RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Pagi itu, suasana di vila kediaman Don Vincenzo terlihat sibuk namun tertib. Don telah mengenakan setelan jas kantor terbaiknya, sementara Mark berdiri di sampingnya sambil memeriksa berkas-berkas yang akan dibawa.
"Semua sudah siap, Tuan Don. Kendaraan juga sudah menunggu di depan," lapor Mark dengan sikap siap siaga penuh hormat.
Don mengangguk pelan, menatap pantulan dirinya di cermin sejenak. "Baiklah. Kita berangkat ke Perusahaan Krisnawardhana group. Aku tidak suka membuat orang lain menunggu."
*
*
Di tempat lain, tepatnya di mansion megah keluarga Krisnawardhana, Devan tampak bersiap-siap dengan wajah penuh semangat. Ia berjalan cepat menuju ruang makan tempat Maria sedang menyiapkan sarapan pagi untuknya, meskipun di mansion itu banyak para pelayan. Tapi Maria terbiasa bangun pagi untuk membuat sarapan buat suami dan putranya.
"Sayang, aku langsung pamit ya!" ucap Devan lembut menghampiri istrinya yang sedang duduk di meja makan menunggu dirinya.
Maria segera menoleh dengan wajah bingung. "Eh, kenapa buru-buru sekali? Engak sarapan dulu, ini masih sempat loh sayang."
"Tak bisa, Sayang. Pagi ini ada tamu penting datang dari Italia," sahut Devan sambil merapikan dasinya.
"Dari Italia? Siapa orang penting itu?" Maria semakin penasaran.
Devan tersenyum misterius. "Kau pasti akan terkejut mendengar namanya sayang!"
"Benarkah? Siapa?" Maria bangkit berdiri mendekat.
"Don Vincenzo."
Mata Maria seketika membelalak tak percaya. "Don Vincenzo? Raja bisnis terbesar di Eropa itu?"
"Benar," angguk Devan. "Makanya aku buru-buru. Beliau terkenal sangat tegas dan disiplin. Aku tak mau membuat tamu kehormatan kita menunggu lama."
"Kalau begitu pergilah. Pekerjaan memang penting, tapi kesehatan tetap diutamakan. Ini bawa bekalnya, nanti dimakan saat sempat!" seru Maria sambil menyodorkan kotak bekal yang sudah ia siapkan sejak tadi.
Devan tersenyum hangat, menerima kotak itu lalu mencium puncak kepala istrinya sekilas. "Terima kasih, Sayang. Nanti pasti aku habiskan. Aku berangkat dulu."
******
******
Tak butuh waktu lama, Devan pun tiba di kantor pusat Perusahaan Krisnawardhana. Ia langsung menuju ruang pertemuan tempat beberapa tokoh penting dan pengurus perusahaan sudah berkumpul. Hanya satu orang yang belum terlihat hadir, Don Vincenzo.
Tak lama berselang, pintu ruangan terbuka. Seorang resepsionis membukakan jalan, dan tampak Don Vincenzo melangkah masuk dengan wibawa yang tak tertandingi, diikuti Mark yang berjalan selangkah di belakangnya. Devan segera menyambut mereka dengan ramah dan mengantar Don duduk di kursi utama.
Rapat pun berlangsung lancar. Kedua belah pihak membahas rencana kerja sama pengembangan properti dan perdagangan internasional. Pembicaraan berjalan hangat namun tetap berwibawa. Hingga akhirnya kesepakatan tercapai. Mereka pun menandatangani surat perjanjian kerja sama disertai tepuk tangan yang meriah dari semua yang hadir.
Setelah rapat dibubarkan, Devan mengundang Don dan Mark untuk mampir ke ruang kerjanya guna berbincang lebih santai. Di ruangan itu, suasana menjadi jauh lebih akrab. Don mulai bercerita banyak hal, mulai dari urusan bisnis hingga pengalaman hidupnya di benua Eropa, Devan terlihat sangat tertarik dengan cerita pengalaman seorang Don Vicenzo dalam dunia bisnis.
Namun percakapan mereka tiba-tiba terhenti saat pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang pemuda tampan melangkah masuk. Itu adalah Raven. Ia datang lebih awal dari biasanya karena hari ini sekolahnya ada rapat guru sehingga para murid di pulangkan lebih awal. Raven langsung ke perusahaan untuk menyelesaikan tugas yang belum selesai kemarin. Ia sama sekali tidak tahu bahwa di dalam ruangan itu sedang ada tamu penting.
