Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Rumah keluarga Santoso terlihat sepi dari jalan utama. Lampu taman menyala kuning, air kolam memantulkan bayangan pohon palem, dan satpam di pos depan tampak mengantuk.
Dinda duduk di kursi belakang dengan tangan dingin.
"Jalur samping itu masih ada?" tanya Raka.
"Kalau belum ditutup."
"Kalau sudah?"
"Kita punya Mas Rafi."
Rafi tidak menoleh. "Jangan bergantung pada orang yang sedang menyetir."
Alya memandang pagar tinggi di sisi barat rumah. "Nira terakhir di area dapur?"
"Iya," jawab Rafi. "Sinyal ponselnya hilang setelah pesan terakhir. Tapi perangkat kecil di jam tangannya masih mengirim titik lemah. Dia bergerak ke paviliun belakang."
"Mereka membawanya ke Fajar."
"Kemungkinan."
Raka mengeluarkan napas kasar. "Kita benar-benar masuk rumah orang yang dijaga polisi pribadi tanpa surat."
"Kamu boleh turun," kata Alya.
"Aku mengeluh, bukan mundur."
Mobil berhenti dua gang dari rumah Santoso. Rafi membagikan alat komunikasi kecil. Alya memasangnya di telinga, lalu mengikuti Dinda masuk lewat gang sempit di antara dua tembok rumah mewah.
Dinda berhenti di depan pintu besi kecil yang hampir tertutup tanaman rambat.
"Kevin dulu sering pakai ini kalau kabur dari guru les."
"Tentu saja dia punya pintu khusus untuk menjadi brengsek," gumam Raka.
Dinda menekan bagian bawah pegangan, lalu menarik pelan. Pintu itu tidak terbuka.
Alya menatapnya.
"Tunggu." Dinda berjongkok, meraba sela batu. "Dulu kuncinya disimpan..."
Ia berhenti. Dari balik pintu terdengar langkah.
Rafi menarik Alya ke sisi tembok. Raka menahan Dinda. Pintu terbuka dari dalam. Seorang penjaga keluar membawa rokok.
Rafi bergerak lebih cepat daripada suara napas. Satu tangan menutup mulut penjaga, tangan lain menekan titik di leher. Penjaga itu jatuh lemas tanpa sempat berteriak.
Dinda menutup mulutnya sendiri.
"Dia hidup?" bisiknya.
"Tidur sebentar," jawab Rafi.
Mereka masuk.
Halaman samping bau tanah basah dan klorin kolam. Dari dapur, terdengar suara piring dan televisi kecil. Rafi memberi isyarat. Raka dan Dinda menunggu di dekat gudang, sementara Alya ikut Rafi menuju paviliun.
"Kamu yakin?" tanya Rafi pelan.
"Tidak."
"Jawaban jujur."
"Tapi aku tetap jalan."
Mereka melewati koridor belakang. Di ujungnya, pintu kayu setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara pria.
"Kamu bekerja untuk Rafael?"
Suara itu halus, tenang. Jaka.
Tidak ada jawaban dari Nira.
"Sayang sekali. Aku suka orang yang setia. Mereka lebih mudah ditebak."
Alya mengintip dari celah. Nira duduk di kursi dengan tangan terikat, bibirnya berdarah. Jaka berdiri di depannya, masih dengan senyum bersih. Di belakangnya, Sari menata botol obat di meja. Kursi roda Fajar berada dekat jendela, wajah lelaki tua itu tertutup bayangan.
"Bayang tidak datang?" tanya Fajar.
Suara itu membuat Alya merinding. Serak, tetapi tajam.
Jaka tersenyum. "Dia pasti datang kalau umpan cukup mahal."
Nira meludah ke lantai. "Bayang tidak bodoh."
Fajar tertawa pelan. "Tidak ada orang pintar yang tahan melihat orangnya dipotong satu per satu."
Rafi mengangkat tangan, memberi hitungan.
Satu.
Dua.
Sebelum tiga, terdengar bunyi dari arah dapur. Dinda menjerit tertahan.
Jaka langsung menoleh.
Rafi mendorong pintu dan masuk.
Gerakannya cepat, tetapi Jaka sudah siap. Ia menarik Nira berdiri dan menempelkan pisau kecil ke lehernya.
"Rafael Pradipta," katanya. "Akhirnya."
Alya masuk di belakang Rafi. Mata Fajar langsung tertuju padanya.
"Nadira punya mata yang sama."
Alya menggenggam tangan. "Jangan sebut nama ibu saya."
Fajar tersenyum tanpa gigi terlihat. "Ibumu terlalu keras kepala. Perempuan seperti itu selalu membuat rumah tangga sulit."
"Dia mati karena kalian takut dia bicara."
"Dia mati karena dia tidak tahu kapan harus diam."
Rafi maju setengah langkah. Pisau Jaka menekan leher Nira sampai keluar garis merah.
"Santai," kata Jaka. "Aku tidak suka berantakan kalau belum perlu."
