bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Cahaya lampu di dalam ruang rapat utama menyilaukan, memantulkan cahaya putih yang tajam menembus kaca jendela gedung pencakar langit di pusat kota.
Dari koridor luar, Nadira bisa melihat siluet orang-orang duduk di meja panjang. Mereka adalah pemegang saham yang memegang kendali atas dana dua ratus triliun.
Aroma kopi pahit yang baru diseduh bocor dari celah pintu, bercampur dengan wewangian parfum mahal yang menyengat. Udara terasa berat, seperti badai yang akan segera pecah.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang berdegup kencang di telinganya. Tangan kanannya terkepal di samping tubuh, jari-jari menekan telapak tangan hingga putih pucat.
"Ini bukan tubuhku," bisiknya pelan, hampir tak terdengar oleh telinga sendiri. Namun, tangan yang sekarang ia pakai untuk merapikan kerah blus sutra ini terasa terlalu nyata. Kulit mulus dan perhiasan berlian di lehernya adalah milik wanita yang dibencinya, tapi nasibnya kini tergantung pada sosok ini.
Di sudut ruangan yang gelap, bayangan Dinda tampak memanjang, seolah siap menerkam setiap celah kesalahan yang akan dibuat. Nadira melihat ke arah cermin besar di dinding koridor. Wajah yang terpampang di sana adalah wajah Dinda yang dingin dan arogan, dan dipenuhi riasan tebal. Ia harus memainkan peran ini dengan sempurna. Jika ia gagal meyakinkan mereka, warisan itu tidak akan pernah jatuh ke tangannya, dan ia akan
terperangkap selamanya dalam kehidupan yang ia benci ini.
Suara gumaman dari dalam ruangan mulai terdengar jelas. Pak Baskoro, salah satu
komisaris utama, sedang berbicara dengan nada tinggi.
"Saya tidak peduli dengan alasan
kesehatannya. Rapat ini harus memutuskan siapa yang layak menggantikan posisinya
sebelum surat wasiat dibacakan."
Nadira merasakan dinginnya gagang pintu saat jemarinya menyentuhnya. Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya, membasahi gaun mewah yang ia kenakan.
Ia membayangkan isi surat wasiat yang kontroversial itu. Dua ratus triliun bukan jumlah yang kecil, dan Dinda pasti akan melakukan segala cara untuk menggagalkan
niatnya.
Nadira menatap tajam ke arah pintu kayu jati yang tebal. Ia harus masuk sekarang, sebelum mereka memutuskan sesuatu di belakangnya. Keberanian yang asing
mulai mengalir di dalam diri Nadira, sebuah keberanian yang mungkin terpaksa ia pinjam
dari jiwa Dinda yang ambisius.
Napasnya tertahan sesaat ketika ia melihat sosok Rina, saudara tiri Dinda, berdiri didekat
jendela di dalam ruangan. Rina sedang tersenyum tipis, seolah sudah menang sebelum
Pertandingan dimulai. Senyuman itu membuat Nadira ingin berbalik dan lari, tapi ia tahu tidak ada jalan kembali. Ia sudah terlalu jauh masuk ke dalam permainan ini. Harga diri dan masa depannya berada di atas meja perundingan yang dingin itu.
"Kamu terlihat pucat, Clar. Atau lebih tepatnya, terlihat seperti penipu yang ketakutan?"
Suara Dinda tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang, membuat Nadira tersentak kaget.
Dinda melangkah maju, mata sipitnya menatap Nadira dari atas ke bawah.
"Kamu pikir kamu bisa mengaku sebagai dia dan mengambil semua milikku? Aku sudah menyiapkan bukti bahwa kamu bukan Clar yang sebenarnya."
Nadira menelan ludah yang terasa seperti pasir. Jantungnya berdegup kencang, hampir
melompat keluar dari dadanya.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Dinda. Keluarlah dari sana jika kamu tidak punya urusan di sini." Nadira mencoba mengeluarkan suara yang sekeras mungkin, meskipun tangannya gemetar hebat di balik lipatan rok mewahnya.
Ia harus tetap tenang, setenang es yang membeku di tengah badai. Dinda tertawa kecil, sebuah suara tajam yang menusuk gendang telinga.
"Kamu tidak punya gaya bicara dia. Dinda tidak akan pernah menoleh ke arahku tanpa sedikit pun rasa takut di matanya. Tapi kamu? Kamu bahkan tidak berani menatap mataku."
Rina melangkah selangkah lebih dekat, menekan sesuatu di layar ponselnya.
"Aku sudah memanggil satpam. Mereka akan segera mengeluarkan kamu yang gila ini dari gedung."
