NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO / Tamat
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sama-sama tersiksa

Malam telah datang, dan suasana di kediaman kembali sunyi dan tenang. Setelah makan malam yang disajikan dengan sederhana namun lezat, Annisa terasa agak lelah setelah seharian mengikuti Chensi ke kantor. Ia duduk di kursi dekat jendela, membuka buku ajaran agamanya untuk membaca beberapa halaman sebelum beristirahat. Namun tidak lama, matanya terasa berat, kepalanya perlahan menyandar ke sandaran kursi, dan akhirnya ia terlelap dalam tidur yang damai.

Chensi baru saja selesai membaca laporan singkat yang dibawa pulang dari kantor. Saat ia melangkah masuk ke kamar, ia melihat pemandangan itu. Annisa terlelap dengan tenang, satu tangannya masih memegang buku yang terbuka di pangkuannya, cahaya lampu tidur yang redup menyinari wajahnya yang terlihat damai dan tenteram.

Dengan langkah sangat pelan agar tidak membangunkannya, Chensi mendekat. Ia mengambil selimut tipis yang tergantung di sandaran kursi, lalu menutupinya dengan hati‑hati. Pandangannya kemudian tertuju pada buku yang masih terbuka itu.

Ia duduk di kursi lain di sampingnya, lalu mengambil buku itu dengan lembut. Halaman yang terbuka itu berisi tulisan yang sama seperti yang ia lihat sebelumnya—huruf‑huruf yang asing bagi matanya, namun kini ia sudah memiliki cara untuk memahaminya. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi penerjemah, dan mulai memindai kalimat demi kalimat.

Saat arti kata‑kata itu muncul di layar, Chensi membacanya dengan perlahan dan penuh perhatian. Malam itu ia membaca tentang makna ketenangan hati, tentang keikhlasan menerima takdir, tentang menghormati orang lain tanpa memandang perbedaan, dan tentang kasih sayang yang tidak memandang batas.

Semakin ia membaca, semakin ia merasakan sesuatu yang hangat merayap masuk ke dalam hatinya. Nilai‑nilai yang tertulis di sana tidak terasa asing lagi, justru ia merasa hal‑hal itu adalah hal yang selama ini ia rasakan sendiri saat bersama Annisa. Ajaran itu mengajarkan untuk mencintai dengan cara yang menjaga kehormatan, untuk melindungi tanpa menguasai, dan untuk hidup berdampingan dengan damai meski berbeda jalan.

“Jadi ini sumber kekuatan dan ketenangannya,” batin Chensi dalam hati. “Ini yang membuatnya tetap tegar meski hidupnya sulit, dan tetap lembut meski sering disakiti. Ajaran ini mengajarkannya untuk melihat kebaikan di mana pun ia berada.”

Ia menoleh ke arah Annisa yang masih terlelap, lalu tersenyum tipis. Ia tidak berniat untuk mengubah keyakinannya secara tiba‑tiba, namun ia sadar bahwa ia mulai memahami dan menghargai apa yang dipegang teguh oleh wanita itu. Bagi Chensi, mempelajari hal ini bukan berarti ia harus mengikuti segala aturannya, melainkan cara terbaik untuk mendekati dunia tempat Annisa berpijak—agar ia bisa menghormatinya dengan lebih baik, dan agar tidak ada lagi kesalahpahaman yang memisahkan mereka.

Setelah membaca beberapa halaman, ia meletakkan buku itu kembali ke tempat semula, lalu memindahkan tubuh Annisa yang terlelap itu dengan hati‑hati ke atas tempat tidur. Ia menyelimutinya rapat‑rapat, lalu duduk kembali di sisi tempat tidur, memegang ujung selimut dengan pandangan penuh kasih sayang.

“Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, Annisa,” bisiknya lirih, hanya terdengar oleh heningnya malam. “Kau mengajarkanku banyak hal yang tidak pernah aku dapatkan dari kekuasaan, harta, atau jabatan. Kau mengajarkanku arti ketenangan dan rasa cinta yang sesungguhnya.”

Ia kemudian berdiri, menyalakan lampu tidur yang lebih redup, dan berjalan keluar kamar untuk membiarkan Annisa beristirahat dengan tenang. Namun malam itu, hatinya terasa lebih ringan dan damai dari biasanya. Ia merasa bahwa jalan yang mereka pilih—berbeda keyakinan namun saling menghormati—adalah jalan yang benar, yang membawa mereka pada kedamaian yang tidak didapatkan banyak pasangan lain.

