NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Rekaman Jurus Hitam.

Baru saja Erlang dan Sekar Arum melangkah keluar dari mulut lorong sempit gudang jagung untuk kembali menuju keramaian pasar malam distrik timur, embusan angin malam mendadak mati total. Keheningan yang tidak wajar seketika mengunci udara di sekitar mereka. Bau belerang bercampur hawa hitam yang jauh lebih pekat dan dingin daripada serangan sebelumnya tiba-tiba merayap keluar dari bayang-bayang dinding batu pembatas distrik.

Sret! Sret! Sret!

Bukan lagi tiga orang, melainkan lima sosok pembunuh bertopeng raksasa baru mendadak muncul dari kegelapan atap rumbia, langsung melompat membentuk formasi bintang lima yang mengurung Erlang dan Sekar di tengah pelataran tanah kering. Berbeda dengan prajurit sandiyuda tadi, kelima orang ini memancarkan aura keunguan yang bercampur dengan uap hitam pekat, sebuah tanda bahwa mereka telah menggabungkan teknik rahasia istana dengan ilmu hitam beraliran sesat.

"Waduh, paman-paman ini kok hobi sekali toh datang bergerombol tanpa diundang?" cetus Erlang santai, langsung menurunkan kembali pikulannya dengan entakan cepat ke atas tanah. "Padahal saya baru saja mau melangkah untuk membeli tahu petis hangat di depan sana."

"Erlang! Jangan bercanda dulu! Mereka mengaktifkan Formasi Pukat Jiwa Hitam!" teriak Sekar Arum, wajahnya di balik bedak kusam seketika berubah menjadi pucat pasi saat merasakan aliran hawa di sekitarnya mendadak tersedot hebat ke arah kelima penyerang. "Ini... ini adalah perubahan jurus terlarang istana yang sudah dicampur dengan racun dingin! Mereka mau menghancurkan seluruh urat darah kita dari jarak jauh!"

"Hehehe, tidak usah panik toh, Nimas Sekar. Sini, tetaplah berdiri rapat di belakang punggung saya seperti tadi," sahut Erlang menenangkan, sepasang mata jernihnya menatap lurus ke arah pemimpin pembunuh di depannya.

Kelima pembunuh bertopeng itu tidak membuang waktu untuk bersuara. Secara serempak, mereka menyilangkan kedua tangan di atas kepala, melepaskan seluruh inti jurus mematikan mereka secara bersamaan. Lima gelombang pukulan berbentuk naga hitam keunguan melesat membelah malam, menderu kencang mengincar seluruh titik nadi pusat di tubuh Sekar Arum dan Erlang.

Groaaarrr!

Suara angin dari jurus hitam itu berdesing mengerikan, memotong tiang-tiang jemuran bambu di sekitar pelataran hingga hancur menjadi serpihan halus. Udara di sekitar mereka seketika menjadi kelewat dingin hingga membuat permukaan tanah berpasir mulai diselimuti lapisan es tipis yang beracun.

"Nimas Sekar, peluk saya yang erat, nggih!" seru Erlang sigap.

Tanpa ragu sedikit pun, Sekar Arum langsung merapatkan tubuh langsingnya, memeluk punggung hangat Erlang dengan kedua lengannya yang erat, menyandarkan wajahnya di pundak kokoh pemuda itu demi menghindari terjangan hawa dingin mematikan tersebut.

Melihat lima gelombang inti jurus hitam yang kian dekat hanya dalam jarak tiga jengkal, Erlang tidak melompat menghindar ataupun mengerahkan kubah pelindung panasnya seperti biasa. Sebaliknya, ia justru merentangkan kedua telapak tangannya lebar-lebar ke depan, membuka seluruh pori-pori kulitnya dengan sirkulasi terbalik yang sangat lambat.

Syuuut!

Sebuah keajaiban yang sangat tidak masuk akal terjadi di depan mata kelima pembunuh tersebut. Lima gelombang pukulan naga hitam keunguan yang seharusnya meledakkan tubuh Erlang mendadak berbelok arah secara halus, tersedot masuk ke dalam pusaran dua telapak tangan Erlang seperti air sungai yang tertelan ke dalam lubuk pusaran air bawah tanah.

"G-Gusti Allah... Erlang! Apa yang kau lakukan?!" jerit Sekar Arum tertahan dari balik punggung Erlang, matanya terbelalak sempurna menyaksikan pemuda itu nekat menelan langsung seluruh inti energi racun hitam ke dalam tubuhnya sendiri. "Kau bisa mati kaku kalau membiarkan racun sesat itu masuk ke dalam jantungmu!"

"Hahaha, tenang saja toh, Nimas," sahut Erlang santai, meskipun guratan urat-urat di leher rupawannya sempat berubah menjadi keunguan sejenak selama tiga hitungan jantung. Di dalam dadanya, pusaran inti energi berputar seratus kali lebih cepat, bertindak seperti tungku api raksasa yang langsung membakar, menyaring, dan merekam seluruh sirkulasi mekanis dari jurus hitam tersebut dalam sekejap mata. "Tenaga mereka ini beneran mirip air kopi pahit, Nimas. Begitu masuk ke dalam perut saya, langsung disaring oleh hawa murni ini sampai tinggal menyisakan ampasnya saja."

"M-manusia macam apa kau ini?! Bagaimana bisa kau menyerap seluruh inti Pukat Jiwa Hitam kami tanpa terluka sedikit pun?!" seru pemimpin pembunuh dari balik topeng kayunya, suaranya bergetar hebat dipenuhi oleh rasa syok yang teramat sangat.

Erlang mengulas senyuman jernihnya yang paling menenangkan, memutar kedua pergelangan tangannya membentuk sudut melingkar sempurna dasar Tarian Angin Gurun. "Nah, Paman-paman sekalian... Paman Suro selalu bilang, kalau kita diberi oleh-oleh oleh orang lain, kita harus mengembalikannya dengan jumlah yang lebih banyak agar sopan. Sekarang, terimalah kembali oleh-oleh jurus hitam kalian ini, nggih!"

Bumss!

Erlang mendorong kedua telapak tangannya ke depan dengan satu entakan napas horizontal yang sangat mantap. Seluruh inti jurus hitam yang baru saja ia serap dan ia rekam sirkulasinya, kini dilepaskan kembali keluar dengan kekuatan tiga kali lipat lebih dahsyat, setelah digabungkan dengan gelombang hawa murni panas tak terbatas miliknya.

Blarrr!

Lima gelombang naga api keunguan melesat balik menghantam kelima pembunuh bertopeng itu dengan kecepatan yang tidak mampu mereka kejar. Benturan energi yang sangat kuat itu menciptakan gelombang kejut tak kasatmata yang langsung mencerai-beraikan formasi bintang lima mereka dalam sekejap saja.

Brakrr! Istaa!

Kelima penyerang itu terlempar ke belakang sejauh sepuluh langkah, menghantam dinding-dinding batu gudang jagung hingga retak berhamburan. Topeng-topeng kayu mereka pecah total di udara, memamerkan wajah-wajah pucat pasi para prajurit elit rahasia yang kini langsung terkapar lemas dengan sirkulasi batin yang telah terkunci total oleh pembalikan jurus milik Erlang sendiri.

"U-uhuk!... Mustahil... teknik membalikkan inti jurus dalam sekejap... ini adalah Ilmu Perekam Jagad yang sudah punah ratusan tahun lalu..." rintih sang pemimpin pembunuh dengan sisa tenaganya yang kian menipis sebelum akhirnya jatuh pingsan bersama keempat rekannya di atas tanah berdebu.

