan peraturan yang lebih longgar. Namun, Arka tetap memegang pendiriannya, tidak mau mengorbankan prinsip demi kecepatan pertumbuhan.

Di tengah proses itu, muncul kesempatan lain yang lebih menguji. Sebuah perusahaan besar menawarkan kerja sama yang sangat menguntungkan, dengan syarat bahwa Grup Pratama harus menyembunyikan beberapa data dampak lingkungan agar proyek bisa segera disetujui.

"Kita bisa dapat keuntungan dua kali lipat lebih cepat," kata perwakilan perusahaan itu sambil menyodorkan draf perjanjian. "Tidak ada yang akan tahu, dan semua pihak akan diuntungkan."

Arka hanya menatap dokumen itu sejenak, lalu mendorongnya kembali ke meja.

"Jika keuntungan itu harus didapat dengan menyembunyikan kebenaran, maka itu bukan keuntungan, tapi awal dari masalah yang besar. Kami menolak tawaran ini," jawabnya tanpa ragu.

Keputusan itu membuat beberapa pihak menganggapnya bodoh atau kaku. Namun, justru sikap itu menarik perhatian sebuah lembaga keuangan internasional yang memiliki visi serupa. Mereka melihat ketegasan Arka sebagai tanda kepercayaan yang bisa diandalkan.

"Kami jarang menemukan mitra yang tetap memegang prinsip meski ditawari keuntungan besar," kata pimpinan lembaga itu. "Kami ingin mendukung rencana pengembangan Anda. Tanpa syarat yang memaksa, hanya kerja sama yang saling menguntungkan dan bertanggung jawab."

Dukungan itu membuka jalan yang lebih luas. Dalam waktu setahun, Grup Pratama berhasil membangun kemitraan dengan beberapa perusahaan yang memiliki visi sama, memperkenalkan teknologi mereka ke tiga negara tetangga, dan tetap mempertahankan standar kerja yang tinggi.

Berita tentang keberhasilan ini sampai kembali ke Indonesia. Aldo dan Naura merasa sangat bangga melihat putra mereka mampu meneruskan perjuangan dengan cara yang baru namun tetap setia pada nilai yang telah ditanamkan.

Suatu malam, saat Arka kembali pulang dan bercerita tentang pengalamannya, Aldo menepuk bahunya dengan lembut.

"Kamu tidak hanya membawa nama perusahaan ke luar negeri, tapi juga membawa kepercayaan yang telah kami bangun bertahun-tahun. Kamu membuktikan bahwa prinsip bukanlah beban, tapi justru menjadi kekuatan yang membuat kita berbeda dan dihormati."

Namun, kesuksesan yang datang tidak berarti akhir dari tantangan. Semakin besar nama yang dikenal, semakin banyak pula pihak yang ingin menjatuhkan atau meniru dengan cara yang salah. Tidak lama kemudian, kabar sampai bahwa ada kelompok yang menggunakan nama Grup Pratama secara tidak sah, menawarkan proyek palsu dan menipu masyarakat di daerah baru yang baru saja mereka masuki.

Sekali lagi, Arka harus bertindak tegas untuk melindungi nama baik dan kepercayaan yang telah dibangun, sekaligus memastikan bahwa kebaikan yang mereka sebarkan tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!