Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Ikhlas dan Sabar
Tiga tahun, seribu sembilan puluh lima hari. Aira menatap ijazah sarjananya yang terbingkai rapi di dinding kamar, mulai sedikit berdebu di bagian sudutnya.
Di sana tertulis jelas gelar yang ia raih dengan cucuran keringat di salah satu universitas bergengsi di Bandung. Dulu, saat toga itu terpasang di kepalanya, Aira membayangkan dirinya akan melangkah anggun memasuki gedung pencakar langit di Jakarta, mengenakan pakaian kerja yang modis dan menenteng segelas kopi mahal.
Realitas, sayangnya, punya selera humor yang sedikit getir. Kini, alih-alih aroma kopi arabika, hidung Aira setiap hari diakrabkan dengan aroma minyak goreng panas dan gurihnya bumbu singkong.
Setelah hidup luntang-lantung di kota kembang tanpa kepastian kerja, Aira terpaksa melipat gengsinya, mengemas koper dan pulang ke desanya di kaki Gunung Semeru, Lumajang.
"Aira, ini tolong bumbu baladonya sedikit diratakan lagi ya, Nduk," puji Bu Astri, pemilik pabrik keripik rumahan tempat Aira bekerja sekarang.
"Nggih, Bu," jawab Aira lembut, tangannya yang cekatan mengaduk keripik singkong di dalam baskom besar.
Pekerjaan ini menyelamatkan Aira dari status pengangguran total. Tapi gajinya, hanya cukup untuk uang jajan harian dan membantu sedikit beras untuk ibunya, jauh dari kata cukup untuk membalas budi orang tuanya yang telah membiayai kuliahnya dengan susah payah.
Meskipun, Aira kuliah dari beasiswa. Namun, untuk kebutuhan sehari-hari, Aira tetap menggunakan uangnya sendiri. Belum lagi jika harus membeli perlengkapan kuliah yang tentu saja membutuhkan uang yang tidak sedikit, Aira sudah bekerja saat kuliah dan tetap saja uang tersebut kurang.
Saat ini, bukannya Aira tidak berusaha, bahkan kamarnya sendiri adalah saksi bisu dari ratusan lembar surat lamaran kerja yang ia kirimkan secara daring. Dari perusahaan swasta di Surabaya, bank BUMN, hingga tiga kali mencoba seleksi Pegawai Negeri Sipil. Hasilnya, selalu mentok di pengumuman akhir, entah bagaimana selalu kalah bersaing atau mungkin belum beruntung.
"Sarjana kok kerjanya cuma di pabrik keripik, ya? Eman-eman biayanya," bisik-bisik tetangga sesekali mampir ke telinganya.
Sakit, tentu saja. Namun Aira hanya bisa tersenyum tipis dan menelan bulat-bulat harga dirinya.
Sore ini, setelah jam kerjanya usai, Aira berjalan kaki menyusuri jalanan desa yang mulai berkabut. ponselnya yang retak di bagian pojok bergetar dan sebuah notifikasi email masuk. Jantungnya berdegup kencang.
"Apa ini balasan dari lowongan kerja sebagai staf administrasi di Malang yang ia lamar minggu lalu?" gumam Aira penuh harap.
Dengan tangan gemetar, ia membuka email tersebut.
"... Kami berterima kasih atas ketertarikan Anda. Namun saat ini, kualifikasi Anda belum sesuai dengan kebutuhan perusahaan kami..."
Aira menghela napas panjang, bahunya merosot. "Gagal lagi," gumam Aira.
Aira menghentikan langkahnya di dekat jembatan kecil pembatas desa, memandang hamparan sawah hijau yang mulai menggelap.
Air mata yang sejak tadi ditahannya runtuh juga. Aira melipat lutut, menenggelamkan wajahnya di atas lipatan tangan di atas pembatas jembatan desa. Angin sore Semeru yang dingin menusuk kulit, seolah ikut menertawakan nasibnya.
Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk terus-menerus memupuk harapan yang selalu berakhir layu sebelum berkembang dan Aira merasa seperti produk gagal. Di kota ia terdepak, di desa ia menjadi bahan gunjingan.
"Nduk, kok belum pulang? Sudah mau magrib, lho," Sebuah suara lembut yang sangat ia kenal membuat Aira buru-buru menghapus air matanya.
Aira menoleh dan mendapati ibunya, Ibu Astri, berdiri tak jauh darinya dengan mendekap sebungkus kecil sayuran. Wajah wanita paruh baya itu tampak lelah, gurat-gurat usia tak bisa menyembunyikan sisa-sisa kerja kerasnya hari ini sebagai buruh tani.
