NovelToon NovelToon
PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Tamat
Popularitas:27.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: A Lubis

Up setiap jam 8 malam.

Seorang bayi dilahirkan tanpa orang tua dengan berkah api matahari dilengan kanannya.
Dia kemudian ditemukan seorang janda yang merawatnya dengan kasih sayang yang tulus, namun tanpa sadar dia mengeluarkan api yang membakar seluruh rumah yang membuat ibunya meninggal.
Karena itulah dia menjadi pemuda yang jahat dan gemar menghancurkan perguruan diwilayahnya.
Namun seorang guru akhirnya menunjukan jalan kebenaran, dan akhirnya dia dapat mengendalikan api mataharinya.
Namun bersamaan muncul kekuatan besar akan ada kekuatan jahat yang juga terlahir, mampukah dia memenuhi panggilan takdirnya.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahtera besar

Sungsang Geni melihat

sebuah kapal baru saja meninggalkan pelabuhan. Kapal besar itu, mengangkut

ratusan penumpang, termasuk Dewangga dan yang lainnya.

Beberapa kargo barang

tersusun, serta beberapa ekor hewan ternak yang berbaris rapi di bawah dek

utama kapal. Sungsang Geni berdecak kagum melihat bahtera sebesar itu.

Layar yang terbentang

bahkan lebih lebar dari atap sebuah rumah. Terdapat 3 layar utama dengan tiang yang

sebesar roda kereta kuda.

Dibagian depan kapal,

sebuah patung singa menjadi aksesoris mencolok kapal itu. Membuat dia terlihat

lebih mewah dan gagah.

Sungsang Geni sempat

melihat, Dewangga melambaikan tangan, memanggil nama dirinya. disebalah

pangeran itu, nampak Mahesa tersenyum lega melihat wajahnya.

Orang-orang yang

mendengar  teriakan Dewangga, sererentak

menoleh pada sosok Sungsang Geni yang sekarang melayang beberapa centi dari air

sungai.

Dari ujung kaki

Sungsang Geni, memancar tenaga dalam yang membuat air beriak pelan. Seperti riak

seekor ular yang mengendapi mangsanya.

“Darimana saja kau?

Kami sudah lama menunggu?” tanya Dewangga, Sungsang Geni masih dapat melihat  raut khawatir dari wajah Pangeran itu.

“Ma’afkan saya

Dewangga, tapi ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan.” Ucap Sungsang

Geni.

“Geni, bagaimana

keadaan temanmu?” Mahesa berbisik ditelinga Sungsang Geni, ketika Dewangga

sudah tidak berada didekat mereka.

“Keadaannya sekarang

telah membaik, mungkin beberapa hari lagi dia akan pulih sepenuhnya.”

“Sukurlah kalau

demikian.” Mahesa mengelus dagunya, lalu mengangguk kepala beberapa kali.

Kapal akhirnya berjalan

seperti seharusnya, melaju dengan angin yang meniup kain layar kearah Surasena.

Memecah sungai, menciptakan buih permata yang laksana ekor berwarna putih.

Berkilauan.

Angin bertiup sepoi,

menerpa wajah dan rambut para penumpang kapal.

Setelah cukup lama, orang-orang

disana mulai terbiasa dengan kehadiran Sungsang Geni, yang sempat menarik

perhatian mereka, namun masih ada beberapa yang terdengar membicarakan pemuda

matahari itu.

“Bu, paman itu hebat,

aku ingin seperti dia!” salah seorang anak kecil yang duduk didepan Sungsang

Geni, sedari tadi selalu saja menghadap kebelakang menatap Sungsang Geni.

“Husttt, jangan

menyinggung seorang pendekar, nanti kita dapat masalah.” Ibunya berusaha

menghadapkan wajah anaknya kedepan, tapi gadis kecil itu tetap menatap Sungsang

Geni dengan gembira.

Setelah berjalan setengah

jam tiba-tiba kapal berhenti melaju, dan hanya mengambang ditengah sungai yang

luas.

