NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Sore hari, mobil yang dikemudikan Arga perlahan memasuki halaman rumah keluarga Dimas.

Arga turun lebih dulu, lalu membukakan pintu belakang.

"Silakan, Nyonya."

"Terima kasih."

Arga kemudian membuka bagasi mobil dan mengangkat beberapa tas belanja milik Karin.

"Biar saya bawakan, Nyonya."

"Terima kasih, Arga."

Arga berjalan beberapa langkah di belakang Karin sambil membawa seluruh tas belanja. Begitu keduanya memasuki ruang keluarga, Bu Ratna yang sejak tadi duduk di sofa perlahan mengangkat kepalanya. Senyum tipis langsung menghiasi bibirnya. Di sampingnya, Vina ikut berdiri seolah baru menyadari kepulangan mereka.

"Wah, akhirnya pulang juga. Belanjanya banyak sekali ya, Karin."

"Iya, Bu. Ada beberapa barang yang memang harus kubeli."

Tatapan Vina perlahan bergeser ke arah Arga yang sedang membawa tas-tas belanja. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.

"Arga memang rajin sekali. Ke mana pun Nyonya Karin pergi, selalu kamu yang mengantar dan menemani."

Arga menundukkan kepala dengan hormat.

"Itu memang tugas saya sebagai sopir, Nona."

Vina terkekeh pelan.

"Aku tahu. Makanya aku jadi penasaran."

Karin menghentikan langkahnya dan menoleh.

"Penasaran tentang apa?"

Vina tersenyum polos, seolah pertanyaannya sama sekali tidak mengandung maksud tersembunyi.

"Di rumah ini, setahuku ada beberapa sopir. Tapi kenapa setiap kali Nyonya Karin keluar rumah, yang mengantar selalu Arga?"

Suasana ruang keluarga seketika menjadi hening.

Arga tetap berdiri di tempatnya sambil memegang tas-tas belanja. Wajahnya tetap tenang, tetapi ia mulai merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan itu.

"Saya hanya menjalankan jadwal dan perintah dari Tuan maupun Nyonya, Nona."

Bu Ratna ikut menimpali sambil mengangguk pelan.

"Iya, Karin. Ibu juga baru menyadarinya. Kalau hanya sekali atau dua kali tentu tidak ada masalah. Tapi akhir-akhir ini hampir setiap kali kamu keluar rumah, yang mengantarmu selalu Arga. Bukankah sopir lain juga bisa menjalankan tugas itu?"

Tatapan Karin perlahan berubah dingin.

"Jadi... apa maksud Ibu?"

Bu Ratna tersenyum tipis.

"Tidak ada maksud apa-apa. Ibu hanya khawatir. Bagaimanapun juga kamu sudah bersuami. Menjaga sikap itu penting."

Vina segera menyambung ucapan Bu Ratna.

"Benar, Nyonya. Aku hanya takut nanti ada orang yang melihat lalu salah paham. Soalnya Arga masih muda, sering mengantar Nyonya ke mana-mana, dan sekarang bahkan membawakan semua barang belanja Nyonya. Orang yang tidak tahu keadaan sebenarnya bisa saja berpikir macam-macam."

Karin menatap mereka bergantian. Beberapa detik ia memilih diam. Lalu sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.

"Menarik sekali."

Bu Ratna mengernyit.

"Maksudmu?"

Karin melangkah pelan hingga berdiri tepat di depan Bu Ratna dan Vina.

"Yang kulihat sejak aku masuk ke rumah ini. Kalian sedang berusaha menggiring pembicaraan."

Vina langsung menggeleng.

"Nyonya, jangan berpikir sejauh itu. Aku hanya bertanya."

Karin tersenyum sinis.

"Kalau memang hanya bertanya... kenapa pertanyaan kalian selalu mengarah pada Arga?" Tatapan Karin kemudian beralih kepada Bu Ratna. "Padahal Arga juga setiap hari mengantar Dimas ke kantor."

Tatapannya berpindah kepada Vina.

"Dia juga pernah mengantarmu ke salon dan pusat perbelanjaan." Lalu ia kembali menatap Bu Ratna. "Bahkan beberapa kali mengantar Ibu ke acara arisan." Karin menghela napas pelan. "Kalau begitu, kenapa baru sekarang kalian mempermasalahkannya?"

