Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Satu
Malam itu, rumah keluarga Arsaka kembali dipenuhi suara tawa. Sudah lama rumah ini menjadi tempat berkumpul yang selalu dirindukan.
Tidak peduli sesibuk apa pun mereka, Arsaka dan Hana selalu memastikan satu hal. Makan malam bersama keluarga harus tetap ada. Karena bagi mereka, keluarga bukan hanya tentang tinggal di rumah yang sama.
Tapi tentang meluangkan waktu untuk duduk bersama, bercerita, dan mengingat bahwa ada orang-orang yang selalu menunggu kepulangan mereka.
"Tambah nasi lagi, Al."
Hana menunjuk piring anak bungsunya yang sudah hampir kosong. Althaf Arkananta, atau yang lebih sering dipanggil Al, langsung menggeleng.
"Mom, aku sudah makan banyak."
Arsaka yang duduk di sebelah Hana langsung melirik putranya. "Baru dua kali tambah."
Al langsung tertawa. "Daddy memperhatikan sekali."
"Aku memperhatikan semua anakku."
Jawaban Arsaka membuat Hana tersenyum kecil. Di usianya yang tidak lagi muda, pria itu tetap sama. Ia tetap menjadi sosok ayah yang selalu memperhatikan hal-hal kecil tentang anak-anaknya.
Di ujung meja, El hanya tersenyum melihat keluarganya. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu kini sudah jauh berbeda dari anak kecil yang dulu selalu berlari mengejar Chelsea di rumah.
Sekarang El adalah penerus perusahaan keluarga. Menggantikan posisi Arsaka sebagai pemimpin perusahaan bukanlah hal mudah, tapi El membuktikan bahwa ia bukan hanya anak dari seorang Arsaka. Ia memiliki kemampuan dan caranya sendiri. Selalu terlihat tenang tapi tegas dan bertanggung jawab.
Namun bagi keluarganya, El tetaplah El. Anak pertama mereka. Kakaknya Chelsea dan juga Al.
Sementara di samping El, Chelsea hanya tersenyum kecil sambil mendengarkan obrolan keluarganya. Di usia dua puluh tujuh tahun, Chelsea tumbuh menjadi wanita yang lembut dan mandiri.
Tidak banyak yang tahu bahwa gadis kecil yang dulu datang ke rumah ini saat berusia lima bulan pernah merasa takut tidak diterima. Takut dianggap berbeda. Takut suatu hari akan kehilangan tempatnya.
Tapi Arsaka dan Hana tidak pernah membuatnya merasa seperti itu. Bagi mereka, Chelsea adalah anak mereka. Bukan anak angkat. Bukan seseorang yang harus berterima kasih karena diberikan rumah. Chelsea adalah bagian dari rumah itu.
Dan mungkin karena itulah, Chelsea menyimpan satu perasaan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Bahkan kepada dirinya sendiri pun terkadang ia menyangkal. Ia mencintai El.
Bukan sebagai seorang adik kepada kakaknya. Tapi sebagai seorang wanita kepada pria yang sejak kecil selalu ada untuknya.
Pria yang dulu menggenggam tangannya ketika ia takut. Pria yang selalu membelanya. Pria yang membuatnya merasa aman.
El adalah rumah pertama Chelsea. Dan justru karena itu, Chelsea takut kehilangan.
"Kenapa diam saja?"
Suara El membuat Chelsea tersadar. Ia menoleh. "Hm, tak ada Bang."
Walau usia El dan Chelsea hanya terpaut beberapa bulan, tapi kedua orang tua mereka meminta memanggilnya abang.
"Kamu dari tadi cuma makan sedikit."
Chelsea langsung tersenyum. "Aku lagi dengar kalian ngobrol."
El mengernyit. "Kebiasaan kamu masih sama."
"Apa?"
"Selalu memperhatikan orang lain sampai lupa diri sendiri."
Chelsea hanya tertawa kecil. "Abang juga masih sama."
"Sama apanya?"
"Masih suka mengatur."
El tersenyum. "Karena kamu masih suka tidak menjaga diri."
Kalimat sederhana itu., yang bagi El mungkin biasa. Tidak bagi Chelsea, selalu punya arti lebih.
Ia menunduk sebentar, menyembunyikan senyum kecilnya. Namun malam itu, senyum Chelsea perlahan menghilang ketika El tiba-tiba meletakkan sendoknya.
"Aku mau bilang sesuatu."
Semua orang langsung melihat ke arahnya.
Arsaka mengangkat alis. "Ada apa?"
El menarik napas kecil. Sesuatu yang membuat Chelsea langsung merasa aneh.
"Aku saat ini telah memiliki teman spesial."
Ruangan itu mendadak berubah. Hana langsung tersenyum. "Serius, Nak?"
El mengangguk. "Iya, Mom."
Al langsung bersiul kecil. "Wah, akhirnya ...."
El menatap adiknya. "Akhirnya apa?"
"Akhirnya CEO muda ini punya pacar juga."
Semua orang tertawa. Tapi tidak dengan Chelsea. Bukan karena ia tidak bahagia. Bukan karena ia tidak ingin El menemukan seseorang. Tapi karena ada sesuatu yang tiba-tiba terasa ada yang mengoyak hatinya.
Seseorang yang diam-diam selalu ia sebut namanya di setiap helaan napas. El kini. sudah memiliki seseorang.
Padahal selama ini, tanpa sadar Chelsea selalu menyimpan harapan kecil, bahwa mungkin suatu hari El akan melihatnya lebih dari sekadar adik kecilnya.
Namun sekarang ia sadar. Mungkin perasaan itu memang hanya miliknya. El menyayangi dirinya hanya sebagai saudara.
"Chel."
Chelsea tersentak. El menatapnya. "Kamu tidak tanya siapa?"
Chelsea langsung tersenyum. "Emangnya siapa wanita yang beruntung itu, Bang?"
"Namanya Zoya."
Chelsea mengangguk pelan. "Pasti wanita itu cantik, baik dan lembut. Sehingga bisa menaklukkan hati Abangku."
El tersenyum. "Dia memang baik dan cantik."
Jawaban itu membuat dada Chelsea terasa semakin sesak. Karena dari cara El tersenyum saat menyebut namanya Chelsea sadar kalau pria itu benar-benar telah jatuh cinta dengan wanita bernama Zoya.
"Dad, Mom ...."
El melihat Arsaka dan Hana. "Aku ingin mengenalkan Zoya ke keluarga."
Hana langsung tersenyum bahagia. "Tentu saja kamu harus mengenalkannya pada kami. "
El mengangguk. "Nanti aku ajak dia makan malam bersama. Biar semua kenal dengan Zoya-ku."
Chelsea mencoba tersenyum. Berusaha terlihat biasa. Tetap menjadi Chelsea yang selalu mendukung El, seperti selama ini ia lakukan.
Lalu El kembali menatapnya. "Chel."
"Iya, Abang?"
"Aku mau kamu jadi orang pertama yang aku kenalkan ke Zoya."
Chelsea terdiam sesaat sebelum berkata, "Kenapa aku?"
El tersenyum seperti itu adalah hal yang paling wajar. "Karena kamu orang yang paling penting buat aku setelah Daddy dan mommy."
Kalimat itu seharusnya membuat Chelsea bahagia. Tapi entah kenapa ada rasa sakit kecil yang muncul bersamaan.
El melanjutkan ucapannya. "Aku mau ajak kamu makan malam bertiga sama aku dan Zoya."
Chelsea menatap El. Bertiga, itu berarti ia akan melihat langsung kemesraan pria yang sangat ia cintai dengan wanita yang akan menjadi seseorang paling spesial bagi El.
Untuk pertama kalinya, Chelsea merasa takut kehilangan tempatnya. Namun seperti biasa, ia hanya tersenyum. Karena sejak dulu, Chelsea selalu menanamkan pada dirinya sendiri, tidak boleh mencintai El. Dan ia tidak boleh menghancurkan kebahagiaan El.
"Baik, Bang. Aku juga ingin kenalan."
Jawaban itu keluar dengan suara lembut. Sementara di dalam hatinya. Chelsea sedang berusaha menerima kenyataan bahwa mungkin cinta pertamanya tidak pernah melihatnya sebagai seorang wanita. Hanya sebagai adik kecil yang selalu ingin ia lindungi.
Selamat Pagi menjelang siang. Ini novel sekuel dari Diceraikan Karena Man'dul Diha'mili CEO Dingin. Mohon dukungannya.
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka