Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Aroma masakan hangat, tumisan daging, dan sangrai biji kopi memenuhi udara Kantin Utama Markas Komando EOD Pusat Los Angeles.
Pukul 12.30 siang, area ruang makan berkapasitas ratusan orang itu dipadati oleh para prajurit, pengawas, hingga seluruh peserta warga sipil yang baru saja menyelesaikan sesi lari dan simulasi teori pembongkaran kabel peledak.
Di sudut kantin yang disinari cahaya matahari siang melalui jendela-jendela kaca besar, suasana terasa riuh. Karena sore itu tidak ada jadwal latihan terikat, batasan kaku antara instruktur dan peserta warga sipil agak melar.
Di salah satu meja panjang bagian tengah, Evander duduk bersama Lucas, Daniel, dan beberapa peserta pria lainnya.
Pria Knight itu baru saja menyapu habis porsi makan siangnya dan kini sedang menikmati secangkir kopi hitam panas. Kaos latihan taktik berlengan pendek yang dikenakannya mengekspos lehernya yang jenjang.
Lucas, yang sedang mengunyah rotinya, mendadak menghentikan kunyahannya. Matanya membelalak menatap leher bagian samping Evander.
"Tunggu... Evander," panggil Lucas tiba-tiba, menunjuk leher pria itu dengan garpunya. "Lehermu itu kenapa? Ada tanda merah membiru di bawah rahangmu. Kau digigit serangga saat latihan di semak-semak tadi pagi?"
Demi Tuhan, Evander benar-benar tidak sadar!
Pria itu refleks meraba leher kirinya dengan ujung jemarinya. Sensasi agak perih dan hangat langsung mengingatkannya pada gigitan gemas dan cengkraman Zacheriyya saat puncak gairah mereka tadi malam.
Bukannya panik atau berusaha menutupi, wajah tampan Evander justru memancarkan binar kebanggaan yang gila.
"Oh ya?" tanya Evander dengan nada santai dan senyuman miring yang teramat percaya diri. "Apa itu terlihat keren?"
Lucas dan Daniel saling bertukar pandang dengan dahi berkerut bingung. "Keren? Itu kelihatan seperti bekas gigitan!"
"Memang," sahut Evander gila, menyandarkan punggungnya di kursi sembari menyesap kopinya. "Itu karya istriku. Dia terlalu merindukanku semalaman."
UHUK!
Di meja tepat di sebelah mereka—meja khusus jajaran pelatih dan perwira—Instruktur Hendrick yang sedang minum air mineral hampir saja tersedak.
Hendrick menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan raut wajah miris, memijat pelipisnya melihat kepedean tingkat tinggi peserta bernama Evander Vale-Knight itu.
Kapten Kent dari San Diego, yang duduk di meja pelatih bersama Hendrick, mengerutkan alisnya bingung. Ia menatap ke arah Evander yang sedang terkekeh bersama para peserta sipil.
"Siapa pria itu?" tanya Kent pada Hendrick dengan nada penasaran. "Apa dia ikut pelatihan ini bersama istrinya? Kenapa dia berbicara seolah istrinya ada di markas ini?"
Hendrick terkekeh sinis, mengibaskan tangannya acuh. "Abaikan saja dia, Kapten Kent. Dia itu Evander Vale-Knight, peserta warga sipil dari kalangan pengusaha kaya. Otaknya agak geser kalau sudah bicara soal 'istri'. Katanya istrinya ada di sini, tapi tak ada satu pun dari kami yang pernah melihat wujud istrinya. Kami anggap dia cuma kebanyakan halusinasi karena stres latihan."
Kent mengangguk-angguk paham, menganggap Evander hanyalah pria kaya aneh yang suka membual untuk mencari perhatian.
...°°°°...
Sementara itu, tak jauh dari sana, Zacheriyya duduk di meja melingkar dekat jendela bersama Svea, Alessia, dan seorang wanita sipil berambut pirang bernama Eva—seorang jurnalis media nasional yang mendapat izin meliput program pelatihan EOD tersebut.
