Dinda Amelia seorang wanita mandiri yang sukses dalam karir nya tapi ia harus rela melepaskan karirnya itu karena harus menuruti perintah suaminya Arya baskara yang baru ia nikahi selama satu tahun atas perjodohan orang tuanya, pada awalnya pernikahan mereka berjalan lancar Dinda merasa bahagia menjadi istri Arya yang sabar dan penyayang, tetapi ternyata semua sikap dan kasih sayang nya hanya sebuah kepalsuan belaka, selama ini Arya telah berbohong karena di belakang Dinda ia telah menyembunyikan wanita lain yang ternyata adalah istri simpanannya, apa sebenarnya motif Arya untuk menikahi Dinda dan bagaimana Dinda melepas kan diri dari jebakan pria pembohongan itu??
simak kisah selengkapnya hanya di noveltoon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Saya mau bertemu dengan pak Alvin apa dia ada di ruangannya?" Dinda sedikit tercengang ketika Seorang wanita dengan pakaian yang cukup terbuka itu menyapa Dinda.
"B--bu Dian?" balas Dinda.
Wanita itu mengerutkan dahinya ia heran karena wanita yang ada di depannya itu mengenalinya sedangkan ia merasa tidak pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya.
"Kamu kenal saya?" Tanya nya sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Saya Dinda bu Dian istrinya Pak Alvin," jawab Dinda santai seraya menyunggingkan senyum di bibir nya.
"Oh kamu!! Ko beda sekali penampilanmu dengan semalam, " sahutnya sambil tersenyum ketus.
"Iya Bu saya ke kantor memang tidak pakai riasan," Kata Dinda sedikit malu.
"Maksudmu, kamu bekerja disini? Sebagai sekretaris Alvin?" tanya bu Dian penasaran.
"Iya Bu betul," jawab Dinda.
"Alvin ada di ruangan nya kan?" Tanya Dian sedikit ketus seolah ia berbeda level dengan Dinda.
"Ada bu silahkan masuk saja," jawab Dinda dengan ramah, " Sambil mempersilahkan dan menunjukkan ruangan Alvin.
Tanpa basa basi lagi wanita dengan pakaian sexy itu langsung berjalan menuju ke ruangan Alvin Sedangkan Dinda mengekor dj belakang Bu Dian.
Alvin tentu saja terkejut dengan kehadiran Bu Dian laki-laki itu langsung berdiri dari kursinya dengan berusaha menampilkan ekspresi yang datar dan langsung menghampiri Bu Dian kemudian menyalami nya tapi bu Dian malah menarik tangan Alvin dan bercipika cipiki riya tanpa rasa segan kepada Dinda yang ada di hadapannya.
Mata Dinda terbelalak melihat kejadian itu, sementara Alvin jadi kurang nyaman dengan tindakan Bu Dian yang seenaknya apalagi di hadapan istri nya.
"Silahkan duduk Bu Dian," Alvin mempersilahkan duduk wanita itu di sofa yang terdapat di ruangan nya.
Wanita itu langsung mendaratkan pantatnya di atas sofa dengan melipat kakinya sehingga roknya yang pendek itu makin terangkat ke atas, sehingga membuat Dinda kesal karena gestur wanita itu seolah ingin menggoda suaminya.
"Maaf Bu Dian mau minum apa?" tanya Dinda yang sedari tadi berdiri di ruangan Alvin, walaupun hatinya kesal tapi ia tetap mencoba untuk profesional.
"Apa aja," jawabnya ketus, Dinda langsung keluar ruangan untuk menyiapkan minuman untuk Alvin dan tamunya itu, tak lupa sebelum keluar ruangan ia menatap tajan suaminya sebagai peringatan agar tidak macam-macam.
Alvin yang melihat ke arah Dinda Pun langsung mengerti akan kode yang Dinda berikan ia menelan ludahnya kasar karena merasa khawatir akan ada pertengkaran diantara mereka berdua.
"Saya pikir kalau saya ke kantor kamu kita bisa bicara dengan nyaman ternyata istrimu bekerja di sini juga sebagai sekretaris kamu! ternyata seleramu cuma pegawai rendahan, " hina Dian.
"Maksud Bu Dian apa? Ibu menghina istri saya!" Alvin agak tersulut emosi.
Tak berselang lama Dinda datang dengan 2 cangkir kopi untuk Alvin dan dan Bu Dian. Setelah meletak kopi itu diatas meja Dinda kemudian berjalan menuju keluar untuk kembali ke ruangan nya.
"Tunggu Dinda!! sebaiknya kamu di disini saja untuk menemani saya, " ujar Alvin.
Dian yang mendengar hal itu, air mukanya mendadak berubah ia tidak senang karena ada Dinda diantara mereka Dian ingin membicarakan hal pribadi dengan Alvin hal itu tidak bisa ia lakukan jika ada Dinda disana.
"Apa gak sebaiknya kita berdua saja Pak Alvin untuk membicarakan kelangsungan kerja sama kita, " sela Bu Dian.
"Tidak apa Bu, Dinda istri saya ini juga banyak pengalaman mengenai marketing dan seluk beluk kerjasama antar perusahaan, " puji Alvin kelada istri nya.
Alvin kemudian menghampiri Dinda dan menggandeng tangannya untuk duduk di sebelahnya tentu saja ekspresi Bu Dian semakin jengkel melihatmu Alvin yang memperlakukan Dinda dengan lembut.
Bu Dian Dinda ini adalah putri dari pak Hendra CEO dari PT Makmur Abadi," ujar Alvin denga tegas.
"Apa Makmur Abadi!! Dian tercekat ia tak menyangka wanita sederhana yang ia remehkan ternyata putri dari pemilik perusahaan besar.
"Oh pantas kalian tampak serasi," ucapnya yang tiba-tiba berubah menjadi lembut sampai mengubah posisi duduk nya menjadi lebih sopan.
"Baik Pak Alvin kita mulai saja membicarakan mengenai pemasaran produk kita dan kelanjutan kerja sama kita, " ujar Bu Dian gugup.
Setelah kurang lebih satu jam mereka membicarakan rencana pemasaran produk akhirnya Bu Dian berpamitan kepada Alvin dan Dinda sikap nya berubah menjadi lebih santun dan pribadi yang menyenangkan.
"Baik kalau begitu Pak Alvin dan Bu Dinda saya pamit dulu senang bisa kerjasama dengan kalian kapan-kapan kita bertemu lagi di waktu yang lebih tepat saya minta maaf kalau ada tindakan saya yang kurang berkenan," ucapanya lalu bersalaman kepada Alvin dan Dinda dan pergi meninggalkan ruangan Alvin.
"Mas, dia kenapa ko jadi berubah gitu sikapnya aneh Banget tadinya ketus banget sekarang jadi baik, " tanya Dinda yang keheranan.
"Kamu gak tahu sayang perusahaan ayahmu itu yang menyelamatkan perusahaan Bu Dian dari krisis keuangan hampir aja kolaps kalau bukan karena kebaikan ayahmu yang meminjamkan dana ke perusahaan nya. Mangkannya aku sengaja menyebutkan nama perusahaan ayahmu agar dia tidak kelewat batas, sebagai laki-laki aku tahu maksud dia bertindak seperti itu walaupun kita sama-sama pemilik perusahaan tapi bukankah dia seharusnya tahu diri dan tahu batasan, " papar Alvin.
"Oh jadi kamu ngerasa juga kalau dia naksir kamu Mas?" goda Dinda
Alvin yang keceplosan langsung panik dan hanya bisa menggaruk kasar rambutnya.
"Nggak sayang maksud aku biar dia tahu kalau aku sangat mencintai istri ku gitu maksud nya, " bela Alvin.
"Iya.. Iya aku percaya," sahut Dinda.
Jangan lama- lama upnya