"Selamat pagi jelang siang Daddy. Maaf mengganggu..." ucap Raven sopan sambil menunduk hormat sekilas. Ia lalu menyapa ke arah Don dan Mark. "Selamat pagi, Tuan."
Devan tersenyum. "Maaf Tuan Don, sedikit menganggu, ini putra tunggal saat namanya Raven!" Ia menoleh ke arah Don. "Raven, ini Tuan Don Vincenzo dan di sampingnya Tuan Mark asisten tuan Don mereka dari Italia."
Raven segera melangkah mendekat dan menjabat tangan Don dengan sopan. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan Don, Tuan Mark!" sapa Raven.
Don mengangguk dengan senyum tipis, ia menatap pemuda itu lekat-lekat. Ada rasa kagum yang muncul di hatinya melihat pembawaan Raven yang tenang dan juga sangat sopan yang terpancar dari wajah Raven. Matanya menyiratkan keteguhan hati yang luar biasa. Entah mengapa, dalam benaknya seketika terlintas pikiran akan masa depan cucunya kelak. Ia berpikir sosok pemuda ini tampak sangat pantas mendampingi cucunya.
"Putramu tampan dan sopan, Tuan Devan," puji Don tulus. Ia lalu menatap Raven. "Anak muda, apakah kau sudah memiliki kekasih atau calon istri?" tanyanya tiba-tiba.
Devan sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, namun tetap tersenyum menunggu jawaban putranya.
Raven menjawab dengan tenang namun tegas. "Saya sudah menikah, Tuan Don." jujur Raven.
Wajah Don seketika tampak sedikit kecewa. "Wah, sayang sekali. Sebenarnya tadi saya berencana menjodohkanmu dengan cucu kesayangan saya."
Devan tersenyum kikuk, merasa tak enak hati. Namun hatinya sama sekali tidak merasa keberatan atau menyesal. Baginya, Sara adalah menantu yang tepat untuk putranya meskipun pernikahan sang putra di lakukan atas dasar kesalahpahaman dan dadakan. Baginya sara gadis yang luar biasa baik, cerdas, mandiri, dan yang paling penting bisa mengubah cara pikir putranya yang dulu keras kepala kini lebih terbuka dan bertanggung jawab. Meski mereka belum mengetahui latar belakang keluarga gadis itu, Devan yakin sara memang pendamping yang di titipkan tuhan untuk putranya.
"Mungkin cucu Tuan Don bukan jodohnya Raven, Tuan," sahut Devan dengan nada bijak.
Don mengangguk pelan. "Anda benar. Jodoh memang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa."
Akhirnya mereka melanjutkan obrolan mereka.
Raven yang mulai bosan dengan pembicaraan orang itu ingin segera melanjutkan kerjaannya, namun ia ingat sesuatu tentang tamu di hadapannya.
"Tuan Don... Anda berasal dari Italia, bukan? Boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Raven hati-hati.
"Tentu! Apa yang ingin kau ketahui anak muda?" jawab Don sambil tersenyum.
"Apakah Tuan Don mengenal sosok misterius yang dijuluki Ratu Perang, yang katanya dia berasal dari negara Italia, dan sangat disegani di dunia internasional?"
Don dan Mark saling berpandangan sejenak. Senyum tipis merekah di bibir Don dan Mark. "Tentu saja. Dia adalah orangku."
Mata Raven seketika membelalak tak percaya. Wajahnya berseri-seri penuh kekaguman. "Benarkah?! Bolehkah saya bertemu dengannya? Saya dan teman-teman saya sangat mengidolakan sosoknya. Namun sayang, hingga kini tak ada satu pun yang tahu seperti apa wajahnya."
Don terdiam sejenak, berpikir apakah ia akan memperkenalkannya atau tidak. Namun melihat wajah penuh harap dan ketulusan di hadapannya, hatinya tak tega menolaknya.
"Baiklah, anak muda," ucap Don akhirnya. "Namun kau harus berjanji akan menjaga rahasia ini seumur hidupmu. Jika tidak... nyawamu taruhannya. Apakah kau siap?"
Raven sedikit ragu sejenak. Namun mengingat betapa besar keinginannya, ia pun mengangguk mantap. "Saya siap, Tuan!"
Don tersenyum puas. "Bagus! Kalau begitu nanti malam datanglah ke vila pribadiku. Kita akan makan malam bersama... dan kau akan bertemu dengannya."
Bersambung...
Ayo Sara, kumpulkan semua bukti-bukti itu/Determined/, Ku menunggu pembalasanmu pada mereka, orang yang telah membunuh keluargamu, dan juga mengambil semua hak-hak yang seharusnya menjadi milikmu/Determined//Determined/