Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Lagi Kita
Beberapa hari terakhir, Dirga semakin sadar perubahan sikap Oca. Gadis itu masih berbicara dengannya, tetapi hanya seperlunya. Setiap kali ia mengajak pulang bersama, Oca selalu punya alasan untuk menolak. Kadang karena Andira dan Kinan mengajaknya lebih dulu, atau karena sopir sudah datang menjemput.
Pagi itu, Dirga sengaja berdiri di depan kelas Oca. Ia berniat menunggu gadis itu datang. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggunya akhirnya terlihat berjalan menyusuri koridor.
"Ca."
Oca menghentikan langkahnya kemudian menoleh sekilas ke arah Dirga dengan tatapan datar.
"Bisa ngomong sebentar?" tanya Dirga hati-hati.
Oca terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Dirga menatap lekat wajah gadis di depannya. "Sebenarnya gue salah apa?"
Oca balas menatapnya tanpa berkedip. "Lo ngerasa punya salah?"
Dirga menggeleng pelan sambil mengusap tengkuknya yang terasa kaku.
"Bukan gitu maksud gue," ucapnya cepat. "Cuma... akhir-akhir ini gue ngerasa lo kayak sengaja ngejauh dari gue."
Oca tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Dirga beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.
"Kalau suatu hari lo tahu..." ucapnya pelan, "...orang yang paling lo percaya ternyata cuma nganggep hubungan itu sebagai permainan... lo bakal gimana?"
Pertanyaan itu membuat Dirga terdiam. Keningnya berkerut, jelas tidak mengerti arah pembicaraan Oca.
"Gue nggak ngerti maksud lo," ucap Dirga pelan sambil menggeleng.
Sudut bibir Oca terangkat tipis. Namun, sorot matanya tetap dingin. "Seru nggak?" tanyanya pelan.
"Apanya?" tanya Dirga bingung.
Oca menatap lurus ke mata Dirga. "Mainin perasaan orang demi taruhan itu seru?"
Seketika raut wajah Dirga berubah. Tatapannya membeku, sementara napasnya seolah tertahan. Ia menelan ludah, bibirnya bergerak pelan tetapi suaranya nyaris tak terdengar.
"Lo..." gumamnya pelan. "Lo tahu dari siapa?"
Tawa hambar lolos dari bibir Oca. "Jadi... itu bener?"
Dirga kembali terdiam. Jarinya mengepal di samping tubuhnya. Wajahnya tampak panik, tetapi ia sama sekali tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.
"Ca..." panggil Dirga pelan. Ia melangkah satu langkah mendekat. "Gue bisa jelasin."
Oca menggeleng pelan, memotong ucapan Dirga. "Nggak ada yang perlu dijelasin."
Kedua matanya mulai memerah. Namun, Oca mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh di depan Dirga.
"Selama ini..." suara Oca mulai bergetar. "Gue bener-bener percaya sama lo. Tapi ternyata buat lo... semua itu cuma permainan."
Oca langsung berbalik hendak pergi. Namun baru beberapa langkah, Dirga refleks meraih pergelangan tangan gadis itu.
"Ca..."
Oca menunduk menatap tangan Dirga yang masih menggenggam pergelangannya. "Lepas."
Dirga tidak bergeming. Tatapannya dipenuhi penyesalan. "Ca, gue nggak bermaksud—"
Oca langsung memotong ucapannya, tawanya kali ini terdengar getir.
"Nggak bermaksud apa?" tanyanya sambil menatap Dirga. "Kalau dari awal hubungan ini emang berawal dari taruhan, berarti itu memang tujuan lo, kan?"
Dirga membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar.
Oca perlahan melepaskan genggaman tangan Dirga.
"Mulai hari ini..." suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada sebelumnya. "Jangan pernah ganggu gue lagi."
Setelah mengatakan itu, Oca berbalik dan berjalan meninggalkan Dirga yang masih berdiri mematung di tempatnya. Ia mempercepat langkahnya tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Begitu memasuki kelas, ia langsung menuju bangkunya dan membenamkan wajahnya di atas meja. Ia sama sekali tidak ingin berbicara dengan siapa pun saat ini.
_______
Saat jam istirahat, mereka bertiga duduk seperti biasa di kantin. Oca hanya memainkan siomay di piringnya dengan garpu tanpa benar-benar memakannya, sementara Andira dan Kinan diam-diam terus memperhatikannya.
"Ca..."
Oca tidak mengangkat kepala. "Hmm?"
"Jujur sama gue." Suara Andira terdengar lebih serius dari biasanya. "Lo lagi ada masalah, kan?"
Oca menggeleng pelan. "Nggak."
Kinan ikut meletakkan gelasnya. "Jangan bohong. Dari kemaren sikap lo berubah banget."
Oca tetap diam.
Andira mulai kehilangan kesabaran. "Lo tahu nggak, sih? Gue sama Kinan dari kemarin udah nahan diri buat nggak nanya. Kita pikir kalau lo belum cerita berarti lo belum siap. Tapi sekarang..." Andira menghela napas kesal. "Sekarang gue malah ngerasa lo nggak nganggep kita sahabat."
Oca langsung mengangkat kepalanya. "Bukan gitu..."
"Terus apa?" potong Andira cepat. "Sahabat itu harusnya saling cerita. Bukannya malah nyimpen semuanya sendiri."
Kinan mengangguk pelan. "Kalau emang berat, kita nggak bakal ngehakimi lo, Ca. Tapi jangan bikin kita nebak-nebak terus."
Oca menggigit bibir bawahnya, jarinya mengepal di bawah meja. Suasana mendadak hening, hingga akhirnya ia menghela napas panjang.
"Gue..." suaranya lirih.
Andira dan Kinan langsung menatapnya. Oca memejamkan mata sesaat sebelum kembali membuka matanya.
"Dirga..." Tenggorokannya terasa tercekat. "Selama ini... dia cuma jadiin gue taruhan."