NovelToon NovelToon
Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Citt.

​Suara decitan ban mobil terdengar saat Adit memarkirkan kendaraannya di area bongkar muat Jakarta Convention Center.

​Gedung pameran itu tampak sangat megah dan sibuk.

​Ratusan truk logistik dari berbagai perusahaan besar lalu lalang tanpa henti membongkar muatan.

​"Gila, tempat ini besar sekali." gumam Adit pelan sambil turun dari mobil SUV miliknya.

​Ia meregangkan otot-otot badannya yang kaku setelah menyetir berjam-jam dari desa.

​Riana ikut turun dari truk pendingin dan langsung menghampiri Adit dengan wajah antusias.

​"Selamat datang di ibukota, Dit. Bagaimana rasanya?" sapa Riana sambil tersenyum lebar.

​"Terasa panas, bau asap knalpot, dan penuh debu. Aku lebih suka udara sejuk di desaku." jawab Adit jujur.

​Hahaha.

​Riana tertawa pelan mendengar keluhan polos dari pria di hadapannya itu.

​Maya Saphira melangkah mendekat dengan kartu identitas panitia VIP yang sudah mengalung di lehernya.

​"Jangan banyak mengeluh, Bos Adit. Di sinilah uang dalam jumlah besar berputar setiap harinya." ucap Maya sambil memegang sebuah tablet kerja.

​"Aku sudah memastikan lokasi stan kita bersih. Bang Jarwo dan Bang Sopo bisa mulai menurunkan barang sekarang." lanjut jurnalis itu memberikan instruksi.

​Adit menoleh ke arah dua pekerjanya yang sudah bersiap di belakang truk.

​"Ayo, Bang. Kita bongkar muatannya sekarang. Hati-hati dengan daging ayamnya." perintah Adit.

​"Siap laksanakan, Bos!" seru Bang Jarwo penuh semangat.

​Mereka mulai memindahkan keranjang-keranjang berisi sayuran segar dan kotak pendingin daging.

​Adit sendiri yang memanggul peti kayu berisi melon spiritual, menolak membiarkan orang lain menyentuhnya.

​"Peti itu isinya apa sih, Dit? Dari tadi kamu memegangnya seperti memegang emas batangan saja." protes Riana yang merasa penasaran.

​"Ini lebih berharga dari emas batangan, Na. Kamu akan tahu nanti saat acara lelang dimulai." jawab Adit penuh rahasia.

​Setelah semua barang terkumpul, mereka berjalan masuk menuju area aula utama pameran.

​Langkah Adit terhenti sejenak saat baru memasuki zona VIP di blok V.

​Di seberang stan kosong milik mereka, berdiri sebuah stan raksasa yang didekorasi sangat mewah.

​Logo Nusantara Food Group terpampang sangat besar dengan lampu neon keemasan yang menyilaukan mata.

​"Sial, stan mereka besar sekali. Kita terlihat seperti warung pinggir jalan kalau begini." komentar Bang Sopo yang memanggul sekardus tomat merah.

​"Jangan pedulikan ukuran stannya, Bang Sopo. Yang terpenting itu kualitas isi dagangannya." balas Adit tenang.

​Beberapa pegawai berseragam rapi dari Nusantara Group tampak menatap sinis ke arah rombongan Adit.

​"Hei, lihat itu. Sepertinya ada orang kampung nyasar ke zona VIP." ucap salah satu pegawai Nusantara Group dengan suara mengejek.

​"Mungkin mereka salah baca peta panitia. Harusnya mereka jualan sayur di pasar induk, bukan di sini." sahut pegawai lainnya dari seberang.

​Hahaha.

​Suara tawa merendahkan terdengar jelas dari kerumunan pegawai stan raksasa tersebut.

​"Kurang ajar, biar kuajari mereka sopan santun!" geram Bang Jarwo.

​Brak.

​Bang Jarwo meletakkan keranjangnya dengan kasar di lantai dan bersiap melangkah maju.

​"Tahan dirimu, Bang. Jangan buat keributan bodoh di tempat seperti ini." tegur Adit cepat sambil mencengkeram lengan pamannya itu.

​"Kita di sini untuk berbisnis, bukan untuk adu jotos. Biarkan kualitas produk kita yang membungkam mulut sombong mereka nanti." lanjut Adit menegaskan.

​Bang Jarwo mendengus kesal namun akhirnya mundur dan kembali mengangkat keranjangnya.

​Mereka mulai menata stan berukuran sedang itu dengan rapi.

​Riana sangat piawai mengatur tata letak sayuran agar terlihat menarik di bawah sorot lampu pameran.

​Kotak pendingin daging ayam diletakkan di bagian depan, lengkap dengan lapisan es batu agar kesegarannya terjaga.

​Pukul sepuluh pagi, bel panjang berbunyi.

​Teng.

​Pintu utama pameran akhirnya dibuka untuk umum secara resmi.

