NovelToon NovelToon
Headline 29

Headline 29

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lindra Ifana

"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."

Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.

Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.

Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Bertemu

Akhirnya Aurel sampai di depan gerbang besi hitam, di alamat yang Dita kirim padanya. Seorang satpam membenarkan jika rumah ini adalah kediaman Dirgantara.

Rumah dua lantai bercat putih itu tidak seperti bayangannya. Dia mengira akan melihat mansion mewah seperti rumah CEO di novel novel yang ia baca. Rumah dengan halaman yang luas, dipenuhi dengan pohon mangga yang sedang berbuah. Rumah yang adem untuk dijadikan tempat tinggal.

"Mbak Aurel ya?.Sudah ditunggu Nyonya di dalam."

Di tunggu Nyonya? Apa telinganya salah dengar? Dia bahkan baru sekali berkunjung disini, mana mungkin ia kenal nyonya di rumah ini.

Setelah memarkir mobilnya Aurel segera berjalan ke arah pintu masuk. Ditangannya ada satu paket keranjang buat dan satu kantong plastik berisi obat oles dan plester luka bergambar D*ra Emon.

Tak lama seorang wanita paruh baya keluar membuka pintu, dia masih sangat cantik di usianya.

"Assalamualaikum Bu..."

"Walaikumsalam, Nak Aurel y? Kok repot gini sih bawa buah segala. Tapi makasih sudah mau main kesini. Ayo masuk, udah ditungguin bayi gede tuh," sambut Ratna menyerahkan parcel buah pada asisten rumah tangganya.

"Masya Allah bener kata Adrian, kamu cantik sekali sayang," sambung Ratna, dia suka dengan penampilan Aurel yang tidak berlebihan. Namun sangat elegan.

Aurel menanggapi hanya dengan sebuah senyuman canggung, tak ia sangka seorang nyonya Dirgantara akan seramah ini.

Di ruang tamu Aurel melihat Adrian terbaring di sofa. Selimut tipis menutup sampai dada. Mata kanannya membiru dan bibirnya pecah. Pria itu tersentak melihat kehadirannya, berusaha bangun.

"Hai, kamu datang juga." Sapa Adrian bersemangat, dia segera beranjak agar dapat duduk bersebelahan dengan bidadarinya. Tapi niatnya patah hanya karena sebuah suara.

"Tidur," sentak Ratna tanpa menoleh. "Biar lbu yang handle tamunya. Kamu urus muka kamu yang kayak ketiban genteng itu."

Aurel menahan senyum ketika melihat raut Adrian, sama seperti raut anak sepuluh tahun yang di minta permennya. Alhasil pria itu hanya melambaikan satu tangannya.

"Makasih udah kesini..."

Aurel duduk di kursi rotan seberang sofa. Entah kenapa jantungnya berpacu dengan cepat saat duduk berhadapan dengan Nyonya Besar Dirgantara.

"Kerja di mana, Nak?" tanya Ratna ,"Kata Adrian di Sudirman?"

"Iya, Bu. Saya Staff IT Support. Udah 6 tahun," jawab Aurel. Suaranya lebih kecil dari biasanya.

"Enam tahun... lama juga. Berarti kamu anaknya setia, ya?" Ratna mengangguk angguk sendiri. "Rumah di Bekasi sama Ibu aja? Ayahnya udah nggak ada sejak SMP, kata Adrian kemarin."

Aurel terkejut. "Nyonya...Adrian cerita semua?"

"Jangan Nyonya. Panggil ibu saja, seperti Adrian memanggil ibu. Dia kalau jatuh cinta, mulutnya suka ember, Nak," Ratna tertawa kecil. Ia menyodorkan tisu ke Adrian yang batuk.

"Terus sampai sekarang belum mau terikat dengan pernikahan? Nggak apa-apa. Ibu dulu juga nikah umur tiga puluh tahunan. lbu nunggu jodoh yang bisa di ajak hidup sama sama."

Aurel menunduk. Pipinya panas. "Ibu..."

"Sayang belum bisa ketemu ayah ya, beliau lagi di Australia nemenin kakaknya Adrian yang lagi bangun usaha baru," sambung Ratna.

"Oh iya, kamu suka makan apa? Pedes? Manis?" sambung Ratna, bersama Aurel dua seperti punya anak perempuan baru.

"Adrian ini kalau sakit maunya yang manis-manis. Es teh manis, roti sobek, sup ayam Ibu juga harus banyak kecapnya. Katanya biar cepet sembuh."

