Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 25
SIAPA SEBENARNYA DALANGNYA?
Mata Silas begitu tajam, kedua alisnya mengernyit tatkala dia berbalik badan dan menghampiri Myra yang nampak tegang dengan jantung berdegup kencang, namun ia masih memberanikan diri menatap suaminya dengan tegas.
Jarak mereka begitu dekat saat Silas menatapnya lekat. “Apa saja yang kau ketahui?”
Seperti tercekat di tenggorokan, Myra berusaha membuka suara. “Apapun yang aku dengar.” ucapnya. “Aku tidak tahu apa tujuanmu membawaku kemari. Tapi kau sudah salah besar dengan membawaku kemari, Silas.”
“Aku tidak salah. Dan aku tidak menyesal membawamu kemari. Karena aku memang membutuhkan wanita seperti mu.”
Mendengar itu Myra menatap heran. Lalu Silas melangkah lebih dekat lagi sehingga reflek Myra melangkah mundur namun tangan kiri Silas langsung sigap merangkul pinggangnya hingga tak bisa mundur lebih jauh.
“Kau mendengar setengah kebenarannya. Jadi aku harap kau bisa bersikap lebih baik dan berhati-hati.”
Wanita itu mencoba melepas dirinya namun tak bisa. Sementara Silas masih menatap tajam.
“Kau pria gila.”
“Ya.” balas Silas dengan santai. “Apapun itu.”
Tak lama Silas melepaskannya dan mencengkram lengan kiri Myra hingga wanita itu sedikit meringis sakit saat Silas memaksa melihatnya dengan tatapan tegas. “Suruh Penelope mengobatinya, aku tidak suka melihat luka itu saat bercinta denganmu.” ucapnya tanpa malu, lalu melangkah pergi dengan angkuhnya.
Sementara Myra merasa jijik juga kesal. Ia tak bisa lagi menghentikan dan dia tak peduli apa yang pria itu akan lakukan ke Markie.
Myra bergegas menuju ke pintu keluar dan melihat Silas yang baru saja masuk ke mobilnya dan dari dalam mobil, pria itu melirik ke spion, lalu menatap lurus dan tajam tanpa senyuman.
Nafas Myra tersengal.
“Apa Elion sudah kembali?”
Wanita tersentak kaget dan langsung berbalik menatap gadis kecil yang berdiri sambil mengucek mata kirinya. Myra menatap ke arah pelayan dan Penelope yang tidak sempat menghentikan langkah Elina.
Dengan lembut Myra berjongkok menatap gadis itu sambil mengusap kepalanya.
“Elion sudah sembuh? Ayah selalu mengirim dokter ke rumah setiap kali kami sakit.” ucapnya dengan bibir bergetar.
“Dia melakukannya.” balas Myra sehingga anak itu terdiam menunggu. “Tapi Elion tidak akan pernah kembali lagi. Dia sudah lebih tenang.” kata Myra sembari tersenyum mengusap lembut wajah anak itu yang masih berkaca-kaca.
Ia segera berdiri memeluk anak itu yang hanya setinggi atas pinggangnya. “Aku ada di sini. Aku yang akan menemanimu sekarang.”
“Tapi aku merindukan Elion... Kemarin dia sempat marah dan kami belum bermain bersama.”
Myra tak bisa berkata-kata selain mendekap anak itu.
Sementara di gudang lain. Valen terkekeh tak percaya melihat peluru milik Silas yang sengaja meleset menghantam kotak kayu di belakangnya. Dan kini pria itu berdiri sambil merokok santai memperhatikan peluru yang menancap tadi.
“Sialan.” umpatnya disela tawanya.
“Tuan. Anda ingin kita membalasnya?” tawar anak buahnya.
Valen terdiam mengingat ucapan Silas sebelum pergi.
(“Seseorang mencoba membuat namamu buruk. Kapan pun yang lain bisa saja menghabisi mu sama seperti ku jika kau tidak menemukan pelaku yang menggagalkan rencanamu dan membuat nyawamu serta anggota mu terancam.”)
Pria kemeja putih itu tak berhenti mengumpat hingga melempar rokoknya ke tanah saking kesalnya. “Fuck!”
“Bajingan mana yang berani mengusikku. Sialan.” kesalnya pusing sendiri.
Di kediaman Bianco ketika Pedro sibuk memerintah beberapa anak buah untuk mengangkut kotak-kotak kayu ke dalam basement. Pria itu berkerut alis melihat dua mobil yang datang tanpa diundang.
Ia menyeringai kecil menatap santai ketika Hana dan Pikkey keluar mobil dan berjalan ke arahnya.
“Sudah lama sekali tidak bertemu.” ucap Pedro tersenyum remeh.
“Di mana Nyonya Markie. Kami datang untuk memantaunya langsung.” ujar Hana dengan tatapan tegas dan berani.
Pedro menatapnya lekat tanpa memudarkan senyumannya. “Kau semakin pemberani, Hana. Dan Markie ada di dalam, dia butuh istirahat.”
Tanpa pikir panjang, Pikkey berjalan masuk bersama Hana tanpa peduli akan larangan. Dan kepergian mereka yang memasuki kediaman Bianco itu membuat Pedro berbalik menatap ke arah pantat Hana sambil tersenyum menggoda.
Sementara di dalam rumah mewah itu. Oona si wanita cantik dengan dress hitam, menatap Hana sembari menghalangi jalan mereka berdua. “Tidak seharusnya tamu berjalan lebih ke dalam. Kalian bisa menunggu di ruang tamu.”
Pikkey dan Hana menyeringai saling memandang, lalu Pikkey menyindir kecil. “Beritahu kepadanya Hana, bagaimana orang dewasa ini ingin lewat.” ujar Pikkey menyeringai kecil sehingga Hana ikut tersenyum kecil menatap Oona yang menatap tajam.
“Minggir, bocah.” pinta Hana yang hanya dalam dua kata saja membuat Oona menatap marah hingga menggertakkan giginya dibalik bibir tertutupnya itu.
Tak peduli, baik Hana maupun Pikkey, keduanya berjalan melewati wanita usia 25 tahun itu yang nampak mendengus penuh emosi.
Sementara Amber yang melihat dari lantai atas, ia memilih diam tanpa berkutik. Memilih memantau dari atas dan dalam diam.
Sementara Hana dan Pikkey masuk ke ruang pribadi Fernando untuk bertemu langsung dengan pria tua itu. Sekaligus Markie yang juga ada di dalam sana dalam keadaan pucat Pasih karena kedua kakinya rasanya seperti lumpuh meski sudah diobati.
“Maaf tuan Bianco. Kami datang atas perintah tuan Silas.” ujar Pikkey penuh rasa hormat.
Fernando yang duduk, dia hanya menatap lurus dalam diam.
“Pergilah, dan bawa Markie bersama kalian.” pinta Fernando terus terang sehingga Hana dan Pikkey menatap bingung.
“Sampaikan salamku untuk Silas. Jika besok aku tidak bernafas... Katakan kepadanya untuk menghentikan semua ini. Katakan kepadanya untuk mengambil apapun yang dia mau pada Bianco jika amarahnya dan rasa dendamnya masih belum terpenuhi meski Lynda Wolfe sudah mati.”
Ucapan Fernando semakin membuat Hana, Pikkey dan Markie menatap penuh tanya.
Seolah-olah bos mereka lah yang ingin melakukan permainan berbahaya itu.
“Apa maksudmu?” tegas Markie dengan nafas ngos-ngosan menatap tajam ke pria tua itu.
Fernando hanya diam beberapa detik, lalu dia menarik nafas dalam-dalam. “Temui saja putrimu dan rawat dia dengan baik.” ucapnya tanpa bicara lagi.
Markie benar-benar kesal sendiri hingga dia hanya bisa mengumpat. Dan Hana bangkit dari duduknya sembari menatap Fernando.
“Kami akan pergi, Tuan Bianco.” kata Hana yang sama sekali tidak dibalas.
Hingga Pikkey dan Hana melangkah keluar dari ruangan hening itu bersama Markie yang harus duduk di kursi roda.
.
.
.
Di sisi lain jalan. Silas menghentikan mobilnya saat dia berpapasan dengan mobil Kael hingga asistennya itu ikut keluar mobil dan menghampirinya.
“Bagaimana wanita itu?” tanya Silas.
“Dia ingin bertemu anda.”
“Abaikan saja.” balas Silas yang berbalik ke arah mobilnya.
“Ada yang ingin dia sampaikan soal kejadian malam orang tua Anda dibakar.”
Ucapan Kael membuatnya terdiam cukup lama, lalu Silas melangkah masuk ke mobilnya dan Kael masih berdiri menatap kepergian bosnya yang putar balik kembali ke mansion dengan perasaan campur aduk.