Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Suara mesin mobil berhenti tepat di depan rumah. Aurel tidak bergerak. Ia tetap duduk di sofa dengan kedua tangan terlipat di pangkuannya. Lampu ruang tamu sengaja tidak ia nyalakan. Hanya cahaya temaram dari lampu teras yang menyelinap melalui jendela, menciptakan bayangan panjang di lantai.
Tidak lama kemudian terdengar suara kunci diputar. Pintu utama terbuka perlahan.
Mahesa melangkah masuk sambil menarik napas panjang. Namun langkahnya langsung terhenti.
"Aurel..." Suara Mahesa nyaris tak terdengar.
Di tengah ruang tamu yang gelap, siluet istrinya masih duduk diam menatap lurus ke arahnya. Mahesa menelan ludah. Ia sudah membayangkan Aurel akan menangis, mengamuk, atau melemparkan barang-barang ke arahnya. Namun yang ia lihat justru jauh lebih mengerikan. Aurel diam. Tatapan Aurel begitu datar. Tidak ada air mata. Tidak ada bentakan. Hanya kesunyian yang membuat napas Mahesa terasa semakin berat.
Mahesa perlahan menutup pintu di belakangnya. Rumah yang biasanya terasa hangat kini berubah menjadi tempat yang asing.
"Aurel..." Mahesa mencoba mendekat.
"Jangan." Kata Aurel. Satu kata itu berhasil menghentikan langkah Mahesa
Mahesa membeku. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa meter, tetapi terasa seperti jurang yang tak mungkin diseberangi.
"Aku..." Mahesa membuka mulut, lalu kembali menutupnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus memulai dari mana. Apa yang harus ia jelaskan? Bahwa semua ini berawal dari sebuah kesalahan? Bahwa ia sebenarnya mencintai Aurel? Atau bahwa hubungan itu terjadi begitu saja? Semua alasan terdengar murahan. Apalagi setelah tujuh tahun. Mahesa mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Dalam perjalanan pulang, Mahesa sudah mencoba menyusun berbagai kalimat. Namun kini, saat berhadapan langsung dengan Aurel, semua kata itu lenyap begitu saja. Yang tersisa hanyalah rasa takut. Takut kehilangan perempuan yang selama ini menjadi rumahnya. Dan yang lebih membuatnya terpukul. Ia sama sekali tidak siap menghadapi malam ini. Ia tidak pernah menyangka Kayla akan membuka semuanya secepat ini. Selama ini mereka selalu sepakat untuk merahasiakan hubungan itu. Setidaknya sampai. Bahkan Mahesa sendiri tidak tahu sampai kapan. Karena setiap kali ingin mengakhirinya, Kayla selalu memohon agar ia bertahan. Dan setiap kali ingin meninggalkan Aurel, hatinya tak pernah sanggup. Selama tujuh tahun Mahesa hidup di antara dua perempuan. Mengira ia mampu mengendalikan semuanya. Padahal kenyataannya, Ia hanya sedang menunda kehancuran.
Mahesa mengembuskan napas pelan. "Rel..." Suaranya serak.
"Aku tahu kamu marah."
Aurel akhirnya mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu.
"Marah?" Aurel tersenyum tipis.
Entah mengapa, senyum Aurel membuat Mahesa jauh lebih takut daripada jika Aurel menamparnya.
"Aku bahkan nggak tahu perasaan ini masih bisa disebut marah atau nggak." kata Aurel.
Mahesa terdiam.
"Aku cuma mau tanya satu hal." Aurel berdiri perlahan. Langkahnya tenang menghampiri Mahesa. Berhenti tepat satu meter di depan Mahesa.
"Tujuh tahun lalu..."
Mahesa mulai merasakan jantungnya berdetak semakin kencang.
"Malam saat aku melahirkan anak kita..." Suara Aurel mulai bergetar, tetapi tatapannya tetap tajam.
"kamu bilang sedang bekerja." Aurel menarik napas dalam.
"Lalu sekarang jawab aku dengan jujur." Aurel menatap lurus ke dalam mata suaminya.
"Malam itu... kamu benar-benar sedang bekerja?"
Ruangan kembali hening. Mahesa menundukkan kepala. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu kata pun keluar.
Keheningan itu. Sudah menjadi jawaban yang paling menyakitkan bagi Aurel.
Mata Mahesa masih tertunduk. Pertanyaan Aurel menggantung di udara, menyesakkan dada keduanya.
"Jawab aku, Mahesa." Suara Aurel tetap tenang.