​Ribuan pengunjung, mulai dari koki profesional, pemilik jaringan restoran, hingga investor asing membanjiri area pameran.

​Suasana di dalam aula menjadi sangat bising dan riuh oleh suara obrolan.

​"Ayo semuanya, bersiap di posisi masing-masing dan pasang senyum terbaik kalian!" seru Riana memberi semangat.

​Beberapa pengunjung mulai berlalu-lalang di lorong depan stan Adit.

​Mereka awalnya hanya melirik remeh karena nama merek Adit sama sekali belum terkenal di kalangan pengusaha kuliner ibukota.

​Namun, langkah beberapa orang mendadak terhenti saat mencium aroma dari arah stan Adit.

​"Permisi, sayuran jenis apa ini? Aromanya sangat berbeda dari sayur organik biasa." tanya seorang pria bule berpakaian koki eksekutif.

​"Ini adalah bayam dan tomat spiritual hasil budidaya perkebunan kami sendiri, Tuan." jawab Riana ramah menggunakan bahasa Inggris yang fasih.

​Koki bule itu mengambil sebuah tomat merah dan mengamatinya lekat-lekat dari dekat.

​"Warnanya sangat pekat dan kulitnya terasa sangat kencang. Boleh saya mencicipinya sedikit?" pintanya dengan raut wajah ragu.

​"Silakan, Tuan. Anda bisa memakannya langsung tanpa perlu dimasak atau dicuci lagi." jawab Adit sambil menyodorkan sebilah pisau kecil dan talenan.

​Koki itu memotong sedikit bagian ujung tomat dan memasukkannya perlahan ke dalam mulut.

​Nyam.

​Mata koki bule itu langsung membulat lebar sedetik setelah ia mengunyah.

​"Ya Tuhan! Rasa manis dan asamnya meledak sempurna di mulutku. Ini mustahil!" serunya dengan nada tidak percaya yang sangat keras.

​"Ini kualitas bintang lima terbaik yang pernah kucicipi! Aku mau pesan lima puluh kilogram sekarang juga!" lanjutnya penuh semangat sambil mengeluarkan kartu namanya.

​Teriakan koki bule itu langsung memicu rasa penasaran dari pengunjung di sekitarnya.

​Keriuhan di depan stan Adit mulai menarik perhatian lebih banyak orang dari ujung lorong.

​Dalam waktu singkat, puluhan orang berkerumun berdesakan untuk mencoba mencicipi sampel sayuran milik Adit.

​"Daging ayam ini luar biasa empuk padahal masih mentah. Serat dagingnya sangat rapat!" puji seorang wanita yang berprofesi sebagai kritikus makanan.

​"Berapa harga sekilonya? Tolong segera masukkan nama restoranku ke dalam daftar pemesanan kalian!" teriak seorang pria berjas rapi dari kerumunan.

​Adit tersenyum puas melihat dagangannya laku keras di jam pertama pameran.

​"Sepertinya rencana awal kita berjalan sangat lancar, Dit." bisik Maya yang sibuk mencatat pesanan tanpa henti di layar tabletnya.

​"Ini baru hidangan pembuka, May. Tunggu sampai aku mengeluarkan melon kelasku nanti." balas Adit santai.

​Pria itu melirik peti kayu yang sengaja ia sembunyikan di bawah meja etalase.

Namun, di tengah kesibukan dan antusiasme pembeli itu, sesuatu yang ganjil mendadak terjadi.

Pet.

Tiba-tiba, seluruh lampu penerangan di stan Adit padam total.

Kegelapan seketika menyelimuti stan mereka.

Bukan hanya lampu, suara dengungan dari etalase pendingin yang menyimpan daging ayam juga mendadak mati.

"Loh? Kok mati lampu dadakan begini?" seru Bang Sopo kebingungan dalam gelap.

Pengunjung yang sedang berkerumun mencicipi makanan ikut terkejut dan mulai mundur teratur menjauhi meja.

"Ada apa ini? Kenapa gelap sekali di sini?" keluh seorang pengunjung merasa terganggu.

1
Astiana 💕
cerita mu sungguh keren Thor, walaupun aku lagi sibuk nulis juga, tapi nyempetin banget baca cerita mu yang ini.😁
kiyoe: heheh harus semangat terus pokoknya kak
total 3 replies
adib
saran dikiit...

hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.

sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
kiyoe: terimakasih kak adib untuk saran nya ☺️🙏
total 1 replies
adib
beneran udah bucin ma riana..ayam grade SS cm dihargai 150rb.. telur jg cm segitu.. hadeehh
kiyoe: heheh iyaa kak soalnya dia yang membantu Adit dari 0 hingga menjadi sangat sukses 😂
total 1 replies
Astiana 💕
mampir Thor,
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.
kiyoe: hehehe makasih kak udah mau mampir hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!