Waktu seolah berjalan lebih lambat. Nadira melihat ke arah ujung koridor, di mana dua
penjaga keamanan berseragam rapi mulai berjalan cepat mendekati mereka. Jika mereka menyeretnya keluar sekarang, semua usahanya akan berakhir.
Ia melirik ke arah ruang rapat, pintunya sedikit terbuka dan beberapa orang di dalam sudah mulai memperhatikan keributan di luar. Ini saat yang genting. Dengan dorongan adrenalin yang meluap, Nadira mendekati Dinda dan menatap tajam ke
arah saudara tirinya itu.
"Panggil satpammu. Tapi ingat, aku masih pemegang saham mayoritas sementara. Jika kamu membuat keributan di depan mereka, kamu hanya akan mempercepat proses pemecatanmu sendiri."
Nadira meraih kartu akses di sakunya,
berharap kartu itu memang milik Dinda dan masih aktif. Rina memundurkan tubuhnya, terkejut dengan agresivitas yang tiba-tiba muncul dari Nadira.
"Kamu bukan Clarissa. Aku tahu itu. Tapi kita akan lihat sampai kapan kamu bisa
berakting." Dinda memutar tubuhnya dan berjalan masuk kembali ke ruang rapat,
meninggalkan Nadira yang masih terengah-engah di koridor. Nadira merasa kakinya lemas, tapi ia tidak punya waktu untuk pingsan.
Ia menarik napas panjang untuk terakhir kalinya, membulatkan tekad yang hancur menjadi satu kepingan semangat yang rapuh. Ia melihat ke arah cermin sekali lagi, memperbaiki posisi dagunya agar terlihat lebih angkuh dan penuh percaya diri.
"Aku Nadira," gumamnya pada bayangannya sendiri.
"Tapi untuk hari ini, aku adalah Clarissa. Dan aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
Ia mendorong daun pintu ruang rapat dengan satu tangan, membuat suara berderit yang
memekakkan telinga. Seluruh mata di dalam ruangan langsung tertuju padanya. Pak
Baskoro berhenti berbicara, memandang Nadira dengan kening berkerut.
"Kamu terlambat, Clarissa. Kami sudah menunggu penjelasanmu mengenai laporan keuangan triwulan lalu."
Suara Pak Baskoro menggelegar, memenuhi ruangan yang hening. Nadira melangkah masuk dengan percaya diri, atau setidaknya ia berusaha terlihat seperti itu.
Tapak sepatu hak tingginya menginjak karpet tebal dengan bunyi yang ritmis. Ia bisa
merasakan hawa panas dari lampu sorot yang mengarah langsung ke wajahnya.
"Maafkan keterlambatanku, Bapak. Ada masalah teknis dengan lift yang membuatku harus menggunakan tangga darurat."
Nadira duduk di kursi kepala meja tanpa menunggu izin. Dinda yang duduk di seberang meja tersenyum sinis, siap menyela.
"Masalah teknis? Atau kamu sengaja menghindar karena tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan sulit
kami?"
Ruangan menjadi tegang. Beberapa pemegang saham kecil mulai berbisik satu
sama lain, mempertanyakan kredibilitas wanita yang duduk di kursi empuk itu.
Nadira membuka map tebal yang dibawanya, berharap isinya adalah dokumen yang bisa
ia gunakan sebagai perisai.
"Aku tidak akan lari dari tanggung jawab, Dinda. Dan mengenai
laporan keuangan, semua angka sudah aku sesuaikan dengan proyeksi pertumbuhan
untuk tahun depan."
Ia menatap langsung ke arah Pak Baskoro, mencoba menunjukkan otoritas yang biasanya dimiliki oleh tubuh Clarissa yang asli. Saat itulah, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya berdesir. Di sudut meja, ada sebuah amplop cokelat yang tersegel. Namanya tertulis di sana dengan tulisan tangan yang familiar. Itu adalah tulisan tangan kakeknya, orang yang meninggalkan warisan dua ratus triliun itu.
Tapi kakeknya sudah meninggal enam bulan lalu. Bagaimana mungkin ada surat baru darinya?
Amplop itu seolah menarik perhatian Nadira dengan kekuatan magnetis. Ia harus
membukanya, tapi ia tidak bisa melakukannya di depan umum. Dinda pasti akan
menggunakan isi surat itu untuk menghancurkannya jika isinya tidak menguntungkan.
Nadira memaksakan diri untuk tetap fokus pada presentasi, meskipun pikirannya sudah berpacu keras membayangkan apa yang ada di dalam amplop tersebut.