Awalanya penumpang

tidak terlalu menghiraukannya, hal ini sudah biasa terjadi bagi kapal yang

berlayar, namun kali ini kapal berhenti sangat lama, hampir 1 jam lamanya.

Bukan hanya itu,

suasana di kapal terasa sangat pengap, biasanya angin berhebus sepoi namun kali

ini angin sepertinya tidak bersahabat.

“Bagai mana ini? Kami

sudah membayar mahal agar tiba tepat waktu, kenapa kapalnya jadi berhenti

ditengah sungai?” Seorang pedagang kaya mendatangi petugas kapal, dia mulai

memaki dan berkata kasar.

“Tuan dan puan, sungguh

kami minta maaf, tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba tidak ada angin yang

berhembus, sehingga kain layar tidak berpungsi.” Seorang pria gendut dengan

kumis panjang berbicara di depan para penumpang. Dia adalah pemilik kapal,  mengumumkan situasi yang terjadi.

“Alah, mungkin kapal

anda saja yang sudah tua?” pedagang yang terlihat kaya lainnya, mulai berdiri.

Situasi mulai ricuh di atas

kapal, petugas kapal yang berusaha menenangkan nampaknya tidak dipedulikan oleh

para penumpang.

Bukan hanya manusia,

nampaknya para binatang ternak mulai tidak tenang. Bahkan beberapa keledai

meringkih ketakutan.

“Apa yang terjadi

sebenarnya?” Dewangga mulai terlihat kesal dengan keributan di depan matanya.

“Suasana terasa pengap, dan sekarang mereka semua malah bertengkar.”

Beberapa saat kemudian

akhirnya kapal berjalan dengan tiba-tiba, membuat para penumpang yang berdiri

terpaksa terhempas di lantai kapal.

Setelah berjalan cukup

jauh, kali ini tiba-tiba kapal berjalan mundur dan kembali di posisi kepal

berhenti sebelumnya.

“Apa kalian

mempermainkan KAMI?” Seorang pedagang berteriak, namun sebelum sempat petugas

menjawab, kapal telah berputar di tempat, seperti ditengah pusaran air.

Suasana mejadi tegang,

gadis kecil yang memandang Sungsang Geni nyaris saja terlempar keluar jika

bukan ditangkap Sungsang Geni.

“Tidak mungkin angin

melakukan ini?” ucap Sungsang Geni, dia kemudian buru-buru keluar ruangan

kapal, melihat situasi yang terjadi. “Ternyata ada seseorang yang dapat

mengendalikan angin diatas sana!”

“Hahaha, kalian seperti

seekor lalat disarang laba-laba.” Seorang wanita berpakaian putih yang umurnya

mungkin sekitar 40 tahunan memainkan jari-jemarinya,  membuat angin  disekitar semakin berbentuk pusaran, “betapa lucunya pemandangan ini.”

“Kau, siapa kau yang

berani menghadang jalan tuan kami?” 5 orang pendekar keluar dari ruangan kapal,

ditangan mereka nampak membawa panah dan pedang. “Turun kau dari sana, hadapi

kami.”

“Habisi orang itu

secepatnya, aku tidak ingin barang daganganku menjadi rusak karena wanita

sinting itu?” seorang pedagang berkata dibelakang lima pendekar, dia adalah

pedagang yang paling kaya yang menaiki kapal itu. “Aku akan memberi 1000 keping

emas bagi siapapun yang bisa menjatuhkan wanita itu!”

“Ilmu hanya secuil,

berani menantang ku.” Wanita itu lantas tertawa, dia kembali menggerakan

jarinya dan kapal mulai ter-ombang ambing.

Sungsang Geni

memperkirakan 5 pendekar itu levelnya hanya pendekar kelas tanding, sedangkan

wanita diatas sana levelnya pendekar pilih tanding.

Meskipun mereka berlima

adalah pendekar kelas tanding, Sungsang Geni tidak yakin mereka dapat

mengalahkan  wanita itu meski harus

mengeroyoknya.

Bukan hanya tenaga

dalam, wanita itu juga lebih diuntungkan dengan medan pertempuran yang sesuai

dengan cara bertarungnya.

“Sial,  jika

saja berada didataran, aku pasti akan menghajanya.” Mahesa mulai terlihat

kesal, kapal ini hampir saja membuat dia mengeluarkan isi perutnya karena

pusing, “Aku harus belajar meringankan tubuh berat ini.”

Disisi lain, Gadhing,

Durada dan kedua temannya mulai terpental dari tempat duduk, sedangkan

Dewangga, masih menatap wanita itu dengan tajam.

Pangeran itu terlihat

kesal, seakan menyesali rendahnya kemampuan yang dimiliknya saat ini.

Sungsang Geni yakin apa

yang dipikirkan Dewangga sama persis dengan yang dipikirkan Mahesa.

“Jika dia tidak turun,

gunakan panah?” kemudian kelima pendekar mulai mengeluarkan panah, namun tidak

ada satupun anak panah yang mengenai wanita itu, angin yang berhembus membuat

anak panah meleset jauh.

“Apa kalian itu

pendekar, atau hanya penjaga keledai. Kalian tidak tahu caranya menyerang?”

wanita itu berkata sombong, “Beginilah caranya pendekar menyerang!”

Dia mengangkat

tangannya, dengan kelima jari yang terbuka. Dari atas tangannya, gumpalan

energi berwarna putih berkumpul membentuk belasan anak panah yang tajam.

Dia mengarahkan

tangannya kearah kapal, lalu belasan anak panah yang terbuat dari angin

menyerang kelima pendekar itu.

Dengan kecepatan yang

sulit diikuti mata, anak panah itu melesat pada tubuh kelima pendekar.

“Hujan panah anginku

lebih baik dari panah kalian!” Wanita itu tertawa kegirangan, melihat lima

orang lawannya tewas seketika, dengan belasan luka yang mereka terima.

 

diberitahukan kepada teman pembaca, untuk capter besok libur.

dikarenakan ada urusan yang mendesak, dan tidak bisa ditinggalkan.

sekali lagi, moon maaf atas ketidaknyamannnya.

1
Sis Nurhayati
👍👍😍
Leo Ligorius
menegak atau meneguk min ☺️
Leo Ligorius
saya suka dengan tokoh karakter utama dalam novel ini sungsang Geni kasi bintang 4 sebenarnya saya sudah baca kk novelnya kk dri pertama rilis sampe tempat sekarang saya mengulangi nya lagi
Leo Ligorius
penulisan nya di setiap eps selalu salah mohon di perhatikan lagi ya soal kalu baca agak lain karena penulis kekurangan huruf seperti mengangkat ditulis mengangkat seperti itu🙏
Garuda Phoenix
terbaik
merah putih
kemana keris pusaka?
Aufaaaaa
widih autor nak panen kawe😄😄😄
Lily
ada" aja kakek satu ini 🤣🤣🤣
diina acuy
Luar biasa
zayick
mnjijikan
zayick
novel paling menjengkelkan adalah ktika mc lemah trhadap musuh wanita sungguh menjijikan jikapun ada dlam kehidupan nyata dengan senang hati saya membunuh mc macam ini walau dia hamba tuhan palih salih skalipun
Hidayat Dayat
Luar biasa
Hidayat Dayat
Lumayan
ridzuan yusoff
Luar biasa
Sudar Manto
asu
Malim Rieza DiWa
the best one
Yurnalis Yurnalis
pokuslah duly sama mcnya supaya kuat thor
Yurnalis Yurnalis
ini makananya ibis gak ada yg lain
Adian Oe
dari sekian bnyk cerita yg ku baca..ku akui ini yg plin the best..👍👍👍
Andre Oetomo
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!