Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Kembalinya Keyla ke keluarga Jordan membuat seluruh perhatian yang selama ini diterima Keisya perlahan berpindah.
Rumah yang dahulu selalu dipenuhi suara tawa untuknya kini lebih sering dipenuhi kebahagiaan karena putri kandung keluarga itu akhirnya pulang.
Keisya tahu semua itu wajar. Bagaimanapun, Keyla adalah darah daging keluarga Jordan yang telah hilang selama bertahun-tahun. Namun, meski memahami kenyataan tersebut, hati seorang anak yang sejak kecil haus akan kasih sayang tetap tidak mampu menerimanya dengan lapang.
Sedikit demi sedikit, rasa takut mulai tumbuh di dalam dirinya. Ia takut kehilangan tempat yang selama ini menjadi rumahnya. Takut kembali menjadi anak jalanan yang tak dianggap siapa pun.
Perasaan itu berubah menjadi kecemasan yang terus menggerogoti akal sehatnya, membuatnya melakukan berbagai cara demi mendapatkan kembali perhatian keluarga Jordan.
Awalnya, Keisya hanya berusaha mendekati Keyla. Ia ingin menjalin hubungan baik dengan saudara angkatnya itu, berharap mereka benar-benar bisa hidup sebagai keluarga. Sayangnya, kedekatan itu tidak pernah terwujud. Selalu ada jarak yang sulit dijelaskan di antara mereka.
Hingga suatu hari, sepupunya, Livia, mulai menanamkan berbagai hasutan ke dalam pikirannya.
Sedikit demi sedikit, Livia memprovokasi Keisya. Ia terus meyakinkan bahwa selama Keyla masih ada, keluarga Jordan tidak akan pernah lagi memandang Keisya seperti dahulu. Kalimat-kalimat itu terus diulang hingga akhirnya berubah menjadi keyakinan.
Keisya pun dihadapkan pada pilihan yang menurutnya sangat kejam.
Tetap menjadi anak yang perlahan dilupakan... atau membuat Keyla kembali menghilang.
Sejak saat itu, sifatnya berubah tanpa ia sadari. Ia menjadi pribadi yang manipulatif, pandai memutarbalikkan keadaan, bahkan gemar memfitnah Keyla.
Kepada siapa pun yang mau mendengar, Keisya menceritakan berbagai keburukan yang seolah-olah dilakukan Keyla kepadanya, padahal semua itu hanyalah kebohongan yang ia ciptakan sendiri.
Hingga berbagai kemalangan yang terus menimpa Keyla.
Semua itu merupakan hasil dari rencana-rencana licik yang disusun Keisya demi mempertahankan tempatnya di keluarga Jordan.
Namun kebohongan, sebaik apa pun disembunyikan, pada akhirnya akan menemukan jalannya menuju kebenaran.
Saat mereka beranjak dewasa, Keyla tumbuh menjadi sosok yang hangat dan tulus. Entah karena kebaikan hatinya atau memang takdir sedang berpihak kepadanya, banyak orang baik mulai berdatangan dan berdiri di sisinya.
Mereka perlahan mengumpulkan bukti demi bukti, membuka seluruh rahasia kelam yang selama ini disembunyikan Keisya.
Padahal, Keisya tahu dirinya bukanlah satu-satunya dalang di balik seluruh penderitaan yang dialami Keyla.
Masih ada orang lain yang sejak awal mengendalikan semuanya dari balik layar.
Namun ketika semua kebusukan itu terbongkar, seluruh kesalahan seakan dilimpahkan kepadanya seorang.
Keluarga besar Jordan murka.
Orang-orang yang dahulu begitu menyayanginya kini memandangnya penuh kebencian, seolah ia bukan lagi bagian dari keluarga itu.
Pada akhirnya, kehidupan pertamanya berakhir dengan cara yang paling tragis.
Keluarga yang selama ini ia perjuangkan mati-matian untuk dipertahankan justru berubah menjadi malaikat pencabut nyawanya sendiri.
Tanpa sadar, tangan Keisya kembali meraba lehernya.
Meski luka itu sudah tidak ada, ia masih dapat merasakan sensasi dingin mata pisau yang dahulu mengakhiri hidupnya.
Tatapannya jatuh pada pantulan wajah pucat di cermin.
"Ini bukan berkah..." gumamnya lirih.
"Ini adalah kesempatan untuk mengingat semua dosaku."
Belum sempat ia menghela napas, rasa nyeri yang luar biasa kembali menghantam kepalanya.
Keisya meringis.
Kedua tangannya spontan mencengkeram rambutnya sendiri, berharap rasa sakit itu sedikit berkurang. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Nyeri itu semakin menusuk, seolah ribuan jarum sedang ditancapkan ke dalam kepalanya tanpa henti.
Beberapa detik kemudian, darah hangat mulai menetes dari hidungnya.
Setetes lalu semakin deras.
Barulah rasa sakit itu perlahan menghilang.
Keisya menatap darah yang mengalir ke wastafel dengan napas memburu.
Kini ia mengerti..
Kembali ke masa lalu bukan berarti Tuhan menghapus dosa-dosanya, sebaliknya..
Setiap kali ia mengingat perbuatan buruk yang pernah dilakukannya, atau setiap kali kenangan tentang Keyla muncul di benaknya, rasa sakit yang mengerikan itu akan datang menghukumnya.
Seolah-olah hidup keduanya memang diciptakan agar ia merasakan sedikit demi sedikit penderitaan yang pernah ia sebabkan kepada orang lain.
Baru pagi tadi ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu, saat usianya baru menginjak lima belas tahun. Namun dalam waktu beberapa jam saja, rasa sakit itu sudah datang sebanyak tiga kali.
Langit di luar jendela masih terang.
Hari bahkan belum mencapai siang.
Keisya memejamkan mata sambil tersenyum pahit.
"Masih ada berapa banyak dosa yang harus kuingat hari ini?"
Pagi tadi ia sengaja beralasan kepada Jena bahwa dirinya masih mengantuk sehingga tidak ikut sarapan bersama keluarga dan memilih tidak menghadiri persiapan acara kelulusan SMP.
Keluarga Jordan, yang saat itu masih begitu memanjakannya, sama sekali tidak menaruh curiga. Mereka hanya mengangguk dan membiarkannya beristirahat.
Padahal kenyataannya, Keisya mengurung diri di kamar karena berkali-kali dihantam sakit kepala dan mimisan seperti sekarang.
"Hmm... sepertinya nanti aku harus membeli obat pereda nyeri dan tablet penambah darah."
Ia membuka keran, membasuh wajahnya yang dipenuhi darah, lalu kembali menatap pantulan dirinya di cermin.
"Dosaku ternyata seberat itu, ya..." Suara lirihnya nyaris tak terdengar.
"Sampai-sampai kematian pun belum menjadi akhir hukumanku."
Keisya menghela napas panjang sebelum tatapannya berubah lebih mantap.
"Di kehidupan kali ini... aku akan menebus semuanya."
Ia mengepalkan tangan perlahan.
"Aku tidak akan mengganggu Keyla lagi."
"Bahkan kalau bisa... aku akan membantunya kembali ke rumah ini lebih cepat."
"Dan aku juga akan memastikan dia tidak jatuh ke tangan Livia, si penghasut itu."
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu