Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.
Suara gaduh dari warga membangunkan Daniel dan Zeya. Begitu membuka mata, keduanya langsung tersentak kaget. Daniel spontan melepaskan pelukannya, sementara Zeya buru-buru menjauh dengan wajah memucat.
"Kami... kami bukan seperti yang kalian pikirkan!" ucap Daniel sambil menggeleng panik.
"Benar, Pak... kami sedang tersesat dan menumpang bermalam di sini..." sambung Zeya dengan suara bergetar.
Namun, tak seorang pun mau mendengarkan. "Kalian ini, sudah ketahuan berbuat tidak benar, tapi masih saja mengelak!"
"Ayo, cepat kita bawa ke Balai Desa, biar Tetua Adat yang mengadili mereka!"
"Setuju...!"
Tanpa memberi kesempatan menjelaskan, warga lantas menggiring mereka berdua menuju Balai Desa untuk dihadapkan kepada Kepala Desa beserta para Tetua Adat.
Setibanya di sana suasana Balai Desa yang biasanya tenang, pagi itu mendadak berubah riuh. Puluhan warga berbondong-bondong berkumpul memenuhi pendopo, begitu kentongan dibunyikan. Mereka saling berbisik sambil melemparkan tatapan sinis serta intimidasi kepada Daniel dan Zeya yang duduk bersimpuh di tengah bangunan tanpa dinding dengan wajah pucat. Keduanya tampak tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi pada nasib mereka nanti.
Di kursi paling depan, Kepala Desa duduk didampingi beberapa Tetua Adat yang dikenal sangat teguh memegang aturan turun-temurun. Setelah suasana mulai tenang, Kepala Desa membuka pembicaraan.
"Kalian berdua tahu kenapa dibawa ke sini?"
Daniel menarik napas panjang lalu mengangguk. "Kami tahu, Pak. Tapi, kami ingin menjelaskan dulu yang sebenarnya."
"Silakan." Kepala Desa pun memberi waktu.
Daniel melirik Zeya sejenak, lalu kembali menatap Kepala Desa. "Kami tersesat saat mengikuti kegiatan pencarian tanda jejak Pramuka. Kami sama sekali tidak tahu kalau jalur yang kami lalui salah. Sepertinya ada seseorang yang sengaja mengubah tanda panah tanpa kami sadari."
"Kami mencoba mencari jalan keluar," sambung Zeya dengan suara lirih. "Tapi hari sudah gelap, kami takut kalau memaksakan berjalan justru semakin tersesat."
"Kami kemudian bertemu pondok itu, dan memutuskan bermalam di sana agar kami tidak kedinginan di jalanan terbuka."
Suasana Balai Desa hening beberapa saat. Namun, salah seorang Tetua Adat justru menggeleng pelan.
"Kalau memang begitu, mengapa kalian ditemukan sedang berpelukan?"
Pertanyaan itu membuat Zeya menundukkan kepala. Pipinya memerah karena malu.
"Teman saya menggigil hebat, Pak. Saya hanya berusaha menghangatkan tubuhnya supaya dia tidak mengalami hipotermia. Itu saja," jawab Daniel jujur.
Beberapa warga mulai saling berpandangan. Sebagian tampak ragu, tetapi sebagian lain tetap menunjukkan wajah tidak percaya.
Tetua Adat yang duduk di sebelah Kepala Desa mengembuskan napas panjang, kemudian berkata dengan nada tegas. "Anak muda zaman sekarang memang pandai sekali mencari alasan!"
"Bukan begitu, Pak!" bantah Daniel cepat. "Saya bersumpah, kami tidak melakukan apa pun yang melanggar susila."
"Saya juga bersumpah..." ucap Zeya dengan mata mulai berkaca-kaca. "Kami benar-benar tidak melakukan hal seperti yang dituduhkan."
Akan tetapi, ucapan mereka seolah menguap begitu saja.
"Yang dilihat warga adalah kenyataan," sahut Tetua Adat lainnya. "Kalian ditemukan berduaan di dalam pondok yang sepi dalam keadaan saling berpelukan. Itu sudah cukup mencoreng norma yang berlaku di desa ini!"
"Tapi kami hanya berusaha bertahan dari cuaca dingin, Pak!" seru Daniel.
Belum sempat perdebatan berlanjut, terdengar suara kendaraan berhenti di depan Balai Desa. Tak lama kemudian beberapa orang bergegas masuk.
"Daniel!"
"Zeya!"
Para Pembina Pramuka akhirnya tiba bersama beberapa peserta yang sejak semalam ikut melakukan pencarian. Melihat kedua pesertanya dalam keadaan selamat, mereka mengembuskan napas lega.
"Syukurlah kalian tidak apa-apa."
Namun, rasa lega itu hanya berlangsung sesaat, ketika mereka tersadar bahwa Daniel dan Zeya sedang diadili oleh warga desa. Salah seorang pembina segera menghampiri Kepala Desa.
"Permisi, Pak. Saya pembina kegiatan Pramuka SMA Pelita Bangsa."
Pembina itu kemudian menjelaskan seluruh kronologi kegiatan sejak awal. "Kemarin kami mengadakan pencarian tanda jejak. Kemungkinan besar mereka tersesat karena mengikuti jalur yang salah. Kami bahkan mengerahkan seluruh peserta untuk mencari mereka sampai larut malam."
Kepala Desa menganggukkan kepala. "Kami sudah mendengar penjelasan kedua anak ini."
"Kami bisa menjamin bahwa kedua anak ini tidak sengaja berada di pondok itu, Pak."
"Kalau mereka saling berdekatan, kemungkinan besar hanya untuk menghindari hipotermia. Tindakan itu justru sering dianjurkan jika dalam keadaan darurat."
Beberapa warga mulai terlihat bimbang. Mereka saling berbisik satu sama lain. Namun, salah seorang Tetua Adat kembali mengetukkan tongkat kayunya ke lantai. Suasana seketika kembali sunyi.
"Cukup!... Kami menghormati penjelasan kalian. Tapi, adat di desa kami ini sudah berlaku turun-temurun."
Tatapan lelaki tua itu beralih kepada Daniel dan Zeya.
"Siapa pun, terutama muda-mudi, apabila ditemukan warga dalam keadaan yang dianggap mendekati zina, maka keduanya wajib dinikahkan! Itu aturan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat!"
"Tapi, Pak..." sela salah seorang pembina.
Tetua Adat mengangkat tangan, melanjutkan ucapannya. "Kalau adat mulai dilanggar hanya karena rasa kasihan, maka lambat laun tidak akan ada lagi yang menghormati aturan leluhur." Ucapan itu langsung disambut anggukan oleh para warga.
Daniel mengepalkan kedua tangannya. "Jadi... sekeras apa pun kami menjelaskan, Bapak tetap tidak akan percaya?"
"Bukan tidak percaya," jawab Kepala Desa dengan tenang. "Namun, keputusan adat tidak didasarkan pada pengakuan semata, melainkan pada apa yang disaksikan oleh warga."
Kalimat itu membuat wajah Zeya semakin pucat. Airmata akhirnya jatuh tanpa mampu lagi ia bendung. "Ayah pasti kecewa..." bisiknya lirih.
Melihat gadis itu menangis, Daniel menatap para tetua dengan sorot mata memohon. "Tolong... jangan paksa kami seperti ini."
Akan tetapi, permohonan itu kembali tidak mengubah apa pun. Setelah bermusyawarah singkat, Kepala Desa akhirnya mengambil keputusan.
"Baiklah, kami minta kedua orang tua kalian datang ke sini."
Lalu menatap Zeya. "Terutama wali dari pihak perempuan. Bagaimanapun juga, persoalan ini menyangkut masa depan kalian berdua."
Akhirnya Daniel dan Zeya hanya bisa menurut. Dengan tangan yang masih gemetar, pemuda itu mengeluarkan ponselnya. Dia segera menghubungi orangtuanya, setelahnya dia memberikan ponsel54 pada Zeya agar menelpon orangtuanya, mengingat ponsel gadis itu kehabisan daya.
Zeya menerimanya kemudian mengusap air matanya sebelum memberanikan diri menelepon sang ayah.
Sekitar satu jam kemudian, suara mobil berhenti di halaman Balai Desa. Daniel yang sejak tadi menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya.
Mami Mia turun lebih dulu dengan raut wajah panik, disusul Papi Baim yang berjalan tergesa-gesa. Sejak menerima telepon dari putranya, mereka mengira Daniel mengalami kecelakaan atau musibah besar saat kegiatan Pramuka.
"Kakak...!" Wanita itu langsung menghampiri Daniel dan memeluknya erat. "Kamu nggak apa-apa, Sayang?"
Daniel hanya mampu menggeleng pelan sambil mengeratkan pelukannya pada sang ibu.
Tak lama berselang, sebuah mobil lain memasuki halaman. Ayah Bastian turun dengan wajah penuh kecemasan. Begitu melihat Zeya berdiri dengan mata sembab, jantungnya seakan diremas.
"Sayang..." Pria itu segera merangkul putrinya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Belum sempat Daniel maupun Zeya menjelaskan, Kepala Desa lebih dulu menceritakan kejadian yang dilaporkan warga, mulai dari ditemukannya mereka di pondok, hingga keputusan adat yang telah disepakati para tetua.
.
Mungkinkah Daniel dan Zeya jadi menikah?
.emaknya datang😁