"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Macha Shakit, Mommyh
"Bu, Marsha kolaps!."
Mendengar kalimat itu, rasanya seluruh dunia Alina runtuh.
"Saya ke rumah sakit sekarang, sus."
Isak yang sedari tadi ia tahan itu pun seketika luruh. Dunianya hancur. Tadi pagi Marsha baik-baik saja. Bagaimana bisa menjadi seperti ini.
Langkahnya mengalun cepat menyusuri lorong yang dingin. Tak perduli rasa sakit yang melilit di perutnya. Alina tetap memacu langkahnya. Ia harus segera kembali ke rumah sakit.
"Dokter, bagaimana keadaan Marsha?"
Dokter itu menghela nafas dalam. "Kita harus segera mendapatkan donor itu secepatnya, Bu. Apakah ayahnya sudah bisa dihubungi?"
Alina menggeleng dengan isak yang menderas. "Saya... Saya masih berusaha, Dok."
"Saya sarankan untuk menghubungi secepatnya. Kondisi Marsha darurat. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan donor dari luar."
Mendengar itu, rasanya Alina tengah berasa di ujung keputusasaan.
"Bagaimana.... jika kita tidak bisa menemukan donor yang tepat? Berapa lama Marsha bisa bertahan, Dok."
"Kemungkinan terbesar, Marsha hanya bisa bertahan sampai akhir bulan ini. Sel kanker itu terlalu ganas dan tidak bisa dikendalikan hanya dengan kemoterapi."
Ucapan terakhir dokter kala itu bagai hantaman besar yang membuat lutut Alina seketika lemas. Ia luruh, jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Semua harapan yang selama ini ia genggam erat, kini perlahan runtuh.
Marsha.
Apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan gadis kecil itu. Semua cara telah ia upayakan. Termasuk merendahkan dirinya sendiri di hadapan laki-laki itu.
Tak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Pikirannya buntu.
Alina memukul-mukul dadanya yang terasa sesak saat pikiran buruk itu kembali memenuhi isi kepalanya.
Sanggupkah ia hidup jika suatu saat nanti akhirnya Tuhan mengambil putrinya dari sisinya. Mampukah ia hidup ketika sosok yang selama ini menjadi semangatnya hidup itu di rampas begitu saja oleh sang pemilik alam semesta?
Alina tergugu.
Tidak. Ia tidak akan sanggup.
Cukup tuhan mengambil suaminya dari sisinya. Jangan lagi putri kecilnya.
Dengan sisa kekuatan yang ada. Alina membasuh wajahnya, mengenyahkan isak yang sedari tadi meluncur deras sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam ruang rawat.
"Sayang..." Alina menyapa sang putri dengan senyum yang teruntai dari bibirnya yang gemetar menahan isak.
Terlihat gadis kecil itu perlahan mengerjap setelah beberapa jam yang lalu sempat tak sadarkan diri.
"Mommy..." bibirnya yang pucat itu bergumam lirih.
"Ya, mommy disini, sayang." Bulir air mata itu lolos begitu saja tanpa bisa dibendung, membuat Alina segera mengusapnya dengan cepat.
"Mau pulluk." Ucapnya lirih, sangat lirih hingga menyerupai bisikan angin.
Alina mendekat, ia naik ke atas brangkar lalu mendekap tubuh ringkih itu dengan erat, seolah menyalurkan seluruh sisa kehidupan yang ia miliki ke dalam tubuh kecil putrinya.
"Mommy sayang Marsha." Ucapnya kemudian. Isak perlahan luruh.
Entah sampai berapa lama ia bisa mengungkapkan kalimat itu. Alina hanya ingin putrinya tau, jika ia teramat sangat menyayanginya melebihi nyawanya sendiri.
"Mommyh..." panggil Marsha lagi. Sangat lirih, bahkan lebih lirih dari tetesan air.
"Ya, sayang."
"Macha shakit, mommy."
Mendengar keluhan itu, tangis Alina menderas. "Setelah ini, Marsha pasti akan sembuh. Marsha sabar sebentar ya. Marsha mau kan berjuang sama mommy?"
"Macha shayang mommy banak-banak."
"Marsha jangan tinggalin mommy ya sayang. Janji ya, jangan tinggalin mommy. Marsha harus kuat demi mommy."
"Macha mau pulang mommy." Serunya, lagi. Marsha sudah tak tahan ada disini. Disini terlalu menyakitkan. Ia harus menerima banyak suntikan.
"Iya, nanti kita pulang setelah Marsha sembuh, ya... ."
Gadis kecil itu tidak menjawab lagi, matanya perlahan terpejam, ia kembali tertidur akibat obat yang tadi di suntikkan.
Hening.
Rasanya kosong.
Lalu, bagaimana jika gadis kecil itu benar-benar pergi dari sisinya untuk selamanya?
Pikiran itu seketika menghantam dada Alina. Ia kembali terisak. Isakannya terdengar begitu memilukan, menyayat hati setiap insan yang mendengar.
Sakit.
Rasanya sangat menyakitkan saat keputusasaan itu kembali memenuhi isi kepalanya.
Begitu berisik. Membuat Alina tak dapat berpikir.
Hingga satu ide itu muncul di kepalanya. Satu ide gila yang selama ini tidak pernah ada di kepalanya.
Nyonya Airish.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong Chinguu
Kome komen komen
Komen yang banyak ya, ahahahaha
Siapa yang mau othor update lagi, hehehe
Happy reading
Saranghaja
tapi tunggu up nya harus bersabar