Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Titah sang Penguasa Absolut
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti seisi Aula Sidang Agung Kekaisaran bawah. Udara dingin yang mengalir dari botol kristal berisi esensi kutukan hitam di tangan Kapten Alden seolah membekukan sirkulasi napas ribuan pasang mata yang hadir.
Di atas singgasana emas, Kaisar Tertinggi Valerius masih menatap lurus ke arah dokumen logistik yang diserahkan oleh Mayor Cakra, sebelum pandangannya beralih perlahan menatap Marsekal Vane yang kini pelipisnya mulai dibanjiri keringat dingin.
Kaisar Valerius mengangkat palu emas di tangan kanannya, lalu mengetukkannya satu kali ke atas landasan kayu jati kuno.
TOK!
Suara ketukan tunggal itu bergaung berat, meremukkan sisa-sisa kesabaran di dalam ruangan. "Marsekal Vane," panggil Kaisar Valerius, nadanya begitu datar namun menyimpan tekanan magis yang sanggup melumpuhkan persendian. "Segel sihir otoritas yang tertera dalam dokumen ini adalah segel murni yang tidak bisa dipalsukan oleh siapa pun, termasuk oleh seorang perwira tinggi setingkat Kapten Alden. Bagaimana kau menjelaskan jalur pasokan racun sekte terlarang ini yang mengalir langsung di bawah pengawasan Divisi Zirah Hitam milikmu?"
Marsekal Vane melangkah mundur satu langkah, rahangnya yang dipenuhi jenggot kelabu bergetar hebat. Kebanggaan wibawa militernya selama puluhan tahun runtuh dalam hitungan menit di hadapan bukti tak terbantahkan ini. "Yang Mulia... ini adalah konspirasi tingkat tinggi yang dirancang oleh pembangkang Alden untuk menjatuhkan posisi saya! Saya tidak pernah bekerja sama dengan Sekte The Obsidian Dawn!"
"Cukup, Vane!" potong Kaisar Valerius lantang, membuat kepulan lilin sihir yang melayang di udara mendadak bergoyang tidak stabil. "Kehormatan militer Kekaisaran ini telah kau nodai demi ambisi pribadimu. Atas nama takhta tertinggi, mulai detik ini, seluruh gelar militermu dicopot, hak komandomu atas Divisi Zirah Hitam dibekukan, dan kau akan ditahan di Menara Isolasi Barat hingga penyelidikan menyeluruh selesai dilaksanakan!"
"Pengawal! Seret mantan Marsekal Vane keluar dari aula!" perintah Kaisar mutlak.
Puluhan prajurit penjaga istana lapis baja perak, yang bukan bagian dari faksi zirah hitam, langsung bergerak cepat. Mereka mengepung Marsekal Vane yang kini tertunduk lesu, melucuti pedang komando emasnya dengan sentakan kasar, lalu menyeret pria paruh baya itu keluar menembus pintu ganda aula di bawah tatapan ngeri para menteri dewan yang sebelumnya memihak kepadanya.
Di tengah riuhnya kepuasan batin yang dirasakan oleh kelompok Alden, sepasang mata abu-abu badai sang Kapten tidak sedikit pun mengendurkan kewaspadaannya. Pandangan tajam Alden beralih, mengunci sosok pria berjubah biru keperakan yang berdiri tidak jauh dari podium utama.
Penasihat Sihir Brakala. Pria licik itu berdiri dengan posisi bersedekap dada. Meskipun sekutu politik utamanya baru saja ditumbangkan secara tragis, ekspresi wajah Brakala yang sempat pucat kini telah kembali tenang, digantikan oleh seulas senyuman tipis yang sangat dingin di sudut bibirnya yang tampan namun berdarah dingin. Sebagai seorang manipulator ulung, Brakala tahu kapan harus memotong ekor kadal demi menyelamatkan kepalanya sendiri.
Brakala melangkah maju, menjauh dari bekas posisi Marsekal Vane, lalu membungkuk dengan hormat yang sangat dramatis di hadapan Kaisar Valerius.
"Keputusan yang sangat bijaksana, Yang Mulia Kaisar yang agung," buka Brakala, suaranya kembali terdengar halus dan memikat, seolah-olah ia tidak pernah terlibat dalam konspirasi logistik tersebut. "Tindakan mantan Marsekal Vane yang bersekongkol dengan sekte hitam adalah noda besar bagi kita semua. Saya, sebagai Penasihat Sihir Anda, sangat bersyukur bahwa Kapten Alden berhasil menyingkap borok ini tepat pada waktunya demi keselamatan Kekaisaran bawah."
Mendengar pembalikan kata yang begitu menjijikkan dari mulut Brakala, Clara mengepalkan jemari tangan kirinya hingga memutih. Keberaniannya kembali tersulut. "Jangan berlagak menjadi pahlawan kesiangan, Brakala! Kau tahu persis bahwa esensi kutukan yang menyerang anak-anak kami ditenun menggunakan sirkuit sihir makro yang hanya bisa diakses oleh Penasihat Sihir istana! Kau adalah otak di balik penderitaan Rin dan Toby!"
Brakala menoleh perlahan ke arah Clara. Tatapan matanya yang tajam berkilat penuh intimidasi, menatap wanita tanpa sihir itu seolah-olah Clara hanyalah sebutir debu yang tidak berarti di bawah sepatunya.
