Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suasana di aula utama menjadi sunyi setelah keputusan itu ditetapkan. Tak seorang pun dari keenam tetua berniat mengubah keputusan mereka.
Yan Kai berdiri dengan kepala sedikit tertunduk. Wajahnya tetap tenang. Tidak ada kemarahan, tidak ada kepanikan. Namun jauh di dalam hatinya, ia tetap merasakan keterkejutan.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa hanya dalam satu hari hidupnya akan berubah sedrastis ini. Dari seorang pelayan, kini ia justru diasingkan ke Hutan Larangan.
Yan Kai sempat mengangkat kepalanya, seolah ingin kembali menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah mencuri apa pun dari sekte. Semua yang ia miliki sekarang berasal dari kejadian aneh di Dimensi Tak Berujung.
Namun kata-kata itu kembali tertahan di tenggorokannya. Apa gunanya menjelaskan? Bahkan ketika ia berkata jujur mengenai dirinya belajar sendiri, para tetua tidak mempercayainya. Apalagi jika ia menceritakan tentang dunia lain, naga kuno, dan energi kegelapan—mereka mungkin akan menganggapnya gila, atau lebih buruk lagi, menganggapnya sebagai ancaman.
Yan Kai perlahan mengepalkan tangannya. "Percuma... tidak akan ada yang berubah." Ia akhirnya membungkukkan badan kepada para tetua. "Saya menerima keputusan para tetua."
Tetua Feng hanya menganggukkan kepala. "Besok pagi kau akan diberangkatkan. Pergilah."
Yan Kai tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik, lalu berjalan meninggalkan aula utama dengan langkah tenang. Tatapan banyak murid mengikuti punggungnya hingga menghilang dari balik pintu.
Di antara mereka, ada yang mencibir, ada yang merasa puas. Namun ada pula beberapa murid yang diam-diam menghela napas. Mereka tahu, tidak banyak orang yang mampu kembali hidup setelah memasuki Hutan Larangan.
Keesokan paginya, kabut pagi masih menyelimuti pegunungan ketika Yan Kai telah berdiri di gerbang sekte. Ia hanya membawa pakaian yang melekat di tubuhnya dan sebuah kantong kecil berisi perbekalan sederhana yang diberikan sekte.
Tidak ada seorang pun yang datang mengantarnya. Delapan tahun hidup di Sekte Hutan Bambu tidak pernah membuat Yan Kai memiliki seorang sahabat.
Tak lama kemudian, tujuh orang murid berpakaian putih berjalan mendekat. Aura yang mereka pancarkan jauh lebih kuat dibanding murid luar. Mereka adalah para murid inti, kebanggaan Sekte Hutan Bambu.
Masing-masing telah mencapai Ranah Pembangunan Fondasi Tahap Puncak, satu tingkat penuh di atas Ranah Pengumpulan Qi. Di ranah ini, seorang kultivator telah membangun fondasi spiritual yang kokoh, membuat kekuatan, daya tahan, dan pengendalian Qi mereka jauh melampaui kultivator Ranah Pengumpulan Qi.
Pemimpin rombongan memandang Yan Kai dengan datar. "Kami diperintahkan mengantarmu menuju Hutan Larangan. Jangan mencoba melarikan diri. Kalau tidak..." Ia tidak melanjutkan ucapannya. Namun maksudnya sudah sangat jelas.
Yan Kai hanya mengangguk pelan. "Aku mengerti."
Perjalanan pun dimulai. Mereka meninggalkan Sekte Hutan Bambu melalui gerbang barat. Semakin jauh mereka berjalan, jalan setapak mulai berubah menjadi jalur pegunungan yang terjal. Mereka melewati lembah-lembah sunyi, hutan bambu yang lebat, hingga beberapa sungai kecil yang mengalir di antara bebatuan.
Sepanjang perjalanan, tak ada satu pun murid inti yang mengajak Yan Kai berbicara. Mereka hanya berjalan dalam diam—dua orang berada di depan, tiga orang di belakang, sementara dua lainnya berjalan di sisi kanan dan kiri Yan Kai. Posisi itu membuatnya mustahil melarikan diri.
Meskipun kini ia telah mencapai Ranah Pengumpulan Qi Tahap Menengah, Yan Kai sangat menyadari bahwa dirinya bukan tandingan seorang murid inti Ranah Pembangunan Fondasi Tahap Puncak.
Jangankan tujuh orang, satu orang saja sudah cukup untuk mengalahkannya dengan mudah. Karena itu, ia sama sekali tidak berniat mencoba kabur.
Waktu terus berlalu. Matahari perlahan naik hingga tepat berada di atas kepala. Enam jam perjalanan akhirnya terlewati. Saat mereka mencapai sebuah punggung bukit, langkah seluruh rombongan berhenti.
Yan Kai perlahan mengangkat kepalanya. Di hadapannya terbentang sebuah hutan yang sangat luas. Pepohonan raksasa menjulang hingga puluhan meter ke langit, membuat sinar matahari nyaris tidak mampu menembus masuk ke dalamnya.
Kabut kelabu menggantung di antara pepohonan. Suasana di dalam hutan terasa sunyi—terlalu sunyi. Tidak terdengar suara burung, tidak pula suara serangga. Hanya angin dingin yang sesekali bertiup, membawa aroma tanah lembap yang bercampur dengan hawa aneh yang sulit dijelaskan.
Di depan hutan berdiri sebuah batu besar dengan tulisan berwarna merah tua.
HUTAN LARANGAN
Di bawahnya terdapat kalimat lain yang telah mulai terkikis oleh waktu: "Mereka yang masuk tanpa izin... mempertaruhkan nyawanya sendiri."
Pemimpin murid inti melangkah maju, menunjuk ke arah hutan. "Inilah tujuanmu. Masuk."
Yan Kai menatap hutan itu beberapa saat. Entah mengapa, ia merasakan firasat yang sangat berat. Namun ia tidak memiliki pilihan. Ia menarik napas panjang, lalu mulai melangkah menuju kegelapan di balik pepohonan.
Begitu tubuhnya melewati batas hutan, udara di sekitarnya langsung berubah menjadi jauh lebih dingin. Di belakangnya, ketujuh murid inti masih berdiri di tempat. Mereka tidak segera pergi.
Tatapan mereka terus mengikuti setiap langkah Yan Kai. Mereka baru akan kembali ke sekte setelah memastikan pemuda itu benar-benar masuk jauh ke dalam Hutan Larangan dan tidak mungkin lagi kembali.