Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
“Cukup!”
Harris akhirnya meledak. Suaranya menggema keras, memotong ketegangan di antara mereka. Wajahnya sudah gelap, matanya dipenuhi amarah yang hampir tak terbendung.
Laura buru-buru menoleh.
“Harris, dengarkan aku—”
Namun ia langsung terdiam karna tatapan pria itu menjadi dingin.
Seolah berkata bahwa Ini belum selesai.
Laura menelan ludah. Ia mundur satu langkah.
Harris menarik napas dalam, lalu menatap Yvaine.
“Aku mungkin tidak sempurna,” katanya dengan suara rendah, menahan amarah. “Tapi aku masih ayahmu.”
“Ayah?” Yvaine tertawa kecil, namun jelas sekali penuh dengan sindiran.
“Jadi kamu masih ingat?” Ia menatap lurus pada Harris.
“Tadinya aku pikir… kamu sudah lupa kalau kamu punya anak seperti aku.”
Harris mengerutkan kening. “Perhatikan sikapmu!”
“Sikap?” Yvaine mengangkat alis. “Apa yang salah dengan sikapku?”
Ia melangkah sedikit maju dengan tatapan yang masih tajam lalu berkata, “Sejak aku lahir.. pernahkah kamu satu hari saja benar-benar ada untukku?”
“Setiap hari.. kamu sibuk minum, bermain wanita, bersenang-senang di luar.”
“Kapan kamu pernah peduli padaku?”
Suaranya tidak meninggi. Namun setiap kata terasa berat.
“Ya, kamu memang ayahku,” lanjutnya. “Tapi selain memberiku kehidupan.. apa lagi yang pernah kamu lakukan?”
“Kalau begitu.. atas dasar apa kamu merasa berhak mendidikku sekarang?”
Ia tersenyum tipis. “Menurutku.. kamu sama saja dengannya.”
Ia melirik Laura dan berkata, " Kalian sama-sama tidak layak.”
Seketika itu juga hening mengelilingi, bahkan udara disana terasa membeku.
Harris benar-benar tidak pernah membayangkan bahwa putrinya yang dulu selalu menunduk kini berdiri di depannya, berbicara tanpa rasa takut, bahkan mempermalukannya di depan umum.
Amarahnya akhirnya meledak.
“Kurang ajar!” bentaknya. “Kamu berani melawan ayahmu?!”
Tangannya terangkat dan siap untuk menampar Yvaine, namun..
“Harris!”
Laura buru-buru maju, menahan lengannya.
“Kamu tidak bisa memukulnya di sini!”
Lalu ia menoleh ke Yvaine.
“Vaine, cepat minta maaf!”
Namun Yvaine hanya berdiri diam. Seolah ini semua hanyalah pertunjukan yang membosankan.
“Mengapa kamu menghentikannya?” katanya santai. “Bukankah ini urusan keluarga kita?”
Ia menatap Laura dengan sinis.
“Seorang ayah ingin mendidik anaknya..”
“Lalu kamu siapa, sampai berani ikut campur?”
“Ibu tiri.. Kamu jangan terlalu percaya diri.”
Laura membeku. Ia menatap Yvaine dengan mata melebar. Seolah melihat sesuatu yang menakutkan.
Harris juga terdiam. Amarahnya perlahan mereda dan digantikan oleh keterkejutan.
Namun Yvaine belum selesai. Ia tertawa kecil. Lalu menatap Harris.
“Kamu ingin memukulku?”
“Silakan saja.."
Yvaine berdiri tegak, seolah tidak berniat untuk menghindar sedikit pun dengan apa yang akan Harris lakukan padanya.
Kemudian, dengan senyum miring, Yvaine berkata, “Tapi pastikan kamu siap melihat berita besok.”
Suaranya dingin.
“Tentang kepala keluarga Frey.. yang memukul putrinya sendiri di jalan, bersama istri simpanannya.”
“K-Kamu!”
Wajah Harris memerah. Tubuhnya gemetar. Namun tangannya tidak jadi melanjutkan keinginannya untuk menampar Yvaine.
Ia tahu, jika ini sampai tersebar, maka reputasinya akan hancur.
Posisinya di keluarga Frey bisa terguncang, dan semua rencananya akan berantakan.
Akhirnya, ia hanya bisa berdiri di sana dengan rasa marah namun tak berdaya.
Sementara itu, Laura sudah kembali tenang, hanya dalam hitungan detik, ia kembali menjadi wanita anggun yang lembut.
Seolah semua penghinaan tadi tidak pernah terjadi.
“Harris, jangan marah,” katanya pelan. “Dia masih membawa anak.”
Kata-kata itu membuat Harris tersadar, ia pun memilih untuk menoleh dan melihat Joy yang sejak tadi bersembunyi di belakang Yvaine.
Raut wajahnya langsung berubah, ia mencoba tersenyum dan mulai mendekati anak itu bahkan sampai berjongkok sedikit.
“Halo.. kamu Joy, ya?” katanya. “Aku kakekmu.”
Tangannya terulur. Namun Joy justru semakin menempel pada kaki Yvaine.
Tubuh kecil itu gemetar. Ia mengintip dari balik ibunya, kini, matanya penuh dengan ketakutan.
“Mom..” bisiknya pelan. “Orang itu menakutkan..”
Joy menelan ludah dan kembali melanjutkan perkataanny, “Mereka seperti serigala jahat..”
Yvaine hampir tertawa.
Sementara Harris membeku. Tangannya masih terulur di udara dengan canggung, Senyumnya menjadi kaku.
Yvaine menarik Joy sedikit ke belakang seolah sedang melindunginya, lalu kembali menatap dua orang di depannya.
Tatapannya kembali dingin. “Jadi.. apa sebenarnya tujuan kalian ke sini?” Suaranya tegas.
“Kalau tidak ada urusan penting.. silakan pergi.”
“Kami mau pulang.”
Harris mengepalkan tangan. Amarahnya hampir meledak lagi. Namun kali ini Ia menahannya.
Ia menarik napas panjang. Lalu berkata dengan nada dingin, “Aku dengar kamu sudah bercerai dari Tuan Muda keluarga Raguel.”
Mata Yvaine sedikit menyipit.
'Akhirnya.. Ternyata ini inti masalahnya...'
Ia memang sudah menduga bahwa keluarga Frey tidak akan diam setelah kabar itu menyebar.
Hanya saja ia tidak menyangka mereka akan datang secepat ini.
Yvaine tersenyum tipis. Lalu menjawab tanpa ragu, “Benar. Kami sudah bercerai.”
Ucapan Yvaine yang lugas dan tanpa basa-basi itu seperti menyiram minyak ke atas api.
Harris langsung meledak.
“Bercerai?!” bentaknya, suaranya meninggi hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar. “Kenapa kalian bisa bercerai?!”
Nada suaranya bukan sekadar terkejut, melainkan penuh kemarahan, seolah perceraian itu adalah sebuah kesalahan besar yang tidak bisa diterima.
Yvaine hanya mengangkat alis. Tatapannya tenang, bahkan sedikit menantang.
“Kenapa tidak?” jawabnya santai. “Apa ada aturan yang melarang kami bercerai?”
Jawaban itu membuat urat di pelipis Harris menonjol.
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