NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Fajar mulai menyingsing.

Hujan yang semalaman mengguyur kota akhirnya mereda, menyisakan kabut tipis yang menyelimuti halaman Mansion Laurent.

Namun...

Malam yang panjang itu tidak membawa kabar baik.

Di gudang tua...

Pertempuran masih berlangsung sengit.

"Majuuu!"

"Jangan biarkan mereka kabur!"

Suara tembakan kembali memecah udara.

Lucas bergerak cepat di antara peti-peti kayu, menghindari rentetan peluru yang menghantam dinding di belakangnya.

Dor!

Dor!

Percikan serpihan kayu beterbangan.

"Sebelah kanan, Tuan!" teriak Adrian.

Lucas segera berbalik.

Seorang pria bertopeng muncul dari balik tong besi dan langsung mengarahkan pistol.

Dor!

Lucas memiringkan tubuh.

Peluru meleset beberapa sentimeter dari wajahnya.

Dalam satu gerakan, ia menendang tangan pria itu hingga pistol terlepas.

Buk!

Pukulan keras mendarat di perut lawannya.

Pria itu terhuyung.

Namun dari sisi lain...

"Lucas!"

Teriakan Adrian terdengar terlambat.

Seorang penembak lain yang bersembunyi di balik tangga besi menarik pelatuk.

Dor!

Lucas sempat menghindar.

Namun...

Sret!

Peluru hanya bergesekan dengan bahu kanannya.

Kemeja hitamnya langsung robek.

Darah segar mengalir membasahi lengan.

Adrian membelalak.

"Tuan!"

Lucas hanya mengernyit pelan.

Tatapannya tetap dingin.

"Itu hanya goresan."

"Tapi darahnya—"

"Aku bilang hanya goresan."

Tanpa memedulikan luka itu, Lucas kembali menerjang maju.

Sementara Patrick, yang melihat dari kejauhan, hanya tersenyum tipis sebelum menghilang melalui lorong rahasia bersama beberapa anak buahnya.

Ketika pasukan Laurent berhasil menguasai gudang...

Patrick sudah tidak ada.

Begitu pula jejak Isabel.

Operasi itu berakhir tanpa hasil.

Pagi hari.

Matahari mulai muncul dari balik awan.

Konvoi kendaraan hitam akhirnya memasuki gerbang Mansion Laurent.

Para pelayan yang sudah menunggu sejak subuh langsung berlarian.

"Tuan Lucas pulang!"

"Panggil dokter!"

"Cepat!"

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.

Adrian turun lebih dulu.

Wajahnya tampak lelah.

Beberapa pengawal lain juga mengalami luka ringan.

Pintu belakang terbuka.

Lucas keluar perlahan.

Kemeja hitamnya dipenuhi bercak darah di bagian bahu kanan.

Meski langkahnya tetap tegap...

Wajahnya terlihat sedikit pucat.

Di lantai dua...

Alyssa yang sejak semalam sama sekali tidak tidur mendengar suara kendaraan.

Ia spontan berlari menuju balkon.

Begitu melihat Lucas...

Napasnya tercekat.

"Lukanya..."

Tanpa sadar ia langsung berlari keluar kamar.

Turun melewati tangga.

Bahkan nyaris terpeleset karena terlalu tergesa.

Sesampainya di aula...

Lucas baru saja melangkah masuk.

Tatapan mereka bertemu.

Alyssa membeku.

Bahu kanan Lucas benar-benar dipenuhi darah.

Kemejanya robek.

Bekas gesekan peluru terlihat jelas.

"L-Lucas..."

Lucas menoleh.

Begitu melihat wajah Alyssa yang pucat, ia justru tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja."

Alyssa menggeleng cepat.

"Itu bukan baik-baik saja."

Ia mendekat beberapa langkah.

"Kenapa lukamu sebanyak itu?"

Lucas menjawab tenang.

"Hanya tergores."

"Hanya tergores?"

Suara Alyssa bergetar.

"Itu berdarah..."

Lucas hendak mengatakan sesuatu.

Namun tiba-tiba...

Sebuah suara kecil terdengar dari tangga.

"Daddy!"

Leonardo.

Bocah itu masih mengenakan piyama dinosaurus hijau.

Rambutnya acak-acakan karena baru bangun tidur.

Begitu melihat darah di pakaian Lucas...

Matanya langsung membesar.

"Daddy!"

Ia berlari secepat mungkin.

Lucas langsung berjongkok agar tinggi mereka sejajar.

Leonardo memegang tangan ayahnya.

"Daddy sakit?"

Lucas mengusap rambut putranya.

"Tidak."

"Hong."

"Bohong."

"Ada darah."

Lucas tersenyum tipis.

"Sedikit saja."

Leonardo menatap luka di bahu ayahnya.

Bibir mungilnya mulai bergetar.

Air mata perlahan menggenang.

"Siapa yang nakalin Daddy?"

Lucas belum sempat menjawab.

Tatapan Leonardo perlahan berpindah kepada Alyssa yang berdiri tidak jauh dari sana.

Wajah bocah itu berubah.

Ia teringat ucapan para pelayan semalam.

"Daddy pergi karena Kak Alyssa."

"Daddy melawan orang jahat karena Kak Alyssa."

Ia menggenggam kedua tangannya erat.

Lalu...

Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia menunjuk Alyssa.

"Ini gara-gara Kak Alyssa!"

Semua orang langsung terdiam.

Alyssa membeku.

Leonardo melangkah mendekatinya.

"Daddy jadi berdarah!"

"Kak Alyssa kan orang asing!"

"Kenapa Daddy harus nolong Kak Alyssa?"

Lucas langsung berdiri.

"Leonardo."

Namun bocah itu sudah terlanjur menangis.

"Daddy bohong!"

"Daddy bilang bukan salah Kak Alyssa!"

"Tapi sekarang Daddy pulang berdarah!"

Alyssa menundukkan kepala.

Dadanya terasa sesak.

Leonardo terus berbicara dengan suara yang terputus-putus.

"Kalau Daddy nggak ketemu Kak Alyssa..."

"Daddy nggak akan ditembak."

"Daddy bisa main sama aku."

"Daddy nggak bakal luka."

"Semuanya gara-gara Kak Alyssa."

Air mata Alyssa jatuh tanpa bisa ditahan.

"Aku..."

Leonardo kembali berteriak.

"Aku nggak suka Kak Alyssa!"

"Aku nggak mau Kak Alyssa tinggal di sini!"

"Tolong pergi!"

Kalimat itu menggema di aula besar.

Beberapa pelayan ikut menundukkan kepala.

Tak ada yang berani menyela.

Alyssa hanya bisa memejamkan mata.

Setiap kata yang keluar dari mulut anak kecil itu terasa seperti pisau yang mengiris hatinya.

Karena...

Sebagian dari dirinya percaya.

Mungkin memang benar.

Kalau saja Lucas tidak menolongnya...

Pria itu tidak perlu mempertaruhkan nyawanya.

Ia menarik napas panjang.

Kemudian memaksa tersenyum kecil kepada Leonardo.

"Kamu benar..."

Suara Alyssa begitu lirih.

"Aku memang orang asing."

"Dan semua ini terjadi setelah aku datang."

Leonardo masih menangis.

Alyssa melanjutkan,

"Maaf."

"Kalau kehadiranku membuat Daddy-mu terluka..."

"Maaf."

Ia menatap Lucas sekilas.

Tatapan itu penuh rasa bersalah.

"Lukamu..."

"...karena aku."

Lucas mengernyit.

"Bukan."

Namun Alyssa menggeleng.

"Aku tahu."

"Sejak aku datang..."

"Semua orang jadi terluka."

"Isabel."

"Pengawal."

"Dan sekarang kamu."

Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak terisak.

"Kalau aku pergi..."

"Mungkin semuanya akan selesai."

Kalimat itu membuat Lucas langsung berubah tegas.

"Tidak."

Alyssa menatapnya.

Lucas melangkah mendekat.

"Lukaku bukan salahmu."

"Tapi—"

"Alyssa."

Suara Lucas terdengar mantap.

"Aku yang memilih datang ke sana."

"Aku yang memilih menghadapi Patrick."

"Itu keputusanku."

Leonardo yang masih menangis langsung memeluk kaki ayahnya.

"Tapi Daddy sakit..."

Lucas mengangkat putranya ke dalam pelukan meski bahunya terasa nyeri.

Sedikit rasa sakit membuat wajahnya menegang.

Leonardo langsung panik.

"Daddy!"

"Sakit ya?"

Lucas tersenyum kecil.

"Sedikit."

Leonardo mulai terisak lebih keras.

"Aku nggak mau Daddy luka lagi."

Lucas mencium kening putranya.

"Daddy juga tidak mau."

"Lalu jangan tolong Kak Alyssa."

Ruangan kembali sunyi.

Lucas memandang putranya penuh kasih.

"Leonardo."

"Iya..."

"Kalau suatu hari nanti kamu yang dalam bahaya..."

"Menurutmu Daddy akan datang atau tidak?"

Leonardo langsung menjawab.

"Datang."

"Kalau temanmu dalam bahaya?"

"Aku juga bantu."

Lucas mengangguk.

"Nah."

"Itulah yang Daddy lakukan."

"Tapi Kak Alyssa bukan keluarga kita."

Lucas tersenyum tipis.

"Menolong orang tidak harus menunggu mereka menjadi keluarga."

Leonardo terdiam.

Bocah itu menatap Alyssa.

Kemudian menatap ayahnya lagi.

Wajah kecilnya tampak kebingungan.

Ia belum benar-benar mengerti.

Namun satu hal yang ia pahami...

Ia sangat takut kehilangan ayahnya.

Lucas mengusap kepala putranya perlahan.

"Daddy janji akan lebih berhati-hati."

Leonardo mengangguk pelan sambil menyeka air matanya.

Di sisi lain, Alyssa berdiri mematung.

Tatapannya tak lepas dari perban darurat yang mulai memerah oleh darah di bahu Lucas.

Perasaan bersalah dalam dirinya justru semakin besar.

Di dalam hati, satu keputusan mulai tumbuh.

Jika keberadaannya benar-benar terus membahayakan orang-orang di Mansion Laurent...

Mungkin...

Pergi dari sana adalah satu-satunya cara untuk menghentikan semua pengorbanan itu.

Sementara Lucas, yang mengenal tatapan itu, mulai menyadari bahwa Alyssa sedang memikirkan sesuatu yang berbahaya.

Dan ia tahu...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!