Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : TATA KELOLA KEKACAUAN
Dua bulan berlalu sejak pembersihan besar-besaran di Dermaga 9. Kediaman Ouroboros yang dulunya sarat akan intrik berdarah dan perebutan kekuasaan 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳-𝘌𝘭𝘥𝘦𝘳, kini berubah menjadi sebuah mesin perang yang beroperasi dengan presisi.
Sistem yang dibangun oleh Julian Vance, dikombinasikan dengan eksekusi lapangan dari tiga komandan baru, menciptakan sebuah era baru bagi organisasi.
Ciel Vance terbukti menjadi otak logistik yang luar biasa. Jalur penyelundupan dari Eropa hingga ke Asia kini bersih dari gangguan interpol. Laporan bulanan yang masuk ke meja Elara selalu menunjukkan surplus keuntungan yang melampaui target, dengan tingkat kegagalan pengiriman nol persen. Ciel bekerja dalam diam, memastikan setiap ton kargo berpindah tangan tanpa meninggalkan satu pun jejak digital.
Kaelen Cross mengubah faksi maritim menjadi momok di laut. Armada laut kini tidak lagi sekadar kapal pengangkut, melainkan unit pertahanan bergerak yang dipersenjatai lengkap. Ia menguasai jalur pelayaran, menghalau setiap upaya sabotase dari sindikat luar dengan cara yang brutal namun efisien.
Sementara Ren Sallow, sang eksekutor, telah berhasil menuntaskan daftar target yang selama ini menghambat pergerakan organisasi—dari oknum pejabat korup hingga informan lawan—tanpa pernah meninggalkan satu pun bukti fisik. Kematian mereka selalu terlihat seperti kecelakaan, serangan jantung, atau malfungsi sistem keamanan yang tragis.
Di ruang kerja utama, Elara duduk di balik meja eknya. Di depannya, tiga layar monitor menampilkan laporan kemajuan dari ketiga bawahannya.
Sang Ayah yang duduk di kursi kebesarannya di seberang ruangan sesekali menatap putri tunggalnya dengan tatapan bangga yang tak lagi tertutup. Ia tidak lagi harus turun tangan mengurusi detail kecil. Elara telah membuktikan bahwa dia adalah pengganti yang bahkan lebih kejam dan lebih efektif daripada ayahnya sendiri.
"Mereka bekerja dengan sangat baik, bukan?" suara Sang Ayah memecah kesunyian ruangan.
Elara mematikan tabletnya, menatap ayahnya dengan pandangan datar. "Mereka melakukan pekerjaan dengan baik."
Di sudut ruangan, Julian Vance duduk sambil menyesap kopi hitamnya. Ia memperhatikan seluruh dinamika itu dengan senyum yang tenang.
Sistem enkripsi yang ia rancang kini telah menyatu dengan operasi ketiga komandan itu, menciptakan sebuah jaringan informasi yang tidak bisa ditembus oleh pihak mana pun.
Elara berdiri dari kursinya. Ia merapikan gaun hitamnya dan menatap para bawahannya yang menunggu instruksi di dalam ruangan.
"Kalian telah membuktikan bahwa kalian lebih baik daripada sampah yang kalian gantikan," ucap Elara, suaranya tenang. "Sekarang, fokuslah pada target kuartal kedua. Aku tidak ingin mendengar adanya kesalahan sekecil apa pun."
"Akan kami laksanakan, Nona," jawab Ciel, Kaelen, dan Ren serentak.
Ketika ruangan kembali sepi, Elara mendekati Dante. Ia menatap pengawal pribadinya itu, melihat bagaimana Dante kini tampak lebih tenang.
"Kau terlihat tegang, Dante," bisik Elara pelan, menyentuh lengan Dante yang terbalut setelan jas rapi.
Dante menatap wanita di hadapannya. "Rumah ini sekarang berjalan terlalu sempurna, Elara. Dan dalam dunia kita, kesempurnaan adalah tanda bahwa ada sesuatu yang sedang direncanakan di balik layar."
Elara menarik sudut bibirnya, sebuah seringai yang sangat tipis. "Biarkan mereka berencana, Dante. Selama mereka masih memberikan hasil."
Elara menatap ke arah Julian yang masih duduk tenang di sudut, lalu kembali menatap Dante.
"...saat salah satu dari mereka membuat satu kesalahan saja, aku ingin kau yang memastikan bahwa mereka tidak akan pernah bisa memperbaikinya."
Dante mengangguk pelan.
Dari sudut ruangan, denting halus cangkir kopi yang diletakkan di atas tatakan kaca memecah keheningan.
Julian Vance perlahan menegakkan tubuhnya. Ia rupanya tidak melewatkan satu kata pun dari obrolan mereka.
Sebuah seringai miring terukir di wajah Julian.
"Instruksi yang sangat efisien, Nona Elara," ujar Julian, suaranya mengalun tenang namun memprovokasi.
Matanya berkilat di balik kacamata saat ia melirik Dante secara sengaja. "Sebuah keberuntungan besar memiliki anjing penjaga yang selalu siap mengotori tangannya dengan darah, bukan? Mari kita lihat, siapa di antara ketiga darah baru itu yang akan menjadi umpan pertama untuk senapan Dante."
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..