Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik-Detik di Ambang Fajar
Malam beringsut larut menembus angka dua dini hari. Kota Malang malam itu diselimuti hawa dingin yang menusuk tulang, ditemani suara jangkrik yang mengerik bersahutan di sela-sela pot bunga teras Dinoyo. Di dalam kamar utama, lampu tidur bernuansa kuning temaram menjadi satu-satunya sumber cahaya.
Zaza terbangun dari tidurnya. Keringat dingin tampak menetes di pelipisnya, membasahi ujung bantal. Perutnya terasa mengencang, disertai rasa mulas yang teramat sangat dan datang secara berkala dari arah pinggang menjalar ke perut bagian bawah. Ia mencengkeram ujung selimut tebalnya, mencoba mengatur napas seperti yang telah dipelajarinya dalam kelas senam hamil.
"Astagfirullahaladzim... Ya Allah..." bisik Zaza lirih, menahan desakan nyeri yang kian kuat.
Gerakan kecil di sampingnya menandakan Rayyan terusik dari tidurnya. Sebagai calon ayah yang siaga, tidur Rayyan selama beberapa minggu terakhir memang sangat tipis. Begitu mendengar rintihan lembut dari bibir istrinya, pemuda itu langsung membuka mata dan terduduk seketika.
"Za? Kenapa, Sayang? Perutnya sakit lagi?" tanya Rayyan panik, guratan cemas langsung tercetak jelas di wajahnya yang masih setengah mengantuk. Ia buru-buru menyalakan lampu utama kamar, membuat ruangan seketika terang benderang.
Zaza menoleh, wajahnya sedikit pucat namun ia berusaha keras untuk tetap tenang agar suaminya tidak ikut tenggelam dalam kepanikan. "Mas... sepertinya ini sudah bukan kontraksi palsu lagi. Sejak jam satu tadi mulasnya datang setiap sepuluh menit sekali, dan sekarang rasanya semakin rapat dan lebih nyeri."
Rayyan merasakan jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan waktu. Ia melirik jam dinding—pukul 02.15 pagi. Dengan sigap, ia mengusap punggung Zaza lembut, mencoba memberikan ketenangan melalui sentuhan fisiknya.
"Tenang ya, Sayang. Tarik napas pelan-pelan... hembuskan. Aku ambilkan air hangat dulu, setelah itu kita langsung ke rumah sakit bersalin," ucap Rayyan dengan nada suara yang diusahakan sestabil mungkin, meskipun jemarinya sedikit gemetar saat meraih ponsel di atas nakas.
Rayyan bergerak cepat. Sambil menunggu Zaza meneguk air hangat, ia langsung menghubungi ambulans rumah sakit dan menelepon Umi Abinya di Dinoyo serta orang tuanya di Ijen. Setelah memastikan koper perlengkapan bayi dan bersalin yang sudah disiapkan sejak sebulan lalu masuk ke dalam dekapan tangannya, Rayyan kembali ke sisi ranjang, membantu Zaza mengenakan jilbab instan dan gamis longgar yang nyaman.
"Mas... sakitnya datang lagi," rintih Zaza, kali ini cengkeramannya pada lengan kemeja Rayyan begitu kuat. Matanya terpejam erat, menahan gelombang kontraksi yang terasa seolah meremas seluruh rongga perutnya.
Rayyan membiarkan lengannya dicengkeram, bahkan ia membawa kepala Zaza untuk bersandar di dadanya. "Iya, Sayang. Aku di sini. Zikir, Za... sebut nama Allah. Kamu perempuan yang kuat, kamu sudah melewati badai yang jauh lebih besar dari ini. Insyaallah, anak kita sedang berjuang bersama kita untuk melihat dunia."
Di tengah rasa sakit yang mendera, kalimat Rayyan mengalir bagai penyejuk batin bagi Zaza. Ia mengangguk di dada suaminya, melafalkan asma-asma Allah di setiap hembusan napasnya yang memburu.
Tidak berselang lama, deru sirine ambulans terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah. Beberapa petugas medis dengan sigap masuk membawa tandu lipat. Umi Zaza yang tinggal beberapa blok dari sana juga tiba hampir bersamaan, wajah tuanya sarat akan doa dan kecemasan seorang ibu yang hendak melihat putrinya bertaruh nyawa.
Saat Zaza mulai dipapah naik ke atas tandu, ia sempat menatap ke arah ruang tengah rumahnya. Ruangan tempat ia biasa menyulam aksara, tempat ia merangkai bunga-bunga di RayyZa Florest, dan tempat di mana sajadah sepertiga malam selalu terbentang menghadapi kiblat. Detik itu, Zaza tahu bahwa perjalanan sunyinya menahan rasa, air mata yang tumpah saat dihantam fitnah, kini sedang bermuara pada satu titik pembuktian yang agung.
Rayyan menggenggam erat tangan Zaza sepanjang koridor menuju mobil ambulans, berjalan di bawah langit malam Malang yang perlahan mulai menampakkan semburat fajar di ufuk timur.
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu, Za. Sampai anak kita lahir, sampai kita bersujud bersama lagi sebagai orang tua," bisik Rayyan tepat di telinga Zaza sebelum pintu ambulans ditutup rapat. Di ambang fajar yang dingin itu, sebuah perjuangan suci yang baru saja dimulai, menjemput lembaran paling sakral dalam takdir pernikahan mereka.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe