NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda"

Jam istirahat pertama datang setelah dua jam pelajaran yang—sejujurnya—sangat membosankan bagi seseorang yang sudah hidup ribuan tahun. Lucy menghabiskan waktunya dengan pura-pura mencatat, sementara sebenarnya dia menggambar sketsa kecil sembilan ekor rubah di sudut bukunya.

Bel berbunyi. Murid-murid mulai bergerak. Dan Lucy memutuskan ini saat yang tepat untuk mengamati target keduanya.

Dia berjalan keluar kelas, menyusuri koridor dengan langkah pelan. Tasnya dia tinggalkan. Buku-bukunya dia tinggalkan. Dia hanya membawa dirinya sendiri, berjalan melewati kerumunan murid yang sibuk dengan urusan masing-masing.

Kelas 2-A ada di ujung koridor. Kelas unggulan. Kelasnya Ren Arisugawa.

Lucy berhenti di dekat pintu, pura-pura membaca pengumuman di papan informasi yang tertempel di dinding. Tapi sudut matanya mengintip ke dalam kelas.

Dan di sana dia melihatnya.

Ren Arisugawa duduk di kursi paling depan, dekat jendela. Posturnya tegak, tidak seperti murid lain yang mulai bersandar atau mengobrol. Dia sedang membaca sesuatu—mungkin buku, mungkin laporan OSIS—dengan ekspresi yang benar-benar datar. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan kontras dengan kerapihan seragamnya. Tangannya yang memegang halaman buku itu panjang dan ramping, dengan jari-jari yang kokoh.

Salah satu temannya—yang dari foto tadi Lili sebut sebagai Haruki—mendekatinya dan mengatakan sesuatu. Ren mendongak, menatap Haruki dengan mata abu-abu gelapnya, lalu menjawab singkat. Hanya satu atau dua kata. Lalu kembali membaca.

Dingin, pikir Lucy. Benar-benar dingin. Seperti es yang tidak bisa dicairkan.

Tapi di balik es itu...

Lidahnya menyentuh bibirnya lagi. Kali ini dia tidak peduli.

Jiwanya... indah. Seperti kristal yang terbentuk di gua terdalam. Kokoh, murni, tapi juga rapuh di bagian dalam. Dia menyembunyikan sesuatu. Dia menyembunyikan banyak hal.

Ren tiba-tiba mendongak. Matanya menatap ke arah pintu.

Tepat ke arah Lucy.

Untuk sesaat, kontak mata terjadi. Mata abu-abu itu menatapnya—bukan dengan ketertarikan, tapi dengan... pengamatan. Seperti dia sadar ada seseorang yang memperhatikannya.

Lucy tidak panik. Dia hanya menundukkan kepalanya sedikit—seperti gadis pemalu yang tertangkap basah sedang melamun—lalu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah kecil.

Detak jantungnya sedikit lebih cepat. Bukan karena takut.

Tapi karena antisipasi.

Dia bahkan lebih menarik dari yang kubayangkan.

Sisa hari sekolah berlalu dengan damai. Lucy menghadiri kelas-kelasnya, memperhatikan Kaito dari kejauhan, dan sesekali melihat Ren saat mereka berpapasan di koridor. Tidak ada interaksi. Tidak ada insiden.

Hanya pengamatan.

Saat bel pulang berbunyi, Lucy mengemasi tasnya dengan perasaan puas. Hari pertama yang tenang. Besok dan seterusnya, dia akan terus mengamati. Mencatat detail-detail kecil. Mempelajari dinamika antara Ren dan Kaito, antara OSIS dan Five Shadows, antara disiplin dan kekacauan.

Saat dia berjalan keluar gerbang sekolah, Lili muncul di bahunya—kali ini dalam wujud fisik, terlihat oleh mata manusia, tapi disamarkan sebagai kucing biasa.

"Bagaimana?" tanya Lili.

"Mereka berdua menarik." Lucy tersenyum, matanya menerawang ke langit sore. "Ren... jiwanya seperti kristal. Dingin di luar, tapi ada cahaya di dalamnya. Dan Kaito..." Dia menjilati bibirnya lagi. "...jiwanya seperti api. Membara, berbahaya, tapi juga hangat."

"Kau terdengar seperti pecinta makanan yang mendeskripsikan hidangan."

"Mungkin karena memang begitu." Lucy terkekeh. "Aku Dewi Rubah. Tubuh dan jiwa manusia adalah sumber energiku. Tapi aku tidak seperti siluman rubah biasa yang menyukai organ dalam atau daging. Aku lebih menyukai... esensi mereka."

"Jadi kau ingin memakan mereka?"

"Aku ingin memiliki mereka." Suara Lucy turun satu oktaf. "Tubuh mereka. Jiwa mereka. Tapi tidak dengan paksaan, Lili. Itu tidak menyenangkan."

Dia melangkah di trotoar yang mulai dihiasi cahaya jingga senja.

"Aku ingin mereka datang padaku dengan sukarela. Tanpa kekuatan ilahiku. Tanpa paksaan. Hanya dengan... diriku sendiri."

"Itu ambisius."

"Aku tahu." Senyum Lucy melebar. "Tapi bukankah itu yang membuat permainan ini jadi menyenangkan?"

Lili mendengus. "Kau benar-benar Dewi yang aneh."

"Aku tahu," ulang Lucy, kali ini dengan tawa kecil. "Sekarang, ayo pulang. Aku butuh istirahat. Besok kita mengamati lagi. Dan lusa. Dan seterusnya. Sampai dua minggu berlalu."

"Sampai Hana Himura datang."

"Ya." Mata Lucy berkilat. "Sampai permainan sesungguhnya dimulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!