"Eh, Ibu. Nggih, ini mau pulang kok, Bu. Tadi cuma mau lihat pemandangan sebentar," kilah Aira, mencoba menyunggingkan senyum terbaik yang ia punya.
Ibu Astri berjalan mendekat, menatap mata sembab putrinya. Sebagai ibu, beliau tentu tidak butuh penjelasan panjang lebar untuk tahu bahwa anak gadisnya sedang tidak baik-baik saja. Dengan lembut, tangan ringkih yang kasar karena kapalan itu mengusap sisa air mata di pipi Aira..
"Gagal lagi ya, Nduk?" tanya Ibu Astri pelan, nyaris berbisik.
Aira tidak bisa berbohong, ia hanya mengangguk lemah dan menunduk dalam-dalam karena merasa bersalah.
"Maaf ya, Bu. Aira belum bisa buat Ibu bangga. Padahal Aira sudah sarjana, tapi... tapi buat dapat kerjaan yang layak saja susahnya setengah mati, Aira ngerasa jadi beban," lirih Aira.
Ibu Astri tersenyum teduh, lalu merangkul bahu Aira dan menuntunnya untuk berjalan beriringan menuju rumah bambu mereka yang sederhana.
"Siapa yang bilang kamu beban? Ibu gak pernah mikir begitu. Kuliahmu dulu hasil jerih payahmu sendiri, kamu kerja paruh waktu sampai kurang tidur. Ibu malah bangga punya anak sekuat kamu. Gusti Allah itu mboten sare, Aira. Mungkin rezekimu memang bukan di kantor-kantor tinggi itu. Sekarang, sing penting dijalani dulu yang ada, sing ikhlas," ucap Ibu Astri menenangkan.
Ucapan Ibu Astri sedikit memberikan kehangatan di hatinya yang beku. Namun, kenyataan esok hari tetap tidak berubah.
.
Pagi harinya, kabut tipis khas kaki Gunung Semeru masih setia menyelimuti jalanan aspal desa yang retak di beberapa bagian, Aira merapatkan jaket rajutnya yang mulai pudar warnanya. Dengan langkah kaki yang dipaksakan tegap, ia berjalan menuju pabrik keripik rumahan milik Bu Rika.
Aira mencoba menanamkan dalam-dalam nasihat ibunya semalam, ia harus ikhlas dan sabar. Namun, sekokoh apa pun benteng pertahanan mental yang dibangun Aira, kenyataan pagi ini kembali mengujinya.
Dari arah berlawanan, seorang wanita paruh baya dengan daster batik mencolok dan tas belanjaan anyaman berjalan mendekat. Wanita itu adalah Bu Romlah, ibunya Pandu, teman sekelas Aira waktu SMA dulu. Di desa ini, Bu Romlah terkenal sebagai kantor berita berjalan yang punya radar tajam untuk urusan hidup orang lain.
"Eh, Mbak Aira! Jam segini sudah rapi, mau berangkat ke kantor pusat keripik ta?" sapa Bu Romlah dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, lengkap dengan senyum yang tak sampai ke mata.
Aira menghentikan langkahnya, mencoba sesopan mungkin. "Nggih, Bu Romlah. Badhe pangkat kerja (Mau berangkat kerja)," jawab Aira ramah.
Bu Romlah menghentikan langkah tepat di depan Aira, memandang Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Duh, eman-eman tenan yo, Nduk. Saya itu kalau ingat dulu kamu pamit kuliah ke Bandung, ikut beasiswa apa itu namanya, gaya betul. Satu desa ikut bangga, kirain pulang-pulang bakal jadi bos di Jakarta," ucap Bu Romlah.
Dada Aira berdenyut nyeri, namun ia tetap bertahan dengan senyum tipisnya. "Belum rezekinya di kota, Bu," balas Aira.
"Ya tapi kan kamu itu Sarjana, Aira. Sarjana Ekonomi, toh? Masa ujung-ujungnya cuma jadi buruh ngaduk bumbu balado di tempatnya Bu Rika? Itu mah si Dina yang lulusan SD juga bisa. Gajinya di sana berapa sih? Gak sampai satu juta kan sebulan? Duh, buat beli bedak saja kurang itu. Lihat si Pandu, biarpun cuma lulusan SMA, sekarang sudah jadi supervisor toko swalayan di Lumajang kota, gajinya sudah UMK," cetus Ibu Romlah tanpa beban.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal