Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Rahasia
Sedangkan di sisi lain, sebuah perusahaan sukses berskala internasional dengan gedung setinggi 55 lantai berdiri megah di pusat kota. Di lantai paling atas, ruangan utama itu mengusung konsep dark luxury modern, dengan lantai marmer mengilap, dinding kayu gelap, pencahayaan keemasan, serta jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian.
Ruangan mewah itu ditempati langsung oleh sang CEO. Di balik meja kerjanya yang besar dan elegan, seorang pria paruh baya tampak sedang menyelesaikan pekerjaannya dengan serius. Tatapannya fokus pada layar laptop di hadapannya, jemarinya sesekali bergerak di atas keyboard, menandakan pekerjaannya memang sedang menumpuk.
Namun, tiba-tiba saja pintu yang semula tertutup rapat itu bergeser otomatis, menandakan ada seseorang yang masuk. Ronald yang tadinya sibuk menatap laptopnya langsung menoleh dengan wajah kesal, ingin tahu siapa yang datang tanpa memberi tanda terlebih dahulu.
"Bonjour, mon frère," sapa Arka hangat begitu ia masuk ke dalam ruangan itu.
Bonjour, mon frère: selamat pagi, brother.
Ronald langsung berdecak kesal. "Kalau mau masuk, biasain pencet belnya. Gimana sih, lo?"
"Eleh, kayak nggak tahu siapa aja," jawab Arka dengan santai, seolah tidak merasa bersalah sama sekali.
Ronald hanya menghela napas panjang. Ia sudah tidak kaget lagi melihat tingkah sahabatnya itu. Sementara itu, Arka malah berjalan santai tanpa merasa perlu meminta izin, lalu duduk di sofa hitam yang ada di ruangan tersebut.
"Ngapain lo di sini?" tanya Ronald langsung to the point. Tatapannya kembali turun ke arah laptop. "Kalau nggak penting, sana keluar. Kerjaan gue lagi banyak."
"Alah, dunia ini nggak selamanya serius, Je. Nggak usah terlalu pusing karena kerjaan," jawab Arka sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia menatap Ronald dengan santai, lalu melanjutkan, "Sini duduk. Ada yang mau gue tanyain sama lo."
"Langsung aja. Gue sibuk," jawab Ronald tanpa banyak basa-basi.
Arka menatapnya sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Kok lo nggak bilang sih kalau anak lo sekolah di GIS?"
Pertanyaan itu sukses membuat Ronald menoleh. Dahinya sedikit mengernyit. "Maksud lo? Dari mana lo tahu anak gue sekolah di GIS?"
"Anak gue kemarin ketemu sama anak lo di mall. Anak lo lagi sama bini lo," ucap Arka.
Ronald langsung paham. Semalam istrinya memang sempat bercerita kalau ia pergi ke mall dan bertemu Alden bersama temannya. Jadi, wajar saja kalau Arka akhirnya tahu soal itu.
"Kan lo tahu sebelum ini anak gue statusnya privat. Jadi, ya... lupa lah gue kasih tahu lo," jawab Ronald santai, meskipun sebenarnya ia mulai merasa ada arah pembicaraan lain dari sahabatnya itu.
"Gitu toh," jawab Arka sambil mengangguk-angguk kecil. Tidak lama kemudian, ia tersenyum penuh arti. "Jadi, kapan nih jodohin anak gue sama anak lo?"
Ronald terdiam. Ia langsung mengalihkan pikirannya sejenak. Laptop yang semula masih terbuka di hadapannya pun ia tutup perlahan, lalu ia letakkan di atas meja. Pertanyaan Arka membuatnya benar-benar berpikir. Masalahnya, anak yang rencananya ingin ia jodohkan dengan anak Arka saat ini sedang terbaring koma, sedangkan anak yang sekarang diketahui Arka adalah kembaran anaknya.
Hal itu membuat Ronald bingung harus menjawab bagaimana.
"Kalau nunggu mereka lulus SMA gimana?" tawar Ronald akhirnya, mencoba mencari jalan tengah.
"Aduh, kelamaan. Nanti keburu anak lo suka sama orang lain. Nggak jadi dong gue punya mantu dari Valenzia," ucap Arka dengan nada bercanda, meskipun jelas ia cukup serius soal rencananya itu.
Ronald langsung berdecak. "Sialan lo."
Arka justru terkekeh santai. "Minggu depan gimana?"
Ucapan itu membuat Ronald kaget. Ia tidak menyangka Arka akan secepat itu membicarakan perjodohan anak mereka.
"Aduh... gimana ya," gumam Ronald pelan. Kepalanya mendadak terasa pusing memikirkan semuanya. Ia tidak bisa asal menjawab, apalagi ada rahasia besar yang selama ini tidak diketahui Arka.
Beberapa saat Ronald terdiam. Ia menatap sahabatnya itu dengan ragu, lalu menarik napas dalam-dalam. Di hadapannya ini bukan hanya rekan bisnis, melainkan sahabatnya sejak SMP. Orang yang sudah cukup lama ia kenal dan cukup ia percaya.
Akhirnya, Ronald berkata, "Bawa aja keluarga lo ke rumah gue. Nanti gue jelasin sebenarnya."
Arka langsung mengernyit bingung. "Maksud lo?"
Ronald kembali mempertimbangkan ucapan yang akan keluar dari mulutnya. Ia tahu setelah ini semuanya mungkin akan berubah. Namun, cepat atau lambat, Arka memang harus tahu.
"Sebenarnya anak gue kembar," ucap Ronald akhirnya.
Arka langsung membelalakkan matanya, jelas kaget mendengar pengakuan itu. "Apa? Lo nggak bercanda, kan?"
"Kagak," jawab Ronald serius. "Lo kabarin aja kapan keluarga lo bisa datang ke rumah gue buat makan malam. Nanti langsung gue jelasin pas itu juga. Tapi jangan bilang sama Alden dulu."
Arka masih tampak terkejut, tetapi akhirnya ia mengangguk pelan, tanda mengerti. Meski banyak pertanyaan muncul di kepalanya, ia tahu Ronald pasti punya alasan kenapa selama ini menyembunyikan hal sebesar itu.
***
Sedangkan Nara baru saja keluar dari kamar mandi dan hendak kembali ke kelasnya. Namun, di tengah perjalanan menuju kelas, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya dari belakang.
"Nayaa," panggil Asha, membuat gadis itu menoleh.
"Kenapa?" tanya Nara bingung saat melihat Asha berjalan mendekatinya.
"Nanti pulang sekolah kamu sibuk nggak?" tanya Asha lebih dulu.
"Nggak sih. Kenapa emang?" tanya Nara balik.
"Aku mau minta tolong sama kamu," jawab Asha, tetapi nada suaranya terdengar sedikit ragu.
Nara mengernyit kecil. "Minta tolong apa?"
Asha tidak langsung menjawab. Gadis itu malah tersenyum-senyum malu, seolah sedang menahan sesuatu yang sebenarnya ingin sekali ia ceritakan. Tingkahnya membuat Nara semakin penasaran.
"Aku mau beli hadiah ulang tahun untuk calon tunanganku," jawab Asha akhirnya.
Ucapan itu langsung membuat Nara menatapnya kaget. Ia bahkan berhenti melangkah karena merasa tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
"What? Gue nggak salah dengar, kan? Lo punya calon tunangan?" tanya Nara dengan wajah tidak percaya.
Asha mengangguk malu, lalu tersenyum kecil. "Iyaaa."
"Siapa?" tanya Nara cepat, masih belum habis pikir.
"Nathaniel. Dia calon tunanganku," jawab Asha.
Nara langsung dibuat speechless. Ia menatap Asha beberapa detik, mencoba mencerna nama yang baru saja disebutkan gadis itu.
"Kok lo mau sih sama dia? Dia berandalan gitu," ucap Nara, masih heran.
Asha malah tersenyum lebar, seakan ucapan Nara barusan bukan masalah besar untuknya. "Nggak apa-apa. Cowok berandalan semakin di depan."
Nara hanya mendengus mendengarnya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan selera Asha.
"Yang brengsek-brengsek gitu biasanya menggoda banget," bisik Asha dengan nada malu-malu, tetapi wajahnya jelas terlihat senang.
Nara langsung merinding sendiri mendengarnya. "Ewww. Cowok cool good boy itu yang lebih menggoda," ujarnya tidak mau kalah sewot.
Asha menatapnya dengan tatapan menggoda. "Maksud kamu abang aku?"
Nara langsung menoleh cepat, tidak terima karena Asha salah tangkap. "Dih, nggak lah, ya. Ada pokoknya. Udahlah, yuk ke kelas."
Asha hanya tertawa kecil melihat reaksi Nara. Setelah itu, keduanya pun berjalan beriringan menuju kelas, meskipun Asha masih sempat tersenyum-senyum sendiri karena berhasil membuat Nara salah tingkah.
Sesaat setelah jam pulang sekolah, mereka bertiga pun berjalan bersama keluar dari area sekolah. Suasana sudah mulai ramai oleh siswa lain yang juga bersiap pulang.
"Gue duluan, ya. Gue udah ditunggu sama sopir tuh," ucap Rora berpamitan sambil menunjuk ke arah depan gerbang.
Setelah itu, Rora berjalan lebih dulu keluar gerbang sendirian, meninggalkan Nara dan Asha yang masih berdiri di dekat halaman sekolah.
"Lo bawa mobil atau motor?" tanya Nara sambil menoleh ke arah Asha.
"Aku biasanya pergi sekolah sama Alden, tapi boleh nggak aku nebeng sama kamu?" tanya Asha pelan, sedikit tidak enak hati.
"Boleh," jawab Nara tanpa banyak pikir.
Mereka pun akhirnya pergi bersama. Sementara itu, di ruang OSIS, Alden masih fokus menatap beberapa lembar kertas di depannya. Proposal yang mereka buat kemarin ternyata ditolak oleh pemilik sekolah, membuat Alden harus memutar otak lagi untuk mencari cara agar acara yang sudah direncanakan tetap bisa berjalan.
"Alden, nih minum dulu. Lo pasti stres, kan, mikirin ini?" tanya Selena sambil meletakkan sebotol air dingin di dekatnya.
"Makasih," jawab Alden seadanya tanpa benar-benar mengalihkan pandangannya dari kertas proposal itu.
"Nanti kita minta tolong aja sama Bu Siska. Beliau paham banget kok tentang acara ini," ujar Selena mencoba memberi saran.
Alden hanya mengangguk kecil. Saran itu memang masuk akal, meskipun pikirannya masih penuh dengan revisi proposal dan alasan penolakan dari pihak sekolah.
"Oh ya, by the way, Asha mana? Kok belum sampai, ya?" tanya Selena penasaran.
Biasanya, setelah pulang sekolah, Asha selalu mampir ke ruang OSIS untuk menemui kembarannya itu. Jadi, wajar kalau Selena merasa heran saat gadis itu belum juga terlihat.
"Lagi beli hadiah buat Niel," jawab Alden singkat.
"Oh ya? Sama siapa?" tanya Selena lagi.
Sebagai sahabat Asha, sebenarnya Selena ingin menemani temannya itu membeli hadiah. Sekalian, ia juga ingin mengambil hati calon adik iparnya. Mereka memang berteman, tetapi Asha termasuk orang yang terlalu tertutup. Walaupun mereka dekat, rasanya tetap ada pembatas di antara mereka berdua, membuat Selena sedikit susah untuk benar-benar merasa nyaman.
"Sama Naya," jawab Alden seadanya.
Selena langsung mematung sesaat. Senyumnya sedikit tertahan, sebelum akhirnya ia hanya bergumam pelan, "Oh, Naya, ya."
Di sisi lain, Nara sedang menemani Asha mencari hadiah di mall. Mereka berkeliling cukup lama dari satu toko ke toko lain, memilih barang yang kira-kira cocok untuk Nathaniel. Selain membeli hadiah, mereka juga sempat membeli barang couple bertiga, tentu saja satu lagi untuk Rora.
Setelah cukup lama berada di mall, akhirnya mereka sampai di kediaman tempat Asha tinggal. Mobil Nara berhenti di depan rumah besar itu, membuat Nara menatap sekeliling sebentar.
"Makasih ya, Nay. Kamu udah temenin aku," ucap Asha dengan tulus.
"It's okay. Sekarang gue pulang dulu, ya," ucap Nara sambil bersiap pergi.
"Loh, kamu nggak mau mampir? Mampir dulu yuk," ajak Asha cepat.
"Nggak usah deh, udah sore," jawab Nara, sedikit tidak enak kalau harus bertamu di jam segitu.
"Udah, nggak apa-apa. Bentar doang, ayo," paksa Asha dengan wajah memohon.
Nara masih ragu. Ia merasa tidak enak hati untuk mampir sore-sore ke rumah orang, apalagi tanpa rencana sebelumnya. Namun, Asha sudah lebih dulu turun dari mobil, lalu memutari mobil itu. Tidak lama kemudian, gadis itu membuka pintu mobil bagian Nara dan menarik tangan Nara pelan.
"Ayo, sebentar doang. Mommy aku mau ketemu sama kamu," ucap Asha.
Nara langsung menatapnya bingung. Mommy Asha memang sudah lama tidak bertemu dengannya. Terakhir kali, saat Naya kelas sebelas, pakaiannya sempat kotor dan basah. Waktu itu, Asha yang menemani dan menenangkan Naya saat ia menangis. Kebetulan, mommy Asha juga datang menjemput anak bungsunya karena ada keperluan. Dari sanalah mommy Asha mulai mengenali Naya.
"Mommy lo kenal sama gue?" tanya Nara tidak percaya.
Asha mengangguk cepat. "Mommy kangen sama kamu. Ayo."
Nara masih berdiri di sebelah mobilnya dan belum juga bergerak. Namun, tiba-tiba sebuah motor mengklakson dari belakang, membuat mereka berdua menoleh bersamaan.
Saat tahu siapa yang datang, Nara langsung merapikan penampilannya dan menyisir rambutnya dengan tangan.
"Ada Alden, uhuy," ucap Nara dalam hati, berusaha menahan senyumnya sendiri.
Setelah itu, Nara akhirnya ikut berjalan masuk bersama Asha, membuat Asha sempat cengo melihat perubahan sikapnya yang mendadak.
Sementara itu, Alden membuka helmnya dan menoleh ke samping. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat adik kembarnya sedang berjalan bersama Nara menuju ke dalam rumahnya.
"Ngapain lo di rumah orang sore-sore?" tanya Alden saat sudah berjalan mendekat.
Nara menatapnya sekilas, lalu menghela napas. "Adik lo yang nyuruh. Gue mana mau."
"Asha, biarin aja dia pulang. Udah sore," ucap Alden dengan nada lembut kepada adiknya.
Nara langsung tercengang mendengarnya. Dalam hati ia benar-benar tidak habis pikir. Sama dirinya Alden bisa sedingin kulkas, tapi begitu bicara dengan Asha, suaranya bisa berubah lembut begitu saja.
"Nggak apa-apa, Bang. Mampir bentar aja. Ada Mommy, kan, di dalam?" ucap Asha.
"Ada," jawab Alden singkat.
Karena adiknya sendiri yang meminta, Alden akhirnya memilih diam dan ikut masuk ke dalam rumah. Ia tidak lagi melarang Nara untuk mampir.
"Mbak, panggil Mommy dong. Ada Naya," ucap Asha kepada salah satu pelayan rumah yang berada tidak jauh dari mereka.
"Baik, Non," jawab pelayan itu sopan.
Nara kemudian dipersilakan duduk di ruang tamu. Namun, saat Alden hendak naik ke kamarnya, langkahnya tiba-tiba terhenti karena suara Asha kembali memanggilnya.
"Abang, sini dulu," panggil Asha.
Alden menoleh. "Kenapa?"
"Temenin Naya di sini sebentar. Aku mau letakin hadiah sama tas dulu, ya, ya?" ucap Asha dengan nada memohon manja.
"Kenapa harus Abang? Abang juga harus ke kamar," protes Alden.
"Ih, sampai Mommy datang aja. Sebentar. Ayo lah," paksa Asha.
Sementara itu, Nara hanya diam mendengar perdebatan kecil kakak-beradik itu. Ia tidak mau ikut campur, meskipun dalam hati sebenarnya merasa agak canggung juga harus ditinggal berdua dengan Alden.
"Ya udah, iya. Cepat balik ke sini," ucap Alden akhirnya.
Asha langsung tersenyum senang, lalu segera pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
"Duduk," ucap Alden saat melihat Nara masih berdiri.
"Dari tadi kek bilangnya," gumam Nara pelan, sedikit kesal.
Alden menatapnya datar. "Gue di sini disuruh adik gue, jadi nggak usah geer."
Nara langsung menoleh sewot. "Siapa juga yang geer? Biasa aja kali."