NovelToon NovelToon
Pernikahan Dalam Perjanjian

Pernikahan Dalam Perjanjian

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:704.1k
Nilai: 4.7
Nama Author: Imelda Agustine

Naya dan Brama terjebak dalam perjodohan, mau menikahi Naya hanya karena sebuah perjanjian.

Brama : "Aku tidak mengijinkanmu untuk menyukaiku, karena itulah aku menikahimu."

Naya : "Tapi aku sudah menyukaimu."

Brama : " Hapuslah!"

AKU TIDAK MUNGKIN MENYUKAI BOCAH SMA SEPERTIMU, SUNGGUH BUKAN TIPEKU. - Brama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Bicara

"Nona." sapa Ilham, ketika Naya keluar dari gedung sekolah.

Naya menoleh. "Eh, kak Ilham. Sama mas Bram?" tanyanya menebak.

"Bukan Nona, Tuan Bram masih dikantor dan akan pulang malam."

"Oh begitu." Naya menganguk, menelaah.

"Sebenarnya saya menjemput Nona karena Tuan Besar ingin bertemu dengan Anda." ucapnya memberitahu.

"Hah, papa? Dimana?"

"Tuan besar menunggu di kediamannya, saya ditugaskan untuk menjemput Nona lalu mengantar Anda untuk menemui Tuan Besar."

"Ah, baiklah aku mau." sahutnya tanpa ragu.

Ilham jadi tersenyum. "Mari Nona." membuka pintu mobil agar Naya langsung masuk kedalamnya.

Setelah Naya sudah duduk didalam mobil, segera Ilham melajukan kendali mobilnya untuk pergi ke kediaman Herman.

Sepanjang jalan Naya jadi gelisah, karena tiba-tiba saja mertuanya itu meminta untuk bertemu dengan dirinya tanpa didampingi Brama.

"Ada apa ya papa ingin bertemu denganku?" gumamnya, penuh gelisah.

Sesampainya dikediaman Herman, Naya langsung masuk kedalam dan Herman sudah menunggunya ditaman belakang.

"Papa." sapa Naya ketika mendekati mertuanya itu.

Herman menoleh. "Naya, sini duduk Nak!" pintanya.

Naya kemudian langsung duduk sebelah Herman, lalu memberikan senyum ramahnya.

"Naya." sapa Herman seraya bertanya, ketika keheningan tiba.

"Iya pa, papa ingin membicarakan apa?"

Herman kemudian mengambil jemari gadis itu lalu menepuknya pelan. "Apa kamu bahagia menikah dengan Bram?"

Seketika Naya membelalak, kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba. Tentu pertanyaan itu membuat dirinya begitu dilema, ia tak tahu harus menjawabnya bagaimana.

Bukankah ini hanyalah sandiwara, pikirnya.

"Papa yakin, suatu saat nanti kalian akan saling mencintai dan memberi." ucap Herman ketika Naya enggan memberikan jawaban.

"Tapi itu sulit pa." sahut Naya menunduk, tak bisa dengan kepura-puraannya. "Mas Bram tidak mungkin menyukai Naya."

Herman jadi tersenyum dengan kejujuran Naya. "Kamu itu anak yang baik, Brama suatu saat nanti pasti akan membalas perasaanmu. Sikapnya memang dingin tapi sebenarnya dia orang yang hangat."

Hangat apanya, pikirnya heran. Naya memilih diam.

"Papa tahu kamu tersiksa ketika dipaksa menikah dengan orang yang tidak kamu kenal, bahkan kamu menikah diusia mu yang masih muda. Dari itu papa memberikan segala keputusan padamu, papa disini akan selalu mendukungmu." ucap Herman memberikan ketenangan.

"Terimakasih untuk segala kebaikan papa, tapi Naya bahagia kok menikah dengan mas Bram. Walau sikapnya kasar tapi dia selalu baik terhadap Naya, dia mengijinkan Naya kembali sekolah bahkan membiarkan Naya untuk melanjutkan kuliah. Naya sangat begitu bersyukur."

Herman mengelus rambut menantunya itu dengan perasaan lega. "Papa ikut senang mendengarnya."

"Boleh Naya peluk papa?" pintanya ketika melihat tatapan mertuanya mirip dengan almarhum ayahnya.

Herman mengangguk, membuka lebar kedua lengannya agar Naya bisa langsung memeluknya.

Nayapun memeluk papanya itu, matanya nanar ketika merindukan sosok ayahnya kembali.

"Kamu itu menantuku, istri dari anakku. Meskipun begitu, kamu sudah papa anggap seperti anak kandung sendiri. Kalaupun kamu nanti hanya tersiksa dan ingin memilih menjauh dari Bram, papa tetap akan mendukung Naya sepenuhnya. Jangan khawatir tentang apapun." ucapnya mengelus punggung gadis yang sedang rapuh itu.

"Terimakasih, terimakasih banyak pa." sahutnya terisak.

****

Setelah lama berbincang bahkan makan bersama dengan papa mertuanya itu, Naya memutuskan untuk kembali pulang.

Mengingat kata Ilham, Brama akan pulang malam jadi Naya merasa begitu santai ketika pulang sampai sore hari.

Naya berjalan santai memasuki rumahnya, ketika supir papa mertuanya mengantarkannya sampai ke halaman depan.

Ia menoleh kanan kiri, tak menemukan satu pelayanpun berada dirumahnya. "Bukankah ini belum waktunya jam pulang?" gumam Naya bingung.

"Kamu dari mana saja?" bentak seseorang tak asing tiba-tiba, membuat Naya terlonjak kaget.

