NovelToon NovelToon
WANITA SIMPANAN

WANITA SIMPANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / POV Pelakor / Cinta Terlarang / Romansa
Popularitas:215.8k
Nilai: 5
Nama Author: V Lestari

Stella Vivian mendeklarasikan dirinya sebagai wanita yang bisa menaklukan seratus pria sekaligus. Wajah cantik dan bentuk tubuhnya memang tidak diragukan lagi, hingga ia dengan mudahnya mendapatkan pria mana pun yang ia inginkan.

Stella Vivian tidak menyia-nyiakan kecantikan yang ia miliki, Ia memanfaatkan kecantikannya itu untuk menggaet para pria kaya, mulai dari pria single hingga pria beristri sekali pun. dan kemudian ia akan hidup bermewah-mewahan dengan uang yang ia dapat dari pria-pria tersebut.

Namun, suatu hari kekacauan terjadi saat pria yang ia goda dan membuat hatinya luluh ternyata adalah suami kakak angkatnya sendiri.

Apakah Stella Vivian akan menyerah dan menjauhi pria tersebut demi saudarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KECURIGAAN SEMAKIN MENJADI

Kiara duduk berhadapan dengan Tristan. Matanya yang indah dan jernih bagai mata seekor rusa betina menjelajah, memindai penampilan sang tunangan yang terlihat semakin rupawan setelah beberapa bulan terpisah.

lama mereka hanya duduk berhadapan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, seolah ada dinding pembatas yang tak kasat mata di antara mereka, membuat mereka tidak bisa saling bersua satu sama lain.

Tristan bingung harus mengatakan apa pada Kiara. Ia yakin jika tunangannya itu mendengar semua yang ia katakan di telepon beberapa saat lalu, tetapi reaksi Kiara yang tidak menunjukan kemarahan sama sekali justru membuatnya menjadi bingung dan tidak tahu harus mengambil tindakan apa. Memang benar jika ada yang mengatakan bahwa diamnya seorang wanita lebih menyeramkan daripada saat wanita itu mengomel panjang lebar. Untuk saat ini Tristan pun merasakan hal yang sama. Lebih baik ia melihat kemarahan Kiara daripada melihat wanita itu hanya duduk diam bagai manekin.

"Bukankah kamu harus segera ke kantor?" tanya Kiara setelah beberapa saat ia dan Tristan terjebak dalam keheningan.

Tristan bangkit berdiri, ia senang karena Kiara memilih untuk memecah keheningan. Sambil mengangguk ia berkata, "Ya, aku rasa aku hampir terlambat. Aku akan mengantarmu pulang sebelum aku berangkat ke kantor, Sayang."

Kiara tersenyum, lalu bersandar pada sandaran kursi yang empuk. "Kata siapa aku ingin pulang. Aku akan tinggal di sini, Tristan, kamu paling tahu kalau aku tidak terlalu akur dengan ayahku semenjak ibuku meninggal. Mana mungkin aku kembali ke rumah," ujar Kiara dengan santainya. "Lagi pula, biasanya kan memang seperti ini. Aku selalu menginap di sini setiap kali aku datang ke Indonesia. Sekarang pun sama saja. Tidak ada yang berubah."

Mendengar ucapan Kiara, Tristan pun terkejut. Semua ini di luar rencananya dan juga di luar kendalinya. Menurut jadwal Kiara, wanita itu akan kembali ke Indonesia sekitar delapan bulan lagi, itulah sebabnya ia berani bermain api dengan Vivian, untuk mengisi kekosongan di saat Kiara tidak ada di sisinya, tapi sekarang ... sekarang semuanya telah berantakan. Bukannya ia tidak senang Kiara kembali, tapi kehadiran Vivian sangat memengaruhinya hingga di titik yang berbahaya. Ia sangat tergoda pada kecantikan dan keseksian Vivian, sampai-sampai ia tidak ingin melewatkan satu hari pun tanpa kehadiran Vivian di sisinya.

Ada apa? Kamu terlihat tidak senang," tanya Kiara.

Tristan menggeleng dengan cepat. "Bukan begitu, Sayang, bukan begitu. Aku hanya sedikit terkejut karena kamu tiba-tiba datang dan ingin tinggal di sini. Rumah ini belum siap menyambut kedatanganmu," ujar Tristan, sambil melangkah menghampiri Kiara.

Kiara yang sejak tadi masih duduk di sofa kini bangkit berdiri, ia menyentuh wajah Tristan dengan sentuhan lembut yang menggoda, lalu perlahan ia berjinjit agar dapat mencapai wajah Tristan, dan detik berikutnya Kiara mendaratkan bibirnya di bibir Tristan, mengecupnya dengan lembut, dan menjelajahi setiap lekuk bibir Tristan.

"Tidak masalah," bisik Kiara, dan kembali mengecup bibir Tristan.

Tristan membalas ciu-man dari Kiara, bagaimana pun juga ia adalah pria normal. Pria mana yang akan diam saja saat mendapat sebuah kecupan, apalagi kecupan itu datang dari wanita secantik Kiara.

Perlahan tangan Tristan memeluk pinggang Kiara, menarik tubuh wanita itu agar lebih menempel pada tubuhnya,dan kemudian ia berpartisipasi lebih banyak daripada Kiara. Ia melu-mat, meremas rambut panjang Kiara, bahkan mulai mendaratkan bibirnya ke leher hingga terus turun ke dada Kiara.

Tristan mengendus-ngendus seperti seekor kucing yang kelaparan dan mendapati mangsa di depannya. Dengan satu gerakan cepat, Tristan menjatuhkan tubuhnya beserta tubuh Kiara ke sofa, dan mulai melepas satu per satu kancing blouse yang Kiara kenakan hingga tubuh wanita itu kini setengah telan-jang.

Tristan berhenti sejenak, mengamat-ngamati wanita cantik di hadapannya. Jeda yang terjadi membuat Kiara sedikit kecewa, ia sangat merindukan Tristan dan ia tidak bisa menunggu lebih lama agar Tristan terus menyentuhnya.

Kiara meletakan tangannya di pinggang Tristan yang kokoh, lalu perlahan meraba perut Tristan yang memiliki otot-otot menyembul.

"Kamu hanya milikku seorang, bukan?" desis Kiara.

Tristan mengangguk. " Tentu, memangnya siapa lagi yang berhak memilikiku? Aku haya milikmu seorang, Ki," jawab Tristan.

Kiara tersenyum, walaupun sebenarnya ia ingin sekali menampar Tristan saat ini dan mengatakan pada Tristan bahwa ia mengetahui perselingkuhan yang Tristan lakukan. Namun, Kiara berusaha mengendalikan diri dengan baik. Baginya bukan Tristan yang harus disalahkan, tetapi wanita yang telah berani menggoda Tristan. Ia memutuskan untuk menemui wanita itu lebih dulu sebelum akhirnya ia menginterogasi Tristan.

"Bagus, kamu memang hanya milikku, dan aku tidak berniat untuk membagimu dengan orang lain," ujar Kira, lalu menarik tubuh Tristan mendekat dan kembali mengecup bibir Tristan dengan rakus.

Tristan yang gairahnya mudah sekali terbakar segera melucuti pakaiannya sendiri dan selanjutnya ia melakukan apa yang selalu ia inginkan, yaitu bercinta.

***

Virginia duduk di taman di halaman samping rumahnya bersama dengan Rina, asisten rumah tangga yang memiliki hubungan baik dengan Virginia. Keduanya kini sedang mengawasi seorang gadis kecil yang sibuk dengan dunianya sendiri. Gadis kecil itu berlarian ke sana-kemari dengan sebuah boneka kelinci berukuran besar, bahkan lebih besar daripada ukuran tubuh si gadis kecil yang bisa dikatakan masih sangat mungil.

Sesekali Virginia tersenyum melihat tingkah gadis kecil itu, tetapi senyum manis di bibir Virginia tidak lantas dapat menutupi kepahitan hatinya, dan Rina dapat membaca kepahitan itu di wajah Virginia.

"Ada sesuatu?" tanya Rina.

Virginia hanya diam. Ia sedang tidak ingin membicarakan hal-hal yang menyakitkan, tidak sekarang, di saat ia sedang menikmati kebersamaannya dengan Annabelle, putri kecilnya.

Akan tetapi, pertanyaan yang terlontar dari bibir Rina mampu membuat bulir-bulir bening menetes dari pelupuk matanya.

"Tidak usah cerita kalau tidak ingin," ujar Rina.

Virginia mencubit pinggang Rina dengan gemas, membuat Rina merintih kesakitan.

"Sangat tidak bertanggung jawab. Kenapa bertanya jika tidak ingin tahu jawabannya. Kamu hanya sengaja memancing kesedihanku, benar?" tuduh Virginia.

"Itu tidak benar. Sesungguhnya aku ingin tahu apa yang terjadi pada Anda, Nyonya--"

"Ck, jangan bicara formal padaku jika kita hanya berdua, Rin, santai saja." Virginia memotong ucapan Rina.

Rina mengangguk, lalu melanjutkan. "Sebenarnya aku ingin tahu apa yang sedang mengganggu pikiranmu sekarang, sampai-sampai wajahmu terlihat begitu muram. Tapi, jika kamu sampai menangis sebelum menceritakan apa pun, aku pikir tidak usah dilanjutkan. Aku tidak ingin membuatmu semakin sedih."

Virginia menghela napas, kemudian ia berkata, "Mau aku ceritakan atau tidak, tetap saja aku sedang sangat sedih sekarang. Suamiku berubah 360 derajat, bagaimana aku tidak sedih."

"Andra? Itu tidak mungkin, memangnya apa yang dia lakukan?" tanya Rina.

"Aku masih belum yakin, Rin, tapi aku rasa dia berselingkuh, dan menurutmu apakah mungkin jika dia berselingkuh dengan Vivian?"

Rina terbatuk mendengar ucapan Virginia. "Bagaimana bisa kamu mengira hal seburuk itu terjadi? Vivian tidak mungkin mengencani suami kakaknya sendiri. Dia tidak seburuk itu, dan kamu yang paling tahu kalau dia sangat sayang padamu, mana mungkin dia menyakitimu, Virginia."

Virginia mendesah, dadanya seperti dihimpit oleh batu besar saat ini, sesak, sakit, dan membuatnya kesulitan bernapas. Membayangkan Darius berselingkuh saja sudah cukup membuatnya sakit hati, apalagi membayangkan Darius dan Vivian yang menjalin hubungan di belakangnya.

"Aku tahu jika pemikiran ini sangat aneh dan mustahil, tapi menjadi tidak mustahil jika kuuraikan seperti ini ... Vivian dan Andra tidak saling mengenal, keduanya belum pernah bertemu sekali pun. Dengan ketidaktahuan seperti itu, bisa jadi Vivian dan Andra memang sedang berkencan."

Rina menggeleng. "Tetap saja bagiku hal itu tidak mungkin. Andra sangat setia dan baik padamu, mana mungkin dia--"

"Dia tidak pulang semalaman, aku menemukan struk belanja di kantong jasnya, dia membeli es krim cokelat beberapa hari lalu, Rin, kamu tahu kan kalau aku tidak suka es krim cokelat, dan Andra bahkan tidak suka es krim sama sekali. Lalu, di saat yang sama aku menemukan uang di dalam kantong jasnya, dan ada tulisan di permukaan uang tersebut yang berbunyi 'terima kasih eskrimnya.' Bukankah semua itu sudah cukup untuk menjadi landasan kecurigaanku."

Rina diam sejenak, terlihat sedang memikirkan semua perkataan Virginia. "Bisa jadi," ujarnya setelah beberapa saat, lalu melanjutkan, "Tapi tetap saja kita tidak boleh asal mengira. Apa kamu ingin aku menyelidikinya?" tanya Rina.

Seperti oase di padang pasir, tawaran yang baru saja Rina berikan pada Virginia sebelumnya tidak pernah terpikir oleh Virginia.

"Kenapa tidak kepikiran," keluh Virginia, sambil menepuk keningnya dengan keras, kemudian ia kembali berkata, "Ya, selidiki untukku. Aku harus tahu orang seperti apa suamiku."

Rina mengangguk. "Apa kamu ingin agar aku menyelidiki Vivian juga?"

Virginia menatap Rina lekat-lekat. Ia merasa tidak nyaman jika harus menyelidiki Vivian juga. Ada perasaan berdosa jika ia mulai meragukan sang adik, tetapi ia perlu tahu siapa Darius yang berbicara dengan Vivian pagi tadi.

"Ya, Vivian juga."

Bersambung.

1
falea sezi
karena kelakuan jalang mu 🤣 temen mu jd korban
falea sezi
bner sampah emank cocok ma sampahh🤣🤣
falea sezi
lah kan emank situ lacurrr 😒😒 berharap apa klo q jd ayah angkat mu q jg bakal. meludah ke wajah lu wahai lonte🤣
falea sezi
sasimo🤭🤣
falea sezi
nah mending ma ini😒g beristri
falea sezi
vivian jalang😒 pergi jauh sana
falea sezi
oalah pelakor🤣🤣
pinpin
agak ga terima sih klo Vivian gampang bgt maafin papa adi
Nopi Yanti
lanjut gak Luh tor 😠🤨
pinpin
kasian Vivian, dia berjuang untuk mendapatkan kasih sayang yg tulus tapi malah selalu di kucilkan
Sinta Rahmawati
lanjuttt
Ratna
Lama2 di delete, kelamaan nunggu update episode nya…
Usmi Usmi
gantung terus sdh up nya lama
amaze min1
semoga ada kebahagiaan untuk vivian dan virginia 🙏🏻
pinpin
aku mikirnya nanti si Vivian masuk mafia wkwk
pinpin
kasian sama Vivian, orang yg tulus sama dia malah mati, semoga yg pada jahat sama Vivian dpt balesan
Arimbi Ari
sangat bagus alur ceritanya
Novia Lestari: Hai, Kak Arimbi, terima kasih atas ulasan dan bintangnya 🥰🥰
total 1 replies
Dewi Sartika
rajin up dong author
pinpin
Vivian kyk gini juga karna kurang kasih sayang orang yg tulus, semoga Vivian mendapatkan orang yg beneran tulus, biar yg jahat sama dia menyesal
aqil siroj
duhhhh mengerikannnnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!