Begitu memastikan seluruh ancaman telah sepenuhnya lumpuh dan udara di sekitar pelataran kembali hangat oleh bau ketan bakar dari pasar utama, Erlang perlahan menarik kembali pusaran energinya masuk ke dalam dada dengan satu tarikan napas panjang yang teratur.

Huuuh...

Erlang berbalik tubuh dengan lembut, melepaskan pelukan erat Sekar Arum dari punggungnya, lalu menatap gadis itu dengan pandangan mata jernih penuh kekhawatiran. "Nimas Sekar... Nimas beneran tidak apa-apa toh? Uap dinginnya tadi tidak sampai membuat leher Nimas sakit lagi kan?"

Sekar Arum berdiri mematung, menatap wajah polos Erlang dengan binar mata yang dipenuhi oleh luapan rasa haru, rasa takjub, dan cinta murni yang kian melelehkan seluruh relung hatinya tanpa sisa sedikit pun. Keputusan Erlang untuk menjadikan tubuhnya sendiri sebagai wadah penyerap racun demi memastikannya tidak tersentuh bahaya seujung rambut pun beneran telah meruntuhkan seluruh keangkuhan darah bangsawan di dalam dirinya.

"Erlang... kau... kau beneran pendekar bodoh yang paling nekat di bawah kolong langit ini," bisik Sekar Arum, suaranya mendadak berubah menjadi teramat sangat lembut, manis, dan bergetar menahan tangis kebahagiaannya. Tangannya perlahan bergerak meremas ujung lengan baju lusuh Erlang dengan sangat erat, tidak mau lagi melepaskan jarak di antara mereka. "Kenapa... kenapa kau selalu memilih cara yang paling berbahaya bagi dirimu sendiri hanya untuk menyelamatkanku?"

Erlang tertawa renyah, kembali memamerkan senyuman polosnya yang menenangkan sembari memungut pikulan bambu tuanya ke atas pundak. "Hahaha... ya tidak apa-apa toh, Nimas Sekar. Kan saya sudah berjanji di untuk selalu menjadi pelindung Nimas. Kalau pelindungnya takut terkena uap dingin, ya namanya bukan pelindung toh, tapi cuma papan kayu lapuk biasa. Yang penting sekarang wajah Nimas sudah tidak pucat lagi."

"Kau ini... beneran pandai sekali membuat hatiku tidak keruan malam-malam begini," puji Sekar Arum dengan senyuman termanis yang pernah ia perlihatkan seumur hidupnya, membuat pipi kusam buatannya tampak memancarkan binar keanggunan yang luar biasa indah di mata Erlang.

"Wah, kalau begitu urusan pertarungannya sudah selesai dengan aman nggih, Nimas," ujar Erlang gembira, matanya kembali berbinar menatap ke arah terangnya cahaya lentera jalan utama pasar malam. "Ayo, Nimas Sekar, mari kita segera melangkah ke depan sana. Saya beneran sudah tidak tahan lagi mau membungkus tahu petis hangat dan wedang ronde untuk menghangatkan perut kita berdua sebelum malam kian larut."

Sekar Arum mengangguk pelan, menyelaraskan ayunan langkahnya di samping Erlang dengan rasa kedamaian yang baru dan kian kokoh. "Nggih, Erlang. Ayo kita beli tahu petisnya. Malam ini... aku yang akan membelikan semua makanan kesukaanmu sampai kau kenyang."

Kedua pengembara muda itu berjalan beriringan keluar dari pelataran tanah kering gudang jagung, kembali membaur di bawah hangatnya keramaian pasar malam distrik timur Kota Kadipaten dengan langkah kaki yang kian mantap dan bertaut erat. Keberhasilan Erlang merekam dan membalikkan inti jurus hitam malam itu tidak hanya menyelamatkan nyawa Sekar Arum dari kepungan pasukan rahasia istana, melainkan telah mengunci sisa-sisa keraguan di hati mereka untuk selalu melangkah bersama menghadapi segala bentuk gulungan ombak takdir persilatan tanah selatan di hari esok.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!