"Eh... saya apa aja, Bu. Nggak pilih-pilih," jawab Aurel gugup. Ia melirik Adrian yang kesekian kalinya menyembunyikan senyum di balik selimut.

Ratna tiba-tiba diam. Ia menatap luka di pipi Adrian, lalu menatap Aurel. Tatapannya berubah. Tidak lagi seperti ibu ibu cerewet, ini tatapan CEO versi perempuan.

"Nak," panggil Ratna pelan. "Kemarin malam Nak Aurel ada di mana?"

Aurel kaget. "Eh... di Blok M, Bu. Ketemu... Mas Adrian."

"Ketemu Adrian, terus pulang jam berapa?"

"Jam 9 kurang, Bu. Tapi di jalan Mas Adrian... katanya dicegat preman."

"Preman," ulang Ratna. Ternyata Aurel belum tahu jika mantannya yang bernama Wisnu adalah otak semuanya. Tanpa sepengetahuan Adrian semalam Dion melaporkan semua padanya.

Malam itu Adrian tak mau di beri pengawalan, putranya ingin privasi sepenuhnya atas kencan pertamanya dengan Aurel. Sebenarnya masih ada satu penjaga yang mengawasi, bahkan ingin maju saat pengeroyokan itu terjadi. Tapi Adrian melarang penjaga mendekat.

Aurel mengangguk pelan. "Iya, Bu. Katanya begitu."

Ratna bersandar ke sofa. Ia menatap foto Adrian kecil di dinding. Bocah sepuluh tahun itu memakai seragam karate, sabuk kuning dan senyum lebar dengan dua gigi depan yang ompong.

"Adrian itu Nak," Ratna mulai bercerita, suaranya lembut tapi jelas. "Dari TK udah manja. Kalau jatuh, nangisnya harus digendong Ibu baru diem. Tapi keras kepala minta ampun. Umur 12 tahun, Ibu larang ikut lomba taekwondo DKI karena bentrok ujian. Dia kabur dari rumah. Pulang-pulang kuping kirinya biru kehitaman, bengkak kayak bakpao. Tapi di tangan pegang medali emas."

Aurel melirik Adrian. Pria yang kemarin melawan Wisnu tanpa ragu, sekarang meringis ketika Ratna menyentuh keningnya.

"Kuliah di Singapura tiga tahun lulus. Pulang langsung bikin Kata Raya Dia nggak mau pegang Dirgantara Corp dengan alasan ingin mandiri.Tidur hanya empat jam sehari." Ratna melirik Aurel, matanya berkaca-kaca.

"Ibu bangga dia jadi CEO umur segini. Dia keras kepala banget, tapi dia penyayang...sama seperti ayahnya."

Ruangan hening. Hanya suara jam dinding 'tik tak tik tak'.

Aurel mengepalkan tangan di pangkuan. Ini pertama kalinya ia duduk formal ketemu ibu dari pria yang menyukainya. Dulu lima tahun menjalin hubungan dengan Wisnu, tak pernah sekalipun di ajak ke rumah. Untuk dikenalkan pada orang tuanya.

"Nak," Ratna memegang tangan Aurel. Tangannya hangat, "Ibu tanya, kamu yakin dua preman sama mantan kamu itu... beneran bisa bikin anak Ibu kayak gini?"

"Ma...mantan?" lirih Aurel, melirik Adrian yang mengangguk pelan. Entah mengiyakan atau memintanya untuk lebih tenang. Jadi Wisnu terlibat semua ini.

Aurel mengangkat kepala. "Saya... saya nggak lihat langsung, Bu. Saya denger kabar Mas Adrian sakit dari temen."

"Adrian juara karate DKI, Nak. Taekwondo sabuk hitam. Jiu-jitsu dia belajar sendiri dari YouTube. Kalau dia serius ngelawan, 30 detik orang orang itu udah di kirim ke rumah sakit," kata Ratna pelan. Ia mengusap pipi Aurel dengan jempol. "Jadi kalau dia bisa sebonyok ini, berarti cuma ada satu kemungkinan..."

Ratna berhenti. Ia menatap mata Aurel dalam-dalam.

"...dia sengaja kalah. Karena ada orang yang lebih penting dari harga dirinya sendiri."

Jantung Aurel seperti ditusuk jarum. Ia menoleh cepat ke Adrian. Pria itu pura-pura memejamkan mata, tapi bulu matanya bergetar. Ujung telinganya merah padam.

