Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Kehidupan rumah tangga mereka selama beberapa jam ini masih terasa normal, karena baik Zakia ataupun Daren tidak ada permintaan aneh yang membuat mereka berdua sakit kepala.
Malam sudah menemui mereka berdua, suasana sekitar juga sudah mulai hening, begitu juga dengan Daren dan Zakia, mereka sibuk dengan koper masing-masing.
Sedari tadi Zakia dan Daren tak punya waktu untuk menyusun pakaian mereka, nah di waktu senggang seperti inilah mereka manfaatkan untuk menyusun baju mereka ke dalam lemari yang sudah beli Daren.
Zakia menguap beberapa kali, matanya sudah mengantuk bahkan sangat mengantuk, tapi ia tahan karena tahu kalau tugasnya belum selesai. Masih ada beberapa potong lagi pakaian yang akan ia masukkan ke lemari.
"Besok kita belanja di mana?" tanya Zakia. Sejak awal membuka koper sampai sekarang Zakia tak mendengar suara Daren, mungkin pria itu sangat fokus dengan baju-baju mahalnya.
Jujur saja, begitu Daren membuka kopernya Zakia sedikit meneguk ludah melihat baju tersebut, tanpa memegan pun Zakia sudah tahu kalau itu baju mahal.
"Di pasar, besok kita belanja semua kebutuhan di rumah selama seminggu," jawab Daren. Kegiatan menyusun bajunya tetap dilanjutkan, sampai akhirnya Daren ingat satu hal, kaki Zakia? Apakah wanita itu sanggup dibawa belanja ke pasar?
"Tapi Zak,"
"Ha?" Zakia menoleh.
"Itu, kaki lo gimana?" tanya Daren.
Dahi Zakia mengerut, "Kaki? Emang kaki gue kenapa? Masih bisa jalan kok," jawab Zakia. Ada sedikit nada ketus dan raut wajah tak enak saat Zakia menjawab hal itu.
Daren jadi bingung sendiri, sepertinya Zakia sensitif jika dibahas mengenai kakinya, buktinya raut wajah wanita itu seketika berubah dibanding yang tadi, padahal Daren bertanya seperti itu karena khawatir, bukan berniat untuk merendahkan istrinya itu.
"Gapapa bang, sorry ya kalau nada gue tadi agak ketus, tapi gue aman kok, kaki gue juga gapapa, jadi aman aja kalau besok kita belanja ke pasar," jawabnya lagi.
"Hm, oke deh kalau gitu," sahut Daren singkat. Tak apa jika Zakia masih keras kepala sekarang, pertumbuhan hidup yang ia rasakan pasti membentuk dirinya yang sekarang, Daren tahu bahwa Zakia tak semudah itu menerima bantuan orang lain. Daren tak memaksa tapi dia akan bersiaga.
"Oke selesai," gumam Daren. Ia menutup pintu lemari kemudian terdiam sebentar.
Ada satu hal yang mengganggu Daren sedar tadi, apakah ini harus ia kagakan atau tidak? Tapi kalau tidak dikasi tau sekarang, bisa-bisa nanti Daren tak bisa tidur semalaman.
Daren melihat Zakia masih melipat beberapa potong pakaian miliknya, rasa ragu datang ke hatinya, tapi kalau tidak diberanikan maka akan panjang nanti urusannnya.
"Zakia," panggil Daren lalu diam sebentar.
"Gue mau ngomong sesuatu," katanya.
"Ngomong apa?"
Daren kembali ragu, lagi dan lagi Daren menggaruk bagian tubuhnya yang tak gatal, yaitu lehernya. Tujuannya hanya satu, supaya rasa bingung dan gugupnya bisa hilang.
"Gue, kalau tidur ga bisa pake baju," ucap Daren.
Daren memang mempunyai kebiasaan seperti ini sedari lama, kalau dulu ketika ia ingin tidur tinggal masuk kamar, lepas baju dan langsung menjatuhkan diri di atas kasur. Tapi kalau sekarang kondisi rumah sudah berbeda, jika dulu Daren bisa bebas di kamarnya, maka kini ada seseorang yang baru masuk ke dalam kehidupannya dan masih beradaptasi.
Sekalipun Zakia adalah istrinya, tapi Daren tak ingin langsung seterbuka itu dihadapan Zakia, mereka baru kenal, masih beradaptasi dengan kebiasaan masing-masing, termasuk salah satu kebiasaan Daren yang satu ini.