Dari alat komunikasi, suara Raka terdengar terputus. "Alya, ada penjaga ke arah kalian. Dinda ketahuan."
Alya menahan napas.
Fajar tertawa kecil. "Anak Maya selalu ingin berguna. Kasihan. Ibunya saja tidak pernah berhasil."
Dinda didorong masuk oleh dua penjaga. Raka menyusul, tangannya terikat kabel plastik. Ada luka di pelipisnya.
"Maaf," kata Dinda kepada Alya, suaranya pecah.
"Diam," ucap Raka.
Jaka terlihat puas. "Lengkap."
Rafi tetap tenang. Terlalu tenang. Alya tahu itu bukan berarti ia tidak marah. Justru sebaliknya.
"Apa yang kamu mau?" tanya Rafi.
Fajar menggerakkan jari. Sari mengambil sebuah amplop dari meja dan melemparkannya ke lantai.
"Bayang," kata Fajar. "Aku mau semua data yang dia pegang tentang Camellia Merah. Server, salinan, nama saksi. Serahkan malam ini."
Alya melihat Rafi.
Jaka menangkap arah matanya dan tersenyum lebih lebar.
"Jangan menatap dia begitu, Alya. Kamu membuat orang tua ini makin yakin."
Fajar menatap Rafi. "Kamu bukan cuma anak keluarga Pradipta, ya?"
Rafi tidak menjawab.
Alya berkata, "Kalau Bayang memang punya data, kenapa dia harus menurut?"
Fajar memutar kursinya sedikit. Wajahnya kini terlihat jelas: tua, kurus, tetapi matanya hidup dengan kebencian yang dingin.
"Karena aku masih punya Maya."
Dinda tersentak. "Mama?"
Sari menekan layar tablet. Video muncul. Maya duduk di ruangan kecil, rambutnya berantakan, wajahnya penuh memar. Ia menangis saat melihat kamera.
"Dinda... tolong Mama..."
Dinda menangis. "Lepaskan dia!"
Fajar tidak memandangnya. "Maya sudah banyak bicara. Tapi dia masih berguna untuk membuat anak bodoh bergerak."
Alya melihat Dinda menggigil. Di titik itulah ia paham: Dinda bisa jahat, bisa iri, bisa menusuk. Tapi cinta kepada Maya adalah rantai yang Fajar tarik kapan saja.
"Aku bisa beri kamu sesuatu," kata Alya.
Rafi menoleh tajam. "Alya."
"Bukan data Bayang," katanya. "Tapi dokumen saham Santoso yang kalian sembunyikan lewat yayasan boneka. Aku punya salinannya."
Fajar mengangkat alis.
Itu kebohongan setengah jadi. Alya belum punya semua dokumen itu, hanya potongan dari audit Wiratama. Tapi orang seperti Fajar tidak takut polisi secepat ia takut uangnya dibekukan.
"Menarik," kata Fajar.
"Lepaskan Nira dan Raka. Aku tinggal."
"Tidak," kata Rafi.
Alya mengabaikannya. "Aku anak Nadira. Kalau Bapak ingin membungkam orang yang punya darahnya, saya lebih berguna daripada mereka."
Fajar menatapnya lama.
Lalu ia tertawa.
"Kamu memang anaknya."
Jaka menurunkan pisau sedikit. Pada saat yang sama, lampu paviliun padam.
Kegelapan jatuh total.
Rafi bergerak.
Alya mendengar benturan, teriakan penjaga, suara kaca pecah. Ia meraih tangan Nira yang tiba-tiba terdorong ke arahnya. Raka memaki sambil menendang seseorang. Dinda menjerit memanggil Maya.
Dalam gelap, suara Fajar tetap tenang.
"Bunuh yang tidak perlu."
Lampu darurat merah menyala.
Alya melihat Jaka sudah berdiri di dekat pintu belakang dengan tablet di tangan. Sari mendorong kursi roda Fajar ke lorong sempit yang tadi tidak terlihat.
Rafi mengejar, tetapi Jaka melempar sesuatu ke lantai. Asap putih menyebar cepat, pedih di mata.
"Keluar!" seru Rafi.
Alya menarik Dinda. Raka membantu Nira. Mereka berlari ke halaman belakang saat sirene polisi mulai terdengar dari jauh.
Di dekat pagar, Dinda berhenti. Di tanah, sebuah bros emas jatuh. Bros milik Maya.
Dinda memungutnya dengan tangan gemetar.
Di balik bros itu, ada kertas kecil terlipat.
Alya membukanya.
Tulisan Maya berantakan, seperti ditulis dengan tangan terluka.
Sari bukan saksi. Dia yang menukar bayi.
Dinda menutup mulut.
Alya menatap paviliun yang mulai dipenuhi asap.
Malam itu, mereka menyelamatkan Nira.
Tapi Fajar keluar dari bayangan dengan wajah yang akhirnya jelas.
Dan perang yang selama ini bersembunyi di balik dokumen sudah datang ke halaman rumah mereka.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