"Bu udah dong, katanya tadi mau sebentar doang ngomongnya. Keburu kangen ini!" protes Adrian pelan, suaranya serak.

"Orang bonyok nggak punya hak ngomong," sentil Ratna dahinya. "Mending kamu dengerin Ibu ngomong sama calon menantu Ibu."

"Calon menantu?!" Aurel tersedak. "Bu, saya sama Mas Adrian baru kenal seminggu..."

"Seminggu cukup, Nak," potong Ratna. Ia berdiri, masuk dapur kemudian kembali dengan membawa mangkok sup ayam yang masih mengepul asapnya. Mangkuk itu di letakkan tepat di depan Aurel.

"Ibu udah hidup 50 tahun. Ibu tahu mana yang bohong dan mana yang tulus. Mata Adrian waktu cerita tentang kamu... itu mata cowok yang udah nggak mau main-main lagi."

Aurel menatap sup ayam itu. Uapnya hangat, mengaburkan pandangannya. "Masih terlalu jauh Bu. Saya keras kepala, saya....."

"Bagus," sahut Ratna dengan cepat, tulus. "Adrian juga keras kepala. Kalau kalian sama-sama nurut, rumah tangga kalian pasti akan membosankan. Yang Ibu mau bukan menantu yang pinter masak. Ibu mau menantu yang kalau anak lbu bonyok, dia mau datang bawa obat jam 9 pagi hari Minggu. Bukan bawa alasan," canda Ratna. Dia tahu jika wanita di depannya sangat gugup.

Sudah saatnya Adrian memiliki pendamping. Hidup normal, tidak terus menerus 'di depan laptop menghitung neraca laba rugi.

Aurel merasa tersentuh dengan semua kata wanita disampingnya. Dua puluh sembilan tahun tahun ia menjadi anak penurut untuk ibunya. Hari ini, untuk pertama kalinya, ada Ibu orang. Tapi hari ini ada ibu lain yang mengatakan "Tak apa apa menjadi keras kepala".

"Jadi," bisik Ratna terakhir kali. "Jawab Ibu. Kamu marah nggak sama Adrian karena dia sengaja bonyok?"

Aurel menatap Adrian, begitupun Adrian yang ternyata menatapnya dari balik selimut.

Aurel menarik napas. "Marah, Bu," jawabnya jujur. Suaranya bergetar. "Marah karena dia bodoh. Tapi..."

"Tapi?" kejar Ratna.

"Tapi saya juga senang," bisik Aurel. Air matanya jatuh satu. "Senang karena... ada orang yang milih saya daripada egonya sendiri. Itu pertama kali buat saya, Bu."

Ratna langsung memeluk Aurel. Pelukan ibu. Kuat, hangat dan tidak menghakimi.

Dari sofa Adrian merengek, "Aku yang sakit, kenapa tidak ikut dipeluk??"

Ratna reflek menyentil kening putranya. Spontan Adrian memekik kaget.

"lni urusan perempuan..." sahut Ratna dan Aurel nyaris bersamaan, kemudian mereka tertawa.

1
Nur Ahmad
ceritanya ringan, CEO tapi merakyat
Mida
lanjut kak 💪
Nur Ahmad
uhuy jadian
Nur Ahmad
cemburu sama dengan cinta
lia juliati
🤭😄
Mida
lanjut kak jadi penasaran 🤭
Lindra: dukung terus yaaa🙏
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiiirrr😍
Lindra: tengkiuuhhh sayangkuhh🙏🙏
total 1 replies
Mira Hastati
bagus
Lindra: terimakasih dukungannya 🙏
total 1 replies
Nur Ahmad
🤣🤣🤣
Nur Ahmad
Adrian 😍😍😍
Nur Ahmad
co cuiittt
Nur Ahmad
uhuy kencan nih double A
Nur Ahmad
menunggu memang tak enak
Nur Ahmad
ceritanya lebih ringan dari novel emak kmrn yg aku baca
🦋⃞⃟𝓬🧸𝓩𝓮𝓵𝓵𝔂𝓷
/Applaud/
T.N
sempurna .... semangat kaka suka sekali sama karya-karyanya
Lindra: Terimakasih sudah ikut meramaikan karya emak🙏🙏
total 1 replies
Nur Ahmad
start disinii
Zul Denayu
Lanjut kak 💪💪🌹🌹🌹
lia juliati
itulah bila hati berkehendak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!