"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Kemenangan dan Perjamuan Malam
Partai final turnamen pada sore hari berlangsung dalam suasana yang sangat kontras dari babak sebelumnya.
Di atas arena marmer putih, Wei Changqing berhadapan dengan finalis dari bagan timur—seorang pendekar muda berbudi luhur bernama Fang Yuan dari Netral yaitu Sekte Pedang Biru.
Menyadari jurang perbedaan pemahaman pedang yang begitu jauh setelah melihat bagaimana Changqing menghancurkan sembilan naga emas Jiang Chen pagi tadi, Fang Yuan tidak bertarung dengan nafsu menyerang. Ia menyarungkan setengah pedangnya dan membungkuk sembilan belas derajat.
"Saudara Wei," ucap Fang Yuan dengan penuh rasa hormat. "Ketenangan pedangmu telah membuka mata seluruh generasi muda di lembah ini. Saya bertarung di final ini bukan untuk mencari kemenangan, melainkan memohon satu bimbingan jurus darimu."
"Dengan senang hati, Saudara Fang," balas Changqing santai sambil menarik pedang besi hitamnya.
Pertarungan final itu tidak dihiasi oleh ledakan batu marmer atau niat membunuh, melainkan tarian pertukaran sembilan belas jurus pedang murni yang begitu indah, presisi, dan mengalir bagaikan air sungai di pegunungan.
Pada jurus kedua puluh, ujung pedang besi hitam Changqing berhenti lembut satu milimeter di depan dada Fang Yuan.
Fang Yuan tersenyum puas, mundur dua langkah, lalu membungkuk dalam. "Terima kasih atas bimbingan yang tak ternilai ini, Saudara Wei. Saya mengaku kalah."
"Pemenang Partai Final sekaligus Juara Utama Turnamen Konferensi Lembah Anggrek ke-42: Wei Changqing dari Sekte Lembah Bambu Biru!" seru ketua dewan wasit dengan suara bergema ke seluruh lembah.
Ribuan penonton di arena bangkit berdiri memberikan penghormatan tepuk tangan gemuruh yang membahana!
Di area tunggu barat, Zhou Hao meloncat-loncat sambil menangis terharu memeluk Chen Wu, sementara Paman Guru Lin mengusap air mata bangganya. Sekte terpencil mereka yang dulu selalu ditempatkan di dekat kandang kuda, kini berdiri di puncak kebanggaan benua timur!
Malam harinya, perjamuan akbar perayaan penutupan turnamen digelar di Wilayah Utama Kota Lembah Anggrek. Ribuan lampion warna-warni menerangi taman-taman kota yang dipenuhi hidangan mewah dan alunan musik kecapi.
Di sudut teras paviliun perjamuan yang menghadap ke air terjun, Changqing berdiri menikmati segelas teh hangat sendirian, menjauh dari kerumunan ketua sekte yang sejak sore terus berusaha mendekati Paman Guru Lin untuk menjalin hubungan persahabatan.
"Juara turnamen justru bersembunyi di sudut teras sepi?" sebuah suara merdu menyapa dari belakang.
Changqing menoleh dan melihat Shen Yue berjalan mendekat. Gadis cantik itu mengenakan gaun sutra perak dengan hiasan kelopak anggrek putih di rambutnya—terlihat begitu memesona di bawah cahaya lampion malam.
Shen Yue menyerahkan sebuah kantong sulaman kecil berbahan sutra putih kepada Changqing.
"Apa ini, Shen Yue?" tanya Changqing lembut saat menerima kantong harum tersebut.
"Itu... kantong teh bunga Teratai Salju kering yang kupetik sendiri di puncak gunung sekteku," jawab Shen Yue dengan pipi sedikit merah, matanya menatap Changqing dengan sinar kagum yang hangat. "Teh itu bisa membantu menenangkan sirkulasi pernapasan setelah bertanding keras. Anggap saja ini... hadiah ucapan selamat dari seorang teman atas kemenanganmu menjadi juara utama hari ini."
Changqing menggenggam kantong sulaman itu erat-erat. Di masa depan yang dulu, kantong sulaman tangan Shen Yue adalah benda terakhir yang menemani hari-hari tuanya di kuil terpencil. Kini, benda itu kembali berada di telapak tangannya langsung dari tangan sang pemilik yang masih hidup.
"Terima kasih, Shen Yue," ucap Changqing dengan senyuman yang begitu tulus dan dalam hingga membuat jantung Shen Yue berdebar kencang. "Saya akan menyeduh teh ini dengan mata air terbaik di Lembah Bambu Biru saat pulang nanti."
"Kudengar Lembah Bambu Biru memiliki pemandangan pohon bambu yang sangat indah di musim semi," bisik Shen Yue malu-malu, menundukkan kepalanya memandang kolam ikan. "Kalau... kalau suatu hari nanti aku mendapatkan misi dari sekteku ke wilayah barat... bolehkah aku mampir berkunjung ke taman kebunmu?"
"Pintu gerbang Lembah Bambu Biru dan taman kebun saya akan selalu terbuka untukmu kapan pun kau datang," janji Changqing tegas tanpa sedikit pun keraguan.
Shen Yue tersenyum manis, wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan.
Namun, tepat saat musik perjamuan di balai utama mencapai suasana paling meriah...
Tiba tiba kepekaan indera tingkat Nirwana Changqing mendadak menangkap sebuah riak bayangan energi hitam yang berkelebat cepat di atas genteng paviliun seberang—bergerak menjauhi area pesta menuju kompleks penginapan Sekte Pedang Langit.
Aura bayangan itu sangat tipis, dan memancarkan aroma racun kelopak teratai darah.
‘Mereka mulai bergerak,’ batin Changqing langsung menyadarinya.
Kekalahan memalukan Jiang Chen siang tadi telah menciptakan celah emosional dan kekacauan besar di internal Sekte Pedang Langit. Dan mata-mata dari Klan Teratai Darah serta Bayangan Gerhana tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk mulai menyusupkan Konspirasi Surat Palsu—rencana adu domba keji yang kelak meledakkan perang agung dunia persilatan!
"Shen Yue," Changqing meletakkan gelas tehnya, suaranya kembali tenang dan waspada. "Perjamuan malam ini sudah semakin larut. Kakak Seniormu pasti mencarimu. Kembali dan beristirahatlah di kamar penginapan sektemu malam ini, dan jangan keluar sendirian sampai besok pagi."
Mendengar perubahan nada suara Changqing yang serius, Shen Yue mengangguk patuh meski merasa heran. "Baiklah. Kau juga beristirahatlah, Changqing."
Setelah memastikan Shen Yue berjalan kembali ke rombongan Sekte Teratai Salju dengan aman, Changqing melompat turun dari teras beranda menembus kegelapan malam taman kota.
Jubah abu-abunya menyatu dengan bayangan. Saatnya bagi sang legenda meninggalkan pesta perayaan untuk memotong Akar Perang Kedua yang sedang merayap di dalam gelap.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