"Astaga mas Bram! Bisa gak sih jangan ngagetin gitu?!" dengusnya, mengelus dadanya.

"Wah, Wah! Sejak kapan mulai belajar tidak menjawab pertanyaanku langsung?" tanyanya mulai kesal, dan Naya mulai ketakutan.

"Ya maaf, Naya kan kaget aja." sahutnya.

Brama semakin berdecak, melangkah mendekati gadis yang berada didepannya lalu menjitak dahinya. "Kamu dari mana?" tanyanya lagi mulai mengetatkan rahangnya.

"Gak dari mana-mana kok, tadi Naya itu kerumah papa." sahutnya sembari mengelus dahinya.

"Papa?" tanyanya mengulang, heran.

Naya mengangguk. "Iya."

"Ngapain papa ketemu sama kamu? Apa dia curiga dengan pernikahan pura-pura kita?"

"Enggak kok, mas tenang saja! Kita cuma ngobrol biasa aja kok."

"Oh begitu." Brama mengangguk, menelaah. Tapi kemudian ia menarik tas gendong Naya ketika gadis itu hendak melangkah pergi meninggalkannya. "Kamu mau kemana?"

"Mau mandi, terus ganti baju." sahutnya dengan tenang.

"Tidak boleh! Buatkan aku makan dulu!" pintanya.

Naya mengedarkan penglihatannya. "Memangnya pelayan disini sudah pulang semua?"

"Aku menyuruhnya pulang, dan memasak itu tugasmu untuk menyenangkan perut suamimu. Jadi tidak perlu membantah!" tegasnya.

"Iya mas, Naya paham." sahutnya jengah. "Tapi Naya mau ganti baju dulu."

"Mandi, baru ganti baju. Memangnya kulitmu tidak merasa gatal ketika ganti baju tanpa membersihkan tubuhmu yang lengket ini terlebih dahulu?" tanyanya dengan heran.

"Ya maka dari itu Naya pamit mandi sebentar, lalu ganti baju." Naya tambah merasa jengah.

Dan Brama mulai dilema. "Ah, masa bodoh!" putusnya kemudian, menarik tangan Naya untuk mengikutinya ke dapur.

Naya hanya menghela nafas pasrah, begitu sangat kesal pada suaminya.

"Mana tasmu!" pintanya, dan Naya memberikannya untuk Brama menaruhnya.

Brama kemudian mengambil celemek didalam lemari kecil, lalu memakaikannya pada Naya.

"Berbalik!" pinta Brama, agar Naya menghadapnya.

Ia kemudian dengan sengaja membantu memasangkan celemek untuk Naya, begitu dekat jarak wajah antar mereka ketika Brama mengikat bagian pinggangnya. Hal itu lagi-lagi membuat jantung Naya berdegup dengan kencangnya.

Enggak! Gak boleh begini! Aku harus membuang perasaanku.

"Kamu kenapa?" tanya Brama heran.

"He he, gak apa-apa kok." sahutnya gugup.

"Sudah, masakan aku apapun! Aku belum makan dari tadi pagi."

Naya jadi membelalak. "Mas Bram belum makan sama sekali? Apa karena banyak pekerjaan dikantor? Atau..."

Brama tahu hal yang akan terlontar dari mulut Naya dan tak ingin didengarnya. "Hentikan!" pintanya menyela.

"Mas pulang lebih awal dan sengaja tidak makan karena menungguku untuk membuat makanan? Iya kan?" tebaknya, membuat Brama begitu kesal.

"Sudah ku bilang hentikan omong kosongmu!" sahutnya kesal bercampur gugup. "Ah, jangan berbicara yang aneh aneh! Masak sekarang untukku!" pintanya.

"Ah begitu." Naya jadi terkekeh geli. "Baiklah Naya akan memasak menu spesial buat mas Bram." ucapnya, lalu bergumam pelan. "Ditunggu ya sayang." ucapnya lagi terkikik geli.

Brama kemudian duduk di meja makan dekat dapur sembari menunggu istrinya memasak, ia kemudian menepuk dahinya dengan pelan. "Astaga! Bagaimana bisa aku salah bicara seperti itu sih." gumamnya kesal, pada diri sendiri.

Sedangkan Naya memasak sembari tersenyum malu padanya.

****

Kamsamida :* akan UP TIAP HARI.

1
Anisa Febriyanti
ko cuman sampe efisode 37 sih padahal ceritanya rame, :(
Siti Halimah
semangat
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel. upthor
Arikaa Ubaidiah
Lumayan
Khusnul Khotimah
Thor knp ceritanya ngambang gini , lnjut dong Thor gimana hubungan Naya dan Brama selanjutnya...moga mereka bisa hidup bersama bahagia selamanya... semangat terus ya thor
Purnita
seru thor aku makin meleleh neh lanjut kan thor 👍🏻😘
Siti Jubaedah
semangat....author.....
Wiwin Wiwin
👍👍👍
Rosari Nan
ini mn sih klnjtanya
Nur Halimah
tterusin cerita nya
Nur Halimah
lanjutkan lagi cerita nyA biar jelas
Selviah Selviah
mungkin aku suka nanti
zia kinara
ko ga da klanjutannya ya,,
arfan
up
Mishbah Ando Ibang
endingnya?.... tdk jelas
FUZEIN
Nah....tak jadi baca.....sakit jiwa raga..kalau syok baca...tapi menghilang...
Diana Mansiu
lanjutkn ya ceritanya
Sriamul Sbc
Lo kok....... lanjutannya mana?
Gilang Ayyash
2 tahun tk berlanjut.....sesaaaaattttt
Virginia Maniku
ngak azyik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!