"Nyonya Clara yang terhormat," desis Brakala dengan nada meremehkan yang sarat racun. "Tuduhan tanpa bukti fisik yang mengarah padaku adalah bentuk pencemaran nama baik di atas altar sidang ini. Dokumen logistik tadi hanya mencantumkan segel mantan Marsekal Vane, bukan namaku. Namun...."
Brakala menjeda kalimatnya, berbalik kembali menghadap Kaisar Valerius dengan senyuman kemenangan yang kian mengunci. "Jika kita berbicara tentang hukum Kekaisaran yang murni, keberhasilan Kapten Alden membersihkan namanya tidak menghapus pelanggaran hukum domestik yang sedang terjadi di dalam kediamannya."
Brakala meraba saku jubah biru keperakannya, lalu mengeluarkan sebuah gulungan perkamen hukum berstempel emas resmi dari Dewan Perlindungan Anak Kekaisaran. "Yang Mulia Kaisar, berdasarkan dekrit pasal garis darah militer, ketiga anak kandung Kapten Alden, Leo, Rin, dan Toby, merupakan aset magis berharga milik negara karena memiliki inti sihir unik seperti Phoenix. Hukum menyatakan bahwa anak-anak dengan potensi sebesar itu tidak boleh diasuh oleh seorang wanita cacat yang kehilangan inti sihirnya seperti Clara, karena dianggap membahayakan kestabilan mental dan perkembangan sihir anak."
"Oleh karena itu." Brakala menatap Clara dengan guratan kepuasan yang luar biasa kejam, "atas nama dewan hukum, saya mengajukan tuntutan resmi untuk mencabut hak asuh ketiga anak tersebut dari tangan Clara, dan memindahkan wewenang pengawasan mereka di bawah lembaga sihir yang saya pimpin!"
WUZUUUCH!
Tekanan udara di dalam Aula Sidang Agung mendadak merosot drastis hingga ke titik beku yang mengerikan. Aura badai safir di sekujur tubuh Kapten Alden meledak hebat, menciptakan pusaran angin bertekanan tinggi yang tak kasat mata di sekitar kakinya.
Bilah pedang The Zephyr Blade yang berada di pinggangnya bergetar keras, memancarkan niat membunuh yang begitu murni hingga membuat beberapa menteri di barisan depan spontan mundur karena ketakutan.
Langkah tegap Alden maju satu langkah, sepenuhnya menyembunyikan tubuh Clara di balik punggung lebar jubah perangnya. Mata abu-abu badai Alden menyipit tajam, menatap Brakala seolah pria pirang itu sudah menjelma menjadi sesosok mayat di matanya.
"Kau berani menyentuh seujung rambut dari anak-anakku, Brakala... dan aku bersumpah demi kehormatan militerku, kepala dan seluruh garis keturunanmu akan kuhapus dari sejarah samudra langit ini," ujar Alden dengan suara bariton yang sangat rendah namun sarat penegasan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.
Kaisar Valerius yang melihat situasi kian memanas segera mengetukkan kembali palunya, meredam pusaran angin sihir milik Alden sebelum merusak struktur pualam aula.
"Tahan emosimu, Kapten Alden," perintah Kaisar Valerius tegap. "Penasihat Brakala bergerak di bawah koridor hukum tertulis Kekaisaran yang sah. Sidang malam ini difokuskan pada pembelotan militer, dan tuntutan mengenai hak asuh anak domestik akan ditunda hingga dewan hukum melakukan sidang peninjauan kembali satu bulan dari sekarang."
Kaisar Valerius kemudian menatap Alden dan Clara bergantian. "Status militer Kapten Alden dipulihkan sepenuhnya, dan armada The Sky Leviathan dibebaskan dari segala tuduhan pembelotan. Kalian diizinkan kembali ke kediaman kalian di pelabuhan udara selatan, namun bersiaplah untuk menghadapi persidangan domestik terkait hak asuh anak bulan depan."
"Sidang Agung ditutup!"
Di balik dinding partisi kayu jati tua yang besar, Hana melepaskan napas lega yang teramat panjang hingga tubuhnya nyaris luruh ke lantai marmer kalau saja tidak ditahan oleh Mayor Cakra yang berdiri di sampingnya dengan senyum tegap yang tipis. Nama baik Kapten mereka telah bersih, dan Marsekal Vane telah tumbang. Namun, ancaman dari Brakala barusan menandakan bahwa pertempuran mereka belum benar-benar selesai.
Saat badai politik di dalam aula mulai mencair dan para menteri membubarkan diri, Alden berbalik menghadap Clara. Kedua tangan hangatnya yang besar langsung meraih jemari Clara, meremasnya lembut untuk menyalurkan kekuatan murni yang ia miliki.
"Kita pulang ke kapal sekarang, Clara. Anak-anak menanti kita," bisik Alden, sorot matanya yang kaku kini sepenuhnya dipenuhi oleh rasa protektif dan posesif yang luar biasa kuat kepada istrinya. "Brakala boleh menggunakan seluruh trik hukum busuknya, tetapi selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun monster kekaisaran yang bisa memisahkan kita berlima."
Clara menatap dalam-dalam sepasang mata abu-abu badai suaminya, merasakan kehangatan murni yang mengalir mengusir sisa-sisa trauma masa lalu dari Brakala. Perlahan, seulas senyum tegar kembali terukir di wajah manisnya.
Misi luar mereka untuk menumbangkan Marsekal Vane telah tuntas dengan gemilang, namun pertempuran domestik yang sesungguhnya untuk melindungi keutuhan rumah tangga dan cinta mereka dari kelicikan Brakala di jalur hukum baru saja resmi dimulai.