Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
happy reading guys
------------------------------
## BAB 13: Siasat Palsu di Cangkir Teh
Kemenangan Elena Vance di meja makan semalam rupanya membuat Sarah Syailendra tidak bisa tidur dengan tenang.
Bagi wanita paruh baya itu, harga dirinya telah diinjak-injak oleh seorang wanita asing yang tidak jelas asal-usulnya.
Oleh karena itu, keesokan siang harinya, sebuah undangan mendadak dikirimkan langsung ke unit penthouse milik Nicholas.
Sarah mengundang Elena untuk menghadiri acara minum teh formal (High Tea) bersama para nyonya sosialita papan atas Jakarta di sebuah rumah teh privat bergaya kolonial mewah di kawasan Kebayoran Baru.
"Kamu yakin tidak mau aku menemanimu, Elena?"
Nicholas bertanya sembari merapikan letak jam tangan mahalnya di ruang tengah penthouse.
Mata elangnya menatap Elena posesif.
Elena yang sedang merapikan anting berliannya berbalik, mengulas senyuman miring yang begitu menawan.
"Jika kamu ikut, bibimu tidak akan berani mengeluarkan taringnya, Nicholas. Biarkan aku pergi sendiri. Aku ingin melihat seberapa jauh ular itu bisa merangkak."
Nicholas terkekeh pelan, menyukai keberanian yang berkobar di sepasang mata tunangan kontraknya.
Ia melangkah mendekat, mengecup pelipis Elena dengan lembut sebelum membiarkan wanita itu pergi dengan pengawalan ketat dari asisten pribadinya, Yan.
------------------------------
Begitu Elena melangkah masuk ke dalam taman rumah teh privat tersebut, aroma harum bunga melati dan wangi kue-kue manis langsung menyambutnya.
Di bawah naungan kanopi putih yang mewah, sekelompok nyonya sosialita paruh baya berpakaian desainer kelas dunia sedang duduk melingkari meja bundar.
Di tengah-tengah mereka, Sarah Syailendra duduk laksana seorang ratu lebah yang memimpin koloni.
"Ah, ini dia bintang utama kita siang ini! Elena Vance!" seru Sarah dengan suara yang sengaja dikeraskan, memotong tawa centil para nyonya di sekitarnya.
Semua mata seketika tertuju pada Elena.
Elena melangkah anggun mengenakan gaun midi berbahan brokat putih gading yang sederhana namun memancarkan aura kelas atas yang tak terbantahkan.
Ia mengambil tempat duduk di satu-satunya kursi kosong yang sengaja diposisikan tepat di sebelah Sarah.
"Selamat siang, Bibi Sarah, dan Nyonya sekalian," sapa Elena ramah, menundukkan kepalanya sedikit dengan etiket yang sempurna.
"Nona Elena, kami semua di sini sedang membicarakan tentang perhiasan,"
ucap salah satu nyonya sosialita bergaun merah, Nyonya menteri yang menjadi sahabat karib Sarah.
"Sarah baru saja memamerkan kalung mutiara Laut Selatan miliknya yang baru dibeli dari pelelangan di Hong Kong seharga lima miliar rupiah. Bukankah sebagai perwakilan dari Vance Jewelry, Nona Elena pasti tahu banyak tentang kualitas mutiara ini?"
Sarah menyentuh kalung mutiara untaian ganda yang melingkari lehernya dengan gerakan yang sangat angkuh.
"Tentu saja Elena tahu. Tapi kudengar, selera anak muda zaman sekarang lebih suka emas batangan daripada keindahan mutiara alami yang membutuhkan selera seni tinggi. Iya kan, Elena? Aku hanya takut latar belakang keluargamu di masa lalu tidak cukup kuat untuk memahami keindahan barang antik seperti ini."
Siasat Sarah sangat jelas. Ia ingin menyindir bahwa Elena hanyalah wanita kaya baru yang tidak memiliki darah bangsawan atau pengetahuan kelas atas mengenai perhiasan mewah.
Para nyonya di sekitar meja mulai berbisik-bisik, menatap Elena dengan pandangan menilai yang merendahkan.
Elena melirik untaian mutiara di leher Sarah.
Dengan kemampuannya sebagai seorang desainer genius, ia hanya membutuhkan waktu tiga detik untuk menyadari sesuatu yang janggal pada kilau barang tersebut.
Senyuman miring yang begitu dingin seketika terukir di bibir merah merona Elena.
Elena meraih cangkir teh porselennya, menyesapnya perlahan sebelum meletakkannya kembali ke atas tatakan dengan ketukan halus yang memicu kesunyian.
Ting.
"Mutiara Laut Selatan memang memiliki keindahan yang magis, Bibi Sarah," ucap Elena, suaranya terdengar sangat renyah namun sarat akan intrik yang tajam.
"Kilau alaminya seharusnya memancarkan pendar warna merah muda hangat atau keperakan yang dalam saat terkena pantulan sinar matahari siang seperti sekarang ini."
Elena memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke arah leher Sarah dengan pandangan mata yang menyipit penuh selidiki.
"Namun, saya sedikit bingung dengan kalung yang sedang Bibi kenakan. Pendar warnanya cenderung putih kebiruan yang terlalu pekat, dan jika saya perhatikan lebih dekat... lingkaran di sekitar lubang talinya memiliki sedikit kerutan kecil yang mengelupas."
Wajah Sarah seketika menegang.
"Apa maksudmu, Elena?! Kamu mau menuduh kalung lima miliarku ini cacat?!"
"Bukan cacat, Bibi. Tapi palsu,"
jawab Elena dengan nada suara yang sangat tenang namun laksana hantaman bom di tengah taman yang sunyi itu.
Deg!
Seluruh nyonya sosialita di meja makan seketika menahan napas mereka, mata mereka terbelalak lebar berpindah-pindah menatap Elena dan Sarah.
"Kamu... kamu jangan sembarangan bicara ya!" Sarah berteriak, suaranya melengking tinggi hingga kehilangan keanggunannya.
Wajah paruh bayanya berubah merah padam menahan amarah yang meluap.
"Aku membelinya langsung di pelelangan resmi! Mana mungkin barang ini palsu!"
"Mutiara yang Bibi kenakan adalah jenis mutiara tiruan berlapis esens sisik ikan imitasi berkepunahan tinggi yang diproduksi massal di laboratorium Tiongkok kelas bawah,"
Elena bangkit dari kursinya dengan keanggunan seorang ratu yang absolut.
Ia merogoh tas pesta kecilnya, mengeluarkan sebuah senter saku ultraviolet kecil khusus penguji perhiasan yang selalu ia bawa.
Elena menyalakan lampu ungu tersebut, mengarahkannya tepat ke arah kalung mutiara di leher Sarah dari jarak beberapa puluh senti.
Di bawah pendar lampu ultraviolet, mutiara alami seharusnya memancarkan fluoresensi kuning atau hijau samar, namun mutiara di leher Sarah justru memancarkan warna ungu kusam yang mengerikan—menandakan lapisan plastik pelindung buatan.
"Di bawah lampu UV, kebohongan tidak akan bisa bersembunyi, Bibi Sarah," desis Elena dingin, mematikan senternya kembali dengan gerakan santai.
"Seseorang di pelelangan itu pasti sudah menukar barang asli Anda dengan tiruan murah seharga lima ratus ribu rupiah, atau... Bibi sendiri yang sengaja memakai barang palsu ini demi menjaga gengsi di depan para Nyonya sosialita?"
Skakmat.
Tawa bisik-bisik yang tadi ditujukan untuk merendahkan Elena, kini berbalik sepenuhnya ke arah Sarah.
Para nyonya sosialita di sekitar meja mulai menutupi mulut mereka dengan kipas, menatap Sarah dengan pandangan geli dan penuh ejekan yang meremehkan.
Reputasi Sarah sebagai ikon fesyen sosialita Jakarta hancur berantakan dalam hitungan menit di tangan Elena.
"Kamu... jalang kurang ajar!"
Sarah yang sudah kehilangan akal sehatnya karena malu melompat dari kursinya, tangannya melayang hendak mencakar wajah cantik Elena.
Namun, sebelum tangan Sarah sempat menyentuh seujung rambut Elena, sebuah cengkeraman tangan kekar yang sangat kuat mendadak mencengkeram pergelangan tangan Sarah di udara.
Sret!
"Hentikan tindakan memalukan Anda, Bibi Sarah."
Nicholas Syailendra berdiri tegap di samping Elena dengan aura membunuh yang sangat pekat menguar dari seluruh tubuhnya.
Pria itu menepis tangan Sarah dengan kasar hingga wanita paruh baya itu terhuyung mundur menabrak kursi makannya sendiri.
Nicholas yang khawatir sejak tadi rupanya sengaja menyusul Elena ke rumah teh tersebut.
Nicholas melingkarkan lengan kekarnya di sekeliling pinggang ramping Elena, menarik tubuh wanita itu dengan sangat posesif ke dalam dekapannya yang hangat di depan publik.
"Nicholas... kamu..." Sarah gemetar ketakutan saat melihat sepasang mata elang keponakannya yang sedingin es laksana malaikat pencabut nyawa.
"Acara minum teh ini sudah selesai,"
desis Nicholas rendah, suaranya dipenuhi ancaman mutlak yang sanggup membekukan atmosfer taman.
"Mulai besok, saya akan membatalkan seluruh kartu kredit korporat Syailendra Group yang selama ini Bibi gunakan untuk berbelanja barang mewah. Jika Bibi berani membuat skenario murahan lagi untuk menyentuh Elena, aku pastikan keluarga Ardi akan didepak keluar dari rumah utama tanpa sepeser pun uang warisan."
Nicholas membalikkan tubuhnya, menatap Elena dengan sorot mata yang melembut penuh kegilaan posesif.
"Ayo kita pulang, Sayang. Tempat ini terlalu murahan untuk Nyonya Muda Syailendra yang akan datang."
"Tentu, Nicholas," jawab Elena dengan senyuman manis yang paling memikat di wajah cantiknya.
Elena melangkah pergi digandeng erat oleh Nicholas, meninggalkan Sarah yang menangis histeris menahan malu di tengah taman di bawah pandangan mengejek para sahabat sosialitanya sendiri.
Pertempuran kedua telah dimenangkan dengan mutlak oleh Elena Vance, memantapkan langkahnya menuju takhta hari pernikahan akbar yang akan segera digelar bulan depan.
------------------------------
Bersambung......