Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di kerjar Anjing
Jam pulang sekolah
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Suasana di depan gerbang sekolah cukup ramai oleh siswa-siswi yang berhamburan pulang. Keana berdiri di dekat pos satpam sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan dari Gavin:
"Kelas kakak mendadak ada kuis tambahan, Ndut. Tunggu sejam lagi ya, jangan keluyuran!"
Keana menghela napas panjang, bahunya merosot lesu.
"Kenapa, Kea? Kak Gavin belum bisa jemput?" tanya Tari yang sedang merapikan tali tas ranselnya.
"Iya, nih. Katanya ada kuis dadakan. Nyebelin banget, gue disuruh nunggu sejam di sini," gerutu Keana sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Tania yang sedang mengipasi wajahnya dengan buku tulis langsung menyenggol lengan Keana. "Eh, daripada lo lumutan nungguin Kak Gavin di gerbang sendirian, mending ikut kita aja yuk! Kita mau ke taman kota yang di depan itu."
"Ngapain ke sana? Panas tahu," sahut Keana, masih agak dongkol.
"Ih, di sana kan banyak jajanan kaki lima, Kea! Ada batagor bumbu kacang yang super enak, telur gulung, sama es podeng. Lo gak laper apa setelah pagi tadi dihukum Bu Sofia keliling lapangan?" bujuk Tari dengan mata berbinar-binar.
Mendengar kata batagor bumbu kacang dan es podeng, pertahanan Keana langsung runtuh. Perutnya memang sudah keroncongan sejak jam pelajaran terakhir tadi. Sifatnya yang dasarnya tidak bisa diam dan suka jajan langsung mengambil alih.
"Beneran ya ada batagor enak? Oke deh, gue ikut! Tapi nanti temenin gue nunggu Kak Gavin di sana ya, jangan ditinggal," ujar Keana, senyum cerianya kembali mengembang seolah rasa lelahnya menguap begitu saja.
"Gampang! Yuk, buruan jalan sebelum batagornya antre panjang!" ajak Tania semangat. Mereka bertiga pun berjalan beriringan meninggalkan area sekolah menuju taman kota.
Setibanya mereka di taman kota, mereka langsung menuju gerobak penjual batagor. Setelah mendapatkannya mereka mencari tempat duduk yang nyaman.
Suasana di sudut taman kota sore itu terasa begitu menyenangkan. Keana, Tari, dan Tania duduk melingkar di salah satu bangku panjang semen, menikmati masing-masing satu porsi batagor bumbu kacang yang masih hangat dan es podeng segar.
"Sumpah, batagornya juara banget! Untung gue ikut kalian," ujar Keana dengan mulut yang masih penuh, senyum cerianya kembali setelah lelah dihukum lari pagi tadi.
"Tuh, kan, apa gue bilang. Pilihan kuliner gue nggak pernah salah," sahut Tari bangga sambil menyendok es podengnya.
Namun, kenyamanan mereka mendadak terusik saat dari arah semak-semak di belakang bangku taman, terdengar suara geraman rendah yang terdengar sangat mengancam.
Grrr... guk
Keana menghentikan kunyahannya. Bulu kuduknya meremang seketika. "Eh... lo berdua denger suara itu gak?" bisik Keana, mendadak kaku di tempat duduknya.
Tania perlahan menoleh ke belakang, dan sedetik kemudian wajahnya langsung pucat pasi. "K-Kea... Tar... liat di sana..."
Dua ekor anjing liar berukuran cukup besar dengan bulu dekil dan tatapan liar menatap lurus ke arah mereka. Air liur anjing-anjing itu tampak menetes, dipicu oleh aroma bumbu kacang batagor yang menyengat. Salah satu anjing yang bertubuh lebih besar mulai melangkah maju, memamerkan taringnya yang tajam.
Guk! Guk! Guk
Gonggongan nyaring itu menggema, memecah ketenangan sore.
"Ya ampun! Anjing gila! Kea, Tar, gimana nih?!" seru Tania panik, suaranya mulai gemetar hebat. Ia refleks berdiri, memeluk tas sekolahnya erat-erat ke dada.
"Jangan gerak... kata bokap gue, kalau ada anjing jangan lari, nanti mereka malah ngejar," bisik Tari dengan teori yang sebenarnya ia sendiri tidak yakin bisa dipraktikkan saat ini.
"Tapi itu anjingnya jalan ke sini, Tari! Mukanya galak banget, hiks..." cicit Keana. Jantungnya berdegup kencang. Ia sangat trauma dengan anjing, karena ia juga pernah dikerjar anjing saat kecil. Kakinya mendadak lemas.
