NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI

ISTRI PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Hari demi hari berlalu begitu cepat, namun perasaan gelisah di hati Julian Leonard dan Tama Alvaro justru semakin menumpuk menjadi beban yang berat. Bagi orang luar, persiapan pernikahan terlihat berjalan begitu mulus dan sempurna. Undangan sudah tersebar ke berbagai negara, dekorasi hotel sudah dipasang, gaun pengantin yang berkilau berlian sudah siap digantung di ruangan khusus, dan berita tentang penyatuan dua keluarga besar itu memenuhi halaman depan surat kabar. Namun bagi dua sahabat yang sudah mengenal keluarga Yhosep sedekat urat dengan daging, ada sesuatu yang terasa sangat salah, sesuatu yang menyembunyikan bahaya besar.

Siang itu, mereka berdua duduk di teras belakang rumah Yhosep, tempat yang paling sering dijadikan tempat bertiga bercanda dan berbagi cerita. Hanya kali ini, Adelia belum datang. Mereka sengaja berbicara dulu sebelum memanggil gadis itu, agar tidak menambah beban pikirannya yang sudah cukup banyak.

"Kamu lihat sendiri kan?" buka Julian pelan, matanya menatap lurus ke arah kolam ikan yang tenang. "Seminggu ini sikap Adelin benar-benar aneh. Dia tidak pernah tenang. Setiap kali ada orang membicarakan nama Gyantara atau soal hari pernikahan, wajahnya langsung berubah pucat. Dia seperti orang yang sedang dikejar ketakutan besar."

Tama mengangguk setuju sambil memilin ujung jaketnya. "Aku juga memperhatikannya dengan saksama. Biasanya dia sangat senang kalau menjadi pusat perhatian, bangga dipuji sebagai calon istri Gyantara. Tapi sekarang? Dia menghindar. Kalau Gyantara datang berkunjung, dia sering berpura-pura sakit atau sibuk merapikan barang. Padahal dulu dia tak pernah melewatkan satu menit pun untuk bersamanya."

Pikiran Julian kembali melayang pada kejadian dua hari lalu. Saat itu ia pulang terlambat dari kantor orang tuanya, dan tanpa sengaja melihat Adelin berdiri di halaman depan sambil berbicara di telepon. Wajahnya bukan lagi wajah calon pengantin yang bahagia, melainkan wajah seseorang yang sedang menangis dan memohon-mohon.

"Kamu tidak boleh pergi," bisik Julian menirukan suara pelan Adelin yang sempat ia dengar. "Kamu bilang akan menungguku. Kalau aku pergi sekarang, Papa dan Mama akan menghancurkan hidupku. Tapi aku juga tidak sanggup melangkah lebih jauh..."

Tama menghela napas panjang. "Itu bukan kata-kata orang yang siap menikah. Itu kata-kata orang yang terjebak di antara dua pilihan yang sama menyakitkannya. Dan aku takut sekali dengan satu kemungkinan buruk."

Mereka berdua saling berpandangan. Kata itu tak perlu diucapkan dengan suara keras, karena mereka sudah tahu apa yang ada di pikiran masing-masing.

Tak lama kemudian, Adelia muncul dari balik pintu belakang. Ia membawa nampan berisi tiga gelas air putih. Wajahnya terlihat lelah, lingkaran hitam mulai terlihat di bawah matanya, dan langkahnya pelan seolah memikul beban berat di pundak kecilnya.

"Maaf menunggu lama," ucapnya pelan sambil meletakkan nampan di meja kecil. "Pelayan sedang sibuk sekali menyiapkan keperluan pesta, jadi aku ambilkan sendiri saja."

Melihat kondisi Adelia yang semakin kurus, hati Julian terasa perih. Ia segera menarik kursi di sebelahnya, lalu menatap gadis itu dengan lembut. "Kamu tidur nyenyak semalam, Del? Kamu terlihat sangat lelah."

Adelia tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya. "Sedikit sulit memejamkan mata saja. Pikiranku penuh dengan hal-hal yang tidak aku mengerti."

Tama mencondongkan tubuhnya mendekat, suaranya berubah menjadi sangat serius namun penuh perhatian. "Itulah yang ingin kami bicarakan. Kami khawatir sekali padamu, Del. Dan kami khawatir dengan apa yang mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan."

Adelia menunduk menatap gelas di tangannya. "Kalian maksud Kak Adelin?"

"Iya," jawab Julian tegas. "Kami takut dia melakukan sesuatu yang nekat di saat-saat terakhir ini. Dan kalau itu benar-benar terjadi, kami tahu siapa yang akan dipaksa mengambil alih posisinya."

Kalimat itu membuat suasana menjadi hening seketika. Angin sore berhembus pelan menggoyangkan dedaunan, tapi tak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Adelia menelan ludah dengan susah payah. Ia sudah merasakan firasat buruk itu sejak lama, tapi ia tak berani mengakuinya.

"Mereka tidak akan sekejam itu kan?" tanyanya pelan, lebih seperti berharap pada dirinya sendiri daripada bertanya pada sahabatnya. "Aku ini adik kandungnya. Aku bukan boneka yang bisa dipakai saat dibutuhkan lalu dibuang saat tidak berguna."

"Kami juga berharap begitu, Del," kata Tama dengan nada sedih. "Tapi lihatlah kenyataan selama dua puluh satu tahun ini. Setiap kali ada masalah, setiap kali ada kesalahan, kamulah yang harus menanggungnya. Setiap kali ada hal baik, kamulah yang harus mengalah. Mengapa harus berbeda saat masalahnya sebesar ini?"

Kata-kata itu seperti tamparan yang menyadarkan Adelia. Ia terdiam, air matanya perlahan mulai menggenang di pelupuk mata. Benar juga. Selama ini ia selalu berharap orang tuanya akan berubah, berharap suatu hari nanti mereka akan melihatnya sebagai anak, bukan sebagai beban atau cadangan. Tapi harapan itu selalu berakhir dengan kekecewaan.

"Kalau sampai hal terburuk itu benar-benar terjadi..." suara Adelia bergetar, "kalau mereka benar-benar menyuruhku menggantikan Kak Adelin... apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa berbohong sebesar ini pada Gyantara. Aku tidak bisa hidup dengan nama orang lain seumur hidupku."

Julian meraih tangan Adelia erat. "Dengar kami baik-baik. Kamu tidak sendirian. Apa pun yang terjadi, kami ada di sini. Kami tidak akan membiarkanmu terjebak sendirian dalam kebohongan itu. Tapi untuk sekarang, kamu harus lebih waspada. Jangan mudah percaya pada janji manis siapa pun, terutama soal kebebasan atau pengakuan mereka nanti."

"Kamu juga harus bersiap," tambah Tama. "Simpan barang-barang berhargamu, dokumen pentingmu, dan obat asmamu di satu tempat yang mudah diambil. Jangan biarkan mereka mengunci kamu di kamar seperti biasanya. Kalau kamu dikurung, kami tidak akan bisa menolongmu."

Saran sederhana itu justru membuat Adelia semakin takut. Kalau sampai harus menyembunyikan barang sendiri, berarti bahayanya sudah sangat dekat. Ia mengangguk pelan, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi.

"Terima kasih..." isaknya pelan. "Hanya kalian yang benar-benar peduli padaku. Kalau tidak ada kalian, mungkin aku sudah menyerah sejak lama."

Mereka berdua segera memeluk Adelia erat, mencoba memberikan kekuatan lewat pelukan itu. Di rumah besar yang penuh kemewahan ini, hanya di antara mereka bertiga Adelia merasa aman. Hanya di sini ia merasa dihargai sebagai Adelia, bukan sebagai bayang-bayang kakaknya.

Sementara itu, dari balik jendela lantai dua yang sedikit terbuka, Adelin melihat pemandangan itu dengan tatapan rumit. Ia mendengar sebagian percakapan mereka. Sebagian hatinya merasa iri—karena Adelia memiliki sahabat yang begitu setia—tapi sebagian lagi hatinya merasa semakin gelisah. Ia tahu rencananya semakin dekat untuk terbongkar, dan ia tahu jalan yang akan ia ambil nanti akan menyeret orang lain ke dalam masalah. Namun egonya dan rasa takutnya begitu besar, hingga ia memilih memejamkan mata pada semua risiko itu.

Malam itu, kekhawatiran Julian dan Tama semakin menjadi kenyataan. Mereka melihat mobil pribadi Adelin diam-diam keluar dari gerbang rumah lewat jalan samping, dikemudikan oleh asisten pribadinya sendiri. Mereka melihat lampu mobil itu menjauh menuju arah kota, bukan ke arah tempat persiapan pesta.

"Sudah kubilang," bisik Julian pada Tama sambil menatap cahaya lampu yang menghilang di kejauhan. "Dia sedang menyiapkan pelariannya. Dan waktu kita untuk melindungi Adelia semakin sedikit."

Mereka tidak bisa berbuat banyak malam ini selain menjaga jarak dan memantau keadaan. Namun satu hal yang mereka janjikan dalam hati: apa pun yang terjadi besok, mereka tidak akan membiarkan Adelia menjadi korban lagi. Bahkan jika itu berarti harus berhadapan dengan keluarga Yhosep atau keluarga Raharja sekalipun.

Kekhawatiran itu bukan lagi sekadar firasat samar. Itu adalah tanda bahwa badai besar sudah tepat di depan mata, dan tak ada satu pun dari mereka yang bisa lari darinya.

1
Adi sudiro Dero
ini Adelia bukan anak TK atau anak SD terlalu menjijikan menurut aku dia udah biasa hidup yg keras tapi kayak nggak punya otak /Awkward//Awkward//Doubt//Doubt/
Tere Rere
watak Adelin menurun dari kedua orang tuanya yg otaknya cuman separuh 😡
Tere Rere
bersyukur masih ada Tama dan Julian di saat Adelia terpuruk🥹
Tere Rere
GYANTARA bangke😡
Tere Rere
Adelin jahat banget😡😭
Tere Rere
Adelin sialan😡
Tere Rere
ao ao😍🤭
Binar Jingga
Huhuhu 🥹
Tere Rere
yg pengen nangis cuslah baca ISTRI PENGGANTI karya Binar jingga. nyesek banget jadi Adelia🥹
Binar Jingga: Wah terimakasih kak atas supportnya🥹🤗
total 1 replies
Tere Rere
Adelia🥹
Hasbia n Hasbia nn
pusing bcanya😮‍💨
Binar Jingga: Pusing kenapa kak?🙏🏻
total 1 replies
Tere Rere
ada orang tua yang sangat jahat seperti si Belinda dan YHOSEP ini/Sleep/
Binar Jingga: Huhuhu jahat yah…. Semoga ini terjadi cuman d dalam novel saajaa
total 1 replies
tia
jangan banyak omong suami durhaka 😁
Binar Jingga: Mohon bersabar😂🤣🤣🤣
total 1 replies
tia
jgn mao kembali dulu Adelia ,,,biarkan di hukum penyelan 😁
tia
kapok suami durhaka 😁
tia
keluar gila banget
tia: siap thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!