Bu Ratna dan Vina saling berpandangan sesaat. Mereka tahu kalau Karin mulai membaca arah permainan mereka.

Bu Ratna menghela napas pelan. Ekspresinya tampak sabar, seolah benar-benar sedang menasihati menantunya.

"Karin, Ibu hanya mengingatkan. Kamu ini istri Dimas. Apa salahnya Ibu meminta kamu lebih menjaga sikap? Jangan sampai karena terlalu sering bersama sopir, orang lain mempunyai penilaian yang buruk."

Karin tertawa kecil, tetapi tatapannya dingin.

"Menjaga sikap? Selama ini Arga mengantar siapa saja yang membutuhkan. Dimas, Ibu, bahkan Vina. Tidak pernah ada masalah. Tapi saat dia mengantarku, tiba-tiba kalian menganggapnya aneh. Bukankah itu lucu?"

Vina menggeleng sambil memasang wajah bingung.

"Nyonya, kenapa Nyonya selalu berpikir kami sedang menyerang Nyonya? Kami benar-benar hanya mengkhawatirkan nama baik keluarga."

Ucapan itu membuat kesabaran Karin mulai menipis.

"Nama baik keluarga? Kalian masih berani membicarakan nama baik setelah semua yang kalian lakukan di acara amal semalam?"

Wajah Bu Ratna seolah terkejut.

"Karin, kenapa kamu membawa-bawa masalah itu lagi?"

"Karena masalah itu belum selesai!" Suara Karin mulai meninggi. "Ibu menjual perhiasanku tanpa izin. Ibu membawa Vina menghadiri acara resmi bersama suamiku. Sekarang Ibu mencoba menghubungkanku dengan sopir rumah ini. Apa lagi rencana Ibu setelah ini?"

Suara Karin yang semakin keras mulai terdengar hingga ke dapur.

Bi Darmi yang sedang mencuci piring menghentikan pekerjaannya. Dua pelayan lain juga saling berpandangan sebelum mengintip dari balik pintu.

Melihat para pelayan mulai berdatangan, Bu Ratna diam-diam melirik Vina.

Hanya satu tatapan singkat. Namun Vina langsung mengerti. Saat itulah sandiwara mereka dimulai.

Bu Ratna segera mengubah ekspresinya. Wajahnya yang semula datar berubah penuh rasa iba. Ia melangkah mendekati Karin dengan hati-hati.

"Karin... tenangkan dulu dirimu. Ibu tidak pernah bermaksud menyakitimu. Kalau perkataan Ibu membuatmu tersinggung, Ibu minta maaf."

Vina ikut mendekat sambil berpura-pura cemas.

"Iya, Nyonya. Jangan marah seperti ini. Kami benar-benar tidak sedang menuduh. Kami hanya takut Nyonya terlalu banyak pikiran sejak kejadian semalam."

Karin menatap keduanya dengan tidak percaya.

"Kalian..."

Bu Ratna kembali berbicara dengan suara yang lembut.

"Sudah, Nak. Tidak apa-apa. Ibu mengerti kalau emosimu sedang kurang stabil. Ayo duduk dulu, minum air putih. Kita bicarakan baik-baik."

Ucapan itu sengaja diucapkan cukup keras agar terdengar oleh para pelayan.

Beberapa pelayan mulai saling berbisik.

"Nyonya Besar baik sekali..."

"Iya, padahal Nyonya Karin yang terus membentak."

"Kasihan Nyonya Besar."

Hanya Bi Darmi yang tetap diam. Tatapannya tidak tertuju pada Karin, melainkan pada Bu Ratna dan Vina. Ia melihat sesuatu yang luput dari perhatian pelayan lain.

Sesaat sebelum Bu Ratna berubah lembut, wanita itu sempat melirik Vina. Lirikan yang terlalu cepat untuk disadari orang lain. Tetapi cukup bagi Bi Darmi untuk memahami bahwa kelembutan mereka bukan muncul karena ketulusan. Melainkan karena ada penonton.

1
Thewie
terlalu bertele tele.
Dede Dedeh
perasaan setiap episode nya kok cina and the geng yg selalu menang, karin terlalu lambat memberi balasan,,, kecewa aku thor/Pray/
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!