"Malam itu... saat aku melahirkan anak kita... kamu benar-benar sedang bekerja?"
Mahesa membuka mulut. "Rel, aku bisa jelaskan—"
"Cukup." Satu kata itu memotong kalimat Mahesa.
Aurel memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang.
"Aku nggak minta cerita."
"Aku cuma minta jawaban."
Mahesa menggenggam kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Beberapa detik berlalu. Lalu perlahan, Mahesa menggeleng. Sangat pelan. Namun cukup bagi Aurel untuk melihatnya.
Malam itu Mahesa tidak sedang bekerja. Jantung Aurel seperti diremas. Meski sudah menduga jawabannya, mendengar pengakuan tanpa kata itu tetap terasa menghancurkan.
Aurel tersenyum tipis. Senyum yang dipenuhi luka.
"Terima kasih."
Mahesa mengangkat kepala. "Aurel, tolong dengarkan aku."
"Tidak." Aurel mundur selangkah.
"Malam ini aku nggak mau dengar apa pun."
"Rel...."
"Aku capek." kata Aurel. Suaranya nyaris berbisik.
"Sangat capek." Tanpa memberi kesempatan Mahesa berbicara lagi, Aurel berbalik. Langkahnya pelan menuju kamar.
Pintu kamar tertutup. Kali ini tanpa dibanting. Tanpa tangisan. Hanya sebuah pintu yang menandai bahwa percakapan mereka telah selesai.
Mahesa berdiri seorang diri di ruang tamu. Ia tidak mengejar. Tidak mengetuk pintu. Ia tahu, Apa pun yang ia katakan malam ini tidak akan mengubah apa pun. Rumah yang selama ini dipenuhi tawa kini terasa begitu asing.
Mahesa akhirnya duduk di sofa. Sofa yang beberapa menit lalu diduduki Aurel. Ia menatap langit-langit rumah tanpa berkedip. Semalaman. Mahesa tidak benar-benar tidur.
♡♡♡
Mentari pagi mulai menyelinap melalui jendela. Jam menunjukkan pukul enam. Seperti biasanya, Mahesa bangun lebih dulu. Namun kali ini tidak tercium aroma kopi. Tidak ada suara penggorengan dari dapur. Tidak ada lagu yang biasa diputar Aurel setiap pagi. Rumah terasa sunyi.
Mahesa berjalan menuju dapur. Kosong. Ia menoleh ke meja makan. Tidak ada sarapan. Tidak ada bekal makan siang yang biasanya sudah disiapkan rapi. Semuanya kosong.
Baru kali ini, Mahesa menyadari betapa banyak hal kecil yang selama ini dilakukan Aurel untuknya. Hal-hal yang selalu ia anggap biasa. Ternyata begitu berarti ketika semuanya menghilang.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki. Aurel keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapi. Rambutnya disanggul sederhana. Riasan tipis menutupi matanya yang semalam sembab. Ia berjalan melewati Mahesa tanpa menoleh sedikit pun. Seolah laki-laki itu tidak ada di hadapannya.
"Aurel..." Mahesa memberanikan diri memanggil.
Aurel berhenti. Namun tidak berbalik.
"Aku... minta maaf." Kalimat Mahesa menggantung di udara.
Beberapa detik kemudian, Aurel kembali melangkah. Tanpa sepatah kata. Ia mengambil tas kerjanya, kunci mobil, lalu mengenakan sepatu.
Mahesa mengikuti dari belakang. "Rel, tolong... kasih aku kesempatan buat jelasin."
Kali ini Aurel menoleh. Tatapannya dingin.
"Dalam tujuh tahun, kamu punya ribuan kesempatan untuk jujur." Suara Aurel datar.
"Tapi kamu memilih diam." lanjut Aurel.
Mahesa terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa
"Jadi jangan minta aku memberi kesempatan sekarang." kata Aurel yang kemudian membuka pintu rumah.
Sebelum melangkah keluar, Aurel berkata pelan tanpa melihat ke arah Mahesa. "Mulai hari ini... urus kebutuhanmu sendiri."
"Laundry."
"Makan."
"Dan apa pun itu."
"Aku sudah berhenti menjadi istrimu."
Kalimat Aurel menghantam Mahesa lebih keras daripada teriakan.
Pintu rumah kembali tertutup. Mahesa hanya mampu berdiri mematung. Mendengar suara mesin mobil Aurel yang perlahan menjauh. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Rumah itu terasa benar-benar kosong.