Zacheriyya sama sekali tidak bergabung di meja pelatih karena lebih memilih menikmati makan siangnya dengan santai bersama para perempuan.
Eva sang jurnalis menopang dagunya, menatap ke arah meja Evander dengan binar mata prihatin bercampur kagum.
"Sayang sekali ya..." ujar Eva membuka percakapan, menghela napas panjang. "Pria sekelas Evander Vale-Knight... padahal dia itu tampan luar biasa, kaya, dan Sempurna."
Svea mengerutkan alisnya. "Kenapa memangnya, Eva?"
Eva mendekatkan diri, berbisik seolah membagikan gosip paling panas minggu ini. "Kalian belum tahu gosip media soal kehidupan Pewaris Ketiga keluarga Knight itu? Kudengar, kehidupan asmaranya sangat tragis. Dia ditinggalkan oleh kekasih yang sudah dipacarinya selama delapan tahun. See...berakhir seperti yang terlihat sekarang."
Alessia menaikkan sebelah alisnya, melirik Zacheriyya yang sedang mengunyah saladnya dengan tenang. "Oh ya? Lalu?"
"Melihatnya pertama kali kemarin, aku kira dia pria normal yang sangat bisa digapai," lanjut Eva menggelengkan kepala dramatis. "Tapi ternyata... selain pintar dan tampan, dia punya kebiasaan ajaib. Dia suka menghidupkan suasana dengan berhalusinasi kalau istrinya ada di markas ini! Kasihan sekali, pasti trauma ditinggal mantan kekasihnya membuat pikirannya agak terganggu."
UHUK! UHUK! UHUK!
Zacheriyya yang baru saja meminum jus jeruknya seketika tersedak hebat!
"Ekhem! Uhuk!" Zacheriyya terbatuk luar biasa, dadanya naik-turun dengan wajah memerah padam. Air jus nyaris menyemprot dari mulutnya jika ia tidak cepat-cepat menutupnya dengan tisu.
"Instruktur Zacheriyya! Anda tidak apa-apa?" tanya Eva panik, menyodorkan segelas air putih.
Svea dan Alessia yang tahu kebenaran mutlak di balik 'halusinasi' Evander mendadak menahan tawa setengah mati. Bahu mereka berdua berguncang hebat, menutup mulut rapat-rapat agar tawa tumpah tak meledak di tengah kantin.
Zacheriyya mengusap bibirnya dengan tisu, menetralkan napasnya yang memburu. Matanya melirik tajam ke arah meja Evander—di mana pria Knight itu sedang tersenyum miring ke arahnya dari kejauhan, seolah tahu persis apa yang sedang dibicarakan di meja para wanita.
Zacheriyya menarik napas panjang, menatap Eva dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau belum tahu saja..." gumam Zacheriyya dengan suara parau dan pelan, namun sarat akan penekanan yang tajam. "...dia itu memang pria halusinasi gila. Pria yang membolak-balikkan diriku sudah seperti setir mobil balapnya semalaman penuh."
"Apa?" tanya Eva bingung, tidak mendengar jelas kalimat Zacheriyya. "Mobil balap?"
"Ekhem!" Zacheriyya berdehem keras, mengibaskan tangannya dan kembali memasang raut wajah dingin khas instruktur. "Maksudku... makanan di sini agak terlalu pedas. Abaikan saja pria halusinasi di meja sana."
Svea dan Alessia makin tak sanggup menahan tawa.
Mereka menunduk dalam-dalam di atas meja, menyembunyikan tawa geli melihat betapa frustrasinya Zacheriyya menghadapi 'kegilaan' Pria Knight yang secara terang-terangan menandai kekuasaannya di depan seluruh orang di kantin.
...°°°°...
Setelah memastikan kedua sahabatnya itu sibuk tertawa dan Eva sang jurnalis kembali mengobrol dengan peserta lain, Zacheriyya merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Ia berpura-pura sibuk memeriksa pesan dinas demi menutupi rasa malu yang membakar pipinya.
Namun, indra perasa Zacheriyya yang tajam menangkap tatapan intens dari sudut ruangan.
Ia mencuri pandang ke arah meja Evander melalui pantulan layar ponselnya.
Di sana, Evander masih menatapnya lurus. Begitu mata mereka bertabrakan dari kejauhan, pria Knight itu menyunggingkan senyuman miring yang begitu seksi.
Tanpa memedulikan Lucas yang masih mengoceh di sebelahnya, Evander mengangkat tangannya secara terselubung dan melayangkan sebuah air kiss—ciuman jauh yang manis namun sarat godaan—tepat ke arah Zacheriyya.
Zacheriyya menyipitkan matanya. Gemas dan kesal atas kelakuan licik Kekasihnya di depan publik, Zacheriyya menurunkan ponselnya sedikit di bawah garis meja.
Dengan gerakan tersembunyi yang hanya bisa dilihat oleh sudut pandang Evander, Zacheriyya mengacungkan jari tengahnya tinggi-tinggi—sebuah balasan tegas yang mengisyaratkan kejengkelannya.
Namun, kegilaan seorang Evander Vale-Knight benar-benar di luar batas perkiraan.
Melihat jari tengah kekasihnya melayang, bukannya ciut, binar mata Evander justru makin liar dan membara.
Di balik piring makannya yang menutupi pandangan peserta lain, Evander membalas jari tengah Zacheriyya.
Ia merapatkan jari telunjuknya di samping jari tengahnya, lalu melakukan gerakan ketukan maju-mundur secara ritmis di udara—sebuah Isyarat visual eksplisit yang menyerupai gerakan penembusan jari ke dalam bagian paling intim milik Zacheriyya.
Sebuah bahasa tubuh dan rahasia yang arti mutlaknya hanya dimengerti oleh mereka berdua!
Napas Zacheriyya tercekat seketika.
Sensasi panas yang sangat menyengat mendadak menjalar dari perut bawah hingga ke seluruh permukaan kulitnya.
Kode gila dari Evander itu langsung memicu ingatan visual atas penyatuan panas mereka semalaman yang membuat ranjang berderit nyaring.
Tak mau kalah dan enggan terlihat tersudut, Zacheriyya membalas permainan berbahaya itu dengan cara yang tak kalah gila.
Masih menatap lurus ke dalam mata Evander dari kejauhan, Zacheriyya perlahan menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, merapatkan kedua pahanya di bawah meja, lalu mengadahkan matanya sedikit ke atas dengan raut wajah penuh kenikmatan pasrah—seakan-akan ia benar-benar sedang menikmati simulasi jemari Evander yang merangsek masuk ke dalam dirinya saat itu juga.
Uhuk!
Gantian Evander yang hampir tersedak kopi hitamnya!
Mata cokelat pria itu membelalak, otot dadanya menegang kaku di balik kaos latihannya.
Reaksi nakal dan pasrah dari Zacheriyya barusan menghantam pertahanan Evander bagaikan benturan listrik voltase tinggi. Gejolak panas mendadak membakar selangkangannya hingga pria itu harus buru-buru menyilangkan kakinya di bawah meja untuk menyembunyikan reaksi tubuhnya yang mendadak bangkit.
Zacheriyya yang melihat Evander salah tingkah langsung menarik kembali gigitan bibirnya, menyunggingkan senyuman kemenangan yang sangat tipis dan dingin, lalu kembali menyendok makanannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Di tengah riuhnya suasana kantin dan ocehan orang-orang tentang "halusinasi" sang pewaris Knight, dua jiwa itu tetap saling mengunci—bermain-main dengan api, rahasia, dan gairah yang tak akan pernah bisa dipadamkan oleh siapa pun.
🌷🌷🌷
Mohon komentarnya kak jika suka Cerita ini🙏🏻
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua