1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 tengah malam terakhir
WUUUUUUUUUU...
Suara sirene terus menggema Setiap detiknya terdengar semakin pelan.
Eleanor memandang jam tua yang tergantung di dinding perpustakaan.
Jarumnya bergerak sendiri 23.57...
"Tinggal tiga menit..." bisiknya.
Naura menatap Gerbang Karunia yang semakin dipenuhi retakan merah.
"Kalau gerbang itu terbuka sepenuhnya..."
"...apa yang akan terjadi?"
Lucian menjawab dengan wajah muram.
"Seluruh batas antara dunia manusia dan dunia di balik Gerbang akan lenyap."
"Bukan hanya Hotel Karunia."
"Seluruh dunia akan mulai terpengaruh."
Kabut hitam terus keluar dari celah gerbang.
Di dalam kabut itu, Alea melihat bayangan sebuah kota,Gedung-gedung tinggi,Jalan raya,Rumah-rumah Semuanya perlahan menghilang ditelan kegelapan.
"Itu..." gumam Alea.
"Itu masa depan?"
Lucian mengangguk.
"Itulah dunia jika Gerbang terbuka."
Dimas menggenggam Buku Ketiga Belas erat-erat.
"Kalau begitu..."
"Bagaimana cara menghentikannya?"
Eleanor menatapnya.
"Hanya ada satu cara."
"Penulis Ketiga Belas harus menulis akhir dari Perjanjian Karunia."
Dimas membuka buku itu Namun seluruh halamannya kosong.
"Tidak ada apa-apa."
Lucian tersenyum tipis.
"Karena akhir cerita..."
"...harus ditulis oleh hatimu sendiri."
Tangan Dimas mulai bersinar.
Perlahan sebuah pena hitam muncul di telapak tangannya Pena itu terasa hangat Begitu ujung pena menyentuh halaman...Tulisan pertama muncul.
«"Semua perjanjian harus berakhir."»
Seluruh perpustakaan bergetar.
Gerbang Karunia mengeluarkan suara mengerang
Namun tepat saat Dimas hendak melanjutkan tulisannya...
Duar!!
Ledakan keras menghancurkan salah satu dinding perpustakaan Asap memenuhi ruangan Saat asap menghilang...Semua terkejut.
Direktur X berdiri sambil membawa seseorang
Orang itu terikat Mulutnya ditutup kain.
Begitu kain penutup wajahnya dilepas...Dimas langsung membeku.
"I... Ibu...?"
Wanita itu menangis.
"Dimas..."
"Aku minta maaf..."
Air mata Dimas langsung mengalir Selama bertahun-tahun ia mengira ibunya telah meninggal Ternyata...Beliau masih hidup Direktur X tertawa pelan.
"Lanjutkan tulisanmu."
"Tapi ingat..."
"Kalau Perjanjian Karunia berakhir..."
"...ibumu juga akan menghilang."
Ruangan mendadak sunyi.
"Apa maksudmu?" teriak Alea.
Lucian memejamkan mata.
"Karena ibunya Dimas..."
"...bertahan hidup berkat sisa kekuatan perjanjian."
"Kalau perjanjian dihancurkan..."
"...jiwa yang terikat dengannya akan ikut pergi."
Dimas memandang ibunya Lalu memandang pena di tangannya Tangannya gemetar hebat.
Di satu sisi...Ia bisa menyelamatkan dunia Di sisi lain...Ia akan kehilangan ibunya untuk kedua kalinya Sirene semakin melemah.
Huuuu...
Huuuu...
Jam di dinding menunjukkan...23.59
Tinggal satu menit menuju tengah malam Dan untuk pertama kalinya...
Dimas tidak tahu keputusan mana yang benar.
23.59
Detik demi detik terasa begitu lambat Sirene hampir berhenti Pena hitam masih berada di tangan Dimas.
Sementara di hadapannya, sang ibu menatapnya dengan mata yang dipenuhi air mata.
"Dimas..."
Suara wanita itu bergetar.
"Jangan pilih Ibu."
Semua orang terdiam Dimas menggeleng kuat.
"Tidak!"
"Aku baru menemukan Ibu lagi!"
"Aku nggak mau kehilangan Ibu!"
Wanita itu tersenyum lembut.
Senyum yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam ingatan Dimas.
"Dengarkan Ibu."
"Ibu memang masih bernapas."
"Tapi sejak memasuki Gerbang Karunia lima belas tahun lalu..."
"...Ibu sebenarnya sudah tidak menjadi bagian dari dunia ini."
Air mata Dimas jatuh tanpa henti.
"Aku capek..."
"...menunggu kamu tumbuh dari kejauhan."
"Aku ingin memelukmu."
"Aku ingin menemanimu."
"Tapi waktuku memang sudah habis."
Alea ikut menangis.
Naura menundukkan kepala.
Bahkan Elang menggigit bibirnya agar tidak ikut terisak.
Ibu Dimas melangkah perlahan mendekati putranya la mengusap pipi Dimas.
Untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun...Mereka benar-benar bertemu.
"Dimas."
"Kamu tahu kenapa Ibu memilih masuk ke Gerbang waktu itu?"
Dimas menggeleng.
"Karena Ibu percaya..."
"...suatu hari kamu akan menjadi orang yang menyelamatkan banyak kehidupan."
"Dan hari itu..."
"...adalah hari ini."
Dimas memeluk ibunya erat.
Tangisnya pecah.
"Aku nggak kuat..."
Ibunya memeluk balik.
"Kamu jauh lebih kuat daripada yang kamu kira."
Di sisi lain, Direktur X mulai kehilangan kesabaran.
"Cukup!"
Ia mengangkat tangannya.
Puluhan anggota Organisasi XIII langsung bergerak menyerang.
Raka, Keanu, Naura, Alea, dan Elang berdiri melindungi Dimas.
Pertarungan besar pun pecah.
Rak-rak buku roboh.
Tongkat Eleanor bertabrakan dengan pedang para anggota XIII.
Elang menghadapi Selena.
Sementara Alea dan Naura berusaha membuka jalan menuju Dimas.
Lucian sendiri berdiri di depan Gerbang Karunia.
Dengan seluruh sisa tenaganya, ia menahan pintu raksasa itu agar tidak terbuka lebih lebar.
Namun retakan terus bertambah.
"Dimas!"
teriak Lucian.
"Aku tidak akan sanggup menahannya lebih lama!"
Jam tua di dinding berdentang.
DONG...
DONG...
Dua belas kali.
Tengah malam telah tiba.
Sirene...
Berhenti.
Gerbang Karunia perlahan mulai terbuka.
Cahaya hitam menyelimuti seluruh ruangan.
Buku Ketiga Belas tiba-tiba memancarkan cahaya putih.
Halaman terakhirnya kini kosong.
Menunggu satu kalimat terakhir.
Dimas mengangkat pena.
Tangannya masih gemetar.
Ia menatap ibunya untuk terakhir kali.
Sang ibu tersenyum sambil mengangguk pelan.
Dengan air mata yang terus mengalir...
Dimas mulai menulis.
«"Aku memilih..."»
Namun sebelum kalimat itu selesai...
Direktur X melemparkan sebilah belati ke arah Dimas.
Belati itu melesat sangat cepat.
"Awas!" teriak Alea.
Seseorang berlari tanpa berpikir.
BRUK!
Tubuh itu berdiri di depan Dimas.
Belati menembus dadanya.
Darah menetes ke lantai batu.
Semua membeku.
Orang yang melindungi Dimas adalah...
Elang.
Elang tersenyum lemah.
"Maaf..."
"Kayaknya..."
"...aku duluan."