"Eoh? Ha?" Zakia terdiam sebentar dan bahkan sperti orang linglung, satu kamar dengan pria yang tidur tidak menggunakan baju? Ya walaupun itu suami sendiri sih.
"Sorry ya kalau lo ga nyaman, tapi gue emang ga bisa tidur kalau pakai baju, gerahnya itu gerah banget, gue ga tahan," ujar Daren. Daren benar-benar menjelaskan kebiasaan tidurnya kepada Zakia agar wanita itu bisa memahami hal yang satu ini.
"Eum y-yaudah deh gapapa." Hanya kalimat singkat itu yang bisa Zakia katakan.
Setelah itu fokusnya kembali berpindah ke koper yang masih berisi pakaian, namun netranya terpaku melihat beberapa potong pakaian yang selama ini digunakan, seketika tawa kecil muncul dari bibir Zakia.
Jika Daren punya kebiasaan tidur tidak menggunakan baju, maka Zakia terbiasa tidur dengan satu set pakaian tidur bermodalkan celana pendek dan tanktop berbahan satin.
Kalau dulu ketika malam hari saat ingin tidur Zakia akan menggunakan pakaian ini, tapi sekarang ia masih berpikir dan masih ada rasa canggung untuk menggunakan ini di depan sang suami, alhasil Zakia lebih memilih memaksa tubuhnya menggunakan celana panjang dan kaos pendek untuk menutupi tubuhnya malam ini.
Koper tersebut di tutup dan digeser ke samping lemari, pelan-pelan Zakia bangkit dan berbalik menghadap Daren yang sedari tadi memperhatikannya.
"Bang Daren tidur lampunya mati atau hidup?"
"Mati sih," jawab Daren. Bola mata Zakia seketika bersinar, syukur karena dapat partner hidup yang tidur dalam keadaan kamar gelap, itu artinya Zakia bisa tidur tenang.
"Kenapa? Lo mau tidur?"
"Iya." Zakia berjalan pelan ke arah kasur, ia mendudukkan bokongnya lalu berbaring dan menarik selimut lalu menutupkan mata
Di susul oleh Daren yang ikut duduk di sampingnya, Daren walaupun sudah minta izin ke Zakia dan Zakia mengizinkannya, dia tak akan membuka baju begitu saja, Daren masih menghargai kecanggungan mereka.
Lampu besar dimatikan oleh Daren dan lampu tidur bercahaya remang-remang dinyalakan. Sebelum benar-benar membuka baju, Daren menoleh ke arah Zakia dan memastikan anak itu sudah tidur.
"Aduh, sorry ya Zak,"gumamnya.
Saat itu juga Daren melepas bajunya, menyisakan celana pendek dengan atasan tanpa ditutupi sehelai benang pun, Daren meletakkan bajunya di nakas, sebelum berbaring Daren sempat bermain ponsel dan menjawab beberapa pesan dari teman-temannya.
Andai Daren tahu, bahwa Zakia tak benar-benar belum tidur, dirinya bahkan mendengar ucapan Daren dan Zakia diam-diam membuka matanya lalu memperhatikan Daren yang sedang membuka bajunya.
Zakia seketika merasakan gugup luar biasa, padahal Daren tak melakukan apapun tapi Zakia gugup bukan main, Zakia tak menyangka bahwa Daren punya tubuh sebagus itu, memang ketika ingin jatuh tadi saat ia memegang lengan Daren, Zakia sudah feeling bahwa suaminya ini pasti suka olahraga.
Ternyata dugaan Zakia tidak salah.
'Allahuakbar' batin Zakia menjerit. Ia berusaha menetralkan nafas dan rasa gugupnya. Zakia semakin meremat kencang selimutnya.
Saat Daren sudah meletakkan ponselnya dan akan berbaring, di situlah Zakia menutup erat matanya, matanya yang tertutup tapi pernafasannya serasa tersumbat, apalagi ketika merasakan nafas Daren yang menghembus ke wajahnya.
Mereka tidur saling berhadapan, tak pernah sedikitpun terlintas di kepala Zakia bahwa dia akan sampai ke tahap tidur dengan lawan jenis di atas kasur.
Pun sama halnya dengan Daren, sedikit tak menyangka bahwa semua kebiasaan tidurnya akan disaksikan oleh wanita yang bernama Zakia ini, wanita yang tidak ada di dalam rencana hidupnya tapi sudah dibawa sampai sejauh ini.