GUK! GUK! GUK
Anjing yang paling besar tiba-tiba menggonggong lebih keras dan membuat gerakan meloncat pendek seolah bersiap menerkam.
"Aaaaakkkhhh! LARI!!" teriak Tari yang langsung kehilangan akal sehatnya. Ia berbalik dan melesat pergi paling dulu, membuang bungkusan es podengnya ke sembarang arah.
"Tungguin gue! Kea, lari!" jerit Tania ikut panik, langsung mengambil langkah seribu menyusul Tari.
"Tari! Tania! Jangan tinggalin gue!" teriak Keana histeris.
Melihat kedua temannya sudah berlari jauh, dan kedua anjing itu mulai bergerak cepat mengejar mereka, pertahanan Keana runtuh. Rasa takut menguasai logikanya. Dengan air mata yang mulai merebak di pelupuk mata, Keana membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin di atas jalur aspal taman, berkejaran dengan suara gonggongan yang terasa semakin dekat tepat di balik punggungnya.
Malang bagi Keana, gonggongan yang semakin mendekat membuat nyalinya menciut hingga ia panik. Langkah kakinya tersandung gundukan aspal taman, dan...
Brukkk
Keana tersungkur keras, bahkan sedikit terseret kedepan di jalanan aspal. Rasa perih yang hebat langsung menyengat kedua lututnya. Ketika ia melirik ke bawah, kulit lututnya sudah robek dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Ia ingin sekali menangis, namun ia menahannya sekuat tenaga. Melihat salah satu anjing itu justru semakin mendekat ke arahnya. Keana memejamkan mata erat-erat, ketakutan setengah mati. Ia benar-benar takut digigit.
"Pergi! Hush! Pergi!"
Sebuah suara berat menginterupsi, disusul suara hantaman kayu ke tanah.
Keana perlahan membuka matanya. Arlo sudah berdiri di belakangnya, mengacungkan sebilah kayu besar dengan tatapan mata yang sangat tajam dan mengintimidasi, berhasil membuat kedua anjing liar itu ketakutan dan lari menjauh.
"Arlo...?" cicit Keana, suaranya bergetar hebat.
Arlo membuang kayu itu ke sembarang arah. Cowok yang biasanya selalu memasang wajah tripleks tanpa ekspresi itu kini menunjukkan raut panik yang amat kentara. Ia langsung berlutut di depan Keana, mengabaikan debu aspal yang mengotori celananya.
"Lo gak apa-apa? Ada yang digigit?" tanya Arlo cepat.
Matanya dengan intens memeriksa tubuh Keana, sampai akhirnya pandangannya terkunci pada kedua lutut gadis itu yang sudah robek dan mengalirkan darah segar.
"S-sakit..." isak Keana, akhirnya air matanya keluar karena tidak sanggup lagi menahan rasa perih dan rasa takut yang campur aduk.
Melihat Keana menangis, Arlo terdiam sejenak. Tangannya terangkat, tampak ragu, sebelum akhirnya ia nekat menyentuh bahu Keana dengan lembut untuk menenangkannya.
"Udah, anjingnya udah pergi. Jangan nangis, ada gue di sini," ucap Arlo dengan suara melembut.
Arlo kemudian meraba saku celananya, mengeluarkan selembar sapu tangan kain bersih berwarna biru tua. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menepuk-nepuk pinggiran luka di lutut Keana untuk membersihkan kerikil kecil yang menempel.
"Awss! Sakit, Arlo! Pelan-pelan!" protes Keana sambil memukul pelan bahu Arlo.
"Gue udah pelan-pelan, Keana. Kalau gak dibersihin, nanti infeksi," balas Arlo, mendongak menatap mata Keana yang berkaca-kaca dari jarak dekat.
"Lagian, lo ngapain sih kelayapan di sini?"
"Gue... gue cuma mau jajan batagor," cicit Keana pelan.
Tepat saat itu, Tari dan Tania datang berlari
"Kea! Lo nggak apa-apa?" tanya Tari
" Ya ampun, lutut lo berdarah banyak banget!" ucap Tania panik.
Tepat saat suasana sedang kacau, suara derit ban mobil terdengar nyaring di tepi taman. Itu SUV hitam milik Gavin. Begitu turun dari mobil dan melihat adiknya terduduk di aspal dikelilingi teman-temannya, Gavin langsung berlari kesetanan.
"Keana!" Gavin berlutut di depan adiknya, wajahnya pucat pasi karena panik.
Arlo perlahan menarik tangannya kembali, saat melihat Gavin datang, menampilkan wajah datar, seolah perhatian intens yang ia berikan pada Keana beberapa detik lalu hanyalah ilusi.
"Kak Gaviiinnn!" tangis Keana pecah seketika melihat Gavin datang. Ia langsung menghambur, memeluk leher Gavin dengan sangat erat, menumpahkan seluruh rasa takut dan sakitnya.
"Kenapa bisa begini?" tanya Gavin.
"Dari kami di kerjar anjing, kak. Terus Keana jatuh. Makanya kayak gitu" jawab Tari.
Gavin mengusap punggung Keana yang bergetar hebat. Tanpa membuang waktu, Gavin langsung menggendong Keana dalam dekapannya menuju mobil. Begitu duduk di balik setir, Gavin tidak langsung menyalakan mesin. Ia menoleh, menatap Keana yang menahan sakit di lututnya.
"Kan kakak udah bilang, tunggu di gerbang! Jangan keluyuran!" bentak Gavin, suaranya meninggi karena rasa khawatir yang teramat sangat.
"Kenapa bandel banget sih, Kea?! Kalau tadi anjingnya beneran gigit kamu gimana? Kalau kamu kenapa-napa, kakak yang habis diamuk Papa sama Mama!"
Mendengar bentakan dari kakaknya, tangis Keana yang sempat mereda kembali pecah. Ia memeluk tas sekolahnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata.
"Hiks... maaf... Kea cuma laper pengen batagor... hiks..." cicit Keana di antara tangisnya.
Melihat air mata adiknya mengalir semakin deras, rasa bersalah menghantam dadanya. Ia meraup wajahnya kasar, menyesali nada bicaranya yang terlalu tinggi tadi.
Ia menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak paniknya. Ia menggeser duduknya agak miring, lalu mengulurkan tangan untuk menarik kepala Keana dengan lembut ke dalam dekapannya.
"Sshh... iya, maaf. Kakak nggak bermaksud marahin kamu," bisik Gavin, suaranya melunak. Tangan kanannya mengusap-usap rambut Keana yang sedikit berantakan.
"Kakak cuma takut banget, Kea. Tadi pas liat kamu terduduk di aspal, jantung kakak rasanya mau copot."
Keana mencengkeram jaket Gavin, menumpahkan sisa rasa takutnya di dada sang kakak. "Kea takut banget tadi, Kak... Anjingnya gede... kalau gak ada Arlo, Kea pasti udah digigit..."
"Iya, untung ada temen kamu itu." ucap Gavin menenangkan, sesekali mengecup puncak kepala Keana dengan sayang.
"Sekarang kita pulang, ya? Kita obatin di rumah sama Mama. Tahan sebentar perihnya, oke?"
Keana mengangguk pelan. Setelah memastikan adiknya agak tenang, Gavin melepaskan pelukannya dengan hati-hati, membenarkan posisi duduk Keana, lalu memasangkan sabuk pengamannya. Mesin mobil dinyalakan, dan Gavin langsung melesat membelah jalanan, membawa adik kesayangannya pulang ke rumah secepat mungkin.
Setibanya di rumah, Gavin langsung membuka pintu utama dengan tergesa-gesa sambil tetap menggendong Keana. Mama Soraya yang sedang nonton tv di ruang tengah langsung berbalik dan memekik panik melihat Keana.
"Ya Allah, Gavin! Keana kenapa?!" Mama Soraya berlari menghampiri mereka, melihat darah di kaki anak perempuannya.
"Jatuh di taman, Ma. Dikejar anjing liar," jawab Gavin ringkas sambil merebahkan Keana dengan hati-hati di sofa ruang tengah.
Mama Soraya dengan sigap langsung mengambil kotak P3K. Dengan penuh kelembutan, tangan seorang Dokter Kandungan itu mulai membersihkan luka di lutut Keana menggunakan cairan antiseptik.
"Perih, Mama... hiks... sakit..." tangis Keana semakin menjadi-jadi, menyembunyikan wajahnya di dada Mama Soraya yang hangat.
"Iya, Sayang, sebentar ya. Tahan sebentar, anak pinter," bisik Mama Soraya menenangkan, sesekali mencium pelipis Keana yang basah oleh keringat dan air mata, sementara Gavin berdiri di samping sofa, menatap adiknya dengan pandangan penuh rasa bersalah dan khawatir.