Dikhianati hingga tewas di dunia modern, Anya, seorang CEO jenius ahli strategi investasi, bertransmigrasi ke tubuh Permaisuri Xian—seorang istri kaisar yang lemah, miskin, dan ditindas oleh para selir di istana belakang.
Namun, si licik salah memilih lawan. Jiwa yang baru ini tidak mengenal kata menyerah. Menggunakan ilmu ekonomi modern, Anya mengobrak-abrik Paviliun Logistik, menyikat habis menteri korup, dan membalikkan keadaan hingga para musuhnya gemetar ketakutan!
Di tengah aksi balas dendamnya yang badass, Kaisar Liang yang dingin dan berwibawa justru mulai mendekat, terpikat oleh kepakan sayap sang Ratu yang baru.
"Kau sangat menarik, Xian. Katakan padaku... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 MANEJEMEN RANTAI PASOK MILITER MODERN
Setelah Kaisar Liang berangkat menuju medan perang utara bersama dengan seratus lima puluh ribu pasukan elit Zirah Hitam, Anya langsung mengubah fungsi Istana Phoenix menjadi markas komando logistik terpadu. Di duniaku yang lama, sebuah perang besar jarang sekali dimenangkan oleh taktik jenius di medan pertempuran belaka; sebagian besar kemenangan ditentukan oleh efisiensi sistem logistik di belakang layar. Siapa yang bisa mengirimkan makanan, obat-obatan, dan amunisi dengan waktu tunggu (lead time) paling singkat ke garis depan, dialah yang akan keluar sebagai pemenang mutlak.
Anya mengumpulkan seluruh kepala klan dagang yang kini berada di bawah naungan Badan Usaha Dagang Milik Kekaisaran (BUDMK). Di atas meja bundar raksasa miliknya, peta jalur darat menuju perbatasan utara kini dipenuhi oleh berbagai penanda warna-warni yang menunjukkan posisi gudang penyimpanan sekunder (distribution center).
"Sistem logistik militer lama yang menggunakan sistem pengiriman konvensional dari ibu kota langsung ke garis depan sangat tidak efisien dan rentan terhadap sabotase," urai Anya di depan para pejabat Kementerian Logistik yang tampak tegang. "Jarak dari sini ke perbatasan utara adalah seribu mil. Jika kereta gandum kita harus menempuh jarak itu sekaligus, para kusir dan kuda akan menghabiskan sepertiga dari muatan makanan tersebut di tengah jalan hanya untuk konsumsi mereka sendiri. Ini adalah pemborosan aset yang sangat bodoh."
Anya mengetukkan tongkat peraknya pada lima titik strategis di sepanjang jalur utara. "Mulai hari ini, kita akan menerapkan 'Sistem Distribusi Berantai' (cross-docking). Kita mendirikan lima gudang transit utama dengan jarak masing-masing dua ratus mil. Kereta logistik dari ibu kota hanya bertugas mengantar barang hingga ke Gudang Transit Pertama, lalu kembali ke ibu kota. Kereta dari Gudang Pertama akan mengangkut barang ke Gudang Kedua, dan seterusnya. Dengan cara ini, kuda dan pekerja tidak akan pernah kelelahan, waktu pengiriman bisa dipangkas hingga lima puluh persen, dan kita bisa mendeteksi dengan cepat jika terjadi keterlambatan atau korupsi pasokan di salah satu titik."
Selain merombak sistem distribusi fisik, Anya juga memperkenalkan inovasi baru dalam hal efisiensi makanan komparatif. Dia memerintahkan departemen dapur istana untuk memproduksi "Ransum Kering Padat" yang terbuat dari campuran tepung gandum, daging sapi kering yang ditumbuk halus, dan garam mineral yang kemudian dipres menggunakan mesin cetak besi hingga mengeras. Ransum ini sangat ringan, tidak mudah membusuk meskipun disimpan dalam lingkungan lembap selama berbulan-bulan, dan mampu memberikan kalori tinggi bagi para prajurit hanya dengan memakannya bersama air panas.
"Inovasi ransum ini akan memotong volume muatan kereta logistik kita hingga empat puluh persen," jelas Anya kepada Kasim Wang yang sibuk mencatat. "Ruang kosong di dalam kereta dagang tersebut akan kita gunakan untuk mengangkut amunisi tambahan: lima puluh ribu tabung mesiu peledak dan panah berlapis besi yang diproduksi oleh galangan kapal Jiangnan. Pasukan Temur Khan mengandalkan kecepatan kuda mereka, namun mereka tidak akan bisa berlari lebih cepat daripada hujan proyektil besi berdaya ledak tinggi yang kita kirimkan."
Malam harinya, setelah menyelesaikan lembar audit pengiriman logistik untuk minggu pertama, Anya berjalan menuju balkon Istana Phoenix. Angin malam yang bertiup dari utara terasa semakin dingin, membawa serta butiran debu pasir yang menandakan bahwa musim gugur di perbatasan utara pasti jauh lebih kejam. Anya memeluk tubuhnya sendiri, sepasang mata indahnya menatap ke arah kegelapan malam dengan perasaan cemas yang tidak bisa dia sembunyikan dalam monolog batinnya.
“Liang... aku telah membangun sistem pendukung terbaik yang bisa diciptakan oleh logika manusia modern untukmu,” pikir Anya, bayangan wajah tampan suaminya yang berambut panjang terurai malam itu kembali melintas di benaknya. “Aku telah mengamankan makananmu, senjatamu, dan jalur pulangmu. Tugasmu sekarang adalah bertahan hidup di tengah badai pasir itu dan kembali ke pelukanku dalam keadaan utuh. Jangan berani-berani mati di medan perang itu, karena tahta ini tidak akan pernah menarik lagi bagiku jika bukan kau yang duduk di sampingku.”