Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XII - Satu Meja
Panggilan dari sekretariat Cakra Investindo datang lebih cepat dari yang Kirana perkirakan, tidak sampai satu minggu setelah presentasi final itu dipaparkan.
"Bu Kirana," suara di ujung telepon terdengar formal namun tergesa, "dewan investor mengundang Anda untuk pertemuan mendadak besok pagi. Ada keputusan penting terkait proyek revitalisasi pesisir yang perlu disampaikan langsung."
Jantung Kirana berdegup lebih cepat. "Ini soal hasil akhir tendernya?"
"Saya tidak berwenang menjelaskan lebih jauh lewat telepon, Bu. Pak Kusnadi akan menyampaikannya langsung besok pagi, pukul sepuluh, di ruang rapat lantai 38, sama seperti pertemuan waktu presentasi final kemarin."
Kirana mengakhiri panggilan dengan tangan sedikit gemetar. Ia berbaring lama malam itu, pikirannya berputar antara cemas soal tender dan cemas lain yang sudah lama ia coba abaikan, sampai akhirnya pikiran itu membuatnya Lelah dan membawanya tertidur menjelang dini hari.
Pagi harinya, Kirana tiba sepuluh menit lebih awal, mengenakan blazer berwarna biru dongker yang selalu ia pilih untuk momen penting. Nadia duduk di sampingnya, menggenggam tangannya sebagai tanda dukungan.
Radit masuk beberapa menit kemudian, bersama Farrel. Mata mereka bertemu, cukup lama untuk membuat dada Kirana kembali sesak, tapi cukup singkat untuk tidak menarik perhatian bagi siapa pun yang ada di dalam ruangan itu. Radit mengangguk pelan, sapaan sederhana yang menyimpan banyak makna di baliknya.
Pak Kusnadi membuka pertemuan tepat pukul sepuluh. "Terima kasih sudah hadir tepat waktu. Setelah pertimbangan panjang, dewan investor sampai pada keputusan yang bisa dibilang, berbeda dari Keputusan-keputusan biasanya."
Kirana menahan napas.
"Kedua proposal, dari Cipta Prada Land dan Wibowo Group, punya kekuatan yang saling melengkapi," Pak Kusnadi melanjutkan. "Cipta Prada Land unggul dalam konsep dampak sosial dan desain ruang publik. Sedangkan, Wibowo Group unggul dalam skala eksekusi dan kekuatan finansial. Alih-alih memilih satu pemenang, dewan investor memutuskan proyek ini akan dikerjakan sebagai proyek kolaborasi antara kedua perusahaan."
Ruangan itu dipenuhi dengan gumaman karena terkejut dengan hasil Keputusan dewan investor. Kirana sendiri butuh beberapa detik untuk mencerna apa yang baru saja ia dengar.
"Kolaborasi?" salah satu anggota tim Radit bertanya, tidak menyembunyikan keterkejutannya.
"Benar," Pak Kusnadi mengangguk. "Ini akan membutuhkan kerja sama erat antara kedua tim, termasuk kepemimpinan langsung dari Ibu Kirana dan Bapak Raditya sebagai representasi tertinggi dari masing-masing perusahaan."
Kirana melirik ke arah Radit tanpa sadar, menemukan pria itu sudah lebih dulu menatapnya, ekspresinya sulit dibaca. Bekerja sama. Terus-menerus. Berdekatan. Pikiran itu membuat perutnya bergejolak dengan cara yang sulit ia jelaskan.
"Apakah kedua belah pihak bersedia menerima hasil keputusan ini?" Pak Kusnadi bertanya.
"Wibowo Group menerima keputusan ini," Radit menjawab, suaranya tenang seperti biasa.
Semua mata beralih pada Kirana. Ia menarik napas panjang. "Cipta Prada Land juga menerima Keputusan ini," katanya, meski di dalam hati ia belum yakin bagaimana ia akan menjalani proyek ini tanpa terjebak dalam kerumitan yang sudah ada.
Pertemuan itu berakhir dengan jabat tangan formal, sentuhan singkat yang terasa jauh lebih bermakna dari yang seharusnya.
Kirana menyampaikan kabar itu ke Dimas begitu ia kembali ke kantor. Ia sudah menduga reaksinya tidak akan sederhana, mengingat percakapan canggung mereka beberapa waktu lalu.
"Kolaborasi sama Wibowo Group?" Dimas mengulang, ekspresinya sulit dibaca. "Berarti lu bakal kerja bareng dia terus-terusan."
"Ini keputusan dewan investor, Dim. Bukan hal yang bisa gua tolak begitu aja."
"Gua tau." Dimas menghela napas, mencoba tersenyum meski terlihat dipaksakan. "Gua cuma... khawatir aja. Buat lu."
"Gua bisa jaga diri," Kirana menjawab pelan.
"Gua tau lu bisa," Dimas berkata, sebelum akhirnya kembali ke ruangannya sendiri, meninggalkan Kirana dengan perasaan bersalah yang belum reda sejak penolakannya minggu lalu.
...****************...
Rapat perdana tim gabungan berlangsung seminggu kemudian, di ruang konferensi besar Wibowo Group. Kirana tiba lebih awal bersama Nadia dan dua anggota timnya, menata dokumen di atas meja sebelum rapat dimulai.
Radit tiba beberapa menit kemudian. "Makasih udah datang," katanya pelan, cukup dekat hingga cuma Kirana yang bisa mendengar. "Aku tau ini nggak mudah buat kamu."
"Ini cuma proyek bisnis, Radit," Kirana menjawab, berusaha datar meski jantungnya berdegup lebih cepat. "Aku profesional. Aku bisa tanganin ini."
Radit mengangguk, meski Kirana bisa melihat kekecewaan samar tampak sekilas di matanya sebelum ia kembali mengenakan topeng CEO-nya.
Rapat baru akan dimulai ketika pintu ruang konferensi terbuka, dan sosok yang muncul dari pintu tersebut membuat seluruh perhatian ruangan, termasuk perhatian Kirana, teralih seketika.
Valerie melangkah masuk dengan percaya diri, mengenakan setelan kerja rapi, memamerkan senyum ramah yang menyimpan sesuatu di dalamnya.
"Maaf saya terlambat," Valerie berkata riang, mengambil tempat duduk tepat di sebelah Radit tanpa diminta. "Saya akan bergabung sebagai penasihat khusus dari pihak Wibowo Group untuk proyek ini."
Keheningan memenuhi ruangan. Rahang Radit mengeras, ia jelas tidak menduga kehadiran Valerie.
Farrel, duduk di sisi lain Radit, melirik sahabatnya dengan alis terangkat, ia juga tidak tahu-menahu soal rencana ini. Ia membuka mulut seolah ingin mengajukan keberatan, tapi Radit menggeleng, memberi isyarat agar ia diam dulu.
Nadia mencondongkan tubuh ke arah Kirana, berbisik pelan. "Ini bagian dari kesepakatan?"
"Setahu gua enggak," Kirana berbisik balik, rahangnya ikut mengeras.
"Sebagai calon istri dari CEO Wibowo Group," Valerie menjawab pertanyaan yang belum sempat diajukan siapa pun, tersenyum manis ke seluruh ruangan sebelum matanya berhenti tepat pada Kirana, "penting bagi saya untuk memastikan proyek sepenting ini berjalan sesuai kepentingan keluarga. Saya yakin Bu Kirana ngerti maksud saya."
Kata-kata itu, diucapkan begitu manis namun penuh makna tersembunyi, membuat sesuatu di dalam dada Kirana menggebu dengan cara yang menyakitkan.
Rapat berlangsung selama dua jam, membahas struktur tim dan jadwal proyek. Sepanjang waktu itu, Kirana terus menyadari kehadiran Valerie yang duduk begitu dekat dengan Radit, sesekali menyentuh lengannya, memastikan seluruh ruangan menyaksikan kedekatan mereka sebagai pasangan yang bahagia.
Kenapa aku peduli?
Kirana bertanya pada diri sendiri, marah karena membiarkan hal ini mengganggu profesionalismenya.
Radit bukan milikku. Aku nggak punya hak buat ngerasa kayak gini.
Tapi ketika rapat berakhir dan ia berjalan keluar bersama Nadia, kenyataan yang tidak bisa lagi ia sangkal terlihat begitu Jelas di mata sahabatnya.
"Lu kelihatan tegang banget tadi," Nadia berkata begitu mereka sudah di dalam mobil.
"Gua baik-baik aja, kok," Kirana menjawab, menatap keluar jendela ke arah gedung Wibowo Group yang perlahan menjauh.
"Kir," Nadia berkata lagi, nadanya lebih hati-hati, "gua liat cara lu liat Valerie tadi. Itu bukan tatapan orang yang cuma peduli soal proyek bisnis."
Kirana tidak menjawab untuk beberapa saat. "Gua nggak tau harus gimana, Nad," akhirnya ia mengaku. "Gua udah janji sama diri sendiri buat nggak jatuh lagi ke lubang yang sama. Tapi setiap kali gua ada di ruangan yang sama, sama dia, semua janji itu rasanya gampang banget dilupain."
Nadia menggenggam tangannya, tidak mencoba memberikan jawaban untuk masalah yang jelas tidak sederhana. "Lu harus hati-hati, Kir. Bukan cuma soal hati lu. Proyek ini besar, nggak pantes dipertaruhkan cuma karena perasaan lu yang belum jelas arahnya."
Kirana mengangguk, meski ia tahu peringatan itu datang terlambat. Apa pun yang tumbuh kembali antara dirinya dan Radit sudah terlalu jauh untuk diabaikan sebagai gangguan sesaat.
Medan pertempuran barunya bukan lagi soal siapa yang lebih unggul dalam desain atau strategi bisnis, melainkan perang diam-diam melawan rasa cemburu.
...****************...
Radit menyusul Valerie ke lobi begitu rapat selesai, langkahnya cepat, rahangnya masih mengeras sejak Valerie duduk di sebelahnya tadi.
"Kamu ngapain tadi di sana?" Radit bertanya begitu mereka cukup jauh dari kerumunan tim, suaranya terdengar rendah tapi menusuk.
Valerie berbalik, tersenyum tipis, tidak sedikit pun terlihat terganggu oleh intonasi suara Radit. "Aku penasihat khusus, Radit. Aku punya hak buat ada di proyek yang bakal ngaruh ke masa depan keluarga kita."
"Ini proyek bisnis. Bukan urusan keluarga."
"Semua yang berhubungan sama kamu itu urusan keluarga, sayang." Valerie melangkah mendekat, merapikan kerah jas Radit dengan gerakan yang terlihat mesra bagi siapa pun yang lewat, tapi matanya sama sekali tidak menunjukkan kemesraan itu. "Apalagi kalau ada perempuan yang keliatannya udah bikin kamu lupa sama siapa yang bakal jadi istri kamu."
"Valerie —"
"Aku cuma mau mastiin," Valerie memotong, suaranya masih tenang, "kamu inget apa yang lagi dipertaruhkan di sini. Bukan cuma proyek ini. Bukan cuma pernikahan kita." Ia berhenti sejenak, membiarkan jeda itu terasa lebih mengancam daripada kalimat apa pun. "Ayahmu dan ayahku juga lagi ngawasin pergerakanmu, Radit..."
Ia berbalik dan berjalan pergi sebelum Radit sempat menjawab, meninggalkannya berdiri sendirian di lobi yang mulai sepi.
Radit menatap punggung Valerie yang menjauh, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Farrel muncul dari arah lift beberapa saat kemudian, ekspresinya masih menyimpan kebingungan dari rapat tadi.
"Lu nggak tau soal ini?" Farrel bertanya, berdiri di samping sahabatnya.
"Nggak," Radit menjawab pendek. "Dan gua nggak suka sama caranya, dia masuk tanpa ngasih tau siapa pun."
"Dia curiga, Dit." Farrel menurunkan suaranya. "Kalau dia sampai nempatin diri di proyek ini, itu bukan cuma soal ngawasin lu. Gua yakin, dia lagi ngawasin Kirana juga."
Radit tidak menjawab, tapi rahangnya yang mengeras sudah cukup jadi jawaban. Satu pertanyaan baru menambah beban sudah ia pikul.
Seberapa banyak yang sebenarnya sudah diketahui Valerie, dan seberapa jauh ia bersedia melangkah untuk mempertahankan apa yang ia anggap miliknya?
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