Siang itu cuaca terasa gerah, langit mendung tanpa meneteskan hujan. Di dalam kamar, suasana terasa pengap dan berat. Sejak pagi, Annisa sudah terlihat gelisah—berjalan mondar‑mandir sebentar, lalu duduk kembali, matanya menatap kosong ke luar jendela. Perasaan yang selama ini ia tahan rapat‑rapat perlahan meluap, menekan dadanya hingga terasa sesak.

Ia mengusap perutnya yang semakin membesar, lalu bertanya pada dirinya sendiri dengan rasa pahit.“Hidup macam apa ini? Aku memiliki seseorang yang aku cintai, yang menjagaku, yang menjadi ayah bagi anakku… tapi dia tidak sepenuhnya milikku. Kami hidup berdampingan, saling melindungi, tapi ada tembok yang tak terlihat memisahkan kami. Mau sampai kapan seperti ini?”

Belum sempat pikirannya selesai berputar, pintu kamar terbuka. Chensi masuk dengan senyum lembut, membawa nampan berisi makanan kesukaan Annisa dan segelas jus buah segar. Ia meletakkannya di meja, lalu menghampiri gadis itu.

“Aku sudah minta dimasakkan sup ikan yang kau sukai. Katanya bagus untuk kekuatan ibu hamil,” ucapnya lembut, lalu mencoba menyentuh bahu Annisa.

Namun tiba‑tiba, Annisa menepis tangan itu dengan gerakan yang agak kasar. Wajahnya berubah muram, matanya berkaca‑kaca menahan amarah dan kekecewaan yang meledak. Ia juga tidak tahu akhir-akhir ini moodnya sering tidak bagus.

“Saya tidak mau! Simpan saja!” bentaknya dengan suara yang lebih tinggi dari biasanya.

Chensi terkejut, tangannya tergantung di udara. Seketika rahangnya mengeras, amarah hampir meledak keluar—ia yang terbiasa dipatuhi dan dihormati, tiba‑tiba ditolak begitu saja. Namun dalam sekejap akal sehatnya bekerja. Ia melihat mata Annisa yang basah, napasnya terengah‑engah, dan menyadari ini bukanlah kemarahan biasa. Ini adalah luapan dari rasa sakit yang selama ini disimpan.

Ia menarik napas panjang, menenangkan diri, lalu duduk di hadapan Annisa dengan pandangan tenang. “Ada apa? Kenapa tiba‑tiba marah begini?”

Annisa tertawa pahit, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi. “Ada apa? Tuan tanya ada apa? Saya hanya lelah, Tuan! Lelah hidup dalam ketidakjelasan ini! Kita memiliki ikatan, kita memiliki anak, tapi kita tidak bisa menjadi pasangan yang sah menurut ajaran saya. Mau sampai kapan kita berjalan seperti ini? Hidup berdampingan tapi terasa jauh? Menjaga tapi tidak memiliki? Sungguh saya tidak bisa membohongi perasaan saya, Tuan. Seperti apapun perjanjian yang kita buat, tetapi tidak bisa memungkiri bahwa kita tidak akan bisa saling memiliki satu sama lain. Kita akan tetap menjadi orang asing tanpa ikatan!"

Chensi terdiam sesaat, lalu menjawab dengan nada yang sedikit tertekan.“Bukankah ini sudah kita sepakati bersama? Kita buat perjanjian, kita tentukan batas agar tidak melanggar apa yang kita yakini. Aku tidak pernah bertindak melampaui batas, aku selalu menjaga kehormatanmu dan menghormati keyakinanmu. Apa lagi yang kurang?”

“Jika kamu ingin kita bersatu sepenuhnya, maka ikutlah keyakinanku saja!” jawab Chensi tanpa berpikir panjang, kata‑kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Mendengar kalimat itu, Annisa mematung. Ia menatap wajah Chensi lekat‑lekat, matanya memerah karena rasa sakit yang mendalam. Lalu ia berbicara dengan suara bergetar namun tegas.

“Kenapa harus saya yang mengikuti jalan Tuan? Kenapa tidak Tuan saja yang memahami dan mengikuti ajaran saya? Sungguh, saya tidak bisa hidup seperti ini selamanya, Tuan. Setiap hari saya bertanya pada diri sendiri—apakah ini benar? Apakah saya tidak sedang melanggar aturan yang saya pegang hanya karena rasa sayang? Saya tersiksa, Tuan… mencintai tapi tidak bisa memiliki, dekat tapi terasa jauh.”

Kata‑kata itu menghantam dada Chensi sekeras pukulan palu. Ia terdiam, tubuhnya seolah membatu. Ia tidak bisa menjawab, tidak bisa membantah. Di dalam hatinya, ia sadar—apa yang dikatakan Annisa itu benar adanya.

Selama ini ia merasa telah melakukan yang terbaik. Menjaga, melindungi, memenuhi segala kebutuhan. Namun ia lupa melihat sisi lain dari perasaan itu. Ia juga merasakan hal yang sama. Setiap malam melihat Annisa tidur tenang, ia ingin memeluknya, ingin memilikinya sepenuhnya sebagai istrinya, namun ia harus menahan diri. Ia juga tersiksa melihat batas yang tidak bisa ditembus.

Ia mengusap wajahnya dengan tangan gemetar, lalu duduk kembali dengan pandangan yang terlihat lelah dan bingung.

“Kau benar… kau benar sekali,” bisiknya lirih, suaranya terdengar kalah. “Aku juga merasakannya. Setiap hari aku bertanya hal yang sama. Aku mencintaimu, aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya, namun aku tidak bisa memaksamu mengubah keyakinanmu, dan aku juga belum siap untuk melanggar apa yang selama ini aku yakini. Kita sama‑sama tersiksa, Annisa. Kita terjebak di tengah rasa sayang dan prinsip yang tidak bisa dipindahkan.”

Suasana menjadi hening, hanya terdengar isak tangis Annisa dan napas berat Chensi. Keduanya akhirnya sadar—jalan yang mereka pilih tidak semudah yang dibayangkan. Rasa hormat dan tanggung jawab saja tidak cukup untuk menutupi rasa rindu dan keinginan untuk menjadi satu kesatuan yang utuh.

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Tuan?” tanya Annisa akhirnya, suaranya lirih penuh harap. “Apakah kita harus terus berjalan seperti ini selamanya, atau ada jalan lain yang belum kita temukan?”

Chensi menatapnya dalam‑dalam, matanya terlihat penuh ketidakpastian namun juga keinginan kuat untuk menemukan solusi.

“Aku tidak tahu jawabannya sekarang,” jawabnya jujur. “Tapi aku berjanji, kita tidak akan membiarkan diri kita tersiksa terus‑menerus. Kita akan cari jalan keluarnya, bersama‑sama. Apa pun hasilnya, kita hadapi dengan kepala dingin dan hati yang tulus.”

1
Kasih Bonda
trima kasih thor
Naufal Affiq
terimakasih atas karya nya aku suka
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa udah ending aja pokoknya bahagia terus buat Chensi dan Annisa. Sukses terus karyanya Thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
lama lama ibu pasti bisa menerima Chensi dengan melihat bukti bahwa Chensi bisa menjaga Annisa dengan baik dan mau melakukan apa saja
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
lucu Rasyid udah bisa merangkak lagi bahagia terus ya kalian 😍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Alhamdulillah akhirnya ibu dan adiknya Annisa menerima Chensi sebagai suami Annisa. Kebahagiaan Annisa semakin bertambah sekarang. Makasih kak Dewi sudah menyajikan cerita yang menarik dan keren 🥰🥰🥰
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝗪𝗜𝗗𝗬𝗔 ☘𝓡𝓳
akhirnya happy ending kisahnya 😍
Kasih Bonda
next Thor semangat
Naufal Affiq
semoga di mudah urusan dan usahamu ya tuan
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Semoga ibunya Annisa bisa menerima Chensi sebagai menantunya 👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Bahagia selalu ya untuk kalian berdua, Annisa dan Chensi 🥰🥰
Naufal Affiq
semoga rumah tangga kalian menjadi keluarga yang saling menyayangi satu sama lain nya
Kasih Bonda
next Thor semangat
Indriani Kartini
,bahagia bngt, Nisa di cinta censi, semoga selalu bahagia
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
lengkap sudah kebahagiaan Chensi dan Annisa dengan hadirnya bayi laki laki semoga jadi anak yang Sholeh dan berbakti
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
Selamat Chensi dan Annisa pernikahan semoga samawa dan bahagia selalu 🤗
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
Selamat Chensi akhirnya login juga moga Istiqomah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
Pasti ada aja yang pro dan kontra dengan keputusan Chensi, jangan dengerin suara sumbang yang gak jelas mending fokus aja kedepannya menjadi orang yang lebih baik lagi
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
hadeuhh kenapa gak jujur aja sich Chensi gak udah malu daripada Annisa jadi marah gak jelas 🤭😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!