NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Melihat tangannya ditarik begitu saja, Damar langsung memanfaatkan kesempatan itu. Dia berbalik badan dengan cepat, mendekatkan tubuhnya kembali menghadap Adera hingga jarak di antara mereka kini menyempit drastis.

Aura Damar yang begitu kuat dan maskulin langsung menyelimuti indra Adera. Jantung gadis itu berdegup kencang bukan main. Karena kaget dan merasa terlalu dekat, Adera secara refleks mencoba mundur selangkah untuk memberi jarak.

Namun sayangnya, di belakang kakinya ada karpet. Kaki Adera tersandung sedikit, membuat keseimbangannya hilang seketika! Tubuh mungilnya terhuyung mundur, siap untuk terjatuh ke lantai!

"Aww!" jerit Adera pelan, matanya terpejam erat siap menerima benturan.

Tapi...Jatuh yang ia duga tidak kunjung terjadi.

Sebuah tangan yang kuat dan hangat dengan sigap menangkap pinggang rampingnya tepat pada waktunya!

Damar menarik tubuh Adera kembali ke arahnya dengan cepat. Akibat gaya tarik itu, tubuh Adera langsung terbentur lembut ke dada bidang Damar.

Dan dalam sekejap... Mereka berdua kini saling berpelukan!

Damar memeluk pinggang Adera erat-erat agar gadis itu tidak jatuh, sementara tangan Adera secara otomatis menumpu di dada Damar untuk menopang tubuhnya.

Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja, napas mereka saling bersentuhan, dan detak jantung keduanya terdengar sangat jelas berpacu kencang.

Suasana hening total. Waktu seakan berhenti berputar di momen itu. Adera bisa merasakan hangatnya tubuh Damar, ketegaran ototnya, dan juga aroma wangi parfum pria itu yang sangat menenangkan namun sekaligus membuatnya pusing tujuh keliling.

"K-Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Damar parau, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Adera.

Namun, sadar akan posisi mereka yang sangat tidak pantas dan mesra itu, Adera langsung tersentak kaget! Wajahnya memerah padam bak kepiting rebus!

"Ah!!!"

Dengan cepat dan sedikit kasar, Adera mendorong dada Damar dan melepaskan diri dari pelukan itu.

Dia mundur beberapa langkah menjauh, memeluk dirinya sendiri seakan sedang gemetar, wajahnya tertunduk dalam menahan rasa malu yang luar biasa.

"M-maaf... aku... aku nggak sengaja!" cicit Adera terbata-bata, jantungnya rasanya mau meledak karena malu campur deg-degan!

 

Suasana yang sempat tegang dan penuh deg-degan itu masih terasa menggelitik di hati. Adera masih berdiri mematung dengan wajah memerah padam, jantungnya berdegup kencang tak karuan akibat pelukan tak sengaja tadi.

Tiba-tiba...

Tring... Tring... Tring...

Suara dering ponsel terdengar nyaring memecah keheningan malam. Getaran itu berasal dari saku jas Damar.

Seseorang sedang menelponnya. Namun, apa yang dilakukan Damar?

Pria itu sama sekali tidak bergeming. Wajahnya tetap tenang, matanya bahkan tidak melirik sedikitpun ke arah saku bajunya. Dia sama sekali tidak mempedulikannya. Tangannya tetap berada di sisi tubuh, dan pandangannya tetap terkunci pada manik mata Adera seolah tidak ada hal lain di dunia ini yang lebih penting.

Dering itu terus berbunyi, namun Damar diam saja seolah tidak mendengar.

Melihat hal itu, Adera jadi gelisah sendiri.

"Eh... HP kamu bunyi tuh!" seru Adera cepat, mencoba mengalihkan topik dan menunjuk arah saku pria itu. "Cepat diangkat! Siapa tau itu penting banget atau ada urusan mendadak!"

Damar hanya menggeleng pelan dengan santai. Senyum tipis masih terukir di bibirnya.

"Nggak perlu diangkat," jawab Damar santai dan datar.

"Hah? Kok nggak diangkat sih? Nanti kalau ada hal penting gimana?" tanya Adera bingung sekaligus kesal. "Angkat dong, jangan cuek gitu!"

Damar pun akhirnya berbicara, suaranya terdengar rendah dan sangat menenangkan namun penuh makna.

"Ini nggak penting," ucap Damar pelan, matanya menatap Adera dalam-dalam. "Daripada aku angkat telepon yang isinya nggak jelas dan nggak penting, mending aku habisin waktu aku buat liatin kamu yang jauh lebih berharga dan penting buat aku sekarang."

Jantung Adera serasa dilempar batu lagi!

Mendengar jawaban sesantai dan semanis itu, membuat Adera langsung kehilangan kata-kata. Wajahnya makin merona merah, dia bahkan tidak berani menatap balik mata tajam itu lagi karena takut jantungnya meledak di tempat.

Suasana hening sejenak, hanya detak jantung yang berpacu kencang. Mata Damar yang tajam namun lembut perlahan menelusuri seluruh tubuh gadis di depannya, mulai dari wajah yang memerah, turun ke leher jenjang yang cantik...

Dan tiba-tiba tatapan Damar berhenti.

Matanya terpaku pada sebuah benda kecil yang berkilau indah tepat di tengah dada Adera.

Itu adalah kalung mungil dengan liontin cantik yang dulu pernah dia berikan!

Karena model gaun yang dipakai Adera malam ini memiliki leher yang cukup terbuka, kalung itu terlihat sangat jelas, terpampang sempurna dan menjadi pusat perhatian. Batu kecil di dalamnya memantulkan cahaya lampu koridor, membuatnya terlihat semakin bersinar dan indah memikat pandangan.

Damar tersenyum lebar, senyum yang sangat tulus dan bahagia. Dia menunjuk pelan ke arah leher Adera.

"Itu..." ucap Damar pelan, suaranya terdengar lembut. "Kalung yang aku kasih dulu... kamu pakai sampai sekarang?"

Deg!

Mendengar pertanyaan itu, Adera langsung kaget. Tangannya secara refleks terangkat menutupi liontin itu, wajahnya seketika memerah padam karena salah tingkah parah.

"I... iya..." jawab Adera terbata-bata, suaranya kecil sekali. Matanya menunduk memainkan ujung jarinya sendiri, gugup setengah mati.

"Kenapa dipakai? Bukannya kamu masih ragu sama aku?" goda Damar pelan, tapi nada suaranya penuh kasih sayang.

Adera menggeleng pelan, lalu memberanikan diri menatap Damar sekilas.

"Bukan gitu..." sangkal Adera pelan. "Kalungnya... kalungnya kan terpisah sama orangnya."

Dia menarik napas panjang, memberanikan diri untuk jujur.

"Jujur aja deh... aku suka banget sama kalung ini," ucap Adera akhirnya, suaranya terdengar tulus. "Desainnya cantik, elegan, dan pas banget dipakai sama baju apa aja. Aku suka, makanya aku pakai terus."

Mendengar pengakuan jujur itu, hati Damar rasanya berbunga-bunga luar biasa. Ternyata gadis itu menyukai pemberiannya dan memakainya setiap hari. Itu tandanya, ada tempat khusus untuknya di hati gadis itu.

"Syukurlah..." gumam Damar lega dan bahagia. "Aku senang banget dengarnya. Senang banget bisa liat kamu memakainya sekarang. Kamu makin cantik aja."

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!